Beberapa hari ke depan Fida akan pulang sendir; dikarenakan kekasihya Timo sedang keluar kota selama beberapa hari. Timo keluar kota ditugaskan dari kantor. Sebenarnya tidak sendiri sih, Fida masih ada temannya yaitu Dira. Mendengar kekasihn sahabatnya itu akan pulang bersama dalam beberapa hari ke depan Dira sangat amat bersyukur jadi ia pulang ada temannya.
“Pulang bareng kan lo?” tanya Dira sambil bersiap-siap dengan membereskan barang-barangnya dan memasukannya ke dalam tas.
“Iya bareng dong. Masa gue balik sendiri sih.” Tidak lama dari itu Fida mengatakan kalimat tersebut ponselnya bergetar tanda pesan masuk dari Shaka.
Shaka
Balik bareng yuk Fid!
Dira yang sudah siap untuk keluar dari kantor melihat sahabatnya itu masih mematung sambil memandangi sama ponselnya. “Lo liatain apa sih, Fid?”
Fida menunjukkan ponselnya ke Dira, dan Dira membaca pesan dari Shaka yang mengajak Fida untuk pulang bersama. “Ya terus?”
“Yah kok terus, gue tolak Shaka. Tapi, ngomong gimana ya? Yang nggak menyinggung, masa gue balik bareng mulu sama dia.”
Fida sebenarnya bisa saja langsung menolak ajakan dari Shaka, tanpa memberitahu dahulu Dira. Akan tetapi, tidak enak dengan Dira seolah-olah ia mengkhianati Dira. Dira tampak menimbang sembelum ia kahirnya bicara. “Nggak apa-apa balik aja sama Shaka. Ini tuh chance tau.”
“Kesempatan buat apa?”
“Buat mengorek informasi soal Shaka,” ucap Dira seraya menaruh tote bag nya di bahu. “Gue balik duluan ya, lo sama Shaka. Kalo ada info terbaru kasih tahu gue ya.” Dira pun berlalu pergi meninggalkan Fida yang masih bimbang.
Sampai akhirnya Fida pun membalas pesan dari Shaka memberitahunya kalau ia setuju pulang besama dengannya. Tidak apa-apalah Fida juga tidak berniat modus atau mencari kesempatan untuk bisa dekat dengan Shaka, tapi ini sebuah kesempatan untuk bisa mendekatkan sahabatnya itu dengan Shaka kalau mereka bisa dekat itu pasti membuatnya bahagia.
Fida pun langsung bergegas untuk menemui Shaka di parkiran. Shaka memeritahunya untuk menemui dirinya parkiran. Dira sahabat gue yang memang kadang suka ngeselin, tapi gue sayang banget sama lo gue akan usahakan lo untuk bisa dekat dengan Shaka.
Fida berjanji untuk bisa mendekatkan si Shaka yang dinginnya seperti beruang di kutub utara degnan Dira yang suka bikin malau, omong-omong bercanda ya Dira.
Sampainya di parkiran Fida langsung berjalan ke tempat di mana motor Shaka terpakir. Di sana sudah ada Shaka sedang beusaha untuk mengeluarkan motornya. Fida pun menepuk pundak Shaka pelan sambil memanggil namanya. Shaka pun langsung menolah ia tersenyum melihat sosok perempuan yang ia tunggu.
Motor Shaka pun berhasil keluar dari jajaran motor lainnya, “kita nggak langsung balik nggak apa-apa kan Fid?”
Fida menatap Shaka dengan terkejut, “emang kita mau ke mana ya?”
“Gue mau ngajak lo jalan-jalan. Pergi ke kota tua yuk?”
“Ngapain museumnya udah pada tutup kali Ka, kita langsung pulang aja ya.” Fida menolaknya secara halus.
“Lo nggak mau pergi ya sama gue?”
Bukannya Fida tidak mau pergi dengan Shaka hanya saja setelah dipikir-pikir sepertinya ia sering pergi dengan Shaka—hanya berdua saja. Kalau memang hanya mau sekadara untuk mengobrol kan bisa di sekitaran kafe atau tempat makan yang tidak jauh dari wisma Sejahtera.
