Elvira menengok ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada mobil yang lewat saat ia akan menyebrang jalan. Setelah ia perkiran aman, ia pun langsung menyebrang jalan menuju kafe yang tepat berada di sebrang. Perempuan dengan tinggi 160 cm itu membuka pintu kafe hingga meninggalkan suara dentingan yang di pasang oleh pemilik kafe untuk penandakan mengujung yang datang ke sana.
Ia pun langsung berjalan kea rah counter memesan satu cup kopi hangat. Elvira menunggu sang barista meracik kopi dengan sabar, setelah menunggu sekitar dua puluh menit kopi pun jadi. Ia pun pergi dari counter mencari tempat duduk yang paling pojok. Untuk merenungi nasib dirinya yang meminta Timo putus, tapi sepertinya ia yang sulit move on.
“Aku mau kita putus!”
Di kepalanya masih terekeam jelas bagaimana ia mengatakan kalimat itu. Pada saat di bandara ketika ia hendak pergi Australia untuk melanjutkan studinya. Elvira memutuskan dengan alasan yang klasik Elvira paham akan hal itu, dan ia sangat menyadari kalau ia yang egois di sini. Elvira memutuskan Timo dengan alasan ia tidak sanggup jika harus menjalin hubungan jarak jauh, ia ingin fokus, dan ia tidak bisa jauh dari Timo.
Timo si anak baik yang pernah ia kenal. Timo tidak protes—laki-laki itu mengiyakan permintaanya tanpa bertanya kenapa? Dan apa alasannya? Selain alasan yang Elvira baru sebutkan sebelumnya. Perempuan dengan wajah buat dan mempunyai mata yang sayu ia menyeruput kopinya pelan-pelan karena masih panas.
“Yaudah kalo itu memang yang terbaik untuk kamu.” Lirih suara Timo masih terdengar jelas di telinga Elvira. Tatapan Timo yang menggambarkan bahwa ia tidak ingin hubungan ini berkakhir. Elvira tahu itu. Akan tetapi ia pura-pura tidak tahu.
Setelah perpisahan itu terjadi; ia dengan Timo tidak saling kontak. Mereka berdua masih menyimpan nomor masing-masing, tapi tidak ada satu pun yang berani menghubungi duluan. Bahkan Elvira masih ingat pesan Timo saat itu meskipun hubungan mereka sudah berkakhir. Akan tetapi, soal persahabatan antara mereka berdua tidak boleh putus.
Sampai akhirnya di tahun pertama mereka tidak komunikasi sama sekali. Dengan mengumpulkan keberanian yang luar biasa, dan melawan rasa gengsi yang luar biasa yang tertanam di dalam diri Elvira. Akhirnya Elvira pun mengirim pesan kepada Timo. Isi pesan itu pun masih teringat jelas oleh perempuan yang pernah menjadi perempuan favorite dalam hidup Timo setleah ibunya.
Elvira
Hai Timo apa kabar?
Udah lama kita nggak saling sapa
Timo membalasnya dengan capat. Akan tetapi, tidak ada lagi panggilan kesayangan itu dulu saat ia dan Timo masih berpacaran. Dulu Timo memanggilnya dengan sebutan Vira bukan El. Tidak ada lagi kata aku dan kamu. Dengan Timo bersikap seperti itu sudah membuktikan kalau Timo sudah benar-benar kecewa dengannya, dan Timo memang pantas untuk kecewa.
Elvira bertanya pada dirinya sendiri akan ia sanggup pada saat nanti bertemu dengan Timo; melihat orang yang pernah begitu sayangi bersanding dengan orang lain. Mungkin saja Fida adalah sosok perempuan yang bisa memeperlakukan Timo dengan baik tidak seperti dirinya. Yang terlalu egosi untuk kepentingan kebahagiaannya sendiri.
Ponsel yang Elvira letak di atas meja pun bergetar satu pesan masuk dari seseorang yang sedang ia pikirkan sekarang, siapa lagi kalau bukan Timo.
Timo
Tadi aku bilang ke Fida kalau lo mau dateng
Aku ajak dia untuk jemput lo.
Dia mau, dan dia bilang nggak sabar buat ketemu lo.
Elvira tidak membalas sekarang. Mungkin besok ia akan memmbalas mengatakan kepada Timo kalau ia ketiduran padahal malam ini ia sedang overthingking memikirkan seorang Timo.
Elvira pun ingin mengenal Fida dengan baik. Ia sama sekali tidak ada niatan untuk mengambil Timo dari Fida, tapi hatinya tidak bisa bohong Elvira masih menginginkan Timo. Saat ini ia benar-benar stuck di Timo entah harus berbuat apa.
Mencoba move on pun sudah malah agak dipaksakan malah akan membuatnya tambah ingat dengan Timo. Elvira harus dapat berdoa kepada Tuhan memohon untuk dihapuskan segala rasa yang masih tertinggal di dalam hatinya untuk Timo.
