“Gue kagak nanya sih yah dia mau nonton sama siapa,” Dira nanya soal Shaka dan Fida waktu itu bertemu di kantor pun sudah dibilang kepo apalagi kalau bertanya soal itu. “Menurut lo kalo Shaka nonton berdua itu sama siapa?”
“Sama yang dia sukalah.” Fida menyendok es krimnya menyuapkan ke dalam mulutnya. “Gue pernah cerita kan sama lo, kan dia lagi suka sama cewek. Tapi, cewek itu udah punya pacar. Inget nggak lo?”
“Oh iya yah. Ceweknya itu yang satu gedung itu sama kita!” seru Dira, dan Fida mengangguk membenarkan. “Sebenarnya Shaka tanpa kita tahu ya, udah deket sama cewek ini. Cuma cewek ini anggap Shaka sebatas teman, nah pada saat itu Shaka mau mengajak cewek ini nonton. Tapi, tidak jadi karena kenyataannya tuh cewek lagi jalan sama cowoknya. “
Fida rasanya ingin bertemu tangan untuk Dira yang bisa kepikiran sampai ke sana sementara ia sama sekali tidak, “kok lo bisa kepikiran kaya gitu?”
Dira sebeanarnya tidak kepikiran hanya saja ia sedang berandai. Namanya juga manusia, karena setiap manusia punya rahasianya masing-masing kan ya. “Gue nggak kepikiran Fid, gue cuma berandai aja siapa tahu kan?”
Fida dibilang dekat dengan Shaka pn tidak, dibilang bersahabat pun tidak, dan mereka kenal pun karena ia kekasih Timo. Memang selama ini Shaka Fida perhatikan itu seperti banyak menyimpan rahasia bisa dilihat dari sorot mata Shaka, “si Shaka ini tipe orang susah dikorek. Dia ini tertutup banget orangnya. Lo ngerasaiin kan?”
“BENER BANGET!” kata Dira yang hampir berteriak mengundang orang-orang yang ada di restoran menoleh kea rah mereka. Ia pun langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan, dan tiba-tba ia kepikiran untuk bertanya soal Fida yang bertemu dengan Shaka waktu itu, yang sampai ia di usir untuk tidak mendengarkan pembicaraan mereka. “Lo belum ceita Fid, cerita soal waktu itu Shaka nemuin lo di kantor sampai gue diusir. Karena kalian ingin bicara hanya berdua saja. Kalian bicaraiin soal apa?” sebenarnya Dira tidak akan bertanya ini ke Fida kalau saja Shaka mau menjawab pertanyaannya kemarin.
“Soal itu Dir, dia datang ke kantor kita cuma mau nanya ‘gue berantem nggak sama Timo’, ‘ gue baik-baik aja nggak, dan ‘dia minta maaf.’ Minta maaf soal peristiwa kotak bekal itu.”
“Ohh begitu. Kok gue jadi kepikiran ya.”
“Kepikiran apa lo Dir?’
“Kepikiran kalo Shaka suka sama lo,” entahlah Dira sendiri pun tidak tahu kenapa ia bisa berpikir begini soalnya dari gelagatnya Shaka saat memperlakukan Dira dengan Fida itu berbeda.
“Lo kok bisa kepikrian kaya gitu sih Dir?” tanya Dira, dan Fida sendiri saja tidak percaya kalau Shaka menyukai dirinya. “Itu nggak mungkin Dir. Shaka nggak mungkin suka sama gue. Dia sukanya sama cewek yang cantik.”
“Lo sadar nggak sih, Fid.” Dira mengaduk mocca float nya. Sahabatnya tidak sadar kalau dirinya itu cantik. Dira mengakui kalau Fida cantiknya itu berbeda, tidak membosankan. “Lo tuh cantik!”
Mendengar ucapan dari Dira yang memuji Fida cantik—dirinya hanya bisa menanggapinya dengan tertawa.”Ini lo muji gue cantik beneran Dir, nggak ada niat apa-apa kan ya?”
