“Gue mau nanya lagi nih, Ka.” kata Timo. Fida yang sedang tenang menyatap nasi goreng langsung menghela nafas sambil berkata, Tim apaan lagi nih.”Lo benaran tulus buatin bekal buat Fida. Tidak ada maksud lain?”
“Maksud lain itu apa ya Tim?” tanya Shaka.
“Maksud lainnya itu ya lo suka sama cewek gue, dan berniat untuk merebutnya dari gue.”
“Orang yang curiga dan cemburu buta sama pasangannya itu adalah orang yang tidak percaya diri.” Shaka memang benar-benar serius membuatkan bekal untuk Fida, tanpa ada maksud apa-apa.
“LO KOK!”
“Tim aku nggak mau kamu ribut sama Shaka kalo hanya hal-hal kecil saja. Aku nggak mau.” Fida memperingati kekasihnya untuk tidak memperjangan masalah yang tidak besar ini. “kamu mening makan dulu deh Tim, abisin.”
“Sabar Tim, cobaan hidup.” Kata Dira dengan santai.”Oh yah tadi gue juga makan sandwich lo Ka, enak. Lo bikin sendiri.”
“Iya.” Jawab Shaka sekenanya.
Rasanya Fida ingin menyiram Shaka dengan es teh tawar yang sekarang ada di depannya. “Kirain lo beli, ternyata bikin sendiri ya. Boleh bagi-bagi resepnya.”
“Gue nyari di Google.”
“Boleh minta link nya?”
“Cari aja sendiri.”
Fida yang memperhatikan percakapan di antara mereka berdua yang kaku seperti kanebo kering itu pun berkata, “lo kaku banget sih Shaka, di jawab dong.”
“Iya Ka,” ucap Timo. “Lo ama cewek gue aja luwes banget, kalau sama Dira cuek kaya dingin gitu. Udah fix ini…”
Fida memotong ucapan Timo yang mengarah kepada keribuataan babak kedua. “Jangan mulai ya Timi, benaran kalo kamu kaya gini terus. Kamu jangan hubungi aku lagi!” ancam Fida yang tidak benar-bnar mengancam.
“Mungkin dia lagi sariawan kali, Fid.” Kata Dira asal.
“Tadi dia….”
Ucapan Fida kini diotong oleh Shaka, “Dira temannya Fida. Ia Itu sandwich gue buat sendiri, dan resepnya gue nyari di Google entar gue kasih link nya. Jadi sebaiknya kalian jangan terus berdebat abisin dulu tuh makanannya, dari berbedat mulu tentang hal-hal kecil. Kalo berdebat tentang hal-hal yang lebih berat kaya kenapa dunia sekarang makin kacau.” tukas Shaka.
Mereka semua: Timo, Fida, dan Dira laangsung diam, dan langung fokus pada makanan masing-masing untuk dihabiskan.
“Sori ya Ka,” kata Fida. “Maklum Timo sedang sensitif akhir-akhir ini padahal dia nggak punya tamu bulanan, yah tapi begitu mood nya.”
Fida melihat Timo seperti ingin akan bicara lagi. Fida langsung memperingati Timo untuk diam, dan Timo pun menurutinya. Ia tahu jika terus memaksa pasti jadi berdebatan tidak akan berujung bahkan berdebatan di antaraa mereka bisa menghalahkan adu debat antar calon kandidat presiden.
***
Fida berjalan di belakang Timo di parkiran. Entah kenapa Timo jadi diam saja Fida tahu ini kekasihnya sedang ngambek karena cemburu tidak jelas. Fida berkali-kali memanggil Timo, tapi tidak di respon, sempat menoleh ke belakang. Akan tetapi, Timo tidak berkata apa-apa.
Timo tetap bersikap seperti itu sampai merkeaberdua sampai di depan motor Timo yang terparkir di basement wisma Sejahtera.
“Jadi kamu marah ya?” tanya Fida.
Timo kalau lagi marah bisa melebihi saat ia marah dengan Timo. Tapi, kalau Timo ngambek dan Fida balik ngambek malah Timo yang dulu minta maaf duluan.
