Shaka sudah berada di luar Wisma Sejahtera, langsung berjalan keluar ke arah halte Bus Transjakarta, karena setahu Shaka temannya Fida ini tidak membawa kendaraan pribadi. Bagaimana Shaka bisa tahu? Fida sempat berkata di depannya, atau lebih tepatnya ke Timo pada saat itu Shaka ada di sana. Saat itu Timo bertanya kepada Fida, Dira kalau memang tidak bawa kendaraan. Jawaban Fida, Dira tidak pernah bawa kendaraan sendiri. Meskipun Dira ingin, tapi orang tuanya tidak memperbolehkan.
Kebetulan Wisma Sejahtera dekat Transjakarta, Shaka hanya perlu berjalan 100 meter untuk sampai di halte. Saat Shaka sampai di halte ia syukurnya Dira masih ada di sana, tapi ia bingung bagaimana caranya masuk ke dalam sana. Sementara ia sendiri tidak punya kartunya karena Shaka memang ke mana-mana selalu bawa motor.
Dira tidak menyadari kehadiran Shaka, bahkan ia tidak ingat bahwa tasnya ketinggalan. Memang Dira adalah orang telat menayadari segala hal, kecuali perasaannya kepada Shaka yang selalu ia sadari setiap saat.
“Hei, lo temannya Fida. Bisa nggak keluar dulu, ini tas lo ketinggalan.” Shaka berteriak sehingga menarik perhatian orang-orang di dalam halte, petugas Transjakrata, dan langsung memperhatikan dirinya, dan Shaka tidak suka menjadi pusat perhatian.
Dira pun langsung menoleh, melihat Shaka yang sedang menjinjing tote bag-nya ia pun langsung menampar dirinya sendiri. Bergumam kepada dirinya sendiri, lo napa lemot banget dah Dira, astagfirullah. Tas lo bisa ketinggalan, dan lo nggak sadar.
Pertanyaan kalau Dira tidak membawa tasnya, kenapa ia bisa masuk ke dalam halte Transjakarta, kartu Transjakarta ia letakkan di belakang ID Card-nya, jadi dua kartu itu berada dalam satu layer.
Dira langsung berjalan ke arah mesin untuk tap in dan tap out, orang-orang sudah memperhatikannya—eh salah maksudnya memperhatikan Shaka yang kelewat tampannya, Dira bisa mendengar bisik-bisk saura orang-orang yang berkata begini, ‘ih ganteng banget, dia ceweknya? Ih beruntung banget deh.’
Rasanya Dira ingin berteriak di depan muka mereka, ‘EH KALIAN DIA TAHU NAMA GUE AJA KAGAK, WALAUPUN KITA SERING KETEMU. Kalian lihat sendiri, kan? Dia panggil gue dengan, temannya Fida. Pedih tau!’
Dira langsung tap out menghampiri Shaka dengan d**a yang tadi sudah sudah mereda, kini kembali lagi berdetak lebih cepat. Refleks Dira langsung menarik Shaka membawa keluar dari halte menjauhi bisikan orang-orang yang berada di halte.
Kini mereka sudah berada di bawah jembatan penyebarangan, baru saja sampai, dan Dira masih memangangi tangan Shaka. Ketika Dira menyadari bahwa ia tidak sopan memengang tangan seseorang tanpa izin, meskipun ingin—tapi tidak dalam situasi seperti ini. Dira langsung melepaskan gengaman tangannya, dan mengatakan ‘maaf’ dengan suara pelan, dan menunduk takut dengan tatapan dingin Shaka yang selalu ia tunjukan pada dunia.
“Nih tas lo, tadi tanpa lo sadari ninggalin ini.” Shaka langsung menyerahkan tas Dira, dan langsung diambil Dira, tapi Shaka tidak memberikannya ia malah menyembunyikan tas milik Dira dibelakangnya. “Nggak sopan lo nunduk gitu, ke orang yang udah mau capek-capek anterin tas lo. Liat ke gue sekarang.”
Dira pun langsung menatap wajah Shaka, rasanya Dira pengin marah. Tapi, tidak bisa, tapi pengin marah. Karena Shaka sudah membentaknya, “gue minta maaf, dan makasih udah mau anterin tas gue. Sekarang mana tas gue?” Dira meminta tasnya kembali dari Shaka.
Shaka yang tidak mau membuang-buang waktu pun langsung memberikan tas milik Dira, dan dira pun langsung mengambilnya. Shaka pun langsung meninggalkan Dira, tapi segera Dira tahan. “Shaka?”
“Iya ada perlu apa lagi?” tanya Shaka.
