“Lo buru-buru amat sih, Fid. Udah kaya mau ambil gaji, baru juga jam 5 teng. Biasanya lo keluar kantor setengah 6 man.” kata Dira yang masih duduk manis di kursi kantornya, tanpa benriat untuk pulang. Mungkin Dira ingin mendownload drama Korea terbaru, dengan menggunakan Wifi kantor. Please, banget jangan ditiru yah teman-teman.
“Gue mau ketemu Timo, emang lo jomblo.” Fida memasukkan laptonya ke tas jinjingnya.
Entah kenapa Dira langsung bangkit dari tempat duduknya, menghampiri Fida yang sudah siap untuk keluar kantor. “Berarti lo ketemua di kantor, Timo?
Fida mengangguk, “kenapa emang?”
“Tungguin gue!”
“Kenapa lo jadi buru-buru, Marjinem.” Fida heran, perasaasn si Dira santai-santai saja malah barusan Dira mengejeknya.
“Lo mau ketemu Timo, kan? Di kantornya?” Fida mengangguk. “Nah! Gue mau ikut biar ketemu Shaka.” Dira langsung men-touch up make up-nya, setelah ia selesai meamsukkan barang-barangnya. Setelah di rasa cukup Dira langsung merangkul lengan Fida, “yuk! Let’s go!”
Fida dan Dira pun langsung berjalan keluar dari kantor mereka, berjalan menuju lift. Sampainya di lift Fida langsung menekan tombol nomor 3. “Lo di sini mah keliatan kaya centil banget Dir, tapi pas lo ketemu sama si Shaka nanti langsung kicep, pucet kaya lagi berhadapan sama dosen penguji.”
“Yaelah gue begitu jaga image Dir. Soalnya lo tau sendiri, kan gimana dinginnya si Shaka sama cewek. Kalo gue yang kaya gini, yang ada dia ifeel.” kata Dira sambil mengaca di lift—di mana letak kacanya di samping kiri, dan kanan. Untungnya di dalam lift hanya ada mereka berdua kalau ada yang lain, Dira mana mungkin bicara berani begitu. Tiba-tiba dira berijamajinasi kalau Shaka akan mengantarnya pulang, “Eh Fid!” Nada bicara Dira membuat Fida terkejut.
“Lo bisa biasa aja nggak sih, gue kaget k*****t!” kata Fida sambil mengusap bahunay yang tadi di sentuh oleh Dira.
Ting!
Mereka pun sambil di lantai tiga. Fida sangat bersemangat keluar dari lift karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan kekasihnya, begitu pun dengan Dira yang bersemangat untuk bertemu dengan Shaka. Bedanya kalau Fida dan Timo memang berpacaran, sementara Shaka dan Dira bukan siapa-siapa.
Fida dan Dira menunggu di ruang tunggu kantor Timo, dan juga Shaka. Tiba-tiba Dira memegang telapak tangan Fida, “Fid coba lo rasaiin deh, tangan gue dingin.” Dira mengarahkan telapak tangannya ke dadanya, “lo rasaiin jantung gue berdetak lebih kencang dari biasanya.”
“Lo lebay, inget Shaka bukan siapa-siapa lo.” Fida bermaksud sarkas, tapi kalimatnya barusan malah terdengar lebih frontal.
“Kalo ngomong suka ben...” Dira tidak melanjutkan kalimatnya, setelah mendengar suara sepatu pantopel beradu dengan lantai. Tatapan langsung kea rah pintu masuk, dan melihat Shaka keluar dengan setelan kantor yang masih rapih. Wajah inncocent-nya benar-benar membuat d**a Dira lebih kencang, bahkan Timo yang berjalan di belakang Shaka di mata Dira tidak telihat sama sekali, seolah-solah ini di duni ini dipenuhi oleh wajah Shaka.
“Mau nge-date yah lo berdua?” tanya Shaka ke Fida.
Suara Shaka yang beratnya seperti, suara Harry Sytles membuat Dira menelan ludah. Ya Allah tolong kuatkan Dira untuk tidak pingsan di sini.
“Iya dong, emang lo jomblo. Udah yah gue ama Timo duluan, bye!” Fida langsung menarik tangan Timo. Fida sengaja membiarkan Shaka berdua saja dengan Dira, itu malah membuat heran kenapa Fida seperti terburu-buru. Oh yah, Timo tidak tahu perihal Fida yang menyukai Shaka karena memang Fida tidak memberitahu apapun, dan takut juga kalau Timo memberitahu Shaka bahwa Dira menyukainya.
Sangking terpesona dengan kehadiran Shaka, Dira tidak menyadari bahwa di tempat ini hanya tinggal mereka berdua. Kantor IT tempat berkerja Timo, dan Shaka ini punya karyawan sekitar 15 orang; sebagian kerja di lapangan, dan jam pulang mereka itu jam 4 karena masuk lebih pagi jam 18. Jadi jam 5 lewat seperti sekarang, kantornya sudah sepi.
Shaka yang merasa tidak enak kalau tidak menegur Dira, sejujurnya Shaka tidak tahu nama Dira. Ia hanya tahu kalau Dira adalah temannya Fida. “Lo nggak pulang?”
