Fida hari izin tidak masuk kantor infonya sih katanya ia sedang ada urusan yang tidak bisa ditinggal. Jadi, hari ini Dira yang biasnya suka makan siang dengan Fida pun memutuskan untuk makan sendirian sebenarnya Dira sudah diajak untuk makan siang bersama dengan Anita, dan bebarapa teman kantor lainnya. Namun, Dira menolaknya.
Dira hari ini tidak ingin makan di kantin. Siang ini ia ingin makan indomie di warkip mang Asa dan juga minum teh tarik. Lagi-lagi Dira tidak berharap untuk bertemu dengan Shaka. Pada kenyataannya di sana sudah ada Shaka bersama dengan Adit.
Ketika Dira sedang membawa pesanannya dan sedang mencari tempat duduk yang kosong. Mata Adit menangkap kehadiran Dira, dan ia pun langsng mengajak Dira untuk bergabung bersama dengannay daan jgua Shaka. “Dir! Sini gabung sama kita.”
Dira sempat menolak duduk bersama di sana karena ada Shaka. Nanti ia makannya jadi sok alim dan jadi lebih lama makannya. Namun, rasa tidak enaknya Dira sangat besar. Ia takut di cap orang yang sombong sampai duduk bersama dengan Adit dan Shaka tidak mau.
Ia pun berjalan ke arah meja di mana Shaka dan Adit berada. Dira tentu saja memilih tempat duduk tidak di sebelah Shaka, melainkan di sebelah Adit. “Hai, Shaka. Timo mana?”
“Lagi sibuk.” jawab Shaka.
Shaka menjawab pertanyaan dari Dira sangatlah singkat, padat, dan jelas. Bahkan wajah Shaka tidak melihat ke arahnya ia malah fokus dengan ponselnya, samba makan roti panggang dengan tangan kirinya benar-benar ya Shaka sebegitu bencinya dengan Dira.
“Anggap aja Shaka nggak ada,” ujar Adit. “Dia terlalu asyik sama dunianya, makannya gue ajak lo ke sini supaya gue ada teman ngobrolnya.”
“Bukannya kalao kita lagi ngumpul berlima lo yang lebih sibuk sama dunia lo Adit?” tanya Dira.
“Iya itu mah beda lagi,” Adit mengelak. “Lo biasa bareng terus sama si Fida, dia ke mana sekarang?”
“Nggak masuk dia.”
“Love birds mah susah.”
“Maksudnya?”
Adit menyeruput es coklatnya, “Timonya lagi ke luar kota, dan Fida nggak masuk.”
“Apa hubunganny sih!”
“Nggak ada.” jawab Adit dengan entengnya, wajah Adit rasanya ingin sekali Dira lempar dengan panci panas.
Dira pun tidak menanggapi perkataan Adit ia lebih memilih untuk melahap makanannya sambil diam-diam memandangi ketampanan alami yang dimiliki oleh seroang Shaka. Adit yang menyadari kalau perempuan yang berada duduk di sebelahnya sedang fokus memandang orang di depannya.
“Fokus amat ngeliatinnya, Dir.”
Dira langsung menginjak kaki Adit dengan keras.”Mulut bisa di rem nggak?”
Shaka pun langsung memperhatkan mereka berdua yang sedang berdebat, “lo berdua lama-lama jodoh loh ya.”
EH SHAKA GUE MAU JODOHNYA SAMA LO. Dira berteriak di dalam hatinya bahwa ia ingin berjodoh dengan Shaka; ini Shaka malah mendoakannya dengan Adit laki-laki freak.
“Amit-amit,” Dira mengelus-ngelus dadanya. “Jangan sampe.”
“Gue juga sih amit-amit.”
Dira menghiraukan Adit ia memilih untuk mengajak ngobrol Shaka meskipun ia sendiri tidak tahu akankah ajakannya disambut baik oleh Shaka. “Shaka gue belum sempet ucapan terima kasih ke lo.”
Memang benar Dira belum sempat mengucapkan terima kasih ke Shaka setelah acara nonton waktu itu, jadi sekarang adalah waktu yang tepat untuk berterima kasih. Adit yang tidak tahu meanhu apa yang dibicarakan oleh Adit pun jiwa kepo nya pun meronta-ronta ingin tahu apa yang dimaksud oleh Dira.
“Lo berterima kasih soal apa, Dir?”
“Gue abis nonton waktu itu sama Shaka, dia beliin tiketnya buat gue. Tapi, gue belum sempet bilang teirma kasih ke Shaka.”
Mulut Adit langsung membentuk huruf ‘O’ ia terkejut. Ia terkejut bukan karena Shaka jalan dengan Dira, tapi Adit terkejut lebih ke ‘OH SHAKA MASIH SUKA PEREMPUAN’. “Lo suka sama Dira, ka?” tanaya Adit pada Shak.
“Gila kali gue suka sama cewek aneh kaya dia!”
Mata Dira pun langsung melotot mendengar ucapan Shaka yang cukup menyakiti hatinya.”Kok lo ngomong gitu sih, Ka? Gue sakit hati nih.”
“Itu lo baperan.”
“Bukan baperan. Kata-kata lo emang menyakiti perasan gue banget!”
“Udah jangan berdebat,” Adit melerai berdebatan di antara Shaka, dan Dira yang membuat kepala Adit pecah. Sontak mereka berdua pun langsung diam, Adit langsung bertanya seperti seorang polisi yang sedang mengintrogasi tersangka. “Tolong kepada tuan Shaka untuk menjawaba pertanyaan dari saya.”