“Makasih.”
“Sama-sama.” Shaka pun langsung berbalik.
“Shaka?” panggil Dira lagi.
Shaka berdecak kesal, dan menoleh lagi dengan tatapan malas. “Ada apa lagi?!”
“Nam ague Dira, jangan panggil gue lagi dengan sebutan, ‘temennya Fida.’ kata Dira dengan tatapan, lo harus tahu yang namanya dira ini suka sama lo!
“Oke, Dira.” kata Shaka tanpa tersenyum. Lalu meninggalkan Dira yang masih berdiri di tempat menatap punggung Shaka yang semakin jauh, menyebrang jalan, dan langsung masuk kembali ke Wisma Sejahtera.
Padahal Dira sudah membayangkan seperti di film-film, Shaka mengajak pulang bareng karena melihat perempuan pulang kantor sendirian, Dira langsung menampar pipinya, lah lo pikir lo siapa? Duh ini dunia nyata, Dir. Bukan dongeng. Bangun dari mimpi!
***
Timo memberhentikan motornya di dekat tukang kebab yang berjualan tidak jauh dari rumah Fida, “bang kebabnya satu yah, yang pakai keju.” kata Timo. Sambil menunggu kebabnya dibuat, Timo kembali menghampiri Fida yang berdiri di dekat motornya, “kamu benaran nggak mau Fida?” tanya Timo
Fida mengusap-usap perutnya, “beneran nggak aku udah kenyang. Kamu beli buat Tata doang?”
“Iya.”
“Kamu nggak beli buat kamu? Papa mama? Devin?” kata Fida.
“Nggak, kita udah banyak makanan. Biasa orang kaya.” kata Timo.
“Sombong banget yah anda,” Fida tertawa kecil. “Nggak apa-apa sombong, kan kamu emang beneran kaya.”
“Nah itu! Akhirnya mengakui juga kamu.” Timo menatap langit malam yang langit mala mini sangat bagus, bintang-bintang menunjukkan cahayanya.
“Tim?” panggil Fida..
Timo pun langsung menoleh ke arah Fida, “ya?”
Entah kenapa Fida tiba-tiba kepikiran bertanya ini, semoga saja Timo tidak curiga dengan pertanyaannya, “Shaka sudah punya pacar?”
Timo melotot kaget, “apa?”
“Shaka udah punya pacar?”
“Kamu kenapa nanya ini?” pikiran Timo sudah melalang buana ke mana-mana, apakah kekasihnya ini menyukai Shaka? Timo mengakui kalau Shaka memang lebih tampan darinya, tapi kenapa Fida bisa suka. Timo tidak apa-apa perempuan mana pun menyukai Shaka. Asalkan jangan Fida.
Fida tersenyum jahil, “kamu cemburu?”
“Ih serius kamu suka sama Shaka?”
“Ya ampun, nggak.”
“Terus ngapain masih nanyaiin?” tanya Timo yang hatinya mulai dibakar api cemburu.
“Ada teman kantor yang naksir dia, aku diminta nanya ke kamu.”
“Dira?” tebak Timo.
Gila tebakan kok bener, ya ampun! Gue harus meluruskan, ”emang teman kantor aku Dira aja?”
Pesanan kebab mereka pun selesai, bapak kebab itu mengantar ke Timo, “jadi berapa pak?” tanya Timo saat bapak kebanya meemberikan kebab ukuran jumbo.
“Jadi 25 rb, mas.”
Timo pun langsung memberikan uang pas ke bapaknya, dan bapaknya mengucapkan terima kasih, kembali ke gerobaknya untuk melayani pelanggan lain. Timo meminta Fida untuk memengangi kebanya, ia kan manyalahkan motornya, dan mengantar kekasih pulang.
Dari tempat penjual kebab untuk sampai di rumah Fida membutuhkan waktu sekitar lima menit saja.
Motor Timo pun sudah sampai di depan rumah Fida, Fida pun langsung turun dari motor Timo. “Kamu mau mampir dulu, nggak?” tawar Fida.
“Nggak deh, udah malem soal ini.” Timo kembali memakai helmnya, namun ia tidak menjadi menyahalahkan mesin motornya. Karena teringat sesuatu, “temen kantor yang suka sama Shaka. Dira, kan?”
Pikir Fida Timo tidak akan membahas soal ini, ternyata membahas lagi. Fida menghela nafas, “bukan Tim, bagi Dira yang paling ganteng cuma oppa Korea, udah itu aja. Ada teman aku si Anita yang ada di Devisi accounting.” Anita maafin gue yah, yang penting lo nggak pernah ketemu Timo, dan nanya ke lo. Bisa dibunuh gue sama Dira.
