Fida mengambil kripik singkong yang diletakan di dalam sebuah mangkuk kecil di atas meja ruang makan rumah Fida. Di sampingnya ada Timo yang sedang mengunyah choco chips, sambil men-scroll ponselnya sedang browsing.
“Tim?”
“Hmm.”
Fida ingin bercerita tentang Shaka yang waktu itu datang ke kantornya hanya untuk meminta maaf, memastikan dirinya dan Timo tidak bertengkar, dan memastikan dirinay dalam keadaan baik-baik saja.
“Kamu tahu nggak?
“Tahu apa saying?”
“Aku tuh mau cerita ini ke kamu cuma lupa mulu loh. Shaka cerita nggak ke kamu?”
Timo langsung meletakkan ponselnya di atas meja makan yang terbuat dari kaca. Ia kini ingin fokus mendengarkan kekasihnya itu berbicara. “Shaka cerita soal dia ke kantor aku.”
“Nggak tuh.” Timo sendiri jadi mempertanyakan untuk apa Shaka datang ke kantor kekasihnya seperti ada ursuan yang penting saja. “Dia ngapain ke kantor kamu?”
Fida malah tertawa saat ditanya seperti itu oleh Timo. Bagaimana tidak lucu kalau; Shaka tiba-tiba datang ke kantornya meminta untuk bicara hanya berdua saja. Fida pikir ada hal yang penting ternyata tidak ada sema sekali. “Cuma buat minta maaf, nanya aku sama kamu bertengkar nggak, sama memastikan aku baik-baik saj atau nggak. Lucu, kan?”
Timo pun jadi ikut tertawa, “lah iya? Shaka kaya nggak ada kerjaan. Eh, tapi bagus loh dia.”
“Bagus apanya Tim?” tanya Fida.
“Bagus lah dia menyadari kalo dia salah waktu masalah kotak bekal itu.” Timo sudah yakin sedari awal kalau Shaka akan mengakui kesalahnya kalau ia telah membuat dirinya kesal. “Jujur yah aku sempet diemin, abisnya kesel. Tapi, aku nggak bisa marah lama sama Shaka.”
“Bagus deh kalo kalian nggak marah lama-lama, jangan gitu ya Tim.”
“Iya sayang.”
Tiba-tiba saat mereka sedang asyik mengobrol ponsel Timo bergetar. Fida melirik ke ponsel milik Timo di sana tertera nama Elvira. Entah kenapa pandangan dua orang kekasih itu seketika langsung menajadi kikuk.
“Aku boleh angkat?” Timo meminta izin ke Fida.
Seharus Timo tidak perlu meminta izin ke Fida. Karena bagi Fida sah-sah saja kekasihnya itu mengangkat telepon dari Sahabatnhya memangnya kenapa? Tidak ada yang salah bukan.”Angkat aja Tim,”
Barulah setelah Fida mengizinkan Timo langsung meangkat telepon dari Elvira. “Oke sayang makasih ya.”
Elvira : Hallo Tim?
Suara lembut dari Elvira yang sedang berada di negeri seberang masuk ke dalam indra pendengaran Timo, dan suara itu ternyata diam-diam masih Timo rindukan. Timo hanya malu untuk mengakuinya.
Timo : Hallo El? Ada apa?
Timo berbicara di telepon dengan Elvira tidak berpindah tempat sama sekali, Timo begitu terbuka dengan Fida tidak ingin ada yang ditutupi.
Sebenarnya Elvira sendiri menelepon Timo tidak ada apa-apa. Hnaya saja direlung hati yang paling dalam Elvira seperti dipaksa untuk menelpon Timo karena sungguh ia sangat merindukan Timo.
Elvira : Aku ganggu nggak? Kamu lagi di mana?
Timo : Nggak ganggu sih. Gue juga lagi nggak ngapa-ngapain yah.
Tapi, gue lagi ada di rumah Fida nih.
Elvira yang mendengar itu ia langung kecewa. Harusnya ia tidak boleh merasakan hal itu karena Tino dan dirinya sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi kecuali persahabatan mereka yang tidak akan pernah putus, itulah janji Timo kepada Elvira begitu pun dengan dirinya.
Elvira yang tidak enak dengan Fida, ia pun langsung mengatakan maaf kalau sudah menganggu waktu berduaannay dengan Fida.
Elvira : Eh sori ya! Yaudah nextnya aja aku telepon lagi ya.
Have fun ya!
