Perempuan dengan wajah sumringah sambil membawa kotak berisi kue yang telah ia beli tadi. Memasuki warung seafood bu Dian. Ia tahu bahwa kekasih itu ada di dalam sedang menunggunya, ia tidak langsung masuk ke dalam ia terlebih dahulu bicara dengan kasir dari warung seafood ibu Dian. Meminta izin untuk menyalahkan lilin untuk memberikan kejutan kepada seseorang yang sudah ada di dalam sedang menunggu dirinya.
“Makasih yah mas udah izinin, saya boleh pinjam korek?” tanya Fida yang sudah mendapatkan izin dari pihak warung seafood.
“Sama-sama mba,” laki-laki yang kira-kira seumuran dengannya itu pun memberikan koreknya.
Fida pun langsung membuka kotak kuenya menaruh lilinnya di atas kue. Setelah lilin menyalah Fida langsung berjalan ke arah tempat di mana Timo sedang duduk menunggunya. Untung saja restoran hanya ada beberapa orang belum terlalu ramai, mungkin orang-orang yang biasa datang sedang salat Jumat.
“Happy birthday Mikael! Happy Brithday Mikael!” Fida menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Timo pun langsung menoleh ke belakang di mana Fida sedang berdiri sambil memegang kue di mana di atas kue lilinnya sudah menyalah.
Ekspresi wajah Timo terkejut; awalnya Timo pikir kalau Fida itu lupa dengan hari ulang tahunnya ternyata tidak. Timo baru paham kenapa kekasihnya itu meminta dirinya untuk pergi lebih dahulu ke warung seafood bu Dian. Dikarenakan Fida ingin membuatkan kejuatan.
“Nggak nyangka aku,” Timo tersenyum seraya menatap Fida.
Fida pun langsung terharu karena kejuatannya yang sangat sederhana ini berhasil membuat kekasihnya terharu. “Beneran kamu nggak nyangka?” tanya Fida.
“Iya.”
“Tutup lilinya dong kalau nggak nyangka,” pinta Fida kepada kekasihnya itu.
Timo pun langsung meniup lilinnya.”Udah yah, yaudah yuk kamu duduk makan.” Timo meminta Fida duduk di meja makan sudah ada beberapa makanan yang sudah siap. “Entar keburu dingin, taruh kue di meja aja.”
“Entar dulu, kamu make a wish dulu lah.” pinta Fida.
Timo pun menuruti permintaan dari Fida ia menutup matanya menangkupkan kedua telapak tangannya lalu menaruhnya di depan d**a. Permintaan Timo yang tidak ia sebutkan di hadapan Fida adalah semoga hubungan keluarganya tetap harmonis, dan juga hubungannya dengan Fida langgeng sampai ke pelaminan, hidup berdua sampai tua.
Timo melupakan satu hal bahwa perbedaaan di antara mereka berdua cukup jelas; mereka tidak akan bisa bersama sampai kapanpun. Selama salah satunya tidak meninggalkan apa yang telah di yakini. Laki-laki itu pun membuka matanya tersenyum, “makasih ya sayang.” Ia mengambil kue dari tangan Fida, dan menaruh di atas meja meminta Fida untuk duduk berhadapan dengannya.
Fida menatap semua makanan yang ada di meja dengan sangat antusias di sana ada ikan bakar, goreng udah tepung, cah kangkung, dan kepeting saus padang. “Wih kamu tahu aja ya kesukaan aku, kamu ultah gini nggak ada niatan buat teraktir aku gitu?” tanya Fida dengan nada bercanda. Kalau Timo tidak mau traktir pun tidak apa-apa. Melihat Timo yang bahagai dan terharu diberi kejutan kecil ini juga sudah membuat hati Fida bahagia.
“Iya aku traktir. Kamu mau nambah?”
“Nggak aku bercanda, Tim.”
“Serius juga nggak apa-apa,” kata Timo sambil mengambi secentong nasi dan menaruhnya dipiring miliknya, porsi makan Timo lebih banyak dari Fida. Timo makan bisa nambah tiga kali.
“Traktirnya yang lain aja gimana?”
“Kamu apa?”
“Es krim mekdi,” seru Fida.
Timo pikir Fida akan memintanya untuk membelikan makanan yang mahal. Ternyatanya permintaannya cuma es krim Mcdonald, memang unik kekasihnya itu. “Itu doang murah banget! Yang lain gitu.” Kalau Fida meminta makanan yang mahal pun Timo mampu untuk membelinya.
“Tambah deh sama kentang gorengnya.”
Timo langsung tertawa; tentu saja lucu. Kalau nambah kentang itu sama saja harganya tidak jauh beda, kalau Fida meminta yang lebih mahal contohnya pizza, atau makan malam di hotel bintang lima.
