Shaka si penerima pesannya sedang ngopi pagi di kantin menerim pesan dari Fida pun tersenyum lega karena bekalnya sudah sampai di tangan Fida, temannya Fida itu benar-benar amanat. Shaka menaruh kopinya di meja, mengambil ponselnya yang ia letakkan di meja pantry.
Shaka
Gue nggak kesambet lo
Bikin bekal itu buat dilakukan secara sadar
Gimana enak nggak
Iya sam-sama.
“Woy serius amat lo.” Adit yang baru datang berniat untuk membuat teh hangat benar-benar membuatnya terkejut. Shaka langsung buru-buru kembali ke menu utama id ponselnya.
“Apaan sih lo ngagetin banget jadi orang. Kalo masuk tuh manggil bukan ngangetin.” Shaka menatap Adit dengan kesal.
Sambil membawa teh hangatnya Adit berjalan ke meja pantry, dan duduk di depan Shaka. “Lo tadi ngeliatin HP mulu, nunggu pesan dari siapa ish? Lo sama gue kan sama-sama jomblo ya, paling dapat sms dari operator.”
Sebenarnya Shaka bisa blang saja ke Adit kalau ia habis berkirim pesan dengan Fida, tapi ia malas kalau bicara dengan Adit; temannya itu pasti berpikir yang aneh-aneh nanti bicaranya ke Timo dilebih-lebihkan padahal Shaka dan Fida hanya teman.
Ponselnya kembali bergetar Shaka melihat ke pop up ponsel Fida sudah membalas pesannya, Shaka mengambil ponselnya dan membalas pesan dari Fida.
Fida
Gue bingung kenapa tuh kotak bekal ada di lo
Harus itu ada di Timo
Gimana itu?
Baru saja Shaka ingin megnetik pesan di ponsel Adit bersuara,”tumben banget ya tuh HP lo kaya rame, dan lo balas pesan kek cepet banget. Padahal kalo di grup yang rame gue sama Timo doang, lo jawabnya pas yang penting aja. Lo punya gebetan?”
Sebenarnya Aldo salah menjawab bertanya begitu, jawaban yang diberikan oleh Shaka pasti skakmat. Jawaban dari Shaka begini, “oh tentu gue gebetan ada di mana-mana.” Meskipun sebenarnya tidak ada sama sekali. “Tampang gue yang ganteng ini, bisa dapatin cewek manapun.” Sayangnya kenyataan tidak seperti itu Shaka terkadang masih tidak percaya diri untuk mendekati perempuan, sekalinya menyukai seorang permepuan. Perempuan itu sudah memiliki kekasih.
“Sombong banget lo! Coba gue liat gebetan lo yang kaya gimana?’ sebenarnya Adit bukanlah tipe orang yang kepo, tapi karena Shaka sering bilang ada gebetan. Namun, Shaka tidak pernah memperliahtkan wajah atau ada satu kosong saat weekend—saat Adit mengajaknya untuk main bareng game, Shaka selalu bisa dan memang Shaka tidak pernah pergi dengan perempuan.
“Ih apaan si lo, Dit. KEPO BANGET!” Shaka tidak jadi membalas pesan dari Fida ia memilih untuk mmkembali memasukan ponselnya ke dalam saku celana, lalu kembali ke meja kerja meningggalkan Adit yang tentu saja masih kepo dengan dirinya.
“Gue mau kerja ya, Dit. Untung gue teman yang baik.” Shaka melihat ke gelas milik Adit yang berisi teh manis hangat. “Gue sirem ke muka lo.” Shaka berbicara begitu tentu saja hanya sebuah candaan ia sangat suka meledek Adit.
“k*****t lo!” kata Adti.
Shaka hanya tertawa sambil berlalu dari pantry untuk kembali bekerja, karena sepuluh menit lagi mau jam 9 di mana waktu kerja sudah dimulai di jam tersebut.
