Setelah acara makan malam itu Fida pun langsung pamit untuk pulang kepada Aminah, Sumarno, dan juga Devin. Pertama-tama Fida menyalami tangan Aminah, “tante aku pulang ya.”
Aminah langsung memeluk Fida dengan erat mengusap punggung calon menantunya yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. “Next nya kamu bawa Tata ya ke sini tante mau ketemu sama dia,” kata Aminah.
Aminah pun melepaskan pelukan dari Fida, dan Fida pun tersenyum. “Iya tante nanti aku ajak Tata untuk ke rumah. Makasih yah tan, untuk jamuan makan malam. Masakan tante paling enak pokoknya.” Fida mengacungkan kedua jempolnya.
“Sama-sama.”
Fida pun langsung berpindah untuk berpamitan ke Sumarno yang berdiri di sebelah Aminah sambil mengendong Devin, “om aku pamit dulu, makasih banyak atas jamuan.” Fida pun mencium kening Devin. “Kakak pulang ya, kamu sehat-sehat ya,” ucap Fida.
“Iya sama-sama ya Fida, kamu hati-hati di jalan.” kata Sumarno sambil mengusap kepala Fida pelan sumarno sudah menganggap Fida seperti anak gadisnya sendiri. “Info kalau udah sampe rumah ya,”
“Siap om.”
“Ka Fida kalau ke sini lagi jangan lupa untuk bawa coklat lagi ya.”
“Siap!”
Fida pun langsung berpamitan langsung menghampiri Timo yang sudah menunggunya di mobil sedari tadi. Fida membuka pintu mobil langsung duduk di samping Timo, lalu ia memasang seatbell lalu duduk dengan nyaman di mobil Timo.
“Kamu kok yah, pamitan lama amat. Kaya mau ke mana aja.”
“Mama papa kamu ngajak ngobrol aku dulu, aku juga bilang terima kasih. Nggak sopan tahu pergi gitu aja.”
“Pacar aku ini emang balik the best deh. Kita langsung pulang aja nih?” tanya Timo.
“Emang mau ke mana?”
Timo menyalahkan starter mobilnya lalu melajukan mobilnya, “kirain kamu mau makan dulu gitu.”
“Ya kali Tim, seenak-enaknay makan di luar, makanan mama kamu udah yang paling enaknya pokoknya Tim.,” Memang benar makanan buatan Aminah enaknya luar biasa juara. Apalagi udang asam manis itu favorite Fida sekali.
“Kirain kamu masih lapar.”
“Kamu sengaja yah mau bikin aku gendut,” kata Fida sambil memasang wajah cemberut padahal Timo tidak bermaksud untuk membuat Fida jadi marah terhadapnya. Ia hanya senang membelikan Fida makanan karena Fida orangnya suka makan.
“Nggak gitu Fida.”
“Iya kan?” Melihat tampang kekasihnya yang menyetir sambil memasang wajah ketakutan, karena salah bicara malah membuat Fida ingin mengodanya.
“Suer Fida aku nggak ada maksdu kaya gitu.” Timo mencoba untuk menyakinkan Fida bahwa ia tidak sungguh-sungguh bermaksud untuk mengejeknya ia hanya ingin mengajak makan Fida, hanya itu kenapa jadi panjang seperti ini?
“Bohong kamu!” Fida tersenyum malu-malu berusaha untuk menyembunyikan tawanya.
“Ya ampun Fida, beneran deh.”
“Iya ya Tim, aku cuma bercanda doang kok. Nggak ada maksdu apa-apa kok,” kata Fida lalu ia menatap wajah Timo sambil tersenyum. “Nggak usah ketakutan ya, aku nggak marah kok.”
“Siapa yang ketakutan coba!”
“Ngeles aja, udah kelihatan dari tampangnya muka kamu tuh kaya takut banget kalau aku marah.”
“Terserah.”
“Udah ah capek aku mau tidur aja, kalau dah sampe bangunin ya.”
“Oke.”
Fida memang tidak ingin menganggu Timo yang sedang menyetir mobil takutnya Timo malah tidak konsentrasi yang ada malah menabrak. Tidak apa-apa melambat yang paling penting sampai di tujuan dengan selamat. Saat Fida sedang tertidur ponsel Timo yang ia letakkan di dashboard mobil bergetar tanda ada pesan masuk dari seseorang—dan seseorang itu adalah Elvira.
Elvira
Tim bisa aku telepon?
Timo tidak membalas pesan dari Elvira karena ia sedang menyetir tidak mungkin bermain ponsel, ia baru membalasnya pada saat Timo sedang berada di lampu merah. Timo tahu tujuan Elvira menelpon adalah untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada dirinya.
Timo
Kalau sekarang nggak bisa.
Besok aja gimana?
Gue hari ini lagi di jalan ini
Abis makan malam bareng Fida di rumah.