“Bener bukan, Dira?” tanya Timo memastikan apakah benar memang bukan Dira.
“Ya,” jawab Fida mantap padahal dalam hatinya bersahut, ya nggak salah lagi.
“Setau aku yah belum. Tapi, emang belum sih. Orang malam minggu aja nggak pernah ke mana-mana di rumah aja, pokoknya kalo minggu dia suka nanya ke aku. ‘Tim, lo jalan nggak sama Fida, kalo nggak mabar yuk.’ Aku juga suka nanya ke dia, ‘lo punya cewek nggak, sih ka? Masa cowok sok ganteng gini nggak punya cewek’ jawabanya dia, ‘nggak, enakan sendiri’ gitu bilangin aja ke Anita Shaka belum punya pacar.” Timo benar-benar menjelaskan seperti itu juga berniat baik untuk membantu Shaka punya pacar.
“Sipp deh.” Padahal saat ini Fida ingin berjingkrak kegirangannya, akhirnya temannya punya kesempatan untuk mendekati Shaka.
“Yaudah, kamu masuk gih. Istirahat yah, sampai ketemu pas makan siang di kantor.” Kata Timo sambil memakai kembali helmnya..
“Tim, kapan kamu ngelamar aku?” Fida bertanya begini hanya spontan saja, tidak berniat untuk kode atau apapun. Ia hanya ingin mengulur waktu, supaya Timo tidak langsung pulang.
“Hah? Ngelamar?” Timo seperti terkejut dengan pertanyaan Fida. Sekaligus takut karena kalau benar Fida butuh jawaban itu, Timo belum punya jawaban untuk sekarang. Bukan berarti Timo tidak ingin melamar Fida, hanya waktunya bukan sekarang.
“Iya, kapan?”
Timo tidak ingin Fida menyangka bahwa dirinya tidak berniat serius kepadanya, Timo pun menjawab. “Wisuda dulu kamu Fid, nanti hadiahnya kamu aku lamar.” Ini adalah jawaban paling tepat, dan aman. Daripada jawabannya, aku belum siap. Nanti akan berbuntut panjang, dan berepisode-episode seperti sinetron.
“Bener ini, abis wisuda kamu ngelamar aku?” Walaupun pertanyaaan Fida yang barusan hanya spontan, atau random untuk mengulur waktu supaya kekasihnya itu tidak segera pulang.
Timo menjawabnya dengan mantap, “iya. Makanya kuliah yang bener yah, biar cepat lulus nanti aku lamar. Lamaran aku bakal jadi hadiah yang berkesan untuk kamu, tapi kamu nilainya harus cumlaude yah?”
“Syaratnya berat yah, pak.”
“Sanggup nggak?” tanya Timo.
Fida pura-pura berpikir, apakah ia sanggup untuk memenuhi persayaratan itu. “Begitu doang mah gampang, kan aku pinter.” Padahal gue nggak, biasa aja. Tapi, bisalah diusahakan yah.
“Siap, udah yah aku pulang dulu.” Timo pun menyalahkan mesin motornya.
Tiba-tiba saja Fida menghampiri Timo lalu memeluknya membuat, Timo sedikit terkejut lalu membalas pelukan Fida. Mengusap rambut gadis itu dengan lembut, “aku masih kangen tau sama kamu!” kata Fida sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuh Timo yang selalu menjadi favoritenya itu.
Fida tidak tahu bahwa dari balik jendela ruang tamu rumah Fida, ada Tata yang memperhatikan kakaknya yang sedang manja dengan kekasihnya. Lebay banget lo kak! Dari tadi nggak masuk-masuk, perut gue laper. Gue butuh kebabnya, bukan nontonin kalian berdua pacaran. Gerutu Tata yang kesal karena perutnya sudah keroncongan.
“Kan besok ketemu lagi, sayang.” kata Timo, lalu Fida melepaskan pelukannya. Timo menyelipkan rambut Fida kebalik telinganya. “Jangan cemberut gitu, kamu jelek.”
“Iya nggak, bukan aku cemberut atau nggak itu tetep jelek yah?”
“Nggak kamu cantik mau kek gimana juga, yaudah aku pulang yah. Nanti kemaleman kamu mau aku kenapa-napa di jalan? Jakarta-Bekasi jauh loh.” Sejujurnya memang Timo sudah lelah sedari tadi, Timo meridukan kekasihnya.
