“Gue kemarin bodoh banget kemarin cerita soal shaka lagi suka sama siapa,” Dira menceritakan pristiwa kemarin yang terjadi di warkop mang Asa, saat dirinya kelepasan mengatakan yang seharusnya tidak perlu dikatakan. Itu adalah rahasia yang kena pasti Fida lagi.
“Matilah gue, Dir. Mati gue benarn deh!” kata Fida dengan nada kesal. Pasti nanti pada saat ia bertemu dengan Shaka, Shaka akan mengintrogasinya.
“Tenang dulu kawan!” ucap Dira.
Enak saja Dira bilang tenang; tidak bisa seperti itu dengan Shaka becerita tentang seseorang yang disukai kepada Fida itu berarti Shaka mempercayainya. “Tenang dari mana. Lo mau jawab apa kalo dia nanya, kok lo cerita-cerita ke Dira, ini kan privacy.”
“Maaf Fid,” Dira pun jadi merasa bersalah lebih tepatnya memang harus merasa bersalah—memang itu adalah salahnya karena sudah kelepasan berbicara dengan Shaka. “Terus gue harus kaya gimana?”
“Mau gimana lagi ya, nasi jadi bubur. Gampanglah nanti gue pikirin ngomongnya gimana. Karena lo udah salah sama gue. Boleh nggak gue nitip beli kopi di bawah?”
Dira langsung menyimpulkan bahwa Fida mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kalau saja dirinya tidak berbuat salah, Dira tidak akan mau melakukan hal ini. “Gue sebagai orang yang rendah hati, dan mau mengakui kesalahan gue bakal beliin lo kopi di bawah. Kebetulan juga gue mau beli kopi. Lo mau minum kopi apa?” tanya Dira seraya ia bangkit dari tempat duduknya sambil mengulurkan tangannya meminta uang kepada Fida, bermaksud untuk meminta uang.
Fida pun langsung memberikan uang kepada Dira sebesar lima puluh ribu rupiah, “kalo gue kejam mungkin gue bakal minta lo bayarin kopi gue. Gue mau pesan kopi vanilla latte aja ya.”
“Oke nyonya,” Dira mengambil uang dari tangan Fida kemudian langsung pergi untuk beli kopi ke bawah, jam bekarja di mulai masih sekitar empat puluh menitan.
Entah kenapa sesuatu yang kita hindari itu pasti ketemu lagi dan lagi. Saat lift yang Dira naikin berhenti di lantai tiga, tepat saat pintu lift terbuka sosok seseorang yang ingin ia hindari pun nampak sumpah demi Tuhan rasanya Dira ingin menghilang kalau bisa.
“Urusan kita belum selesai ya. Gue masih mau nanya sama lo,” kata sesaat setelah pintu lift tertutup, dan kurang beruntungnya Dira adalah di lift hanya ada mereka berdua.
“Tentang apa?” tanya Dira pura-pura bodoh. Pura-pura seolah-olah ia tidak tahu duduk masalahnya di mana.
“Jangan pura-pura bodoh deh,” kata Shaka. “Gue tahu lo kemarin kabur kan? Pura-puranya lo dipanggil sama bos lo, padahal lo chat teman lo minta dia untuk chat lo seolah-olah dipanggil saam bos padahal cuma mau ngehindarin gue.”
Ting!
Pintu lift pun terbuka dengan buru-buru Dira langsung keluar dari lift. Lagi-lagi kesialan menimpanya ternyata Shaka mau pergi ke coffee shop juga.
“Lo ngapain ngikutin gue?” tanya Dira.
“Gue juga mau ke coffee shop.” Shaka berjalan mendahuli Dira di depannya. Dira pun bisa bernafas lega; jadi ia memelankan langkah kakinya untuk tidak berjalan bersama dengan Shaka, meskipun ia sendiri ingin berjalan berdampingan dengan Shaka.
Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama. Tiba-tiba saja Shaka berhenti lalu menoleh ke arahnya dan berkata. “Lo kok jalannya lama?”
“Kan cewek emang jalannya lama.”
“Jangan banyak alasan deh,” Shaka berjalan maju lagi ke arah Dira, sampainya di depan Dira Shaka langsung menarik tangan Dira. “Ayok lo ikut sama gue.”
Dira tidak bisa berkata-kata setelah sekian lama Shaka akhirnya memegang tangannya lagi, ini seperti mimpi yang selama ini ia impikan menjadi kenyataan. Akan tetapi, untuk situasi jangan seperti ini tidak romantis.
Sampainya di coffee shop Shaka meminta Dira untuk memilih pesanan apa, “lo pilih mau kopi apa. Nanti lo ngopi bareng gue, gue traktir.”
Dira tahu laki-laki itu bersikap begini karena ia ingin mengintrogasinya. Jadi, dengan halus Dira menolaknya. “Maaf yah Ka , kayanya gue nggak bisa deh. Gue ke sini mau beliin kopi buat Fida, takut dia nunggguin.”