Elvira pun langsung mematikan ponselnya. Timo sebenarnya belum selesai bicara, tapi Elvira sudah menutup teleponnya jadinya untuk apa Timo telepon balik ke Fida.
“Udah selesai kalian bicaranya?” tanya Fida.
“Aku sih belum ya, tapi Elvira langsung bilang maaf dan langsung tutup telepon sehabis aku bilang kalau aku lagi sama kamu.”
Fida hanya ber-‘oh’ ria. “Aku juga kalo jadi Elvira bakal ngelakuin hal yang sama sih. Aku bakal ngelakuin hal yang sama, kalo aku lagi telepon sahabat aku, dan dia lagi sama pacarnya.”
Timo mengangguk-angguk, “iya kali ya.”
“Nanti kalo kamu lagi nggak sama aku nggak apa-apa, telepon lagi aja Elviranya. Mungkin dia lagi butuh temen buat ngobrol.”
“Pasti.”
Fida sama sekali tidak merasa curiga ataupun berpikir yang tidak-tidak. Ia percaya kalau Timo adalah orang yang baik, begitupun Elvira—jadi mereka berdua pasti tidak akan mengkhianati Fida.
“Tata kok nggak keliatan-keliatan ya?”
“Dia lagi jalan-jalan sama temannya ke puncak. Nginep.”
“Omong-omong puncak. Kamu inget nggak kapan terakhir kali kita puncak?”
Fida ingat sekali terakhir ia ke puncak sama keluarga Timo adalah satu tahun lalu. Bagi Fida waktu itu adalah saat-saat memalukan karena pada saat itu ia mabuk perjalanan. Mereka sekelurga pergi ke puncak pada saat weekend di mana puncak adalah tujuan utama bagi penduduk Ibu kota untuk melepaskan penat mereka dari aktivaasi sehari-hari yang menyita waktu, dan juga jalanan puncak yang bekelok itu benar-benar membuat kepala Fida pusing, perutnya mual, berakhir dengan ia muntah.
“Satu tahun lalu. Timo aku tanya deh sama kamu. Aku malu-maluin yah waktu itu?”
“Malu-maluin apa?” Timo sebeanrnya mengerti apa yang dimaksud oleh Fida; Memalukan soal kekasihnya itu yang muntah di perjalanan.
“Aku muntah.”
“Nggak kok.”
“Bohong kamu!” Fida tidak percaya Timo hanya menghiburnya saja.
“Beneran nggak,” kata Timo. “Wajar kok kamu mabuk. Setiap orang punya daya tubuh yang berbeda loh. Kamu nggak usah khawatir kaya gitu. Mamaku atau papaku aja nggak marah, mereka malah perhatian banget kan sama kamu.”
Memang benar Aminah dan Sumarno pada saat Fida sedang mabuk payah; mereka sangat perhatian sekali dari berhenti di rest area, membelikan Fida obat, ataupun kayu putih untuk Fida.
“Iya. Aku benar-benar terima kasih banget sama mama dan papa kamu,” ucap Fida. “Mereka udah nganggap aku seperti anaknya sendiri, dan sama sekali tidak merasa direpotkan.”
“Nah kan.” Timo memetik jarinya, “jadi nggak usah khawatir lagi. Nanti kita berdua ke puncak ya.” “Cuma berdua? Ini seriusan nggak apa-apa?”
“Memangnya kenapa?” tanya Timo haran.
“Berdua aja ngeri, Tim.” Maksud Fida namanya hilap kita tidak tahu kapan saja bisa datang ke dalam diri manusia. Fida sendiri pun percaya kalau Timo tidak akan berbuat macam-macam. “Kita tidur nggak sekamar kan?”
Timo langsung menepuk jidatnya, “ya ampun kok kamu bisa kepikiran ke sana? Aku gini-gini anak baik, nggak mungkin kita sekamar berdua. Kamar tentu berbeda sayang.”
“Aku cuma nanya sayang,” kata Dira. “Kapan kita mau ke puncak lagi?”
“Akhir tahun gimana?”
“Oke tuh. Aku nanti ambil cuti Tim.”
“Sama aku juga, nanti aku ambil cuti.”
Mereka berdua pun menghabiskan waktu sampai jam sebelas malam, setelah itu Timo pamit untuk pulang. Meskipun dipaksa Fida untuk pulang besok pagi saja karena sudah malam. Fida khawatir takut Timo kenapa-napa di jalan. Akan tetapi, Timo menolaknya dengan baik-baik karena tidak enak dengan para tetangga di rumah ini hanya mereka berdua. Timo pun pada akhirnya pulang ke rumah.
