Selama di bus mereka tidak berbicara sama sekali di karenakan di bus pada saat jam pulang kantor sangatlah padat. Untuk bernafas saja agak sulit, bagaimana dengan berbicara? Selain sulit terkadang suara mesin yang bersalah dari bus membuat lawan bicara tidak terlalu mendengar.
Mereka bertiga; Timo, Fida, dan Dira turun di halte yang sama. Fida menuju koridor yang arahnya berbeda dengan Timo dan Dira. Dira dan Timo menuju koridor yang sama karena mereka naik kereta dari stasiun yang sama.
“Gue duluan ya guys!” pamit Fida kepada dua temannya. Timo mengatakan hati-hati di jalan sementara sahabatnya sendiri hanya mengatakan awas nyasaar.
Setelah kepergian Fida, Timo bertanya ke Dira. “Kalian temenan dari kapan?”
“Dari SMA.”
“Satu sekolah?” tanya Timo.
Dira yang sangat positif atau lebih ke percaya diri yang over gitu yah; dengan Timo bertanya-tanya soal Fida asumsinya tentan Timo yang menyukai Fida makin kuat.
Baiklah Dira akan menceritakan banyak hal positif tentang Fida ke Timo, “nggak beda sekolah. Kita temanan waktu SMP. Setelah lulus kita jaga pertemanan itu, sampai sekarang.”
“Lo berdua bisa kerja bareng itu gimana?”
Belum sempat Dira menjawab pertanyaaan dari Timo bus yang menuju Stasiun kota pun sampai di depan halte. Bus tidak terlalu padat seperti tadi, mereka berdua pun bisa duduk dan mengobrol pun bisa tidak perlu khawatir dengan suara bus yang bising. Bus yang ini berbeda suaranya cukup smooth tidak akan mengganggu pembicaraan mereka.
“Yang duluan kerja di situ itu gue sih, waktu itu Fida baru resign dari kantor lamanya karena bosnya toxic banget. Padahal lokasinya nggak jauh dari rumah. Gue minta dia ngelamar di tempat gue, dan gue bukan orang dalam ya. Dia diterima karena memang dia mampu, lagian yang di interview bukan cuma dia doang sih.” papar Dira.
Mereka berdua sudah berada di dalam bus, dan duduk bersebelahan di bangku paling belakang. Sengaja mereka duduk paling belakang, Timo yang minta karena di belakang lebih enak tidak bikin pusing karena lihat ke jalanan itu lurus.
“Fida di mata lo itu gimana sih, Dir?”
Dira langsung tersenyum sekaligus bersyukur karena akhirnya temannya diam-diam ada yang menyukai juga. Fix ini si Timo benaran suka sama Fida. “Dia anak yang baik, dia pekerja keras, mandiri, strong, walaupun kadang-kadang dia suka ceroboh. Tapi, gue sayang sama dia.”
“Oh gitu. Walaupun sering debat yah lo sama dia?”
Dira terkekeh; persahabatan kalau tidak ada perdebatan-perdebatan kecil tidak akan seru.”Kita berdebat hanya untuk bumbu Tim, kaya pacaran gitu.”
“Gue udah lupa yah rasanya pacaran kaya gimana,” ujar Timo seseorang yang sudah menjomblo selama tiga tahun.
“Lo jomblo, Tim?”
Pertanyaan Dira yang spontan kalau ada Fida di sini pasti langsung dikomentari ‘lo kalo nanya itu dipikir-pikir dulu gitu’ untung saja Fida tidak ada di sini jadi Dira bebas bertanya apapun.
“Iya kenapa?”
“Tanya aja sih. Gue juga jomblo, kita sama-sama jomblo haru saling menguatkan.” Dira tertawa alias menertawai dirinya sendiri yang sudah menjomblo selama lima tahun. Sengaja ia dalam status ini sampai ia bertemu dengan seseorang yang ia kagumi sejak SMA. “Kita satu gedung yah Tim, tapi nggak pernah ketemu ya. Lo di lantai berapa?”
“Lantai tiga,” Timo membenarkan posisi duduknya lebih tegak, “kan orang di wisma Sejahtera bukan cuma lo dan gue doang, ada ribuan manusia lainnya.”
Benar juga apa yang dikatakan oleh Timo bahwa di wisma Sejahtera yang tinggal bukan beberapa orang, tapi ribuan. Akan tetapi, cuku ajaib bukan? Fida bisa menemukan Timo. Pasti ini adalah sebuah takdir, itulah yang dipikirkan oleh Dira.