Dira menarik nafas supaya tidak ngegas saat berkata pada sahabatnya. “Lo tuh harus ngaca tiap hari perhatikan muka lo baik-baik. Lo itu cantik dengan cara lo, dan lo nggak ngebosenin sama sekali. Kalo saja suka sama lo menurut gue itu mungkin.”
“Ngaco lo. Jangan menganalisa hal-hal yang belum tentu benar.”
“Terserah lo deh. Abis dari sini lo mau ke mana?’
“Ketemu Timolah punya pacarnya mah beda. Kalo lo ke mana?”
Dira rasanya ingin menyiram minum soda yang ada di depannya. Suka sekali seperinya Fida meledeknya yang masih jomblo, “kalo gue nggak saayang sama lo yah Fid, ini minuman soda punya gue—gue sirem ke muka lo.”
“Kalo s***s gitu lo nggak jadi jodohnya Shaka.”
“Nggak gitu dong.”
Mereka berdua pun tertawa. Dalam tawa itu ada pikiran Fida yang kepikiran soal perkataan Dria yang bilang bisa saja kalau Shaka menyukai, tapi ia langsung mengenyahkan pikiran itu.Tidak mungkin hal itu terjadi, meskipun ia tidak menyukai Shaka. Fida akan menyakiti dua orang yaitu Shaka dan juga Dira. Kenapa Dira? Dira memyukai Shaka kalau laki-laki itu tidak bisa membuka hatinya untuk Dira
Semoga saja apa yang dipikiran oleh Dira tidak benar. Semoga orang yang disukai dirinya bukanlah dirinya, lagi pula Shaka tiak mungkin menyakiti temannya sendiri.
***
Timo yang sedang melamun di kamarnya sambil melihat langit-langit kamarnya; mengkhayalkan dirinya bersama Fida suatu hari nanti tinggal di sebuah desa yang tidak terlalu padat, menghabiskan masa tua bersama. Khayalan terganggu oleh suara getar ponsel yang Timo letakkan di sampng telinganya—di atas bantal.
Ia pun mengambil ponselnya melihat di layar ponselnya panggilan masuk dari Elvira. Ia pun tanpa ragu langsung mengangkat teleponnya.
Elvira : Tim kamu lagi di mana?
Sengaja Elvira menanyakan terlebih dahulu Timo ada di aman ia takut seperti dua hari lalu saat ia telepon Timo sedang bersama dengan Fida.
Timo pun bangkit dari tempat tidurnya, duduk di dekat jendela karena tubuhnya rasanya pegal-pegal sedari tadi hanya tiduran saja.
Timo : Gue lagi di rumah aja nih.
Lo kalo mau cerita sama gue cerita aja.
Elvira : Kalo aku video call kamu, is that okay for you?
Timo : Oke.
Timo orang pertama yang menglihkan dari panggilan via sura menjadi video call. Timo langsung tersenyum saat petama kali melihat wajah Elvira. Perempuan yang pernah ia sayangi lebih dari orang sahabat itu parasnya tidak ada yang berubah, masih tetap cantik seperti dahulu.
“Lo lagi di apartement El?”
Elvira mengangguk lalu ia menaruh ponselnya menyandarkan ponselnya di atas meja belajarnya perempuan itu pergi ke tempat lain, Timo hanya disuguhin pemandangan tempat tidur milik Elvira yang di d******i oleh warna monokrom.
Tak lama kemudian Evira kembali lalu ia mengatakan ini, “maaf yah Tim. Tadi aku nyari kunciran dulu.” Tadi pada saat pertama kali Elvira video call dengan Timo rambutnya ia biarkan gerai sekarang rambut sudah di kuncir kuda.”Aku nggak pengin cerita apa-apa sih, aku pengin ngobrol aja sama kamu.” Atau lebih tepatnya Elvira sangat merindukan Timo. Akan tetapi, Elvira tidak mau mengatakannya takut kalau Timo tidak meraskan hal yang sama.
