Hari ini Dira jalan-jalan sendiri di mall dan kini ia sedang berada di sebuah restaurant Jepang tentu saja seorang diri. Memang sepertinya Tuhan sudah merestui apa yang dipikirkan oleh Dira disaat ia ingin sekali tanpa sengaja bertemu dengan Shaka.
Dira belum menyadarinya bahawa saat ini di meja dekat kasir ada Shaka yang sedang duduk sendirian, ditangannya ada dua tiket menonton. Akan tetapi Shak amaish bingung ingin mengajak siapa ada satu orang yang ingin ia ajak, dan Shaka sudah mengajak. Orang itu adalah Fida, sayangnya Fida tidak bisa karena ingin jalan dengan Timo.
Saat Shaka sedang menikmati makanananya pandangan Shaka meliaht ke mana-mana sampai akhirnya ia menemukan sosok yang ia kenal yaitu Dira. Dira sedang sendirian atau lebih tepatnya di temani oleh makanan, kalau ditemani oleh makanan berarti Dira tidak sendirin.
Shaka pun terpikirkan untuk mengajak Dira menonton bersama. Awalnya ragu, namun apa salahnya mencoba daripada tiketnya mubazir. Shaka pun menghampiri Dira ia meliriik ke ponsel yang sedang Dira pandangin perempuan itu sedang stalker artis-artis Korea.
Tanpa meminta izin terlebih dahulu Shaka langsung duduk di depan Dira, “Dira lo sendirian aja nih?” tanya Shaka.
Dira yang memang sedari tadi sedang fokus dengan ponselnya memanding para actor Korea ia pun langsung menengadahkan kepalanya, terlonjak kaget ada Shaka di depannya. Kok bisa ya? Ini takdir ya? Ini kenapa ya? Kok si Shaka bisa ada di depan gue?
“Shaka lo kok ada di sini?” tanya Fida.
“Nanyanya klasik banget deh! Jelaslah gue ada di sini. Ini restaurant kan? Siapa aja boleh dateng, kan? Ini tempat umum loh.” Ucapan Shakaa memang mengesalkan. Tapi, Dira sudah biasa mendengarnya memang Shaka orangnya seperti itu.
“Gue ucam nanya daong ka, nggak usah ngegas.” Kata Dira kesal.
Shaka yang orangnya memang to the point ia pun langsung mengatakn ini, “lo mau nonton nggak? Kalo mau nonton, nonton berdua sama gue.”
Dira pun langsung memasang ekspresinya yang shock.Shock. Shock karena terakhir kali ia diajak menenonton oleh seorang laki-laki adalah pada saat ia masih duduk di semester akhir bangku kuliah. “Ini serius?” tanya Dira dengan polos.
“Serius!” jawab Shaka dengan suara tegs. “Emangnya muka gue keliatan nggak seriusnya ya?”
Dira tahu kalau Shaka itu serius. Hanya saja ia masih tidak percaya dan tidak bisa diungkapan dengan kata-kata. Ia diajak nonton dengan Shaka sesuatu yang rasanya mustahil, tapi kini lihatlah menjadi kenyataan.
“Nggak begitu. Kaget aja diajak nonton sama lo.”
Shaka memicingkan mata, “kaget?”
“Semua cewek juga kalo diajak nonton sama the most handsome di wisma Sejahtera pada kaget termasuk gue.” Bagaimana tidak terkejut nonton berdua dengan Shaka adalah impian Dira, dan ternyata itu jadi kenyatan sekarang. Mereka dipertemukan di sini—berarti semesta sedang selaras dengan keinginan Dira.
“Berlebihan banget yah lo.” kata Shaka.
Jutek amat dah lo Shaka baik dikit napa, kata Dira di dalam hatinya. “Ya maaf Ka, kan cuma muji.”
Shaka pun langsung berkata kepada Dira dengan to the point. “Lo mau nonton nggak sih?” Shaka mengeluarkan dua tiket bisokop film tentang superhero. “Kalo nggak mau tiket satu ini gue buang.”
“Sayang dibuang tahu, kan belinya pake duit.”
“Iya. Lo mau nonton nggak? Sama gue?”
“Mau dong.”
“Nah gitu. Yaudah lo abisin tuh makanan lo!” perintah Shaka kepada Dira.
Dira pun tanpa disuruh ia akan menghabiskan makanannya karena ini lumayan mahal, dan kalau tidak habis Dira bisa kepikiran sampai berhari-hari. Kenapa ia tadi beli makanan itu kalau tidak habis? Kenap ia tidak menghabiskan makanan itu?
“Filmnya mulai jam berapa?”
“Satu jam lagi,” jawab Shaka sambil menunjuk tiket bioskop di tulisan angka yang menunjukkan kapan film di mulai. “Ini kan udah tertera di tiket jam berapanya.”