“Bukannya enggak mau ya ka…” Fida mengaruk tenguknya yang tidak gatal ia jadi bingung sendiri ingin bicara apa. “Takut sampe rumahnya kemaleman kasihan adek gue sendiri di rumah.”
Shaka tidak menjawab apapun ia malam memberikan helm kepada Fida, dan meminta untuk segera naik ke atas motonya. “Yang bawa motor siapa Fid?” tanya Shaka saat Fida sudah berada di atas motornya dan siap untuk berangkat menuju tujuan yang diinginkan mereka atau lebih tepatnya yang diinginkan oleh Shaka—karena kita mendengarkan barusan Fida berkata apa.
“Yang bawa motor ya lo.”
“Jadi gue boleh dong bawa nih motor ke mana aja, yang penting gue nggak bikin lo celaka kan Fid.”
“Iya terserah oke,” tidak apa-apalah Fida jalan dengan Shaka dengan begini ia bisa mengobrol banyak dengan Shaka dan semoga juga ia akan mendapatkan informasi dari Shaka—yang dapat diberikan oleh Fida kepada Dira.
***
Suasana kota tua maupun malam minggu ataupun tidak. Tetap saja ramai banyak muda-mudi yang berkumpul sambil menikmati kudapan yang mereka beli dari pedagang kaki lima yang ada di sekitar kota tua. Para pengamen jalanan yang menghampiri setiap pengunjung yang sedang duduk di tengah-tengah lapangan yang dikeliling museum.
Shaka memarkirkan motornya di tempat parkiran liar yang disediakan oleh orang-orang yang ada di sekitar kota tua. “Lo lapar nggak?”
Fida dan Shaka berjalan berdampingan mencari tempat duduk yang kosong. Suara musisi jalanan ibu kota pun menggema di sana saling bersahutan seperti sedang unjuk gigi siapa yang memiliki suaran yang paling bagus, untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah yang banyak.
“Lapar sih, tapi makanan yang enak di sini apa?”
“Bakwan malang,” Shaka kalau sedang stress ia selalu pergi ke sini entah sekadarnya hanya untuk menenangkan diri ataupun mengisi perutnya yang lapar setelah seharian bekerja. “Kita jalan sepuluh menit lagi dari sini, nanti ditikungan sana tukang bakso malangnya mangkal. Gimana lo mau? Apa lo pengin makan yang lain?”
“Gue ikut lo aja.”
“Oke.”
“Ka, lo abis jalan yah sama temen gue?” tanya Fida ia ingin memastikan soal Shaka yang tanpa sengaja bertemu dengan Dira lalu mengajaknya untuk jalan.
“Teman lo siapa yah Fid?”
Benar-benar ya Shaka ini kok pura-pura lupa soal Dira; padahal Shaka jalan dengan Dira belum lama masa sudah lupa saja. “Pura-pura lupa lo ya, Ka.”
Mereka pun akhirnya sampai di gerobak bakso malang yang jualan adalah bapak-bapak paruh baya dengan perut buncit, dan kumis hampir mirip dengan pak raden. Shaka pun langsung memesan dua porsi bakso malang yang untuk Fida dibuat pedas, sementara untuk dirinya tidak usah terlalu pedas.
Mereka berdua pun langsung duduk di kursi plastik berwarna hijau. Fida pun bertanya lagi soal Shaka yang seolah-olah lupa kalau dirinya habis jalan dengan Dira. “Lo beneran lupa atau pura-pura lupa ka?”
“Soal apa?”
Shaka belaga bodoh ya! Dalam diri Fida ia merasa sangat emosional dengan Shaka. Akan tetapi, Fida sebagi seseorang yang mempunyai kesabaran yang tiada batasnya pun hanya bisa menghela nafas kesal dan menatap Shaka dengan tatapan seperti ingin menerkam. “KEPALA LO ABIS KEBENTUR?” Akhirnay emosi Fida tidak bisa dibendung akhirnya ia pun mengegas.
“Iya teman lo siapa?”
“Dira teman gue si Dira, dia cerita lo ngajak dia nonton.”