“Gak tau.” Timo memasukkan kunci mobil ke dalam lubang kunci motor. Setelah berahasil membuak kunci motornya ia mengeluarkan motornya, dan menaikinya.
Gak tau?! Kalau tidak tahu berarti Timo benar-benar marah terhadap Fida. Fida paham betul kalau Timo itu sedang marah ekspresinya benar-benar mengambarkan itu semua.
“Kalau marah bilang marah, Tim. Nggak susah ngambek gitu, kaya cewek lagi PMS kamu itu ya Tim.” Fida bersedekap.
Timo tidak menanggapin ucapan Fidas ia memberikan helm untuk kekasihnya itu, “nih pake helmnya takut ditilang.”
Fida menerima helm dari Timo, “kamu benaran marah.”
“Cepet naik, pakai helmnya.”
Sepertinya mood nya Timo kali ini sedang tidak stabil karena sedang cemburu buta tidak jelas denan Shaka, Fida hanya hara tadi ia tidak berdebat dengan Shaka. Masa sih satu tim, teman dekat, dan hampir ke mana-mana mereka berdau, tambah deh jadi tiga sama Adit.
Fida pun langsung ke motornya Timo. Ia memegang pundak Timo lalu setelah posisi duduknya diyakini sudah benar, Fida bertanya keapda Timo terlebih dahulu.”Ini kan kamu lagi ngambek ya, Tim. Kalau aku pegangan sama kamu, ini kamu nggak bakal ngambek?”
“Sebagai penumpang kamu bisa nggak—nggak perlu banyak nanya?!”
Motor Timo langsung melaju. Fida terdiam, ini beneran sih Timo ngambek ya ampun—kalo ngambek napa ngeselin sih? Eh Fida mana ada sih orang yang ngambek nggak ngeselin. Fida pun bodo amat mau Timo marah seperti apapun, Fida tetap melingkari tangannya di pinggang Timo.
Sebenarnya Fida deg deg kan takut kalau Timo tiba-tiba berkata, “ngapain kamu pegangan sama aku?” syukurnya Timo tidak mengatakan itu. Kekasihnya hanya diam tanpa berkata apa-apa.
Di perjalanan menuju rumah Fida. Biasanya mereka selalu berisik mengobrol tentang hal apapun dari yang penting, sampai tidak penting. Tapi, untuk kali ini Timo hanya diam saja. Fida yang mood tidak enak butuh seseorang untuk diajak bicara.
“Tim?” panggil Fida di telinga Timo. Kini mereka berdau berhenti di lampu merah. Sayangnya Timo sama sekali tidak merespon sambil lampu merah berubah kembali menjadi hijau.
“Ini kamu beneran marah sama aku? Tim kalau marah itu bilang marahnya karena apa. Kasih tahu ke aku apa aku buat salah sama kamu.” Fida. Akan tetapi, Timo sama sekali tidak menggubrisnya.
Fida pun berpasrah dalam hatinya, yaudah terserah deh terserah. Jujur saja meliaht Timo ngambek begini malah membuat Fida merasa bersalah. Fida tahu kalau Timo marah dengannya karena masalah tadi siang di kantin.
***
Sampai di rumah Fida. Fida langsung memeluk Timo, entah kenapa air mata Fida tiba-tiba menetes padahal di antara mereka tidak ada berdebatan yang berarti. Hanya Timo yang mengambek hanya masalah kecil yang seharusnya TImo tdiak perlu besikap begini. Timo biasanya tidak pernah begini; karena Fida tahu bange Timo Tuh kalau merah dengannya soal masalah kecil yang sering ngambek seperti ini adalah Fida kini malah terbalik.
“Hei hei, Fida.” Timo yang mengetahui kalau kekasihnya itu sedang mengeluarkan ari mata dalam pelukannya.”Kamu kenapa nangis? Maafin ak ya, maaf sayang.” Timo mengangkat wajah Fida untuk bisa menatap dirinya.
