“Hobi serius gue ya?” tanya Fida lagi.
Timo mengangguk, “iya.”
“Hobi gue banyak Tim,” sebenarnya Fida sendiri bingung dengan hobinya, dia bisa ada di moment di mana dia sedang suka membaca buku, di waktu lainnya Fida suka menonton film. Apakah itu bisa disebut hobi atau tidak?
“Emangnya hobi lo itu apa aja Fid?” tanya Timo yang seperti memang sangat penasaran dengan apa yang disukai oleh perempuan yang berada di depannya
“Hobi gue kadang suka banget sama baca buku, kadang nonton film, kadang makan.” Fida menyeruput terlebih dahulu es jeruknya sembelum melanjutkan perkataannya. “Kadang cuma rebahan aja nggak ngapa-ngapain. Kalo sendiri gimana?”
“Gue hobinya futsal.”
“Main futsal lo biasa di mana?” tanya Fida menyuapkan terakhir siomay di piringnya.
“Di gelangang olahraga Marga. Nanti kalo gue tanding lo temenin gue ya,” kata Timo. Fida menanggapi ini sebagai sesuatu yang tidak serisu hanya sekadar basa-basi tidak ada makasud apapun. “Lo mau nggak?”
“Ini serius?’ tanya Fida memastikan ini benar atau tidak. Takutnya ia yang kepedean soal ini padahal Timo biasa saja.
“Gue seriuslah Fid, masa gue bohong sih.”
Timo ini sepertinya suka bercanda ya, Fida masih tidak yakin lalu mengatakan ini. “Lo bercanda ya?” Fida memperhatikan wajah Timo dengan lekat mencari titik kebohongan dari matanya.
Timo meghela nafas, “kok lo nggak percayaan banget dah. Gue serius tahu!”
“Bukan nggak percayaan gue takut jadi orang yang terlalu percaya diri gitu Tim, nanti jadi harapan palsu yang sakit jadinya gue.”
“Kayanya lo berpenglaman banget soal di PHPin,” Timo tertawa meledek Fida.
“Kaya lo nggak pernah aja, Tim.”
“Nggak pernah sih. Pernah diputusin dengan alasan dianya mau fokus sama kuliah.”
“Turutt beduka yah Tim,” Fida turut prihatin dengan apa yang dialami oleh Timo. “Semoga ketemu ganti yang baik.”
“Amin.” Timo mengeluarkan kalung salibnya yang ia masukan ke dalam balik kemeja yang ia pakai lalu ia mencium.
Entah kenapa di hati kecil Fida ia merasa kecewa dengan apa yang ia lihat. Bagiaman kalau? Fida langsung membuang jauh-jauh pikiran gilanya. “Lo balik kantor jam berapa?”
“Jam 5,” jawab Timo. “Emangnya kenapa? Mau ajak pulang bareng?”
Fida salut Timo punya tingkat kepercayaand diri yang cukup tinggi juga. Bisa kepikiran sampai ke sana. Padahal Fida bertanya seperti itu hanya basa-basi saja. Tidak berniat untuk mengajak Timo pulang bersamanya, pertanyaan memang Timo mau diajak pulang bersama dengannya?
“Kalo gue ajak pulang bareng emang mau?”
“Maulah Fid, kita kan arahnya sama. Sama-sama jalan ke halte bus kan ya?”
Wajar saja Timo tadi bertanya seperti itu. Mungkin maksud Timo adalah ia bisa pulang bersama dengan Fida supaya ada teman mengobrol.
“Iya Tim.”
“Sendiri kan lo ke sana?”
“Gue bareng sama temen gue Tim.”
“Tapi, waktu pertama kali kita ketemu itu lo sendirian.”
Fida waktu itu sendirian karena barengannya Dira sudah pulang lebih dahulu dikarenakan sahabatnya itu tidak mau menunggunya. “Gue biasanya bareng sama temen gue, namanya Dira. Cuma waktu itu dia pulang duluan karena nggak mau nemenin gue lembur. Jadilah gue balik sendiri, dan ketemu sama lo.”
“Yaudah kalo gitu kita pulang bertiga.”
“Gue belum kasih tahu lo Tim.”
“Soal apa?”
“Soal gue pulang jam berapa.”
“Emang lo pulang jam berapa?” tanya Timo
“Jam 6. Lo mau nungguin kita gitu?”