“Itu mah sama aja tau!” Timo pun menawarkan lagi, “gimana kalau kita makan malam di hotel bintang lima?”
Fida menolak ajakan dari Timo karena untuk makan di hotel bintang lima itu terlalu mahal. Lebih baik uangnya ditabung. “Kemahalan udah nggak apa-apa uangnya tabung aja buat dana darutat kamu.”
Kalau mengajak Fida ke tempat-tempat yang mahal pasti alasannya selalu sama ‘Tim uang ditabung aja’ Timo sampai hafal betul dengan apa yang dikatakan oleh Fida.
Biasanya di hari ulang tahun Timo keluarga Timo selalu membuat acara makan malam bersama, dan Timo selalu mengajak Fida untuk makan bersama. Untuk tahun ini tentu saja keluarganya akan mengadakan acara yang sama.
“Yaudah kalau gitu mah aku nggak maksa. Nanti balik kerja kita ke mekdi ya untuk beli es krim sama kentang goreng yang kamu mau,” kata Timo lalu ia melanjutkan lagi kalimatnya. “Tapi, ada satu syarat!”
“Apaa?”
“Kamu harus mau ikut aku ke mall sebelum kita pergi ke rumah untuk makan malam bareng mama, papa, dan Devin.” Timo berharap kali Fida tidak menolaknya. “Kamu mau ya?”
Fida melahap satu sendok nasi dengan kangkung, “nggak mau!”
Rasanya kalau Fida bukan kekasihnya ia ingin sekali melempar Fida ke mars, dan jangan pernah kembali lagi ke Bumi. Tapi, karena Timo terlalu sayang dengan kekasihnya ia pun mengurungkan niatnya itu, dan membiarkan kekasihnya itu untuk tetap tinggal di bumi.
“Harus mau!”
“Aku nggak mau!” Biasanya kalau perempuan itu paling suka kalau diajak berbelanja apalagi dibelanjakan pasti langsung YUKKK! Namun, karena Fida tipe orang yang tidak enakan ia pun menolaknya dan ia pikir pun bajunya masih banyak yang bagus. “Kenapa harus beli baju? Baju bagusku masih banyak kok.”
Timo pun menghela nafas sepertinya kalau kekasihnya ini dipaksa pasti akan sulit. Fida pasti banyak menolaknya, “oke deh terserah kamu. Kamu makan yang banyak.” Timo akan mengajak adiknya Tata untuk berbelanja untuk membelikan baju terbaik untuk Fida, kalau bajunya sudah ada di depan mata pasti Fida tidak akan bisa menolaknya.
“Tapi, makan malam bareng keluarga aku mau kan?”
“Iya maulah.”
“Sayang,” panggil Timo Fida yang sedang fokus menikmati udang goreng tepungnya pun menoleh ke Timo sambil mengangguk. “Makasih banyak ya untuk kejutan kecilnya. Kamu terbaik, aku beruntung punya kamu.”
“Sama-sama, itu bukan apa-apa kok Tim. Oh, tadi kamu buat make a wish apa?” jiwa-jiwa kepo seroang Fida pun meronta-ronta.
Timo sejujurnya paling malas ditanya begini kesannya kaya mau tahu aja. Baginya make a wish itu adalah rahasia orang lain tidak perlu tahu apa yang diinginkan, termasuk Fida. Ada perasaan malu di dalam dirinya jika keinginannya diketahui oleh orang lain, even this person his girlfriend.
“Rahasia ya, jangan kepo.”
“Masa aku mau tahu nggak boleh,” Fida memasang wajah cemberut andalannya supaya Timo mau menceritakan tentang make a wish nya tadi.
“Nggak boleh!” Timo langsung menatap Fida dengan tegas.
Kalau Timo sudah begini Fida tidak berani lagi untuk berkata apa-apa ia lebih memilih untuk diam, “Yaudah kalau kamu nggak mau cerita. Yang penting mekdi sama kentangnya jadi ya.”
“Itu mah pasti dong.”
Mereka berdua pun langsung melanjutkan untuk acara makannya. Di tengah-tengah mereka berdua sedang fokus makan. Timo pun langsung bertanya, “ini kue ulang tahunnya aku bawa kantor boleh? Buat bagi-bagi ke anak-anak.”
Fida pun langsung mengangguk setuju, “itu kan kue kamu kenapa harus minta izin ke aku?”
“Ini kuekan yang beliin kamu.”
“Tapi, ini untuk kamu.”
“Yaudah kalau gitu makasih ya.”
“Sama-sama sayang.”
Mereka pun langsung melanjutkan acara makannya. Mereka selesai sampai para pengunjung warung seafood bu Dian mulai berdatangan, dan warungnya pun jadi ramai. Tidak lama setelah makanan mereka habis, mereka pun langsung kembali ke kantor.