***
“Dir, ikut kan?” tanya Fida yang sedang bersiap-siap untuk keluar makan siang.
Dira berpikir kalau koneksi otak Fida pada saat ia mengatakan ‘iya gue ikut. Karena ada Shaka.’ Maka dari itu Fida malah bertanya lagi. “Lo melupakan jawaban gue dua jam lalu?”
“Emang jawaban lo apa?”
Anita yang sedang fokkus menginput data pun langsung menyambar, “iya gue ikut karena ada Shaka.” Teman kantor yang duduk di sebelah Dira, meskipun ia berbicara matanya tetap fokus ke komputernya jarinya menari-nari di atas keyboard.
“Noh, Anita yang duduk di sebealh gue ini. Lo tahu kan dia orangnya selalu serius dalam bekerja, tapi pendengarannya tajam dengan suara-suran yang ada di kantor ini.” kata Dira dengan kesal, ia mengambil botol minumnya yang sudah diisi air minum lalu bangkit dari duduk, “yuk jalan!”
“Iya gue tahu jawaban lo tadi.”
“Terus lo kenapa masih nanya?”
“Cuma basa-basi aja sih.”
Benar-benar ya Fida ini rasanya ingin Dira cincang mengjadi daging halus lalu ia jual di pasar, kemudian Dira akan menjadi kaya dan tak perlu lagi ke berangkat kantor pagi-pagi. Pulang bisa sore atau bahkan malam.
Fida dan Dira pun berjalan keluar kantor. Mereka sempat mengajak Anita sayangnya perempuan itu menolaknay dengan alasan tanggungn tinggal sedikit lagi data-data yang diinput ke sisitem. Dira atuapun Fida salut sekali dengan Anita yang sangat serius dalam bekerja, Fida tentu serius—kalau Dira tergantung sikon bisa serius kalau memang deadline kerjaan tersebut sudah H-2.
Seperti yang dikatakan oleh Fida tadi pagi ia ingin mengajak Timo dan juga Shaka untuk makan siang bersama dengan merkea (Fida dan Dira) di kantin gedung wisma Sejahtera. Timo menyetujui begitu pun dengan Shaka, informasi dari Timo. Fida heran dengan Shaka kenapa ia tidak memabalas pesan terakhirya apakah Shaka tersinggung dengan pesan terakhirnya itu. Namun, cepat-cepat Fida membuang pikiran negatifnya itu.
“Shaka benaran ikut, kan?” tanya Dira. Kini mereka berdua sudah berada di dalam lift yang agak sesak, tapi syukurnya mereka berdua masih bisa bernafas.
“Iya.”
“Gimana gue Fid?”
Fida menatap wajah Dira, “gimana apanya?”
“Muka gue gimana?”
“Muka lo masih normal nggak ada yang kurang apapun. Semuanya aman.”
Kalau saja lift tidak penuh dengan orang-orang yang akan makan siang. Dira sudah berteriak di dekat kuping Fida ‘GUE NGGAK NANYA MUKA GUE MASIH LENGKAP APA NGGAK, MAKSUDNYA MUKA GUE KELIATAN CAKEP NGGAK.’
“Makasih, Fidaku yang cantik.” Dira berkata cantik bukan benar-benar memuji ia hanya sedang sarkas karena kesal dengan temannya.
Ting!
Pintu lift pun terbuka mereka pun langsung kelaur dari lift berjalan menunju kantin; saat sampai di kantin sudah dua orang yang mereka ingin temui. Lebih tepatnya satu orang. Fida ingin bertemu dengan Timo dan Dira ingin brtemu dengan Shaka. Meskipun Dira sendiri pun tidak tahu apakah Shak aingin bertemu dngannya atau tidak. Sebenarnya Dira sudah tahu kalau jawabannya—jawabannya adalah tidak.
“Hai guys!” sapa Fida.
“Hai Fid.” sapa Shaka hanya kepada Fida, dan Dira tdiak disapa malah Timo yang menyapanya.