“Nggak bisa. Nanti si Fida untuk kopinya gue beliin juga.”
Dira masih belum menyerah ia tetap kekeh untuk menolak ajakan Shaka, “Ka, maaf beneran gue nggak sama Fida takut lama.”
“Sebentar doang!” Shaka memaksanya. “Lo gue pesenin Brown Sugar yah?”
“Terserah ka.”
Shaka pun memesan Brown Sugar satu, dan cappucinno satu untuk dirinya. Ia pun langsung mengajak Dira untuk duduk di tempat yang tidak jauh dari counter. Mereka pun duduk saling berhadapan suasana pun langsung berubah jadi akward moment.
“Fida cerita apa aja ke lo?”
Ka, lo bisa kan yah pemanasan dulu gitu nggak usah langsung to the point gitu. Kalau Dira ingin menambah masalah dengan Shaka, ia bisa mengatakan kalimat barusan langsung kepada Shaka. Akan tetapi, Dira tidak mau cari masalah lagi. Satu masalah ini saja belum selesai.
“Bisa nggak ngomongnya kalo kopinya udah dateng, gue seret nih ka.” Dira masih berusaha untuk mengulur-ngulur waktu.
“Nggak bisa. Gue tahu lo ngulur-ngulur waktu.”
Dewa kali Shaka ini apa yang dipikirkan oleh Dira ia tahu saja. Dira pun mau tak mau harus menjawab pertanyaan dari Shaka. “Fida cuma cerita kalo lo lagi suka sama orang, sama seperti yang gue sampeiin kemarin.”
Shaka menatap Dira dengan tatapan tidak terlalu percaya, “beneran Fida ngomong gitu?”
Dira mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Dira barusan, pokoknya Dira harus bersikap tenang saat ini. Tidak boleh terlihat mencurigakan, atau Shaka akan bertanya lebih jauh. Lalu ia kelepasan lagi jadi masalah lagi.
“Iya benaran. Gue kasih tahu aja gue bukan orang kepo,” bohong itu kalau Dira tidak kepo ia tidak akan bisa nge-stalk orang di sosial media sampai nyasar aku saudara-saudaranya. “Fida cerita lo suka sama orang gue nggak nanya-nanya lagi.”
“Bener lo?”
“Bener Ka,” Dira mengacungkan jari telunjuk tengahnya lalu berkata. “Suer gue nggak bohong.”
“Oke.”
Dira bernafas lega Shaka tidak lagi bertanya lebih lanjut. Tidak lama kemudian kopi yang dipesan oleh mereka pun datang. Sang barista pun memberikan pesanannya satu brown sugar di letakan di depan Dira, dan satu cappuccino diletakkan di depan Shaka.
“Lo ngapain masih di sini?” tanya Shaka.
Dira langsung menelan ludah maksud ia masih di sini itu apa? Bukannya tadi yang mengajak untuk stay di sini kan Shaka. Sekarang malah di usir. “Udah selesai ngomongnya.”
“Udah.”
Rasanya Dira ingin bertanya ke Shaka seperti, ‘Habis manis sepah dibuang.’ Sekali Dira bukannya tidak berani, ia hanya malas cari masalah. Dira pun bangkit dari tempat duduknya sambil membawa kopinya.
Saat Dira hendak berjalan ke counter untuk membeli kopi untuk Fida, Shaka memanggil namanya lagi. Dira berdecak kesal sambil bergumam ‘apaan lagi sih’ Dira pun langsung menoleh ke arah Shaka nada bicaranya Dira agak kesal. “Apa lagi?!”
“Gue udah bayarin kopi lo sama Fida.”
“Oke.”
“Udah dibikinin juga lo tinggal ambil aja.”
“Oke. Makasih.”
Dira pun langsung berjalan ke counter untuk mengambil kopi milik Fida, lalu ia pun langsung bergegas kembali ke kantor. Ia taku kalau Shaka tiba-tiba memanggilnya. Entahlah sekarang Dira jadi takut untuk bertemu dengan Shaka, semenjak masalah yang dibuat oleh dirinya sendiri jadinya kalau ketemu Shak seperti di kejar-kejar debcolletor.
“Nih kopi lo gratis.” Dira menaruh kopi di meja Fida, dan mengembalikan lagi uang tadi diberikan untuk membeli kopi. “Ini duitnya gue balikin.”
Fida pun heran kenapa uangnya bisa dikembalikan, “lo malak kang baristanya.”
“Kagak lah. Gue ketemu monster.”
“Eh serius?”
“Monster Shaka namanya.”
“Kok bisa sih?”
“Yah bisalah! Gak tahu kenapa si Shaka saat gue hindarin malah ketemu terus. Pas gue pengin ketemu nggak pernah ketemu-ketemu.” Dira duduk di kursi dengan kesal.
