Timo
Kamu udah sampe rumah?
Fid?
Fida?
Fida kok nggak aktif ya?
HPnya mati ya?
Satu panggilan masuk Timo.
Ada beberapa pesan masuk untuk Fida dari kekasihnya itu, Timo benar-benar mengkhawatirkannya coba bagaimana ia bisa marah dengan Timo. Fida pun langsung buru-buru menelepon Timo.
Fida : Hallo, Tim? Maaf ya nggak ngabarin HP-ku mati.
Timo : Iya nggak apa-apa. Kamu udah sampai rumah?
Mala mini Timo berencana untuk meminta maaf karena sudah membuat kekasihnya kesal. Di kamarnya Timo duduk di kasur sambil memeluk gulingnya.
Fida : Kok kamu diem sih, Tim.
Timo berdehem ia sedikit menguap karena memang ini sudah malam, sudah waktunya tidur.
Timo : Iya aku ngantuk. Aku mau minta maaf.
Fida : Maaf kenapa?
Timo mengatakan kepada kekasihnya bahwa ia tahu kalau Fida itu marah dengannya. Maka dengan itu Timo meminta maaf, ia tahu kalau dirinya telah berbuat salah kepada kekasihnya. Fida pun memberitahu Timo bahwa ia sudah memaafkannya, tidak perlu dipikirkan lagi karena mereka berdua sudah berdamaisudah baikan. Satu pesan Fida ke Timo, untuk tidak mengulanginya.
Fida : Yauadah kamu tidur gih. Aku juga mau tidur.
Night Tim.
Timo : Night too Fid, besok aku jemput ya.
` Fida : Oke.
Malam itu menajdi saksi bahwa kedua orang kekasih yang mungkin akan berujung dengan pertengkaran yang hebat pun kini pun sudah berdamai. Mereka berdua sudah baikan, dan semoga selalu begitu hanya pertengkaran-pertengkaran kecil.
***
“Gimana Fid, tadi pulang sama Shaka. Seru? Ada info apa?”
Rasanya Fida ingin mendamprat wajah Dira dengan tasnya sampai benjol kalau perlu. Habisnya ia baru juga mendaratkan bokongnya di kuris kerjanya, belum tarik nafas sudah diberondong pertanyaan kalau bukan teman sudah Fida hilangkan dari muka bumi Ini.
“Nggak ada akhlak yah lu kadang Dir.”
“Maksudnya?” Dari intonasi Dira berbicara sepertinya tidak terima dengan ujaran dari Fida.
“Iya lo udah nanya ini dan itu ke gue. Gue nafas aja belum, Dir. Gue minum dulu entar gue ceritain sekalian memberikan info ke lo tentang si Shaka.” Fida bangkit dari tempat duduk berjalan menuju dispenser seraya membawa gelas yang biasa ia pakai sehari-hari di kantor. Setelah mengisi dengan penuh Fida kemali ke tempat duduknya, meminum airnya kemudian memberitahu informasi yang ia dapat dari Shaka kepada Dira yang sudah sangat penasaran. “
“Shaka sudah pacar Dir.” Fida sengaja memberikan informasi yang salah dulu terlebih dahulu ia ingin tahu bagaimana reaksi Dira.
Perkiraan Fida benar tentang bagaiman Dira bereaksi saat ia memberitahu kalau Shaka sudah punya pacar. “INI LO SERIUS FID?!” matanya Dira melotot, ekspresinya terkejut, dan ia tidak terima kalau Shaka punya pacar, “lo bohong kana ma gue?”
Tentu saja gue bohong, saat ia mengakatakn ini pada dirinya sendiri ekspresinya Fida di luar mungkin terliaht senyum, yah biasa saja seperti tidak ada yang lucu. Padahal ia tertawa di dalam sana menertawakan eskpresi Dira yang cemberut, tapi lucu. “Iya gue bohong.”
