“Lo cerita apa aja ke Dira soal gue?”
Tuh kan benar apa yang dipikirkan oleh Fida soal pertanyaan yang diajukan oleh Shaka menyangkut soal Dira. Rasanya saat ini Fida ingin berteriak ke Dira seperti, lo kenapa pake acara kecoplosan segala sih.
“Boleh nggak jawabnya entar? Gue makan dulu nih bakso beberap suap gitu. Lagi enak nih.” kata Fida, dan ia berpikir pasti Shaka kan berkata kalau, ngeles aja kau manusia.
Perkiran Fida pun salah Shaka tidak berbicara seperti itu ia malah mengatakan ini, “nggak apa-apa gue tunggu lo makan dulu aja.”
Fida agak terkejut, “ini seriusan ya?”
Shaka mengangguk seraya menyeruput kuah bakso malangnya, “iya gue serius. Kita ngobrol ringan aja dulu ya.”
“Oke!” seru Fida. “Lo kalo weekend nggak pernah ke mana-mana kah?” tanya Fida. Sebuah pertanyaan yang terselip maksud tertentu. Maksud untuk memancing Shaka, apakah Shaka memiliki teman dekat atau tidak.
“Gue mah paling di rumah kalo lagi nggak ke mana-mana, main game, nonton film, dan rebahan tentunya. Kenapa? lo mau nemenin gue kalo gue weekend hanya seorang diri?”
“Nggak juga,” bukannya gue mau nemenin Ka, mau tahu aja lo benaran punya cewek atau nggak. Fida mengambil air minum lalu meminum sebelum ia melanjutkan kalimatnya. “Daripada lo minta nemenin sama gue. Kenapa nggak sebaiknya lo minta temenenin cewek-cewek yang memang masih single. Gue harus punya waktu untuk bisa jalan sama cowok gue.”
“Kayanya kita telat yah,” ucap Shaka.
Ucapan yang di lontarkan oleh laki-laki yang menurut Dira adalah laki-laki tertampan di wisma sejahtera, membuat Fida bingung. Telat di sini itu maksudnya itu apa? Shaka tampan saja wajah, tapi kalau bicara kadang sulit untuk mengerti. Sok membuat teka-teki seperti agen FBI.
“Maksud lo apa sih?”
“Kita telah ketemun, Fid.”
“Emang kalau nggak telat ketemunya, lo mau apa?”
Gerakan Shaka langsung berhenti ia meletakkan sendok dan garpunya di atas mangkuk. “Gue pasti jatuh cinta sama lo.”
Fida langsung tertawa cukup keras yang membuat para pengunjung kedai bakso ini pun langsung menoleh ke arah mereka berdua. Fida pun langsung menghentikan tawanya, lalu memberikan isyarat meminta maaf dengan menaruh kedua tangannya di depan d**a karena sudah membuat kedai ini berisik dengan suara tawanya yang terlalu keras.
“Lo kalo ngomong jangan sembarangan ya.”
“Gue nggak ngomong sembarangan kok. Gue ngomong apa adanya.”
Fida menatap Shaka dengan tatapan serius, ia bisa membaca kalau dari tatapan itu menyiratkan bahwa Shaka benar-benar serius dengan yang diucapkan. Akan tetapi, masa iya Shaka menyukai dirinya? Spesies perempuan yang sepertinya mustahil kalau ditaksir oleh Shaka. Fida hanya perempuan yang biasaz-biasa saja tidak ada yang isitewa, wajahnya pun biasa saja, bahkan bisa dibilang pasaran.
“Ka pas on the way ke rumah gue itu, lo nggak kebentur apa-apa kan?”
“Nggak!”
“Lo masih waras kan?” tanya Fida sekali lagi.
Shaka mendesah kesal sampai akhirnya ia mengucapkan ini, “udah nggak usah dibahas. Capek ngomong sama lo. Bakso punya lo tinggal satu lagi, gue bolehlah langsung nanya yang tadi gue bicaraiin.”
“Soal yang lo bakal jatuh cinta sama gue? Lo aja belum jawab pertanyaan gue.” Sebenarya Fida sendiri tahu yang dimaksud Shaka bukanlah itu melainkan soal Dira. Tapi, Fida sedang mengulur-ulur waktu, meskipun tidak mungkin dicoba dulu saja masalah gagal atau tidak belakangan.