“Shaka nanya soal itu ya?”
Dira pun menjelaskan bagaimana Shaka mengintrogasinya bahkan laki-laki itu rela membayar dua kopi hanya untuk bisa mengobrol dengannya. Setelah dirasa informasi tidak mencukup Dira malah diminta pergi itu namanya kurang ajar.
“Mungkin Shaka modus ama lu kali, Dir”
“Maksud lo Fid?” tanya Dira
“Dia modus mau deketin lo, Dir. Siapa tahu kan dia diam-diam suka sama lo, siapa tahu kan. Yakin dulu aja, masalah benar apa nggak mah belakangan.”
“Si kampreet!”
“Makasih lo Dir untuk kopinya.”
“Lo bilang makasih jangan sama gue, ama si Shaka lah.”
“Iya gue mau w******p dia.”
Dira pun langsung berdoa semoga setelah ini tidak ada pertemuan lagi antara dirinya dengan Shaka, untuk saat ini. Sampai Fida dan Shaka membicarakan ini. “Lo nanti bilangin ke Shaka soal ini, sesuai dengan jawaban gue ke dia.”
“Iya bawel tanpa lo minta juga gue bakal lakuin.”
***
Pertemuan ketiga kalinya dua manusia yang memiliki banyak perbedaan; Fida dan Timo. Jarak pertemuan antar pertemuan yang kedua adalah tiga bulan. Waktu itu Fida ke kantin seorang diri karena Dira dan team nya sedang di kejar-kejar oleh dealine. Ia pun terpaksa makan siang sendiri.
Sampainya di kantin Fida memesan satu porsi siomay dan es jeruk. Kantin hari ini terlihat sangat penuh sampai Fida tidak bisa melihat bangku yang kosong. Sampai pandangnya berhenti pada bangku yang terletak di paling pojok. Sesorang yang di kenal sedang makan di sana, sendirian. Fida pun langsung menghampiri bangku tersebut.
“Hai Tim!” Orang di sana adalah Timo. Laki-laki yang sudah bertemu dengannya dua kali, dan ini adalah pertemuan yang ketiga. “Nggak nyangka ya ketemu lagi, gue boleh duduk di sini nggak?”
Timo menengadahkan kepalanya sambil tersenyum, “boleh dong lo duduk di sini. Kebetulan gue duduk sendiri.”
Fida pun langsung menaruh nampan yang berisi makanan miliknya, lalu mendaratkan bongkongnya di bangku kayu. “Lo sendirian aja dari tadi?”
“Iya sendirian aja nih. Temen-temen gue kerja mulu!”
“Sama jadi sendiri deh makannya.”
“Iya.”
Dalam benak laki-laki itu ia begitu bersyukur dipertemukan lagi dengan perempuan yang membuatnya kepikiran beberap hari ini; waktu pertemuan yang kedua ia lupa meminta kontaknya. Kali ini ia harus bisa mendapat kontak dari perempuan di hadapannya kini yang sedang melahap siomay, entah kenapa Fida jadi telihat manis. Timo ingin mengenal Fida dengan baik, dan semoga dari perkenalan ini ada hal baik yang terjadi di antara dirinya dengan Fida.
“Kabar lo gimana, Tim?”
“Baik kok. Akhirnya kita ketemu lagi ya.” seru Timo, “kaya takdir bukan sih. Kita ketemu terus.”
“Emang takdir Tim. Nggak ada yang kebetulan di dunia ini.”
“Lo percaya kebetulan apa sesuatu yang memang sudah digariskan?” tanya Timo.
Fida menelan dahulu siomay yang sedang ia kunyah di mulutnya lalu menyedot sedikit air jeruknya supaya tidak terlalu kering. “Sesuatu yang di dunia ini semuanya sudah digariskan, termasuk pertemuan kita ini.”
“Gue setuju. Lo hobi apa?” tanya Timo. Timo tahu ini terlihat kaku tidak apa-apa semoga dari obrolan hanya sekadar menanyakan hobi apa jadi obrolan yang panjang yang bermakna.
“Ini lo serius nanya hobi gue apa?”
“Iya seriuslah, Fid. Masa gue bercanda sih. Emang muka gue keliatan bercanda ya?”
“Nggak kok serius,” Fida meletakkan sendoknya di atas piring siomay. “Oke gue jawab. Gue hobinya rebahan. Rebahan sampai badan pegel-pegel.”
Spontan Timo pun langsung tertawa, “ino bercanda apa serius?”
“Bercanda.”
“Kalo gitu gue pengin jawaban yang serius dari lo. Hobi lo yang serius apa?”
Fida tidak langsung menjawab ia malah memandang Timo dengan intens. Itu malah membuat Timo jadi salah tingkah. Jantung Timo pun berdetak lebih kencang, kedau telapak tangannya mendadak jadi dingin, dan perutnya seprti dihinggapi oleh ribuan kupu-kupu.