Suara Shaka membuyarkan lamunan Dira yang sedang membayangkan kalau Shaka yang ada di hadapannya menjadi calon suami, menikah dengan adat sunda, lalu tinggal di rumah minimalis, punya anak yang lucu-lucu. Padahal, Dira sadar kalau Shaka bukanlah tipe laki-laki yang bisa ia gapai. Dira sangat menyadari hal itu.
“Lo di tanya kok malah bengong?” tanya Shaka heran.
Dira yang sedari tadi hanya duduk, langsung berdiri. Kini posiisi mereka berdua berdiri saling berhadapan. Masya Allah, Shaka kamu tinggi banget sama kaya khayalan aku yang tinggi ini. Belum tentu kamu jodoh aku. Aku udah ngebayangin kita nikah pakai adat apa, tinggal di mana, punya anak-anak yang lucu. Astagfirullah kayanya aku mesti di ruqyah.
Shaka mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Dira, “lo sakit?”
“Euh.. eh..” gue kenapa jadi gugup gini dah, gerutu Dira ia hanya bersuara di dalam jiwanya yang sebenarnya ketar-ketir berdiri berhadapan dengan Shaka. “Ini gue mau balik, gue balik duluan yah.”
Dira langsung meninggalkan Shaka yang masih berdiri di tempat yang sama, menatap Dira dengan tatapan aneh. Shaka menoleh ke arah bangku, dan melihat tas Dira ketinggalan. “Eh lo temennya Fida, tas lo ketinggalan.” teriak Shaka, sayangnya Dira sudah masuk ke dalam lift. Oh yah, lift di lantai tiga benar-benar berhadapan dengan kantor Shaka, tinggal berapa langkah juga sampai di depan lift. Apalagi yang tadi lari terburu-buru.
Shaka pun berinisiatif untuk mengambil tasnya, dan mengejar Dira. Semoga saja masih bisa bertemu di lantai dasar. Shaka jadi mempertanyakan perihal temannya Fida itu, untuk apa dia ikut Fida ke kantornya, sudah jelas kalau tujuan Fida ke kantornya untuk bertemu dengan kekasihnya, sementara Dira? Kalau hanya untuk menemani Fida, setia kawan sekali Dira.
RASANYA TEMBOK LIF, TOMBOL LIFT, DAN JUGA PINTU LIFT INGIN BERTERIAK KE KUPING SAHKA. “EH! DIA BEGITU KARENA SUKA SAMA LO!”
Lupakanlah mereka semua itu hanya benda mati, tidak akan mungkin bisa bicara, seperti Dira yang tidak bisa bicara saat bertemu dengan Shaka. Padahal bisa kita lihat saat belum bertemu dengan Shaka, tingkahnya sudah seperti cacing kepanasan. Saat bertemu dengan sudah seperti salju di film frozen, beku.
***
Timo dan Fida sudah sampai di supermarket, Fida langsung mengambil keranjang yang bisa di dorong itu. Langsung berjalan ke arah rak yang menyediakan s**u dari berbagai macam merk.
“Fid, kamu tadi kaya buru-buru gitu yah? Kamu sengaja yah ninggalin Dira, aku lihat yah tadi dia kek orang bingung gitu. Dia sehat kan, Fid?” tanya Timo yang penasaran kenapa kekasihnya meninggal Dira, tidak biasanya ia mennggalkan Dira begitu saja.
“Aku nggak berniat begitu kok, Tim.” Fida sebisa mungkin menutup kebohongannya, pokoknya Timo tidak boleh tahu kalau Dira menyukai Shaka. “Dia mukanya bingung, itu biasalah masalah kerjaan dari si bos.” Fida mencoba mengarah sebisanya. Fida meminta Timo untuk mendorong keranjangnya, dan ia menuntut Timo pergi ke rak yang berisi berbagai macam agar dan puding.
Padahal Fida sendiri tahu banget kalau Dira bingung bukan karena soal kerjaan, tapi karena ada Shaka di hadapannya.
“Oh gitu, semoga dia pulang dengan selamat.” kata TImo.
Fida membalasnya di dalam hati, semoga sih dianter sama Shaka. Walaupun kemungkinannya Cuma tiga persen.
“Fid, makasih yah udah sayang sama Devin.” ucap Timo tulus dari dalam hatinya. Timo bersyukur sekali memiliki kekasih yang baik hati seperti Fida, Fida tidak hanya sayang kepada dirinya, tapi semua anggota keluarga. Kehadiran Fida juga membuat semangat Devin untuk melawan penyakit kanker hatinya kembali semangat.
Fida memasukkan lima sachet bubuk instan rasa coklat, dan lima sachet rasa mangga berukuran sedang ke dalam keranjang, sekilas Fida menoleh ke arah Timo sekilas lalu tersenyum simpul. “Iya sama-sama, aku sayang sama Devin dia anak yang baik, dan kuat Tim. Semoga Tuhan selalu menguatkan yah.”