***
Saat Timo sampai di kantornya sambil membawa kotak yang di dalam berisi kue ulang tahunya ia bawa ke pantry untuk dibagikan ke teman-teman kantornya yang lain. Ia akan meminta bantuan kepada pak Theo untuk dibantu dibagikan ke teman-temannya.
Saat Timo memasuki pantry di sana ada Adit yang sedang membuat kopi untuk dirinya sendiri. Timo pun langsung menegur Adit, “tumben amat lo bikin kopi?” Adit adalah salah satu karyawan yang jarang sekali membuat kopi kalau tidak kepengin banget.
“Mata gue ngantuk abis begadang.”
“Gaya lo!” Timo menaruh kotak kuenya di atas meja pantry yang biasa digunakan untuk makan para karyawan,”pak Theo ke mana, Dit?”
“Lagi buang sampah dia, bentar lagi juga naik.” Kopi yang dibuat Adit pun sudah jadi. Adit pun berjalan ke arah meja pantry yang letaknya hanya dua langkah dari tempat ia berdiri membuat kopi. “Kue dari siapa itu?” tanya Adit.
Sebenarnya teman-teman kantornya Timo tahu kapan ulang tahun Timo, tapi mereka sengaja pura-pura tidak tahu soal ini. Karena mereka ingin mengerjai Timo di hari ulang tahunnya Timo. Timo pun tadi pas masuk kantor agak heran kok kantornya sepi pada ke mana orang-orangnya. Teman-teman kantor Timo sedang pergi keluar untuk membuat kejutan untuk Timo.
“Gue buat guelah, kan hari ini gue ulang tahun!” jawab Timo dengan kesal.
“Jawabnya kok ngegas yah Anda?” Adit dengan santai mengambil pisau kue yang Timo letakkan di sebelah kardus kuenya.
Timo menepis tangan Adit, “lo mau ngapain?”
“Gue mau potong guenya lah!” Adit balik menepis tangan Timo, “pelit amat.”
“Orang yang nggak inget sam ulang tahun temannya itu namanya kurang ajar.” Timo mengambil kembali pisau yang sudah ditangan Adit.
Tidak lama kemudian segerombolan teman-temannya masuk ke dalam pantry, dan di sana ada Shaka yang membawa sekotak pizza dan Deni dari devisi accounting membawa satu kotak pizza lagi. Teman-teman kantornya semua pun langsung menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Di atas pizzanya sudah dinyalahkan lilin.
“Tiup lilin!” sorak teman-temannya. Timo yang speechless dengan kejutan yang diberikan oelh taman-tamnnya. Ia pikir kalau mereka lupa ternyata lupa, ternyata mereka hanya mengerjainya.
Setelah meniup lilin Shaka meminta Timo untuk make a wish. “Buat permohonan dong untuk umur lo yang udah tua, dan semakin berkurang.”
“Lo nyumpahin gue mati?” tanya Timo sedikit kesal. “Udah sok pura-pura lupa sama ulang tahun gue. Sekarang malah nyumpahin mati.”
Deni yang kesal melihat kedua orang di depannya berdebat. Perdebatan itu akan menyebabkan waktu untuk makan samakin lama, karena teman-teman yang lain juga sudah tidak sabar untuk menyantap pizza. “Lo pada bisa nggak sih untuk berhenti berdebat, dan sebaiknya makan?”
Seru teman-teman yang lain pun sambil bersoark, “makan, makan, makan.”
Timo pun langsung mempersilahkan teman-temannya untuk makan, dan memintanya untuk memakan kue ulang tahun yang dibeli oleh Fida. Satu persatu temannya pun mengucapkan selama ulang tahun. Ada yang mendoakan umurnay panjang rezeki lancar, makin bagus karirnya, dan tidak sedikit juga yang mendokan hubungannya dengan Fida langgeng.
Memang teman-teman kantor Timo sudah tahu tentang hubungannya dengan Fida, karena Fida juga kadang kalau makan siang—dan ingin makan siang di pantry kantornya Timo bersama dengan yang lain mereka pun cuku akrab.
Yang berbeda hanya ucapan dari Shaka dan Adit kerena memang mereka berdua itu sudah sangat dekat satu sama lain. Ucapan Adit ke Timo adalah semoga Timo sebagai kepala team nya bisa merekomendasikan dirinya untuk naik gaji. Sementara Shaka jangan lupa untuk mentraktirnya sepulang kantor kalau tidak, ucapan panjang umur tadi ditariknya supaya Timo pendek umur.
Memang kedua teman Timo itu kelakukannya miri jin iprit, tapi Timo sangat menyayangi mereka. Adit dan Shaka memang lebih tua darai Timo. Akan tetapi, di sini yang lebih mengayomi itu adalah dirinya bukan mereka. Memang aneh, tapi itulah kenyatannnya.