“Gue curiga nih, Fid.”
“Curiga kenapa lo?”
“Gue curiga kalo lo lagi mengulur-ngulur waktu ya?”
Shaka memang tipe orang yang susah untuk dibohongi. Bisa orang ini menebak apa isi kepala Fida, dan memang benar apa yang dikatakan oleh Shaka kalau ia sedang mengulur-ulur waktu.
“Nggak kok,” kalau mengaku ini akan lebih ribet. “Yaudah kita ngomong sekarang.”
“Yaudah lo ngomong cepetan!” nada bicara Shaka agak meninggi. Sepertinya Shaka sudah mulai kesal dengan Fida.
“Oke calm ya, Ka. Gue bakal ceritain.” Fida menarik nafasnya barulah ia mulai bercerita soal Dira, kenapa ia mengetahui kalau Shaka menyukai seseorang. Fida hanya bilang sebatas dengan yang Dira ceritakan kepada Shaka, atau lebih tepatnya kelepasan cerita ke Shaka kalau laki-laki yang sangat disukai itu menyukai orang lain. Fida mencoba menyakinkan Shaka bahwa apa yang ia ceritakan hanya itu saja. “Kaya gitu ka, gue nggak cerita yang lain-lain.”
“Bener lo?”
“Iya.”
“Gue peringatkan yah sama lo, gue orangnya nggak suka kalo hal pribadi gue disebarin ke orang lain ya. Gue cerita ke lo karena gue percaya sama lo.”
“Iya Ka maaf ya, next gue nggak akan cerita apa-apa lagi ke Dira atau siapapun. Gue janji.”
“Kali ini gue lo maafin. Tapi, kalau next lo kaya gitu lagi. Maaf aja gue nggak bisa maafin yah.”
Fida pun langsung menganguk sambil mengacungkan kedua ibu jarinya tepat di depan wajah Shaka sambil berkata, “maafin gue ya!” ucap Fida memohon maaf dengan tulus. Ia juga berdoa di dalam hatinya semoga Shaka masih percaya untuk cerita kepadanya; supaya ia bisa dapat informasi dari Shaka untuk Dira. Fida akan memeringatkan Dira dengan tegas untuk tidak kelepasan lagi jika berhadapan dengan Shaka.
“Oke, makasih ya.” kata Fida sambil menghela nafas lega karena Shaka tidak jadi memarahinya dengan kata-k********r, atau membentaknya.
“Tenang aja ya, lo bakal jadi tempat gue cerita kok. Kalau ada apa-apa gue pasti cerita ke lo.” ucap Shaka sambil memandang Fida sebentar, lalu ia kembali menatap mangkuk bakso malang dan melahap satu sendok bakwan malang.
“Oke.”
Sejujur Fida merasa senang karena Shaka masih mau bercerita dengan ini, jadi ia tidak perlu takut lagi kalau akan kehilangan infromasi dari Shaka. Ingin rasanya ia berjingkrak di depan Shaka—namun tidak akan ia lakukan nanti malah ketahuan.
***
Hari ini adalah ulang tahun Timo di mana. Fida bersyukur ulang tahun Timo jatuh pada hari Jumat, jadi ia masih punya banyak waktu untuk membuat kejuatan. Biasanya di hari Jumat itu istirahat lebih lama dari hari biasa. Fida pun langsung mengirim pesan ke Timo untuk mengajaknya makan siang bersama di luar kantor.
Fida
Tim makan siang di luar yuk!
Fida meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya, ia menyelesaikan pekerjaan yang memang perlu diselesaikan sambil menunggu balasan dari Timo.
“Fid makan siang bareng yuk!” ajak Dira yang sudah bersiap. Oh yah, soal petemuan Fida dengan Shaka hari sabtu itu belum diceritakan oleh Fida ke Dira. Dira sudah menaggihnya cuma bilang nanti saja setelah pekerjaan selesai.
“Gue ada janji sama pacar gue. Lo makan sama Anit dan yang lain aja.”
Dira pun menghela nafas kecewa, “yah. Yaudah deh kalo gitu. Gue makan siang duluan ya.”
