Fida baru saja bangun dari tidurnya ia menguap, dan mengucek matanya. Hal yang pertama dilakukan Fida saat bangun tidur adalah minum segelas air putih, lalu mengecek ponselnya siapa tahu ada pesan masuk penting.
Shaka
Lo udah sampe rumah?
Tadi diantar Timo kan?
Pagi buta begini mustahil ada pesan masuk dari kantor. Satu pesan masuk—lebih tepatnya pesan masuk dari Shaka tadi malam. Fida tipe orang yang tidak enak kalau tidak membalas pesannya apalagi sudah dibaca.
Fida
Sbb ya. Gue malem ketiduran
Jadi nggak sempet balas pesan lo
Gue balik sama Timo
Setelah membalas pesan dari Shaka Fida langsung bergegas bangun dari tempat tidur, menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Fida biasanya bangun selalu jam 05:00, tidak lebih ataupun kurang kenapa ia bangun labih pagi dari biasanya? Karena ia harus menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga adiknya Tata.
Selesai mandi Fida langsung memakai baju kerja, tapi ia tidak langsung berdandan karena harus ke dapur terlebih dahulu untuk menyiapkan sarapan. Pagi ini ia membuat roti panggang pakai telur, keju, dan sayuran. Fida selalu membuat sarapan yang simple karena ia mengejar waktu. Kalau membuat sarapan yang agak rumit ia harus bangun lebih pagi.
Fida menyalahkan kompor menaruh wajan di atas kobaran api, menuangkan mentega, lalu menaruh empat lempar di atas wajan. Panggang roti sampai dirasa cukup matang (sesuai selera). Setelah rotinya matang, Fida mematikan dahulu kompornya. Ia membuka dua butih telur, dikocok, menyalahkan kembali kompornya menaruh mentega di atas wajan, lalu mendadar telurnya.
Setelah telur matang Fida menaruh di atas roti, di tambah daun selada, saus dan mayones, dan sarapan pun jadi. Fida pun langsung menyiapakan sarapannya di atas meja tidak lupa ia membuat dua gelas s**u. Tata baru bangun dari tidurnya ia keluar dari kamarnya dengan mata yang masih mengantuk sambil membawa handuk yang ia sampirkan di pundaknya.
Fida terlebih dahulu sarapan, memang biasanya selalu ia yang sarapan lebih dahulu karena ia megnejar waktu—taku terlambat sampai di kantor.
Satu pesan masuk dari seseroang yang sangat amat ia cintai yaitu Timo.
Timo
Aku udah ada di depan rumahmu
Membaca pesan dari Timo membuat Fida terbatuk-batuk. Jam 06:48 Timo sudah sampai dari Bekasi ia jam berapa? Fida pun langsung berjalan keluar untuk membukkan pintu untuk Timo.
Penampilan Timo pagi ini benar-benar berbeda dari biasanya. Maksunya Timo terlihat lebih fresh senyum sumringah terukir di bibirnya. Tepat saat Fida membuka pintu Timo mengatakan, “pagi pacarku yang cantik. Sudah siapkah kamu berangkat kerja bersama denganku?”
“Timo apa sih kamu. Kamu dari rumah jam berapa? Pasti pagi banget ya?”
“Iya demi kamu loh ini.”
“Kamu udah sarapan?”
“Udah Fid, kalau kamu udah sarapan?” tanya Timo balik.
“Aku lagi sarapan ini.” Ucap Fida lalu ia mempersilahkan Timo untuk masuk terlebih dahulu, “kamu mau kan tungguin aku dulu? Aku mau habisin sarapan dulu.”
Timo mengangguk, “tentu dong mau aku.”
Timo pun menemani Fida sarapan di ruang makan. Tak lama dari itu Tata pun muncul dengan rambut basah habis mandi, entahlah Fida sendiri heran dengan adiknya itu kalau mandi pagi itu cepat sekali kalau ditanya jawaban Tata selalu sama; air di pagi hari lebih dingin daripada di malam hari.
“Ka Timo pagi-pagi sudah nongkrong aja di sini.” Kata Tata seraya duduk tepat di samping Timo. “Dari rumah jam berapa ka?”
“Jam 5 pagi.”
“Wow!” Tata mengucapkan kata ‘wow’ nya terlalu berlebihan atau lebih tepatnya dibuat-buat bair terkesan terkejut bagaiaman gitu. “Benar-benar perjuangan yang luar biasa untuk bisa mengantar kekasih yang dicintainya.”