“Oh. Fix nya kapan lo balik?”
“Bulan depan beneran aku balik kok. Jemput ya nanti di bandara,” ujar Elvira hanya bercanada.
Tak disangka Timo malah mengatakan ini, “iya siap gue jemput lo di Bandara nanti. Gue ajak cewek gue boleh?”
Rasanya Elvira ingin mengtakan, aku boleh minta kita berdua aja nggak?
Sayangnya rasa tahu diri Elvira lebih besar ia sekarang bukan siapa-siapanya Timo hubungan mereka berdau hanya sebatas sahabat. “Boleh dong, nanti sekalian kenalan sama aku.”
“Siap nanti tinggal info aja ya.”
Mereka berdau hanya saling berpandangan tidak berbicara apapun dalam waktu berapa detik sampai akhirnya Timo pun bersuara. “Kangen nggak lo sama gue?” tanya Timo. Maksudnya Timo adalah Elivra rindu tidak dengan dirinya sebagai sahabatnya.
“Lebih kangen pempeknya ci Yuan,” jawab Elvira
Pempek ciYuan adalah tempat makan favorite mereka berdua; dulu setiap pulang sekolah mereka selalu datang ke sana, bahkan kedai pempek ci Yuan menjadi saksi bagaimana Timo menyatakan persaannya kepada Elvira di sana.
“Wah iya tuh. Gue juga udah lama nggak ke sana semenjak lulus sekolah,” Timo yang rumahnya di Bekasi namun sekolah SMA nya di Jakarta, dan lokasi pempek ci Yuan ada di jakarta pula sudah lulus sudah pasti ia tidak akan pergi ke sana. Walaupun kerja di Jakarta Timo belum sempat untuk datang ke sana lagi kayanya lebih seru kalau ke sana bersama dengan Elvira lagi.
“Kenapa?”
“Kayanya lebih enak ke sana sama lo deh.”
“Nanti kalo aku udah di sana kita pergi ya.”
“Siap.”
Mereka pun diam lagi seperti bingung ingin membicarakan apa lagi. Dulu mereka tidak pernah se-akward begini. Entalah setelah moment di mana mereka mutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka jadi seperti ada dinding di antara mereka. Mereka putus secara baik-baik tidak ada masalah yang serius, dan mereka juga berjanji untuk tetap bersahabat dengan baik, saling mendukung, sama-sama support dengan apapun yang mereka lakukan asalkan masih positif.
“Kok kita malah diam ya?” Elvira berusaha untuk memecahkan keheningan di antara mereka diam seperti tadi rasanya tidak enak. Mereka seperti video call dengan patung.
“Iya yah kita kok malah diem. Diem kenapa ini?”
“Bingung mau ngomong apa.”
Timo sendiri pun mau bicarakan apa lagi dengan Elvira ingin mengakhiri sesi video callnya dengan Elvira, akan tetapi Eliva masih ingin bicara dengan Timo begitu pun sebaliknya.
“Lo sehat?” tanya Timo
“Sehat,” jawab Elvira. Hanya hatinya saja yang tidak sehat karena ia sangat merindukan Timo. “Sehat banget Tim, harus sehat dan semoga sehat terus sampai nanti hari H aku pulang ke Indonesia.”
“Awas batal lagi. Mama udah nanyain itu.”
“Nggak kok.” Elvira sebenarnya tidak ingin mengakhiri pembicaraannya dengan Timo, tapi ia baru ingt kalau hari ini ia ada janji dengan profesornya untuk bertemu. “Timo video call nanti kita lanjut aja nanti yah. Aku lupa ada janji ini sama professor aku.”
“Yaudah ngggak apa-apa. Bye El lancar-lancar ya urusannya.”
“Bye Tim! Tnanks anyway.”
“You are welcome.”
Mereka pun mengakhiri obrolannya Timo terlebih dahulu mematikan sambungan video callnya tidak lama dari itu ada satu pesan masuk dari kekasihnya, Fida.