***
“Fid gue mau cerita sesuatu sama lo.”
Dira dan Fida sedang berbelanja di supermarket berjalan di antara rak kopi, gula, dan s**u. Dira ingin bercerita dengan Fida sesuatu yang mengejutkan sahabatnya itu. Lagu dari Katy Perry yang berjudul The One That Got Away berputar ke seluruh penujur supermarket.’
“Semengejutkan apa Dir?”
“SANGAT MENGEJUTKAN!” Dira membuat suaranya dengan nada sedikit dramatis. “Shaka ngajak gue jalan.”
“Gimana bisa?” Fida mengambil satu kilo gula lalu memasukannya ke dalam keranjang. “Gimana caranya dia ngajak lo jalan, Dir?”
“Lebih tepatnya dia sama sekali nggak ngajak gue jalan, ini tuh seperti sebuah takdir.”
“Maksud gimana?” Fida mengelengkan kepalanya dibuat bingung dengan pernyataan dari sahabatnya itu.
Dira bercerita waktu itu ia semapt jalan di mall seoran diri, lalu makan di restaurant Jepang. Pada saat itu Dira sama sekali tidak mengharapkan kehadiran Shaka. Tanpa ia sadari ternyata Shaka dan dirinya berada di tempat yang sama, dan dari situlah terjadi acara menonton bareng mereka.
Fida yang mendengarnya pun sangat terkejut; ini benar-benar kemajuan meskipun tidak maju banget. Setidaknya ada kemajuan. Semoga ini pertanda baik sehingga Shaka, dan sahabatnya bisa lebih dekat lagi dari sebelumnya.
“Itu mungkin sinyal.”
“Sinyal apa lo Fid?”
“Sinyal kalo semesta merestui kalian.”
“Amin semoga ya, Fid. Udah bosen loh gue jomblo terus.”
Fida dan Dira pun mendorong keranjang menuju kasir untuk membayar belanjaan masing-masing; setelah berbelanja mereka berniat untuk makan terlebih dulu restaurant cepat saji, sembil mengobrol lebih banyak lagi tentang Shaka, atau hal lainnya. Mereka kalau sudah mengobrol bisa ngalor lidur, dari yang paling serius sampai yang tidak serius.
“Kalo belanja begini enak ya sama pacar gue pengin ngerasaiin,” kata Dira sambil membayangkan dirinya bersama mendorong keranjang belanjaan, namun ia segera menampar dirinya sendiri untuk menyadari kalau ia tidak boleh terlalu berkhayal jauh tentang Shaka.
“Makanya cari pacar gih, jangan halu mulu.”
“Udah dicoba cuma belum menemukan orangnya.”
Setelah Fida selesain membayar belanjaannya kini giliran Dira yang maju untuk menghitung semua belanjaan yang ia telah ia belanjakan di kasir. Tidak terlalu lama untuk menunggu Dira selesai membayar semua belanjaan hanya sekitar lima belas menitan karena belanjaan Dira sedikit.
Mereka pun lagnsung pergi meninggalkan supermarket untuk pergi ke restaurant cepat saji yang berada di satu mall dengan supermarket yang mereka kunjungi. Waktu mereka masih SMA mereka sering pergi ke restaurant cepat saji ini dulu mereka pergi sini hanya engan membawa uang sebesar dua pulun ribu rupiah mendapatkan satu burger, minuman, dan kentang goreng. Kalau sekarang tentu saja sudah tidak bisa karena harganya sudah naik.
“Gimana kesan acara nonton lo sama Shaka?” tanya Fida seraya menaruh pesanannya di atasnya lalu duduk di kursi, begitu pun dengan yang dilakukan dengan Dira.
“Biasa aja.” kata Dira.
Fida tidak percaya kalau Dira bilang biasa saja saat berjalan dengan Shaka; pasti sahabatnya itu pasti tidak meresakan biasa saja, pasti itu jantung berdetak luar biasa seharian bersama dengan Shaka.
“Bohong banget lo, Dir.”
“Beneran,” etnah kenapa tiba-tiba Dira malah merasa sama Shaka. “Gue kok kasihan yah sama Shaka.”
“Kasihan kenapa loh sama si Shaka?”
“Dia beli tiket bioksop dua yah, tapi nonton sendiri. Sampai akhirnya dia ngajak nonton gue.”
“Dia mau nonton ama siapa ya?” tanya Fida. Seketika Fida jadi teringat dengan sosok yang Shaka kagumi selama ini, tapi sosok itu sudah memiliki kekasih.