“Tata kamu bisa nggak untuk kalem sekali ini aja.” Fida memperingatkan adiknya itu menjaga sikapnya, “sarapan dulu. Terus ganti baju jangan sampai terlambat sekolah.’
“Fid, kalau adik kamu tiba-tiba diem, aku malah takut.”
Tata meloto heran, “takut kenapa?”
“Takut kamu keserupan.” Ucap Timo diringi tawa, dan Tata pun menyambutnya dengan tawa juga.
Sementara Fida hanya mengeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan dua orang di hadapannya yang sama-sama tidak jelas.
“Tuhkan gue bilang apa, ka Timo aja lebih suka gue pecicilan. Masa lo nyuruh gue diem.”
“Terserah.” Fida mengigit rotinya dengan kesal.
“Ada yang ngambek tuh yah Ta, perlu diapaiin.”
“Dibuang aja.”
“Ke mana?” tanya Timo.
“Ke laut.”
Tawa mereka berdua pun meledak, dan Fida langsung mengangkat piring kecil yang tadi berisi roti kini sudah habis, dan menaruh di tempat cuci piring. “Tata karena kamu udah kurang ajar, kakak hokum kamu cuci piring ya malam ini.”
“Cuci piring doang ka.” Kata Tata menantang.
“Mau sama cuci baju kamu?”
“Nggak makasih ka.”
Setelah menaruh piring kotor di tempat cuci piring, Fida langsung bergegas men-touch make up nya. Lalu setelah men-touch make up Fida langsung mengajak Timo untuk segera berangkat. Takut di jalan macet, dan Fida tidak mau daang terlambat.
“Tata kakak pergi dulu ya. Uang saku kamu udah kakak taruh di meja belajar kamu.”
“Oke makasih. Hati-hati ya.”
“Sekolah yang pintar yah, Ta. Ka Timo berangkat dulu.”
Ketika mereka berdau sudah berada di luar rumah Fida, dan Timo sudah duduk di motornya. “Tadi Tata aku kasih uang jajan juga.”
“Kamu ngapain ngasih uang jajan juga ke Tata? Keenakan dia jajannya jadi banyak.” kata Fida. Fida tidak pernah malarang Timo untuk memberikan uang jajan untuk Tata. Akan tetapi, ia merasa tidak enak saja dengan Timo, padahal ia sendiri pun mampu.
“Sekali-kali doang Fid.” Kata Timo
“Yaudah makasih ya.”
“Iya sama-sama ya.”
Mereka berdua pun langsung meluncur menuju kantor untuk bekerja mengumpulkan pundi-pudi supaya bisa menikah di tahun depan, kalau memang tidak tahun depan tunangan dulu.
***
“Lo nggak jadi perang dunia kan sama Timo?” tanya Dira. Dira yang baru sampai kantor langsung menghampiri Fida yang sedang fokus pada komuternya.
“Iya perang dunia!”
“Wah bener tuh yah si Shaka! Biang kerok banget.” Dira sebenarnya tidak ingin menyalahkan Shaka. Akan tetapi, kalau ditelaah lebih jauh Shaka memang salah dalam kasus ini. Untuk apa coba ia membuat bekal untuk Fida mencari keributan memang Shaka. “Shaka harus bisa mendamaikan lo dan Timo.”
Fida hanya tertawa melihat ekspresi dira yang kesal sekali dengan Shaka, padahal sama sekali tidak terjadi perang dunia. Ada sih, tapi Fida menganggap itu hanya bumbu-bumbu saja. “Jangan kesal gitulah sama Shaka, nggak kok kita baik-baik aja. Kita nggak bertengkar setelah gue beri pemahaman ke Timo kalau kita nggak perlu memperpanjang masalah sepele ginilah.”
“Kirain gue mah lo benaran bertengkar sama Timo,” Dira menepuk pundak Fida dengan pelan. “Shaka ada kata maaf nggak ke lo? Kalau sampe dia nggak ngerasa bersalah sama sekali sih keterlauan ya.”
Fida menautkan alisnya bingung dengan Dira yang begitu emosi dengan Shaka, paling kalau di depan Shaka langsung menciut. “Lo berani nggak ngomong gini di depan Shaka?” tanya Fida.
“Beranilah.” Padahala dalam hatinya Dira berkata, ya nggaklah yang ada gue malah di semprot sama si Shaka.