Dira hanya menyengir, “oh iya. Lama juga ya, bisa kali kita.”
“Bisa apaan?”
“Bisa ngobrol Ka.”
“Ngobrol tentang apa?”
Dira menatap Shaka heran ini orang tinggal di mana? Di mars? Pluto? Matahari? Bulan? Atau apapun itu. Kenapa masih nanya mau ngobrolin apa. Shaka ini manusia yang tingal di mana? Dira heran dengan Shaka.
“Lo mau ngobrolin apa emang?”
“Yah nggak tahu!”
Dira menghela nafas kesal, “yaudah kita obrolin kenapa kita bisa ketemu?”
“Kebetulan.”
“Takdir.” jawab Dira.
“Kebetulan.” jawab Shaka yang tetap tidak mau kalah. Jangankan dengan Dira, dengan Timo ataupun Adit pun Shaka memang begitu.
Dira tidak menjawab lagi ia memutuskan untuk mencari obrolan yang lebih berbobot. Namun, tib-tiba Dira terpikirkan dengan Shaka yang waktu itu tiba-tiba datang ke kantor untuk meminta maaf ke Fida sampai ia tidak boleh bergabung, padahal pada saat itu Dira ingin sekali mendengarkannya.
“Lo waktu itu ngapain nyamperin Fida ke kantor?”
“Kepo. Kenapa harus nanya itu?” Shaka memang tidak suka dnegan orang yang terlalu ikut campur dengannya—urusannya.
“Lo nggak perlu jelasin semua ke gue apa yang lo ceritain ke Fida, gue cuma tahu aja. Biar kita ada oborolan gitu, iya kan?”
“Tapi, obrolannya bisa yang lain loh,” kata Shaka.
EH SHAKA KAN TADI GUE BILANG MAU NGOBROLIN APA, LO SENDIRI NGGAK TAHU. INI YANG NYARI TOPIK GUE MULU. Dira di kepalanya seperti sedang berapi-api mengucapkan kata-kata itu sangking ia kesalnya dengan Shaka, tapi tidak berani ia ungkapkan.
“Oke,” Dira menyanggupinya meskipun ia tidak mau membicarakan soal apa. “Tadi ke sini naik apa?”
“Emang lo nggak pernah lihat gue naik apa gitu kalo ke kantor?”
Eh salah lagi gue! Dira jadi bingung mau mengajak bicara apa dengan Shaka, dan sangking kesalnya Dira ia pun langsung mengatakan, “yaudah lo aja deh yang nyari topik.”
Diam. Shaka tidak menjawab apapun ia memilih untuk diam. Begitupun dengan Dira yang tidak mau lagi berkata apa-apa, ia tidak mau lagi disalahkan. Sebentar-bentar Dira melihat jam di ponsel, semoga jam cepat berlalu supaya ia dengan Shaka bisa menonton film.
“Kok lo diem?”
Ucapan Shaka barusan benar-benar membuat Dira geram. Begini tadi kan Dira sempat mengajak ngobrol Shaka, tapi Shaka selalu menyalahkan. Itu berarti pertanda kalau seharusnya Dira diam tidak lagi bicara apa-apa. Sekarang kok Shaka malah memintanya untuk berbicara.
“Iya diem. Gue takut kalo ngomong malah salah lagi.” Dira menyuapakan terakhir makananya ke dalam mulut.
“Lo salah karena lo mempertanyakan pertanyaan yang terlalu kepo. Emang apa untungnya buat lo kalo gue jawab semua pertanyaan lo?”
Pertanyaan dari Shaka sungguh menohok perasaan Dira, dari pertanyaan Shaka ada benarnya apa untung untuk dirinya bila mendapatkan jawaban dari Shaka. Dira menggelengkan kepalanya, “nggak ada untungnya sih, gue kan cuma basa-basi aja.”
“Kalo hidup itu jangan kebanyakan basa-basi, ketauan banget muka duanya.”
“Iya, maaf.” Aduh ngapa dari tadi gue minta maaf mulu sama si Shaka, gue nggak salah kok. Dira mengomeli dirinya sendiri.
“Jangan juga lo kebanyakan minta maaf, kalo lo kaya gitu. Lo jadi gampang untuk disalahkan sama orang-orang. Dunia ini jahat Dir, lo harus bisa tegas sama diri lo sendiri.” dibalik ucapan Shaka seperti itu tandanya ia peduli dengan lawan bicaranya.
Mereka pun kembali diam lagi; tidak ada yang memulai bicara duluan baik Shkaa maupun Dira. Sampai akhirnya jam untuk menonton pun dimulai. “Sepuluh menit lagi film akan dimulai, makanan lo juga udah abis.” Shaka melihat ke makanan Dira yang sudah habis.