Tidak perlu menunggu lama balasan dari Fida, saat lampu merah berubah jadi hijau satu pesan masuk dari Tata pun masuk dengan isi pesan yang sangat singkat.
Elvira
Oke.
Timo tidak berpikir apa-apa; padahal di sana Elvira sedang merasakan api cemburu di dalam dirinya entahlah ini cemburu sebagai seorang sahabat atau sebagai mantan kekasih. Yang lebih tahu hanya Elvira dan Tuhan sajalah yang tahu soal ini.
***
Timo sudah sampai di rumah Fida. Fida benar-benar tertidur sampai di rumah. Bahkan saat Timo berhenti dulu untuk membelikan kebab pesanan Tata, Fida masih terus tertidur. Melihat Fida yang sedang tertidur pulas di mobil rasanya tidak tega untuk membangunkannya. Dengan terpaksa Timo pun membangunkan Fida dengan pelan-pelan, “Fid kamu udah sampe ini di rumah.” Timo menepuk-nepuk pipi Fida dengan pelan, “Fid bangun.”
Fida pun langsung mengeliatkan tubuhnya, ia pun menoleh ke Timo dengan wajah terkejut. “Udah sampe?” Fida menutup mulutnya dengan tangannya.
Timo mengangguk, “iya udah sampe sayang. Yuk turun, aku juga udah beli kebab buat Tata.” Timo memperlihatkan bungkusan kebab yang ia bawa untuk Tata.
“Ya ampun Tim, makasih banyak yah!”
“Sama-sama,” Timo pun langsung bergegas terlebih dulu turun dari mobilnya untuk membuka pintu untuk Fida. “Silahkan tuan putri.” ucap Timo.
Fida pun hanya tersenyum lalu ia keluar dari mobil. Mereka berdua pun sama-sama berjalan menunju pintu rumah. Ini sudah malam dapat dipastikan kalau Tata sudah tertidur. Untung saja Fida selalu membawa kunci cadangan supaya kalau pualang malam dari kantor tidak perlu heboh teriak-teriak memanggil nama Tata untuk membukan pintu untuk dirinya.
Fida pun langsung membuka pintu rumahnya dengan kunci miliknya lalu ia langsung mempersilahkan Timo untuk masuk. Tapi, kekasihnya itu menolaknya seraya menyodorkan bungkus kebab untuk Tata ke Fida. “Aku mau langsung pulang aja udah malam, maaf yah nggak mampir dulu.”
Fida menerima bungkus kebab dari Timo.”Ini seriu kamu nggak mau mampir dulu, istirahat dulu gitu bentaran.”
“Nggak takut kemalaman sayang. Tenang aja aku nggak apa-apa kok,” kata Timo mencoba untuk menyakinkan kekasihnya itu.
“Oke deh, tapi aku boleh nggak?”
“Boleh apa Fid?”
Fida langsung merentangkan tangannya, “boleh untuk peluk kan perpisahan.”
“Lah bilang aja kamu nggak mau jauh dari aku, kan?”
“Apaan sih kamu kepedean banget dah, aku pengin peluk kamu aja emang gak boleh?”
Timo hanya menatap Fida terus tanpa bekerdip membuat kekasihnya itu menjadi salah tingkah. Lalu ia tertawa kemudian menarik tangan Fida dan memeluknya, “makasih ya sayang.”
Fida pun langsung mengerutkan dahi dalam pelukan Timo bingung dengan apa yang dimaksud oleh Timo mengucapkan terima kasih kepadanya. Padahal ia tidak berbuat apa-apa hari ini. Fida pun bertanya kepada Timo, “makasih buat apa ya?”
“Karena kamu udah hadir dalam hidupku Fida,” Timo melepaskan pelukan dari Fida lalu ia menangkup kedua pipi Fida yang agak tembam, “aku bersyukur banget punya kamus sekarang.”
Fida pun langsung memeluk kembali Timo, “aku juga bersyukur banget!”
Fida memeluk kekasih itu cukup lama yang tadinya mau pulang cepat jadinya tidak jadi. Mereka berdiri di depan rumah Fida hampir tiga puluh menitan. Saat Fida menyadari kalau ia sudah memeluk Timo cukup lama ia pun langsung melepaskan pelukannya. “Maaf ya jadi lama nih aku meluknya. Yaudah kamu pulang gih. Hati-hati ya di jalan.”
“Oke deh. Jadi aku bisa pulang ya, aku pamiit ya. Kamu jangan tidur malam-malam ya.” kata Timo lalu ia meminta kekasihnya itu untuk masuk ke dalam rumah. “Kamu masuk dulu aja yah baru aku masuk mobil.”
“Oke,” Fida pun menurutinya ia pun langsung masuk ke dalam rumah. “Aku masuk dulu yah, akbarin kalo sudah sampai,” perempuan itu tersenyum lalu menutup pintu rumahnya.