***
Shaka
Hallo Fid!
Ketemu yuk.
Timing Shaka sangat tepat untuk mengajaknya keluar weekend ini Fida memang tidak ke mana-mana hanya berdiam diri di kamar seperti sedang di pingit. Fida paham sekali kalau niat Shaka untuk bertemu dengannya pasti ingin mengintrogasi. Karena pada saat ia mengintrogasi Dira malah gagal sasaran berikutnya kalau bukan dirinya siapa lagi. Kalau Fida menolak malah Shaka makin curiga kalau dirinya bicara yang macamm-macam ke Dira.
Fida
Yuk!
Gue lagi nggak ngapa-ngapain nih.
Berpura-pura sajalah tidak tahu maksud, dan tujuan mengajaknya bertemu. Fida yang sedari tadi hanya rebahan di atas kasur empuknya yang sangat poseseif pun akhirnya memaskan diri untuk bangun mengambil handuk yang ia letakkan di belakang pintu kamarnya. Ia pun langsung bergegas menuruni tangga saat melewati daput ia bertemu dengan adiknya Tata sedang menyeduh mie instan.
“Akhirnya kakak gue bangun jadinya. Dia pegel kali jadi putri tidur seharian, kasian tuh kasur ditindihin mulu sama badannya.” kata Tata dengan tangan yang terus mengaduk-aduk panci kecil yang sedang merebus satu bungkus mie instan berkuah.
Fida menutup pintu kamar mandinya dengan keras lalu ia berkata, “kalau kamu bisa kaka jual, kamu udah di jual kaya kemarin.”
Letak kamar mandi dan dapur rumah Fida tepat bersebelahan jadi kalau berteriak sedikit pun akan terdengar, Tata pun langsung membalas ucapan dari kakaknya. “Jual aja harganya harus berjumlah triliuanan soalnya gue mahal.”
“Bodoa amat.” Fida pun langsung menyalahkan kran air membuka semua pakaiannnya dan langsung menyirami seluruh badannya dengan air. Untuk mandi Fida biasanya membutuhkan waktu sekitar empat puluh menitan.
Setelah selesai mandi ia keluar dari kamar mandi melihat adiknya sedang menonton TV sambil rebahan di sopa, di meja ada mangkuk bekas ia makan mie instan. Dalam hati, Elvira langsug berkata awas pas gue pulang dan masih berantakn, abis kau Tata.
Untuk mengomel saat ini Fida belum bisa ada yang lebih penting dari itu menjawab pertanyaan yang pasti akan diajukan oleh Shaka tanpa laki-laki itu curiga. Lalu bertanya ke hal-hal lain, dan ending nya malah gagal tujuan ia untuk mendekatkan Dira dan Shaka. Fida tidak akan membiarkan hal itu terjadi mereka berdua harus bersatu.
Setelah ia selesai berdandan barulah Fida bisa mengecek ponselnya. Ada satu pesan dari Shaka, dan Fida berharap isi pesannya tersebut adalah Shaka membatalkan niatnya untuk bertemu dengannya.
Shaka
Gue jemput ke rumah lo ya.
Setelah selesai gue siap-siap
Gue langsung otw ke rumah loJ
Fida kecewa pemirsa tidak ada pembatalan yasudahlah nanti pura-pura jadi orang bodoh saja di depan Shaka. Suara ketukan dari luar, dan siapa lagi kalau bukan Tata yang mengetuk. Fida langsung bangkit dari bangku kecil yang ada di kamar yang ia gunakan untuk mengaca di meja rias yang tidak terllu besar. Membuka pintu kamarnya dan menatap adiknya dengan tatapan aneh, “kenapa kamu senyum-senyum?
“Pantesan lo mandi, dan udah rapih gini.”
“Kenapa sih?”
“Ternyata mau jalan sama cowok keduanya.”
Fida benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Tata, “cowok kedua apaan sih?”
Tata tidak menjawab pertanyaan kakaknya ia memilih untuk menarik tangan kakanya turun ke bawah, sampai di ruang tamu sudah ada Shaka di sana. Oh masuk adek gue cowok kedua itu Shaka.
Fida langsung meantap Tata dengan kesal, dan memintannya untuk kembali ke kamarnya.”Jangan ikut campur urusan orang dewasa yah, anak kecil. Masuk kamar gih sana.”
“Nggak mau.”
“MASUK KAMAR TATA!” di depan Shaka Fida kelepasan berteriak kepada Tata, ia pun langsung menurunkan nada bicaranya. “Tata adikku yang cantik masuk kamar ya.”