“Yaudah kamu pulang gih, hati-hati yah.” Fida melambaikan tangannya kepada Timo, dan Timo mulai menjalankan motornya. Fida tidak langsung masuk ke dalam rumah melainkan lebih untuk berdiri di depan rumahnya, sampai Timo dan motornya hilang dari pandangan matanya.
Saat masuk ke dalam rumah Fida disambut oleh ocehan dari adiknya Tata, “lama banget nih di luar. Nggak sekalian pasang tenda, terus kemping disitu kalian berdua. Gue udah laper banget ni, mana kebab gue?” Tata meminta kebab yang tadi ia pesan. Oh yah Tata, diminta untuk dibelikan kebab langsung minta ke Timo bukan ke Fida—sebagai kakaknya.
“Nggak sopan yah kamu!” kata Fida, samba menyerahkan kebab yang dipesan oleh Tata langsung ke Timo, emang nggak sopan tuh anak. “Dek, kenapa sih kamu kalo minta apa-apa langsung ke ka Timo, kenapa nggak langsung ke kakak aja?” Fida menaruh sepatunya yang sudah ia lepas ke dalam rak sepatu yang ia letakkan di rak sepatu, dekat pintu masuk.
“Ka Timo aja nggak masalah, kenapa lo bermasalah ka?” Tata duduk di sofa ruang tamu kakinya dinaikkan ke atas sofa, dan duduk dengan bersila. “Orang ka Timo WA gue mau dibawaiin apa gitu? Yah gak mungkin gue tolak.” Tata melahap kebabnya, gadis yang baru duduk di kelas 2 SMA memang berbeda dengan kakaknya, Tata agak tomboy dan mempunyai sedikit sifat berontak. Berbeda dengan Fida, karakter Fida lebih kalem, feminim, dan lucu.
“Yaudah terserah kamu, Ta. Kakak capek, mau tidur dulu. Bye.” kata Fida lalau berjalan ke arah tangga, karena kamar Fida berada di lantai atas.
“Kebabnya nggak mau?” tawar Tata yang sebenarnya hanya basa-basi saja, dan sangat berharap kakaknya tidak meminta kebab miliknya.
“Nggak!” teriak Fida, lalu menaiki tangga ia sudah tidak sabar ingin merebahkand diri di atas kasur, setelah seharian bekerja, pergi belanja, omong-omong soal belanjaan. Belanjaan yang baru saja ia beli masih diletakkan di meja ruang tamu.
Fida kembali menurunin tangga, dan melihat adiknya masih berada di ruang tamu dengan posisi yang sama—masih menikmati kebabnya.
“Lah lo nggak jadi bobo, ka?” tanya Tata.
“Kakak mau minta tolong.” Fida memohon, dan berdoa semoga kali ini adiknya mau disuruh, kalau tidak mau kelewatan. Karena Tata sudah dibelikan kebab.
“Minta tolong apa?” tanya Tata agak sedikit nyolot.
“Itu belanjaan kakak yang ada di atas meja ruang tamu, tolong dimasukin ke kulkas yah. Nggak boleh nolak karena kamu sudah dibeliin kebab!” ancam Fida.
Tata mendengus kesal, dan menjawab dengan malas permintaan kakaknya. “Oke.”
“Nah gitu dong!” Fida tersenyum, dan kembali naik ke atas menuju kamarnya untuk bobo cantik, karena besok ia harus bekerja.
***
Apakah ini sebuah petunjuk Tuhan kalau Shaka memang jodohnya, atau ini hanya untuk menguji atau menyadari bahwa Shaka terlalu tampan untuk Dira. Dira tidak berharap pagi-pagi dipertemukan kembali dengan Shaka, setelah kejadian kemarin. Ya, pagi ini Dira dipertemukan kembali oleh Shaka di dalam satu lift yang sama.
Padahal Dira sengaja datang lebih pagi untuk menghindari kemungkinan bertemu Shaka, dan ternyata memang semesta selalu mempertemukan kita dengan hal-hal yang kita hindari, betul begitu? Saat kita mengejar-ngejar semesta menjauhkannya. Pagi ini saat Dira sudah memasuki lift, Shaka menyusul masuk ke dalam lift, dan di lift hanya ada mereka berdua.
Bisa nggak sih gue berubah jadi ubin lift, Dira sebenarnya tidak ingin menyapa duluan Shaka. Tapi, kalau tidak menyapa Shaka akan menganggapnya sombong. “Shaka?”
Shaka yang sedari tadi pandangannya lurus tidak menoleh ke mana pun, mungkin tidak menganggap kehadiran Dira. “hei Dira.” Shaka balas menyapa Dira tanpa tersenyum pandangannya kembali lurus ke depan.