Fida tidak menjawab apa-apa ia hanya mengancungkan ibu jarinya. Dira pun langsung bergegas keluar kantor bersama dengan teman-teman yang lain. Tidak lama setelah Dira pergi satu pesan masuk dari Timo pun tiba di ponsel Fida.
Timo
Ayuk. Mau makan di mana?
Fida tidak langsung membalasnya ia berpikir dahulu mau makan apa? Tiba-tiba otaknya mengajak ia untuk makan di warung seafood langganan mereka berdua yang letak tidak terlalu jauh dari kantor kira-kira untuk sampai di sana membutuhkan waktu tiga puluh menit.
Fida
Gimana kalo kita makan warung seafood bu Dian.
Warung seafood bu Dian adalah tempat makan favorite mereka. Waktu pertama kali Timo mengajak Fida makan di luar ia mengajaknya untuk makan di warung seafood bu Dian.
Timo
Oke deh.
Aku perlu jemut kamu nggak ke lantai 8?
Kalau Timo menjempu Fida itu sama saja tidak membuat sebuah kejutan. Kalau bertemu bagaimana mau membuat kejutan, masa yang ulang tahun ikut untuk membeli kue. Fida pun menolaknya, ia meminta Timo untuk duluan pergi ke sana dengan alasan cari tempat dulu takut tidak kebagian. Biasanya kalau jam-jam makan siang itu warung seafood bu Dian itu suka ramai.
Akan tetapi sayangnya Timo menolaknya. Bahkan Timo memaksa untuk tetap pergi berama jangan banyak alasan. Namun, pada akhirnya Timo mengiyakan karena Fida memakai jurus ngambek.
Fida
Kalo kamu nggak bolehin aku menyusul
Nggak usalah kita makan siang bareng.
Satu pesan itu mampu meluluhkan hati Timo yang teguh pendiriannya untuk tetap menjemput kekasihnya itu. Ulang tahun Timo jatuh di bulan yang sama dengan Fida. Fida di bulan November tanggal 30 sementara Timo tanggal 16 November, tahun lahir mereka pun sama-sama.
Fida pun langsung bergegas untuk siap-siap pergi ke toko kue dahulu. Ia memesan ojek online menuju toko kue. Tapi, sebelumnya Fida memastikan terlebih dahulu apakah Timo sudah keluar dari gedung wisma Sejahtera. Kalau belum kan tidak lucu nanti mereka bertemu berpapasan. Setelah Timo benar-benar keluar dari gedung Wisma Sejahtera ia langsung memesan ojek online nya, dan langsung bergegas untuk turun ke bawah karena tukang ojeknya menunggu di depan gedung wisma Sejahtera.
Letak toko kue yang tidak terlalu jauh dari gedung wisma Sejahtera. Untuk sampai di sana Fida hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menitan, dan beruntungnya jalanan sedang lancar tidak terlalu padat. Jadi di perjalanan pun tidak ngaret.
Sampainya di toko kue Fida langsung berjalan masuk ke dalam toko kue tersebut. Ia berniat untuk memesan kue rasan tiramissu favorite dengan bentuk kue yang laki-laki banget. Yang simple tapi tetap terlihat elegan kuenya.
Pandangan Fida pun langsung tertuju pada etalase tokok kue yang di dalam ada berjejer beberapa kue ulang tahun. Beruntungnya Fida menemukan kue yang diinginkannya. Fida menunjuk pada kue tersebut meminta pada pelayan untuk dibungkuskan, dan ditulis namanya. “Mba ini saya mau satu ya.”
“Untuk tulisan mau di tulis apa mba?”
“Selamat ulang tahun Mikael.”
“Oke mba ditunggu ya,” pelayan tersebut pun langsung membawa kue pesanan Fida ke belakang untuk ditulis nama sesuai dengan keinginan Fida.
Nama Mikael sendiri adalah nama depan Timo. Karena hari ini adalah hari spesial kekasihnya di atas kue ulang tahunnya Fida tulis nama depan kekasihnya. Tidak perlu menunggu waktu lama sekitar lima belas menit kue pun sudah jadi, pelayan toko kue tersebut pun langsung memberikan kue kepada Fida. Tidak lupa Fida membayarnya setelah itu ia keluar dari toko kue tesebut. Kemudian memesan kembali ojek menuju warung seafood bu Dian.