Timo mengangguk, “iya gue mau.”
“Nggak usah Tim, nggak apa-apa.” Fida menolaknya bukan karena ia tidak ingin pulang bersama dengan Timo hanya saja ia tidak enak dengan Timo, harus menunggunya pulang.
“Lo nolak pulang bareng gue?”
Dari nada bicara Timo suaranya terdengar kecewa, ini malah makin membuat Fida tidak enak dengan Timo. “Bukan gitu. Gue nggak enak lo jadi nungguiin kita berdua.”
“Nggak apa-apa beneran deh.”
“Iyaudah kalo itu mau lo.” Fida melirik jam tangannya sebentar lagi waktu akan menunjukkan pukul satu siang, ia pun langsung bergegas membawa piring dan gelasnya untuk dikembalikan kepada penjualnya karena ia telah selesai makan. “Gue balik dulu yah ke kantor.”
“Oke Fid, gue masih mau di sini suntuk gue di kantor.” Kata Timo.
Fida pun langsung bergegas pergi ke tempat penjual untuk mengembalika piring dan juga gelasnya, lalu langsung menuju lift untuk ke kantornya.
Pada saat di kantor ia mendapati informasi dari teman-temannya kalau seharian ini bos tidak bisa ke kantor karena ada meeting dengan beberapa klien sampai sore. Fida pun bersyukur jadi ia bisa mengobrol dulu dengan Dira. Fida langsung berjalan ke arah meja Dira, pandangan mata Fida seperti biasa fokus pada gadgetnya menonton drama korea.
“Drama mulu.”
“Wajarlah gue nonton drama, soalnya hidup gue jauh dari drama ini.” Dira melepaskan earphone lalu menoleh ke arah Fida yang kini duduk di sebelahnya.
“Nanti kalo pas pulang kita bareng sama orang baru.”
Dira malah bingung saat Fida mengatakan pulang bersama dengan orang baru itu apa. “Orang baru siapa?”
“Temen baru gue Dir, Timo namanya.”
Dira langsung melotot saat mengatakan Fida mengatakan “Timo’ Timo itu berarti nama lak-laki. Akhirnya setelah sekian lama sahabatnya bisa deket juga sama laki-laki setelah sekian lama.
“Lo nggak halu kan?”
“Gue nggak halu lah. Gue sadar pake banget!” ucap Fida dibialng halu oleh Dira padahal yang sering halu itu dirinya sendiri. “Gue bukan lo. Pokoknya nanti pas pulang dia ke kantor kita, infonya sih dia mau nungguin kita buat pulang. Soalnya jam pulang kita kan beda, dia jam lima kita kan jam enam.”
Dira pun langsung berasumsi kalau Timo itu suka dengan Fida, “kayanya Timo suka deh sama lo.”
“Lebay banget loh!”
“Siapa tahu kan ya, abis dia mau mau nunggin kita.”
“Mungkin dia lagi nggak mau pulang sendiri kali.”
“Kali ya bukan sungai.”
“Nggak jelas lo Dir.”
Fida pun tidak langsung kembali ke tempat kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaan supaya tidak menumpuk, yang ada nanti malah diocehin oleh bos. “Lo mening kerja deh, jangan drakoran mulu mentang-mentang nggak ada bos lo.”
“Iya bawel lo.”
***
Omongan Timo benar-benar terjadi laki-laki itu pada saat Fida dan Dira keluar sudah ada di dekat meja respisonis duduk di kursi samping meja resepsionis, sedang memainkan ponselnya. Fida pun langsung menarik tangan Dira menghampiri Timo yang sedang fokus dengan ponselnya.
“Lo udah nunggu lama kita ya?” tanya Timo.
Timo pun langsung menegadahkan kepalanya melihat ke arah Fida dan Dira yang kini sudah berdiri di hadapannya. “Eh kalian, nggak kok gue baru sepuluh menitan di sini. Tadi sempet ke kantin dulu makan bentar. Ini yah yang namanya Dira?” Timo melirik ke arah Dira.
“Iya ini yang namanya Dira.” Fida pun langsung memperkenalkan mereka berdua, “Dira ini Timo, Timo ini Dira.”
Timo dan Dira pun bersalaman mereka berdua pun sama-sama mengucapakan salam kenal, dan menyebutkan nama masing-masing.