“SI KAMPERT! BIKIN GUE SPOT JANTUNG AJA.” Dira berteriak cukup keras untung kantor baru dua orang yang datang, dan mereka tidak memperdulikannya sama sekali.
“Nggak Dira, Shaka belum punya pacar. cuma…” Fida sengaja mengantungkan kalimat ingin membuat Dira penasaran.
“Cuma apa? Ngomong tuh jangan setengah-setengah Fida.”
“Ada cewek yang dia suka di gedung ini, tapi ceweknya udah punya pacar. Cowoknya itu teman dia. Tapi, gue ngak nanya lebih jauh temannya yang mana, dia pasti curiga kmalo gue ngorek-ngorek terus. Gue nggak dikasih tahu namanya, gue tanya namanya alah dibilang kepo.” Jujur saja sampai saat ini Fida masih penasaran dengan siapa permepuan yang dimaksud oleh Shaka.
“Lo nggak maksa gitu, Fid?”
“Saran yang bagus ya.” sarkas, “udah nyoba maksa sekali malah dibilang gue beneran kepo sama dia malah gue disangka suka sama dia. Kepercayaan diri Shaka patutu untuk diberi apresiasi sih, jangan percaya diri. “Lo kan diem-diem follow si Shaka di second account IG Lo. Lo nggak nemu apa-apa, bukannya lo ini jago nge-stalk FBI mah lewat.”
Shaka tidak di dunia nyata mupun dunia maya, tetap saja misteirus. Bagi Dira laki-laki yang misterius begini benar-benar punya nilai tambah dimata Dira. “Sebelum gue nyuruh. Gue juga udah mencoba cari tahu itu, tapi tidak menemukan apa-apa.” Dira menghela nafas.
“Susah, Dir. Akan tetapi, akan gue usahakan sih.” maksudnya Fida diusahkan adalah bahwa ingin mencari cara lain untuk bisa mendekatkan Shaka dengan sahabatnya itu.
“Apa gue coba buat deketin Shaka duluan ya?”
“Yaudah kalo bisa mah.” kata Fida yang sama sekali tidak bermaksud untuk meremehkan Dira.
Akan tetapi, Dira berpikirnya berbeda. Memang si Dira ini menurut Fida kadang ngeselin minta dijitak, tapi ia sangat amat menyayangi Dira.
“Lo ko meremehkan gue sih?”
“Istigfar Dira masih pagi ini.” Fida yang sedari tadi hanya duduk di bangkunya saja pun langsung berjalan ke meja Dira yang leteakknya berhadapan dengannya. Fida duduk di kursi milik Anita orangnya belum datang, Anita ini memang kalau datang ini suka mempet, back to the topic everyone. “Maksud kalimat gue bukan ngeremehin lo. Gue cuma takut kalau Shaka jadi risih, terus malah bikin kalian jauh. Gue nggak mau kaya gitu. Maaf ya, Dir.”
“Ya ampun padahal gue pura-pura. Eh, lo yang takut banget kehilangan gue yang manis ini?”
Fida langsung melotot lalu memukul bahu Dira pelan. Memang temannya ini minta di toyor kepalanya pakai panci panas. Demen banget bikin orang panik atau buat ia merasa bersalah.
“Gue kira beneran.”
“Kagaklah, Fid. Gue juga sudah sadar diri sebelum memulainya.” Tentu saja seorang Dira sudah sangat amat menyadari kalau ia mendekati Shaka belum tentu selancar jalan tol. Pasti banyak sekali lika-likunya kaya jalanan puncak. “Tapi, gue coba aja. Daripada tidak ada kemajuan, bukan berarti gue cewek murahan ya. Gue Cuma mau deketin Shaka bertujuan untuk mengenal dia, dai ini kaya gimana orangnya, apakah cocok untuk jadi pasangan gue, atau hanya cocok jadi teman. Nggak salah dong gue nyari pasangan jauh-jauh hari meskipun gue nggak tau kapan nikahnya.”
“Omongan lo kalau masih pagi mah benar yah, Dir. Lo habis minum obat apa?”