Setelah pembicaraan itu baik Timo maupun Dira tidak ada yang bicara lagi; mereka ternggelam dalam pikiran masing-masing. Sebenarnya Timo masing ingin bertanya banyak hal dengan Dira tentang Fida. Namun, ia urungkan niatnya karena tidak mau dianggap terlalu kepo.
Dua puluh menit untuk menempuh perjalanan menuju stasiun akhirnya sampai juga. Mereka pun langsung keluar dari bus. Saat berada di halte bus, “akhirya sampe juga. Eh belum sampe deh alias masih harus naik kereta sekitar satu jam untuk sampai di stasiun.”
“Tetap semangat untuk kita!” Timo memberikan semangat untuk ke dirinya sendiri, dan juga Dira. Ia tahu kalau perjalanan ini cukup melelahkan, tapi tetap semangat untuk menjadi orang dewasa.
“Semangat!” kata Dira yang tak kalah semangat dengan Timo.
Mereka pun berpisah karena peronnya berbeda.”Timo gue duluan, hati-hati ya.” ucap Dira.
“Lo juga hati-hati ya.”
Timo pun melambaikan tangan ke Dira, begitupun dengan Dira.
***
Timo sedang makan malam bersama dengan keluarganya suasana ruang makan sangat sunyi, hanya ada bunyi sendok dan garpu yang saling beradu satu sama lain. Ponsel Timo bergetar layar pun menyalah dengan sendiri ada satu pesan masuk dari Elvira.
Elvira
Tim!
Dua minggu lagi aku balik ke Jakarta.
Laki-laki itu tadinya tidak berniat untuk membuka pesannya. Akan tetapi, saat membaca Elvira akan kembali ke Jakarta dau minggu lagi lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Ia pun langsung mengambil ponselnya, dan membuka pesannya.
Timo
Ini serius?
Bukanya masih lama ya?
Satu bulan setengah lagi.
Aminah yang sedari memeperhatikan anak sulungnya itu sedang membala pesan dengan raut wajah yang kaget, tapi masih terpancar rasa bahagia di sana.
“Tim?”
Timo yang dipanggil oleh Aminah tidak menolah sama sekali hanya menjawab dengan ‘hmm’ Aminah pun memanggil anaknya sekali lagi. “Tim, HP kamu taruh dulu di meja. Abisin dulu makannnya.”
“Elvira ma.”
“Elvira kenpa?”
Sumarno yang tadinya hanya diam dan fokus dengan makanan buat istrinya super enak pun ikut bertanya, “Elvira kenapa Tim?”
Timo menaruh ponselnya melihat anggot keluarganya satu-satu, mereka sedang memandang Timo sambil menunggu jawaban dari Timo tentang Elvira. “Elvira dua minggu lagi ke Jakarta.”
“Bukannya kepulangan Elvira itu satu bulan lagi?” tanya Aminah.
“Urusan dia udah selesai dari perkiraannya, jadi dua minggu lagi dia balik ke Jakarta.”
Aminah pun tersenyum lebar akhirnya putrinya pulang juga setelah sekian lama. Aminah sangat merindukan sosok Elvira yang sudah ia anggap sebagai keluarganya sendiri, sebagai anak perempuannya karena memang Aminah tidak memiliki anak perempuan.
“Nanti ajak mampir ke sini ya Tim.”
“Siap mam!” Timo pun kepikiran untuk meminta saran kepada Aminah—tidak masalah kan kalau ia menjemput Elvira ke Bandara mengajak Fida, “ma aku mau minta saran.”
“Saran apa, nak?”
“Jadi gini ma, Elvira pengin di jemput sama aku pas di bandara. Papa dan mamanya mau jemput, tapi katanya dia mau di jemput sama Timo supaya Timo bisa mampir ke rumahnya. Timo setuju, dan berniat mau ajak Fida sekalian Timo kenalin ke Elvira. Timo salah nggak ma?”
“Nggak salah kok. Bagus jadi Elvira dan Fida pun saling kenal, Tim. Fida udah tahu kan kalau kamu sama Elvira pernah pacaran?” baik Aminah maupun Sumarno tahu kalau anak sulung itu pernah berpacaran dengan Elvira meskupun hanya berjalan satu tahun. Aminah mengerti mungkin ia tidak enak dengan Fida takut Fida berpikir yang aneh-aneh, tapi Aminah percaya Fida anak yang baik tidak akan berpikir yang macam-macam.