“Yuk Tim kita udah siap buat pualng.”
Timo pun bangkit dari tempat duduk menaruh tas di punggungnya, lalu berjalan beriringan dengan Dira dan Fida. Mereka bertiga pun langsung memasuki lift, dan lift hari ini cukup padat jadi sepanjang mereka di lift tidak ada yang bicara.
Karena bahu jalan di dekat wisma Sejahtera tidak telalu besar mereka pun berjalan dengan cara berbaris mereka masih berbicara. Akan tetapi, saling bersahutan.
“Dira lo pulang ke mana?” tanya Timo.
“Naik kereta dong?”
“Iya.” Jawab Dira dengan sedikit teriak supaya Timo yang berada di depan Fida mendengarnya karena suaran kendaraan yang berlalu lalang terlalu bising. “Gue naik bus buat ke Stasiun lo pulang ke mana?”
“Bekasi.” Timo bersyukur sekali akhirnya ia punya teman untuk ke Stasiun bersama. Tapi, Timo terlebih dahulu bertanya Dira naik dari stasiun mana. “Lo naik dari stasiun mana, Dir?” tanya Timo.
“Kota.”
“Sama dong,” seru Timo. “Nanti bareng ya.”
“Iya boleh,” jawab Dira.
Fida yang sedari tadi tidak berkomentar apa-apa hanya mendengarkan mereka berdua mengobrol pun langsung bersuara. “Ngobrolnya dilanjut nanti aja. Masih di jalan nih, kalian berteriak-teriak berisik tahu.”
“Lo protes aja ih! Kaya emak gue.”
Fida tidak menghiraukan ucapan Dira barusan. Mereka bertiga pun diam tidak ada yang bicara sampai di halte. Barulah di halte mereka sambil menunggu bus yang cukup lama berbicara.
“Timo makasih loh. Lo udah mau nungguin kita,” kata Fida.
“Sama-sama,” kata Timo. “Gue juga makasih lo udah mau bareng ama gue. Next nya untuk kita pulang bareng terus aja, Fid.”
“Lo emangnya mau nunggu gue tiap hari?”
“Maulah.”
Entah kenapa menurut Fida si Dira hari ini sedang menjadi biang kerok pakai acara sok batuk segala padahal Dir aberniat untuk meledeknya.
“Ngobrolnya berdua aja gue kaya obat nyamuk.”
“Timo kan lagi fokus ngomong sama gue,” Fida menyangah pernyataan Dira.”Pikirannya jangan negatif napa.”
“Entahlah di dekat kalian padahal kalian ini kan nggak pacaran ya, tapi ko auranya kaya bakal pacaran suatu hari nanti.” Dira mencoba sok melamar kalau sahabatnya itu akan berpacaran dengan Timo, dan semoga saja benar apa yang ia ucapkan.
“Jauh banget pikiran lo!” Fida tidak terima.
Timo pun angkat bicara, “nggak apa-apa kali Fid, itu kan doa baik. Emang lo nggak mau pacaran sama gue?”
Fida menatap Timo dengan kesal karena ia merasa Timo seperti sedang bersekongkol dengan Dira. Sekarang pertanyaan dibalik lo mau emang sama gue?”
“Mau!”
“Blushit,”kata Fida sambil terkekeh. “Udahlah jangan kaya gini lebih baik kita menunggu bus sambil membicarakan hal yang lain, kaya misalnya bus di halte ini kenapa lama?”
“Gak jelas lo Fid.”
Fida merasa kalau Dira sedari tadi mengajaknya ribut, “lo ngajak ribut gue ya?”
“Hah?”
“Hah heh heh mulu kek niup keong lo!”
Timo hanya mengelengkan kepalanya melihat kedau orang di depannya berdebat tentang hal yang tidak jelas, tapi itu mungkin cara mereka untuk tidak bosan dalam berteman. Tak lama kemudian bus pun datang dari arah utara.
“Tuh busnya udah dateng.” Kata Fida.
Mereka bertega pun bersiap-siap, saat bus sampai tepat di depan halte mereka berdua pun langsung bergegas masuk ke dalam berdesak-desakan dengan penumpang lain. Mustahil sekali mereka dapat tempat duduk akhirnya mereka bertiga pun berdiri dengan desak-desakan.