Shaka bangkit dari tempat duduknya diikuti pula oleh Dira, dan mereka berdua pun langsung pergi menuju bioskop. Lokasi bioskopnya ada di lantai tiga. Mereka berjalan berdampingan, tidak bersentuhan sama sekali malah terlihat seperti menjaga jarak satu sama lain.
“Lo suka berpergian sendirian yah, Dir?” tanya Shaka.
“Iya. Lo sendiri?”
“Emang lo nggak punya pacar?”
Dira tidak langsung menjawab pertanyaan Shaka barusan. Pikiran ia langsung melalang buanan ke mana-mana. Shaka bertanya apakah ia punya pacar atau tidak, apakah ini pertanda kalau Shaka diam-diam Shaka menyukainya. Dira pun langsung membuang pikiran itu jauh-jauh, dan kembali kekenyataan lalu menjawab pertanyaan dari Shaka. “Nggak lebih enak single sih.” Tapi, pengin juga sih punya pacar.
“Apa karena lo nggak ada yang deketin?”
“Tahu dari maan kalo gue nggak ada yang deketin?”
Shaka memperhatikan Dira dengan seksama lalu ia berkata, “tampang kaya lo kayanya susah deh punya pacar.”
Dira tidak terima Shaka mebawa-bawa fisik. “Kok lo bawa-bawa fisik sih?”
“Fisik lo nggak jelek, cuma kayanya emang lo tipe orang yang susah dideketin. Jadi, cowok ngak ada yang berani buat deketin lo.” tukas Shaka.
Dira rasanya ingin menjawab; gue itu begitu dingin karena gue nunggu lo dari dulu. Gue nunggu lo Shaka nunggu lo untuk lihat kea rah gue.
Mereka berdua pun sampai di bioskop tepat duit sebelum film di mulai. Shaka dan Dira pun mengantre seperti yang lain, menunggu untuk tiketnya dirobek oleh petugas bioskop. Saat giliran mereka Shaka yang menyerahkan tiketnya, setelah dirobek mereka berdau pun masuk.
Hari itu tidak ada yang tahu betapa Dira sangat bahagia bisa pergi dengan Shaka tanpa direncanakan sama sekali. Mereka bertemu begitu saja, dan Dira percaya kalau ini bukan sebuah kebetulan. Ini mungkin sudah dirancang oleh Tuhan untuk mereka berdua bisa dipertemukan.
Sementara dari sisi Shaka ia ingin sekali hari ini bisa menonton bioskop bersama dengan Fida, tapi apa mau dikata Fida sedang berdua dengan kekasihnya. Shaka tidak bisa memaksa memangnya Shaka siapanya Fida? Hanya sekadar teman.
Setelah menonton bioskop awalnya Dira hendak pulang sendirian, tapi tak disangka Shaka manawarkan diri untuk mengantar Dira pulang ke rumah. “Lo mau pulang bareng gue nggak?”
Walaupun di dalam hati dira ingin mengatakan ini ‘MAU BANGET SHAKA MAU BANGET’. Akan tetapi, Dira harus bersikap biasa saja. Biar tidak terlalu kentara exited nya. “Nggak apa-apa?”
“Gue lagi baik nih, jadi gue nawarin ke lo untuk pulang barreng sama gue.”
“Rumah gue jauh, di Depok.”
“Lalu?”
“Lo nggak apa-apa Shaka?”
“Iya nggak apa-apa. Kan gue nganterin lo pake motor, bukan jalan kaki lo.” Shaka berjalan di depan Dira, lalu ia mengehentikan langkahnya menoleh kea rah Dira. “Tapi lo jangan kepedean ya!”
Hah? Hanya itu respon yang diberikan oleh Dira. Dira tidak paham antara kepedan, dan juga mengantar pulang. “Maksudnya apa ya, Ka?”
“Lo jangan kepedan kalo gue anterin pulang karena gue suka sama lo. Gue anterin lo ini tanda terima kasih lo ke gue karena udah mau nemenin gue buat nonton.” tukas Shaka.
“Yaudah tenang aja gue nggak bakal kepedean kok.” Walaupun ada harapan Shaka mengantarnya dengan tulus ikhlas tanpa ada embel-embel apapun. “Gue udah tahu kok maksud lo ka, jadi jangan khawatir.”
“Bagus deh kalo begitu.”
Akhirnya mereka berdua pun pulang bersama. Dira berharap semoga ini sebuah kemajuan untuk dirinya bisa lebih dekat lagi dengan Shaka. Walaupun kemajuan ini nggak seberapa, karena sedari tadi pun Shaka tidak terlalu banyak bicara. Sekalinya Dira yang mencoba membangun suasana malah disalahkan melulu oleh Shaka.