Shaka yang kesal dengan Adit pun langsung melempar tisu bekasnya yang sudah di bentuk seperti bola bekel, “lo apaan sih Adi?”
Adit tidak memperdulikan hal itu, dan ia tetap bertanya. “Lo kok bisa kepikiran ngajak nonton Dira? Lo beneran nggak suka sama dia?”
“Gue tadinya nggak mau nonton sama dia,” mata Shaka melirik ke Adit. “Gue mau nonton sama seseorang, tapi seseorang itu lagi jalan sama cowoknya.”
Adit mengaruk-garuk kepalanya dibikin bingung oleh Shaka, “ini seseroang siapa lagi? Yang gue tahu lo lagi nggak deket sama siapa-siapa. Lo kalo lagi deket sama cewek pasti cerita sama gue.” Shaka memang paling dekat dengan Adit daripada Timo, dan ia kalau ada apa-apa selalu becerita ke Adit sampai soal perempuan pun ia becerita ke Adit.
Shaka tidak menjawab, dan Dira pun membantu menjawabnya. “Buat orang yang dia sukalah. Orang yang dia suka kan satu gedung sama kita, sayangnya udah punya pacar.” Adit dan Shaka saling pandang lalu langsung memandangi Dira. Dira yang menyadari kalau ucapannya barusan bisa membuat nama Fida jelek, karena Shaka kan bercerita soal orang yang disukainya hanya kepada Fida. Dira pun langsung menutup mulutnya. “Maksud gue…”
Ucapan Dira dipotong oleh Shaka, “tunggu dulu deh. Dari mana lo tahu kalau gue lagi suka sama orang? Dari Fida?”
Adti tiba-tiba mengebrak mejanya, “gue beneran pusing sama ini semua!”
Secara berbarengan Shaka dan Dira mengatakan ini. “Kenapa jadi lo yang pusing sih?”
“Masalah lo berdua nonton bioskop nyambung ke mana-mana. Ini hubungannya sama Fida apa? Lo lagi suka sama orang, Ka? Orang satu gedung sama kita, lo kok nggak pernah cerita?”
Shaka tidak langsung menjawab. Shaka bukannya tidak ingin bercerita ke Adit soal seseorang yang sedang ia suka, ia pasti akan bercerita. Tapi, tidak sekarang nanti disaat dirinya sudah siap.
“Dir, Fida cerita-cerita soal gue ke lo?”
Posisi Dira saat ini serba salah kalau ia jawab takutnya nambah panjang, kalau tidak dijawab yang ada Shaka malah jadi curiga dengannya. Duh lagian sih ya lo Dir napa mulutnya lemes banget sih! Dira memarahi diri sendiri. Kalau Dira tidak sama seperti Fida yang jago ngeles. Dira rasanya sekarang rasanya ingin sekali menghilang dari sini.
“Lo nanya masalah Fida dan Dira belakangan aja. Lo jawab pertanyaan gue.” Adit untuk saat ini memang pernyelamat untuk Dira, terima kasih Adit. Itulah kata-kata yang ingin Dira katakana saat ini, tapi karena tidak pas waktunya jadi Dira cukup ucapkan di dalam hati.
“Lo nanya apa, Dit?” tanya Shaka.
“Pertama, lo bisa nonton sama Dira gimana ceritanya?”
“Kok lo kaya kepo gitu sih, Dit.”
“Jawab aja sih?!”
“Sebuh kebetulan.”
Adit kalau tidak menganggap Shaka adalah temannya mungkin dia sudah mengajak Shaka untuk bertengkar. Maksudnya di sini kebetulan itu apa? Harus lebih jelas dan spesifik. “Lo bisa nggak sih kalo jawab pertanyaan itu sama penjelasannya. Lo ngomong lagi nggak pake paket sms yah di mana syaratnya kalimat tidak boleh lebih dari seribu. Lo ngomong sama mulut lo sendiri.”
“Lo kepo yah Dit.” Shaka memang tahu Adit suka kepo mau tahu saja apa yang terjadi, “gue males ceritanya.”
“Hah?!”
Ketika Adit dan Shaka tiba-tiba otak Dira berjalan; ia tahu bagaimana caranya pergi dari sini. Ia megnirim pesan ke temannya Anita. Memintannay untuk menelpon dirinya, dan dari situ ia bisa pamit pura-pura dicariin sama bos.
“Hah! Heh! Ho! Udah kaya keong lo Dit.”
“Lo keongnya!”
“Lo!”
“Guys!” ucapan Dira berhasil membuat kedua orang yang sedang berdebat tentang kenapa Shaka bisa menonton dengan Dira. “Gue balik ke kantor duluan ya, tadi ada w******p dari teman gue bos gue nyariin, beliau minta berkas yang udah gue janjiin. Gue pamit yah guys, kalian lanjutin aja debatnya.” Dira pun bangkit dari tempat duduknya, dan pergi berlalu meninggalkan kedua orang yang masih berdebat selepas Dira pergi.
Setelah Shaka merasa lelah berdebat dengan Adit ia pun bercerita kenapa ia bisa menonton dengan Dira, dan siapa orang yang disuka oleh Shaka sama seperti Shaka becerita ke Fida ia tidak menyebutkan nama seseroang itu.
Feeling Adit cukup kuat berdasarkan ciri-ciri yang disebutkan oleh Shaka; Adit tahu siapa orang yang disukai Shaka. Akan tetapi, Adit pura-pura tidak tahu saja.