Anita yang baru datang, dan baru saja menaruh tasnya di meja langsung berkata ke Fida, “Fid ada yang nyariin lo tuh di luar.”
Fida pun langsung bertanya-tanya, siapa yang mencarinya? Kalau itu vendor yang bekerja sama dengan kantornya pasti langsung menemuinya di dalam. “Siapa Nit?”
“Ada cowok ganteng pokoknya.” Kata Anita, “coba lo samperin aja.”
Dira dan Fida pun saling melirik satu sama lain, sama-sama bertanya soal siapa orang di luar sana. Fida meminta Dira untuk menemaninya. Si Dira yang memang anaknya sangatlah kepo sekali pun akhirnya mau ikut keluar untuk menemani sahabatnya itu meskipun dirinya sendiri pun sedang mager. Mager itu alias malas gerak.
Saat sampainya mereka di luar. Mereka berdua Fida dan Dira sama-sama terkejut dengan kehadiran sosok laki-laki di depan kantor mereka. Sosok itu adalah orang yang mereka kenal. Orang yang baru saja mereka bicarakan.
“Shaka?”
“Hai Fid,” entahlah Shaka heran dengan dirinya sendiri kenapa malah jadi kikuk begini. “Ganggu gak gue?”
“Nggak kok. Belum mulai masuk kerja, kenapa ka?”
“Boleh kita bicara berdua, Fid.”
Rasanya itu jleb banget! Hati Dira seperti ditusuk oleh ratusan anak panah yang menghunjam inti jantungnya. “Yaudah Fid, gue balik yak ke dalem. Lo baik-baik di sini.” Dira menatap Shaka sinis sebenarnya Dira tidak ingin bersikap begini, tapi Shaka yang bikin kesal lebih dulu.
Fida memberikan isyarat dengan mengancungkan jempol kea rah Dira. Dira pun masuk, dan Shaka mulai bicara.
“Lo mau ngomong apa ka? Dira udah ke dalem.”
“Ini gue mau minta maaf.”
“Lo masih mikirin soal kemarin, Ka?”
Shaka mengangguk, “walaupun Timo nggak marah sama gue. Gue nggak enak aja sama lo. Jadi, gue putuskan untuk nyamperin ke sini. Gue mau minta maaf langsung ke lo.” Ucap Shaka.
Sebenarnya ini bukan masalah besar, begitulah menurut pendapat Fida, lagi pula semuanya sudah clear meskipun Timo sempat ngambek dengannya. Tapi, sekarang mereka berdua sudah baik-baik saja.
“Iya lo gue maafin. Sebenarnya lo nggak perlu sampe kaya gini, lo bisa minta maaf ke gue lewat chat. Itu udah cukup buat gue, Ka.”
“Gue ke sini selain ke sini. Buat minta maaf, gue ke sini mau ketemu sama lo.”
“Kenapa lo mau ketemu gue?”
“Gue mau pastiin lo baik-baik aja.”
Hah? Untuk memastikan Fida baik-baik saja. Memangnya dirinya ini kecelakaan atau apa, pikir Fida. Aneh sekali dengan Shaka. “Gue nggak ngerti kenapa lo mau mastiin gue baik-baik aja. Gue baik-baik aja kok, nggak ada yang luka yang serius di tubuh gue. Gue baik-baik aja.”
“Gue seneng kalo lo baik-baik aja. Semoga lo baik-baik aja, langgeng sama Timo, dan selalu diselimuti kebahagian.” ujar Shaka.
Fida langsung memegang kening Shaka, “lo nggak gila kan ya?”
“Gue baik-baik aja Fid, gue gila kalau lihat lo sedih.”
“Beneran ya lo sinting ka, sono lo balik ke kantor kerja. Gue mau kerja udah jam 9, dan jangan khawatirin gue. Gue baik-baik aja kok. Makasih juga lo udah perhatian sama gue.”
“Sama-sama.” Shaka pun langsung berjalan kembali menuju lift, untuk pergi ke kantornya karena memang jam masuk kantor Shaka sama dengan Fida.
Fida merasa hari ini Shaka benar-benar aneh; tiba-tiba datang ke kantornya hanya untuk minta maaf dan memastikan dirinya baik-baik saja. Fida yakin kalau Shaka habis kesambet sesuatu waktu perjalanan untuk sampai di kantor.