Sesaat setelah Fida masuk Timo langsung berjalan ke mobilnya di dalam mobil ia langsung mengecek ponselnya. Lalu entah kenapa instingnya meminta dirinya untuk telepon dengan Elvira. Ia pun langsung menekan tombol memangil di ponselnya. Timo tidak perlu menunggu waktu lama untuk Elvira mengangkat teleponnya.
Elvira : Hallo Tim?
Timo tidak tahu seberapa senangnya sekarang Elvira tiba-tiba di telepon lebih dulu oleh Timo. Ini adalah kali pertamanya Elivra di telepon lagi oleh Timo setelah sekian lama mereka putus.
Timo : Sori yah kalau gue ganggu telepon lo
Cuma gak tau gue kepikiran aja sama lo.
Lo nggak apa-apa kan ya?
Elvira disebrang sana sedang berjingkrak kegirangan ketika Timo mengatakan ‘cuma gak tau gue kepikiran saja sama lo.’ Seperti mimpi Elvira mencoba mencubit tangannya, ternyata terasa sakit berarti ia sedang tidak bermimpi.
Elvira : Nggak apa-apa kok
Aku telepon kamu Cuma mau ngucapin selamat ulang tahun
Selamat ulang tahun ya Tim.
Timo : Gue kira lo kenapa-napa, iya makasih yah El.
Elvira : Sama-sama ya.
Teleponnya gue tutup dulu ya.
Gue udah ngantukf nih mau tidur.
Timo : Oke, night El.
Elvira tidak membalas ucapan sealmat malam dari Timo ia membalasnya hanya dengan senyuman meskipun Timo tidak melihatnya, yang terpenting ia saat ini cukup bahagia Timo memberikan lagi perhatian kecil itu, perhatian kecil yang sangat ia rindukan.
Satu lagi yang Timo tidak tahu sedari tadi Fida memperhatikan Timo dari balik jendela kamarnyua ia melihat Timo belum juga menjalankan mobilnya, dan di lihat dari kaca mobilnya Timo sedang menelpon seseorang. Fida pun jadi bertanya-tanya siapa orang yang malam-malam begini di telepon oleh Timo. Teman kantornya kah? Atau yang lain? Entalah Fida langsung menutup kembali tirai jendelanya, setelah Timo menjalankan mobilnya.
Entah bagaimana perasaan Fida saat tahu kalau kekasihnya itu habis menelpon sahabatnya atua lebih tepatnya mantan kekasihnya. Mantan kekasih Timo satu-satunya yang sampai sekarang mereka masih terus bersahabat.
****
Shaka saat pulang kantor langsung menagih janji Timo yang pernah menjanjikan untuk mentraktir dirinya dan juga Adit. “Kita makan-makan, kan?”
“Iya!” jawab Timo sembari memasukan laptopnya ke dalam tas ranselnya.
Adit yang sedang fokus bermain game pun langsung bangkit dari posisi dudukya yang bersandar di kursi mengakhiri game nya. Pokoknya Adit kalau soal traktir paling nomor satu, “sekarang kan?” tanya idt dengan mata berbinar menatap Timo.
Timo langsung mempeleng wajah Adit ia merasa jiji dengan tatapan Adit yang seperti itu, “lo natap guenya bisa biasa aja kan?”
“Gue udah biasa. Ini gue siap nih buat makan-makan.” Kata Adit seraya menyampirkan tas ranselnya.
“Tunggu dulu,” Shaka langsung menahan kedua temannya itu ketika hendak berjalan untuk keluar dari kantor menuju lift. “Lo nggak sama Fida kan? Ini acara kita bertiga, nggak boleh ajak yang lain termasuk cewek lo.”
Adit pun langsung menoleh ke arah Shaka, “lo jadi jomblo sensi amat?”
“Bukan sensi kalau ada cewek ngomongnya jadi nggak leluasa, ah lo giman sih.”
“Iya juga ya. Fida nggak ikut kan?”
Timo memang meniatkan untuk mentraktir teman-temannya tanpa mengajak Fida. Karena ini juga adalah quality time dirinya dengan teman-temannya. Ia juga butuh waktu untuk menghabiskan waktu besama-sama dengan temannya.
“Iya gue juga tahu diri teman-teman. Gue juga punya waktu untuk menghabiskan waktu bersama kalian,” kata Timo.
“Oke deh kalau gitu,” ucap Timo. “Yuk kita berangkat.
“Berangkat!” kata mereka bertiga secara serentak.
Mereka bertiga langsung bergegas berjalan ke luar kantor berjalan menuju lift untuk pergi makan-makan entah di mana mereka pun masih belum menentukan waktunya. Pasti akan terjadi berdebatan di mobil nanti untuk membicarakan kita akan pergi ke mana.