“Obat nyamuk.”
“Meninggal dong.” kata Fida.
Tiba-tiba Dira teringat sesuatu; tadi saat pagi-pagi sekali Dira datang lebih awal ke kantor. Shaka masuk ke kantornya mengantarkan kotak bekal milik Fida, tapi sudah diisi oleh roti sandiwich dan dua s**u kotak rasa strawberry. “Ada titipan buat lo.”
“Apaan?”
Fida memperhatikan Dira membuka lacinya, di sana Fida melihat kotak bekal milik ada di dalam sana dan sudah diisi makanan. Itu kotak yang Fida berikan untuk Timo saat makan sian. Ini kenapa jadi berpindah ke Dira. “Kok bisa ada di lo?” tanya Fida.
“Dari Shaka.”
“Hah Shaka? Gimana bisa?”
Dira pun menceritakan bahwa tadi pagi-pagi Shaka datang bertemu dengan dirinya, menyerahkan kotak bekal. Dira pikir pagi itu ada kejabain bahwa laki-laki yang ia sukai membawakan bekal untuknya supaya tidak telat sarapan. “Ternyata itu kotak bekal lo, yang udah diisi sandwich sama Shaka buat lo sarapan, bukan gue.” nada bicara Dira berubah jadi sedih.
“Gue pikir kotak bekal gue tuh masih ada di Timo lo. Kenapa bisa di Shaka, entar gue tanyaiin deh ke dia.” Fida menerima kotak bekalnya dari tangan Dira. Ia membuka kotak bekalnya di dalamnya ternyata ada dua sandwich isi daging, “ada dua ini sandwichnya, satu buat lo ya. Sama susunya satu juga buat lo.”
“Kok bisa ya Fid. Shaka kepikiran buat bikin sarapan buat lo?”
“Gue juga nggak tahu, Dir.”
“Bisa jadi dia suka sama lo.”
“Dira kalau ngomong!” Fida membantah praduga yang dilontarkan oleh Dira. “Gue kan udah bilang tadi yang disuka sama Shaka itu udah punya pacar.”
“Lo punya pacar kan?”
“Iya.”
“Jadi?”
Dira memang yang minta di jitak benaran ini sepertinya, “jadi apa?”
“Fix dia suka sama lo.”
“Nggak mungkinlah Dir, emang di gedung wisma Sejahterea yang nggak punya pacar gue doang?”
“Iya ya.”
“Jangan suka berprasangka buruk, kan belum tahu kebenarannya. Siapa tahu pas ngobrol kemarin Shaka itu Cuma ngarang, supaya nggak disangka ngenes bnaget! Karena nggak ada orang yang dia suka. Udahlah jangan dibahas ini, paling entar gue nanya ke Shaka pas makan siang nanti. Gue minta ajak Timo untuk makan siang bareng, lo juga ikut.”
“Gue ikut. Ogah ah entar gue jadi obat nyamuk.” kata Dira.
“Nggak bakal jadi obat nyamuk lah Dira,” kata Fida. “Kan da Shaka.”
“Oh iya yah.”
“Tau ah.” Fida bangkit dari kursi kerja milik Anita keren saat ia menoleh ke arah pintu masuk ia meliaht Anita masuk berjalan menuju meja kerjanya. “Sekarang waktunya kerja, makan itu sandwich sama s**u, biar pinter dikit.”
“Dasar kutu kupret.”
Fida tidak menangpi ucapan Dira. Ia masih tidak menyangka kenapa tiba-tiba Shaka kepikiran untuk mengirim sarapan untuknya. Apakah Shaka ingin meminta bantuan kepadanya? Sehinga ia menyogoknya dengan sandwich dan dua s**u rasa strawberry. Daripada Fida banyak bertanya di dalam otaknya yang ada malah membuatnya pusing. Akhirnya ia pun mengirim pesan ke Shaka.
Fida
Ka, lo kenapa? Nggak kesambet kan lo?
Btw makasih bekalnya.