“Itu pun sebuah kebetulan yah Fid, gue juga nggak ada niat buat ngajak dia. Berhubung orang yang gue suka itu lagi jalan sama cowok, dan gue taunya pas udah beli tiket bioskopnya satu hari sebelum hari H daripada tiketnya mubazir kan sebaiknya gue ajak teman lo itu.”
Bagus Shaka jawabnya begitu jadi gue bisa mancing lo tanpa ketauan, kalau gue lagi mencari tahu jawaban. Fida tersenyum, dan tidak lama pesanan yang mereka inginkan pun datang. Bapak penjual bakso malang itu memberikan satu porsi untuk Shaka dan satu porsi untuk Fida.
“Cewek yang lo maksud ini; cewek yang pernah lo ceritain ke gue kan ya?”
Shaka menambahkan sedikit cuka ke dalam mangkuk bakso malangnya, ‘iya cewek itu. Impian gue adalah bisa nonton berdua sama gue. Tapi, kemarin gue gagal.”
“Berarti selama ini lo deket ya sama cewek itu?”
“Deket banget.”
Jawaban yang diberikan oleh Shaka itu benar-benar bisa membuat pertanyaan baru bagi Fida untuk, dan tambah membuat dirinya tambah penasaran dengan siapa perempuan itu. “Shaka lo kalo butuh teman curhat tentang cewek itu, atau mau saran dari gue. Lo bisa ceriat ke gue, gue pasti dengerin. Kalo minta saran pasti bakal gue kasih.”
“Iya pasti.”
“Gue mau nanya deh sama lo, Ka?”
“Nanya apa?”
“Lo kan sekarang lagi suka nih sama cewek ya. Sayangnya cewek itu udah punya pacar, nah disisi lain ada cewek yang diam-diam suka sama lo. Kenapa lo nggak coba aja deketin cewek ini, daripada lo nungguin cewek yang udah jadi pacar orang—kalo mereka berdua benar-benar sayang susah putusnya Fid.” Sebuah nasehat yang diberikan oleh Fida tentu saja ada maksud yang terselebung.
“Sejak pertemuan pertama gue sama cewek ini; kayanya nggak bisa buat jatuh cinta lagi sama orang lain.” Shaka menatap Fida dengan tatapan intens.
Dari sorot mata Shaka entah kenapa Fida memebacanya kalau laki-laki di depannya ini sedaang menyampaikan seseutu, sesuatu yang Fida sendiri tidak bisa menebaknya.
“Kan lo belum nyoba. Nih misalnya cewek ini tuh lucu walaupun agak ceroboh, lo pasti suka deh. Ini cewek bisa jadi pelengkap lo deh.”
“Ko lo kaya kenal bagnet yah sama cewek ini?”
Mantep bener lo yah Fid, Fida langsung mengeluarkan kata-kata yang tdiak mencurigakan saat Shkaa menyadari kalau bicaranya mulai ngelantur. “Gue nggak tahu siapa cewek yang lo suka, sama yang lo suka juga. Gue cuma menggambarkan aja, karena menurut gue cewek kaya gitu cocok sama lo.”
Shaka mengangguk mengerti. Fida pun bernafas lega karena Shaka tidak lagi bertanya lebih jauh lagi soal ucapanya barusan. Daripada Shaka tambah curiga, “lo ke sini udah ajak siapa aja?”
“Baru lo aja.”
“Ini bernarn, Ka?”
“Yah beneran lah. Kenapa emang?”
Fida membuka tutup boto minumnya lalu meneguknya, “lo nggak mungkin—nggak pernah pacaran. Gue yakin mantan lo pasti banyak>”
“Mantan gue cuma satu. Gue baru jatuh cinta lagi satu tahun lalu.”
“Sama cewek yang itu?”
Shaka mengangguk, “dia cewek hebat yang pernah gue kenal.”
“Beruntung banget ya dia.”
“Dia sangat beruntung ada dua orang yang sayang sama dia dengan tulus.”
Entah siapapun perempuan itu Fida hanya ingin mengucapakan “LO BERUNTUNG BANGET” Sebenarnya Fida ingin bertanya tentang banyak hal yang berhubungan sama perempuan yang dimaskud oleh Shaka. Akan tetapi, ia mengurungkan niatnya karena pasti Shaka akan menilainya kepo.