“Oke mam.”
Sumarno pun meledek anaknya itu, “takut Fida cemburu?”
“Papa apa sih.” Timo menyuapkan suapan terakhir, meminum air putihnya. “Timo makannya udah habis, ini piring Timo bawa ke dapur. Timo izin ke kamar duluan ya, bye mama papa.”
Timo bangkit dari kursinya sambil membawa piring bekas makannya berjalan ke dapur untuk meenaruh di bak tempat piring kotor, lalu ia naik ke atas menuju kamarnya berniat untuk menelpon Elvira perihal kepulangannya.
Nomor telepon tersambung tidak perlu menunggu waktu lama untuk Elivra mengangkat telepon darinya, Elvira pun langsung segera mengangkat teleponnya.
Elvira : Hallo Tim?
Entah kenapa tiba-tiba Timo menjadi nervous pergi telepon dengan Elvira. Biasnya pun ia hanya biasa-biasa saja.
Timo : Lo beneran, El?
Meskipun Timo tidak melihat di sana Elvira mengangguk ia tahu apa yang dimaksud oleh Timo dengan ‘lo beneran El? Jujur saja Elvira merasa sangat senang karena Timo sampai meneleponnya hanya untuk memastikan ia benar-benar pulang dua minggu lagi.
Elvira : Iya beneran Tim
Jemput aku ya nanti di Bandara
Ajak pacar kamu!
Meskipun jauh di lubuk hati Elvira ia merasakan cemburu dengan hubungan Timo dengan pacar barunya itu. Mungkin ia cemburu hanya sebagai sahabat, takut waktunya bersama jadi jarang.
Timo : Nggak apa-apa nih kalau gue ajak Fida?
Kalo bisa sih nggak. Elvira ingin mengatakan kalimat ini. Akan tetapi, ia tahu kalau itu tidak mungkin ia lakukan. Ia tidak mau terkesan jahat di mata Timo.
Elvira : Iya nggak apa-apa lah memang kenapa ya?
Timo : Takut lo nggak nyaman aja. Gue bawa cewek
Sementara lo jomblo.
Elvira tertawa ketika Timo mengatai dirinya jomblo. Tidak apa-apa jomblo, semoga saja ia dan Timo berjodoh. Timo pernah bercrita kalau Fida itu berbeda dengan Timo; perbedaan itu sangat sulit untuk menyatukan mereka berdua.
Elvira : Aku jomblo
Karena nyari pacar nggak semudah itu.
Menurut Timo bagi Elvira untuk mencari pacar itu mudah. Elvira cantik, baik, dan juga pintar. Pasti beruntung siapapun laki-laki yang akan menemani Elvira nanti, sama seperti Timo dahulu.
Timo : Bohong banget lo El.
Gue yakin banyak cowok yang jatuh hati sam alo
Elvira : Tapi, kalau hati gue masih stuck di masa lalu giman?
Entah kenapa Timo merasa perkataan Elvira barusan seperti sedang menyindir. Karena setahu Timo setelah putus dengannya Elvira tidak pernah dekat dengan siapa-siapa. Apakah ini pertanda kalau Elvira belum bisa move on darinya?”
Timo : Eh El! Udah dulu yak
Gue ada kerjaan yang perlu gue kerjaaiin ini.
Elvira sejujurnya kecewa dengan keputusan Timo yang ingin mengakhir pembicraan mereka. padahal jauh di lubuk hati Elvira ia masih ingin berbicara dengan Timo. Tapi, apa mau diakat kalau Timo sudah ingin mengakhiri pembicaraan ini. Jadi, Elvira pun mengiyakan. Mood langsung turun dratis ia pun memutuskan pergi ke kafe yang letak tepat berada di sebrang kafenya.
Malam cuaca di Australia sangat dingin Elvira keluar dari apartement dengan beberapa lapis baju, tidak lupa ia memakai sarung tangan, dan juga kaos kaki. Setelah semuanya siap ia pun langsung keluar dari apartementnya tidak lupa dikunci.
Ia berjalan ke lift kedua tangnnya ia masukkan ke dalam kantong jaketnya. Ia bertemu dengan beberapa penghuni apartementnya lainnya, dan menyapanya. Ini sudah jam 11 malam, tapi masih banyak orang-orang yang berlalu lalang di luar begitu Elvira sampai di luar apartemennya.