Nyesel gue nyapa, kata Dira dalam benaknya. Lift pun berhenti di lantai 3 Dira berharap setelah Shaka keluar ia akan mengucap ‘hi Dira, duluan yah.’ Tapi, sayangnya kenyataan memang tak selalu sama seperti harapan. Shaka hanya keluar saja tanpa berpamitan kepada Dira dan Dira mendengus kesal.
Ketika Dira sampai di lantai 6 ia langsung masuk ke dalam ruangan dengan wajah murung, Fida yang melihat Dira seperti itu pun langsung menegurnya heran. “Tumben banget lo dateng pagi-pagi, terus napa tuh muka dilipet gitu?”
Dira menaruh tasnya di atas meja kantor dengan kasar, lalu duduk di kursinya. “Shaka ngeselin banget deh.”
“Hah? Shaka? Ngeselin?” Fida bertanya-tanya, kenapa si Shaka membuat kesal Dira. Mereka tidak pernah bertegur sapa. “Gue nggak ngerti maksud lo apa, kenapa emang si Shaka?” tanya Fida tidak sabaran.
“Lo juga ngeselin.” hardik Dira, karena ia masih dendam soal Fida yang meninggalkannya hanya berdua dengan Shaka.
Fida yang tidak tahu apa-apa pun tidak terima, “kok gue dibawa-bawa, Dir?”
“Lo sengaja kan kemarin ninggalin gue, sama Shaka hanya berdua aja?”
”Iya.” jawab Fida santai.”Lo marah? Bukannya lo harusnya seneng?”
“Iya gue seneng, tapi…” rasanya Dira ingin sekali mengutuk dirinya sendiri yang kemarin, atas kebodohannya yang keterlaluan. “Gue bodoh tau!” Dira menelungkupkan kepalanya di atas meja.
Fida bingung kebodohan apa yang dimaksud oleh Dira, “Maksud lo Dir, kebodohan apa?”
“Lo tau Fid, sangking groginya gue cuma berdua sama Shaka kemarin. Gue ninggalin tas gue di kursi tempat kita duduk, terus Shaka yang nganterin tas gue sampe di halte. Terus di halte dia manggil gue dengan sebutan ‘temennya Fida’. Dia selama ini kagak tau nama gue.” Dira berbicara dengan nada kesal, kesal terhadap dirinya, dan kesal terhadap Shaka.
Fida bukannya merasa iba ia malah menertawainya, “terus kelanjutannya gimana? Lo pulang nggak jadi naik Transjakarta, dan malah di anter Shaka.”
“MIMPI!” Dira mengerang kesal, dan memukul-mukul meja, “dan lo tau Fid?”
Fida mengangguk, “apa?”
“Gue ketemu lagi sama Shaka. Tadi, barusan di dalam lift hanya berdua. Gue nyapa dia, kalo nggak di sapa dia gak bakal nyapa balik kali. Terus pas di lantai dia keluar dari lift, gak ada basa-basinya kaya, ‘Dir gue duluan yah.’ Dia kayanya benci ama gue, tapi gue suka sama dia. Gimana caranya deket sama dia, kalo ada kesempatan deke tama dia bawaan gue maunya kabur aja, Fid.” Celotehnya.
“Gue bantuiin lo deh, tapi tetap Timo nggak bakal tau. Kemarin gue nanya ke Timo, katanya Shaka single. Jadi, tenang aja yah. Saba aja pelan-pelan, oke?” kata Fida untuk membuat tenang sahabatnya itu.
“Sipp. Makasih yah, entar makan siang di mana?”
“Di kantin, bareng sama Timo. Ada Shaka juga nanti. Lo tau sendiri kan Timo sama Shaka nemepel mulu udah kaya prangko.”
“Siap!” kata Dira semangat.
Fida merasa kalau Dira dan Shaka cocok kok. Shaka yang pendiam, kalem, dan misterius itu cocok bersanding dengan Dira yang ceroboh, tidak bisa diam terkadang seperti cacing kepanasan, dan juga kalau melawak garingnya Masya Allah, tapi entah kenapa Fida pun bisa sampai tertawa ngakak. Siapa tahu dengan Shaka diberi wejangan lawakan Dira yang garing itu bisa tertawa lepas. Memang selama ini Fida sering melihat Shaka tertawa lepas, hanya sekadarnya saja. Bahkan seperti dipaksakan.
Fida dan Dira pun kembali pada meja masing-masing, setelah pagi ini atasan mereka meminta untuk membuat laporan bulan ini, yang akan dipresentasikan minggu depan di hadapan Direksi.