“Kalian belum pesan makanan?” tanya Fida.
“Belum nih kita bingung mau beli apa.” kata Timo. “Kamu ada saran nggak, Fid?”
Posisi duduk mereka sekarang adalah Fida duduk duduk berhadapan dengan Timo, dan Dirja duduk berhadapan dengan Shaka. “Aku sih lagi pengin nasi goreng. Kalo lo Dir amau apa?”
“Samaiin aja kaya lo.”
Fida pun bertanya kepada Shaka dan Shaka ingin memesan mie ayam, dan untuk minumnya disamakan dengan yang lain yaitu es teh tawar. Fida pun langsung memanggil pelayan minta dibuatkan pesanan yang sudah ia tulisakan di atas kertas putih kosong.
“Tim, Shaka hari ini baik banget lo. Dia bikin bekal buat aku.”
Timo pun menoleh ke arah Shaka, “iya Ka?”
Entah kenapa Shaka langsung bereaksi layaknya orang yang tertangkap habis menyolong ayam punya tetangga. “Eh… gini Tim. Yang bekas makan lo, kotak bekalnya punya Fida kan ya?” Timo mengangguk. “Gue kemarin bawa ke ruamh gue cudci, tadinya gue mau niat gue kasih kosong aja nggak ada isinya, tapi gue nggak enak jadi gue buatin bekal deh buat Fida.”
“Kok lo bisa kepikiran bawa otak bekalnya Fida. Itu kan lo bisa biarin aja di pantry biar gue yang ngasih. Lo kok kaya niat banget yah buatin bekal buat Fida?” Timo yang orang sangatlah kritis tidak bisa menerima sesuatu secara mentah-mentah.
Sebenarnya Timo cemburu—ia cemburu karena kekasihnya itu dapat perhatian dari laki-laki lainyang bukan dirinya. Shaka tidak langsung menjawab pertanyaan dari Timo ia pun kalau diposisi Timo akan bertanya hal yang sama.
“Gue mau berbuat baik emang gak boleh?” tanya Shaka
“Boleh, tapi nggak cewek gue juga kali.” kata Timo dengan nada kesal.”Lo suka ya sama cewek gue?”
“Nggak mungkin Tim, Shaka suka sama Fida.” Dira angkat bicara; Dira adalah anak yang positif vibes ia tetap berpikir positif—Shaka adalah orang yang sangat menjaga pertemanan dan perasaan orang lain. Shka tidak mungkin menyukai Fida
“Dir…”
Fida memotong ucapan kekasihnaya. “Kenapa jadi berdebat gini? Lagian Tim aku certia ke kamu bukan buat kamu jadi curiga gitu ke Shaka.” Fida yang cinta damai tidak terima dengan Timo yang menuduh Shaka aseprti itu padahal Shaka hanya punya niat baik.
“Kalo niat baik pasti dia bilang dulu ke aku.” Timo masih meyangkal. Sementara Shaka hanya diam saja, karena kalau orang sedang cemburu mau dijelaskan bagaimana pun tidak akan terima. “Ini kan nggak?”
“Timo!” Fida menatap Timo dengan tatapan peringatan. “Kamu bisa diem nggak? Masalah kaya gini nggak perlu dibahas terlalu jauh, “ Fida melihat ke arah pelayan yang sedang membawa nampan berjalan ke meja mereka.
“Mening kamu makan dulu Tim,” kata Fida. Sang pelayan pun menaruh semua pesanan mereka di atas meja.
“Iya makan dulu,” kata Fida. “Gue udah laper denger kalian berdebat jadi tambah lapar gue.” Dira pun langsung menyeruput es teh tawarnya.
Mereka pun langsung menyantap makanannya. Perdebatan kecil di atas meja, di jam makan siang, masih terus berlanjut karena Timi yang kentara terlalu cemburu dengan Fida.