Timo mengikuti Fida menuju ke freezer temmpat menyimpan buah-buahan, “kamu memang perempuan idaman yah, beruntung punya kamu.”
Kini Fida tidak mau kalah dengan tingkat kepercayan diri Timo, “oh tentu saja, aku adalah perempuan tercantik, tercedas, terkeren, dan tidak ada yang bisa mengalahkannya.” Fida mengibas-ngibaskan rambutnya.
Setelah dirasa bahan-bahan untuk membeli pudding, dan buah-buahan untuk stock di rumah Fida cukup. Mereka pun langsung bergegas jalan ke kasir untuk membayar semua belanjaannya. Setelah selesasi bertransaksi di kasir; mereka berdua pun langsung mencari makan di sekitar supermarket yang cukup besar di sebuah mall di bilangan Jakarta selatan.
Di dalam supermarket ini banyak sekali stand makanan yang dijual; dari makanan berat sampai makanan ringan. Pandangan Timo langsung tertuju pada stand makanan yang menjual siomay, ia langsung mengajak Fida untuk makanan di sana. Tentu saja Fida mengiyakan ajakan Timo, karena perutnya sudah keroncangan sedari tadi.
Mereka pun langsung masuk ke stand tersebut, stand tidak terlalu kecil. Cukup untuk orang-orang makan di dalamnya. Fida dan Timo memesan dua porsi siomay, dengan isi yang sama. Perbedaan hanya Timo pakai pare, dan Fida tidak. Untuk minuman mereka memsan es the panis.
Tidak perlu menunggu lama, makanan mereka pun sampai. Karena memang stand Siomay Rica sedang tidak ramai. Ini siomay langganan mereka, rasanya pokok enak banget. Kalo lagi belanja berdua, pasti mereka selalu makan di sini.
“Fid, aku boleh ngomong serius nggak?” tanya Timo.
Fida yang tadinya ingin menyuapkan siomaynya ke dalam mulutnya pun tidak jadi, terheran-heran dengan Timo yang tiba-tiba ingin bicara serius. Ini maksud bicara serius seperti apa yah? Apa Timo akan memberithu, ‘Fid, kayakanya kita udahan yah.’ Fida langsung mengenyahkan pikiran negatifnya.
“Iya mau ngomong apa?”
“Aku bersyukur punya kamu, Fid. Aku bangga punya kamu, aku merasa Tuhan baik banget sama kau mempertemukan aku dengan orang yang sebaik kamu. Semoga aku bisa selalu menjaga persaaanmu, nggak mengecewakanmu.” kata Timo dengan menatap mata Fida dengan tatapan tulus, dan Fida bisa membacanya.
Akan tetapi, entah kenapa hati kecil Timo mengatakan bahwa ia takut kalau suatu saat nanti akan mengecewakannya, kita kan tidak pernah tahu hati manusia. Hati manusia bisa berubah kapan saja, sekarang sayang besok bisa jadi benci.
Fida langsung mengusap punggung tangan Timo yang ia letakkanya diatas meja, “aku pun sama. Aku bangga punya kamu, aku beruntung dipertemukan sama kamu, aku sayang kamu Tim, dan aku selalu begitu.” Fida tersenyum, “kalo misalnya kita berdua nggak saling sayang nggak mungkin kita bisa bertahan sampai sejauh ini, 4 tahun. Udah kaya kredit motor yah?”
Memang sepasang kekasih ini kalau berbicara serius, pasti tidak pernah sampai akhir bicara seriusnya. Selalu saja seperti, diakhiri dengan candaan, Timo pun langsung tertawa mendengar perkataan Fida barusan.
“Semoga awet sampai kakek nenek yah,” tiba-tiba kepikiran adiknya Fida, Dira. “Oh yah abis ini kan aku mau anter kamu balik. Dira lagi pengin makan apa?” tanya Timo. Memang Timo setiap kali ke rumah Fida tidak pernah lupa untuk membawakan makanan untuk Dira.
“Dia anaknya pemakan segala sih,” kata Fida. “Tadi sih pas aku mau berangkat kerja, aku bilang abis pulang kerja mau jalan sama kamu. Dia bilang mau dibawaiin kebab yang dipinggir jalan gitu, nanti pulangnya kalo di jalan ketemu tukang kebab kita beli yah.”
“Oke, yaudah cepetan kamu habisin itu siomaynya. Makan lama banget, entar jodohnya lama lagi.” Timo paham betul bahwa kekasihnya kalau makan itu pasti selalu lama.
“Nggak apa-apa.”
“Lah, nggak apa-apa?” tanya Timo bingung. Biasanya kan Fida kalau diledek, atau dibikin kesel selalu protesnya.
“Kan jodohnya aku di depanku.”
“Bisa aja dah, korek api.”
“Kue talam.”
Mereka pun berdua tertawa; serasa dunia hanya milik mereka berdua, yang lain mah cuma ngontrak. Fida, berjanji untuk selalu menjaga apa yang ia miliki sekarang. Timo salah satunya, semoga Timo pun begitu begitulah kira-kira harapan Fida. Semoga apapun yang ia harapkan akan sesuai kenyataan yang akan terjadi di depan nanti.