Timo memperhatikan mata Fida yang memerah karena tangis ia jadi makin meresa bersalah dengan Fida karena sedari tadi ia hanya mendiamkan keksaihnya itu. Timo langsung menghampus air matanya dnegan kedua ibu jarinya. “Siapa sih yang buat kamu menangis gini?”
Air mata Fida malah tambah deras turun membasahi pipinya. Terserah bila manganggap kalau Fida itu cengeng banget. Ya tapi beginialah adanya Fida perasan terlalu sensitive.
“Kamulah,” kata Fida sambil sesesugukkan.
“Iya maaf sayang iya.” Timo turun dari motornya langsung memeluk Fida, “maafin aku ya. Aku lagi kesel aja sama Shaka, yang sok perhatian gitu sama kamu.”
“Iya. Tapi, kamu sama Shaka jangan berantem ya.” Pesan perempuan yang sudah menemani Timo selama empat tahun ini.
“Nggak kok. Aku sama Shaka baik-baik saja.”: uajar Timo. Memang benar ia dan Shka abaik-baik saja tidak bertengkar; lagi pula Timo tidak suka mencari keributan. “Shaka udah memberikan aku penjelasn, dan aku bisa menerimanya.”
Fida melepaskan pelukannya dari Timo, “bener yah kamu udah nggak kenapa-napa ya sama Shaka?”
“Enggak sayangku, Udah nggak kenapa-kenapa.” Timo pun meminta Fida untuk masuk ke dalam rumah karena ini sudah malam. “Iya aku pulang nih, aku pulang kamu masuk ya ke dalam rumah.” Kata Timo.
“Iya.”
Mereka berdua pun berpamitan Timo pun langsugn melajukan motornya. Setelah Timo pergi Fida pun langsung masuk ke dalam rumahnya. Saat ia memasuki rumahnya tiba-tiba ponselnya bergetar tanda pesan masuk.
Shaka
Fid lo ama Timo nggak bertengkar kan?
Satu pesan masuk dari Shaka yang mungkin khawatir setelah peristiwa di kantin ia dengan Timo akan bertengkar, Shaka mungkin kepikiran kalau ini gara-gara dirinya. Padahal Shaka seharusnya tidak perlu merasa besalah seperti itu.
Fida
Semuanya aman terkendali
Lo nggak perlu mengkhawatirkan apa-apa
We are fine.
Seperti biasa Fida kalau habis pulang kerja sebelum masuk ke rumah ia kan bersih-bersih terlebih dahulu. Tergantung dengan mood nya kalau memang ia sedang ingin mandi ia akan mandi. Kalau sebaliknya paling Fida hanya mencuci muka, sikat gigi, dan cuci kaki lalu langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk merebahkan diri di kasur.
Malam ini Fida ingin mandi karena tubuh terasa lengket dan gerah. Rambutnya perlu dicuci karena sudah empat hari tidak di keramas-keramas.
Setelah ia selesai mandi Fid akembali meng-check ponselnya. Ada satu balasan dari Shaka—balasan pesan miliknya yang terakhir tadi.
Shaka
Syukurlah Fid.
Gue kepikiran banget tau!
Timo juga sempet ngambek sama gue
Hahahaah
Tapi, Timo kalau marah nggak pernah lama
Dia langsung baik lagi, pas gue bikini kopi
Fida membaca pesan dari Shaka sambil menaiki tangga menuju kamarnya, ia tidak langsung membalas pesan dari Shaka ia memilih untuk menganti pakaiannay dengan pakaian tidur. Baru setelah itu ia membalas pesan dari Shaka.
Fida
Syukurlah kalo baik-baik aja
Gue udah kasih tahu si Timo
Untuk nggak marah-marah sama lo
Udah clear ya masalahnya.
Mata Fida pun mulai terasa berat, ia mulai mengantuk ia pun langsung tertidur tanpa melihat balasan dari Shaka, dan malam itu Shaka menunggu balasan dari Fida sampai tertidur.
Shaka
Lo udah sampe rumah?
Tadi diantar Timo kan?