Sebelum masuk ke kamar Tata berbisik di telinga kakaknya, “kalo bisa dua-duanya kenapa harus milih salah satu. Sikat dua-duanya, ka Timo dan ka Shaka.” Tata pun langsung berlari masuk ke kamarnya sambil tertawa cekikikan.
“Maaf yah Ka, adek gue emang gitu. Lo udah lama nunggu di sini?”
“Belum lama kok. Yaudah yuk kita jalan.”
Fida terlebih dahulu berjalan mendahuli Shaka keluar dari rumah lalau diikutin Shaka. Di halalaman rumah Fida sudah ada motor matic Shaka beserta dengan helmnya ada dua. Kini posisinya Shaka yang berada di depan Fida. Ia langsung menaiki motornya menyalahkan mesin motornya, dan tidak lupa untuk memberikan helm kepada Fida.
Fida tidak langsung naik ke motor Shaka ia terlebih dulu bertanya ke manakah tujuan mereka sekarang. “Mau ke mana memang kita?” tanya Fida. Fida sempat bertanya di pesan, tapi tidak dijawab oleh Shaka.
“Lo maunya ke mana?”
Fida tidak suka nih kalau seperti itu orang lagi nanya malah balik bertanya. “Kok lo malah bailk tanya ke gue sih? Yang ngajak jalan siapa?”
“Jujur aja yah Fid, gue juga nggak tahu mau ke mana.”
“Lah orang yang ajak lo masa gak tau sih mau ke mana?” Fida kesal dengan orang yang mengajak untuk pergi malah tidak tahu mau ke mana.
“Ke bakso malang yuk!” Shaka yang tahu kalau raut wajahnya ia langsung spontan mengatakan ingin makan bakso malang. “Gue lapar nih, lo gue tratkri.”
Air muka Fida yang tadinya kesal pun langsung mengukirkan senyuman di bibirnya, “oke gue mau kalo gitu.” Fida pun langsung bergegas naik ke motor Shaka. “Ini beneran loh yang traktir, Ka?” Fida bertanya sekali lagi untuk memastikan apakah benar ia ditraktri atau tidak. Shaka mengancungkan ibu jarinya sebentar lalu ia segera menyalahkan mesin motornya lalu merek pun melesat meninggalkan rumah Fida.
Setelah menmpuh perjalanan kurang dari lima puluh menit mereka pun akhirnya sampai di tempat bakso malang Fida turun dari motor Shaka melepas helmnya sementara Shaka memarkirkan motor di depan bakso malang. Parkiran yang sudah disediakan oleh kedai bakso tersebut yang letak parkirannya tepat di depan kedai bakso malang.
Yang bagian untuk memesan bakso malang adalah Shaka sementara Fida yang mencari tempat duduk. Setelah memesan bakso malang di counter nya Shaka langsung menghampiri Fida yang memilih tempat duduk di lantai dua. Oh yah, di kedai ini ada dua lantai. Tadi Shaka sempat memberitahu Fida kalau ini tempat favoritenya. Selain yang ketoprak yang di kota tua.
“Lo ke sini udah izin belum?”
Fida menglap mejanya dengan tisu yang sudah disediakan oleh kedai ini, “izin sama siapa?”
“Sama Timolah, sama siapa lagi!” kata Shaka.
Tentu saja Fida tadi sempat bilang dulu ke Timo kalau ia mau jalan sama Shaka. Tentu saja Timo adalah kekasih yang baik hati. Timo memperbolehkan Fida untuk jalan berdua dengan Shaka, katanya kasihan kalau Shaka jomblo tidak ada temannya. Untuk soal ini Fida tidak memberitahu laki-laki yang duduk di depannya karena ia takut malah jadi berdebatan panjang yang tiada henti.
“Udah dong.”
“Dia ngebolehin Fid?” tanya Shaka.
Fida mangangguk, “iya ngobolehin kok dia.”
“Syukurlah gue takut nya Timo cemburu lagi jalan sama gue.”
“Nggaklah dia tahu lo temannya mana mungkin dia cemburu sih.”
“Iya.”
Tidak lama pesanan mereka pun datang kuah dari bakso malang yang masih panas dan mengeluarkan asap pun membubung tinggi di udara, “wih kayanya baksonya enak ya.”
“Tentu aja dong ini bakso yang paling enak.” kata Shaka. Sang pelayan pun langsung langsung menaruh dua pors bakso malang di atas meja mereka, setelah selesai pelayan tersebut yang kira-kira usisan sekitar empat puluhan pun permisi, dan mengucapkan selamat menikmati.
“Tapi, ini nggak gratis yah Fid.”
“Tadi kan lo udah janji.”
“Iya makannya gratis. Tapi, lo bayar dengan petanyaan yang akan gue ajukan.”
Fida tahu apa yang dimaksud dengan pertanyaan Shaka yang akan diajukan. Ini perkara tentang Dira yang bicaranya kelepasan. Memang ya Dira!