“Kita enaknya makan di mana ya?” tanya Shaka. Kini mereka bertiga sudah berada di dalam mobil hendak keluar dari parkiran wisma Sejahtera.
Mereka bertiga memang kalau pergi ke mana-mana itu selalu tidak tahu tujuan akan ke mana. Kalau pergi ya pergi saja, tanpa merencanakan akan pergi ke mana. Pada akhirnya selalu berkakhir dengan berdebatan yang berkesudahan.
“Gue kayanya lagi pengin makan soto ayam,” ujar Adit yang duduk di samping Timo. Pada saat mereka hendak masuk ke dalam mobil Timo. Mereka berdua pun berdebat mau siapakah yang duduk di depan berdampingan dengan Timo beginilah kira-kira berdebatan di antara mereka berdua.
“Tim?” tanya Shaka membuka pintu penumpang. Bukannya masuk ia malah bertanya, dan itu membuat Timo berdecak kesal. “Gue kalo duduk di belakang berdua sama Adit, lo jadi kaya sopir dong ya Tim,” kata Shaka.
“Terserah lo berdua mau duduk di mana. Mau duduk di atap mobil juga terserah kalian. Kalau celaka kalian ini yang terluka,” Timo menyalahkan mesin mobilnya.”Cepet lo berdua naik ke dalam mobil gue jangan pada banyak bacot. Banyak bacot teraktiran nggak jadi, duit gue aman.”
“Nggak bisa gitu dong!”
“Yaudah lo masuk cepetan.” Timo menoleh ke belakang Adit sudah duduk di kursi penumpang. Namun tiba-tiba Shaka membuka kursi penumpang, meminta Adit untuk keluar katanya ia saja yang duduk di sana. Adit duduk di samping Timo.
Adit awalnya menolak ajakan Shaka bahkan sampai mereka sampai beradu sungut. Namun pada akhirnya mereka berdua pun setelah lelah berdebat seorang Adit mengalah juga, dan ia pun keluar dari mobil untuk duduk di samping Timo. Begitulah kelakuan tiga orang yang ke mana-mana hampir selalu bersama sudah seperti kembar tiga.
“Yakin lo maunya soto ayam? Itu mah terlalu murah buat Timo,” kata Shaka punggunya ia sandarakan di jok mobilnya sambil matanya melihat keluar jendela bersamaan dengan mobil Timo yang melesat keluar dari parkiran wisma Sejahtera.
Adit menoleh ke belakang ia beradu pandang dengan Shaka seolah-olah memberikan isyarat restoran mahal apa yang ada di Jakarta karena bagi Timo soto ayam itu sangat murah. “Saran Ka makanan yang mahal apa?”
“Bentar gue pikir-pikir dulu ya enaknya makan apa ya,” kata Shaka.
Timo melirik kedua temannya itu dengan tatapan kesal. Timo sayang dengan kedua temannya ini meskipun bisa dilihat kelakuan kadang-kadang tidak tahu diri. “Lo pada kalau minta apa-apa kenapa gak tau diri sih? Emang gue sultan?”
“Lah lo atasan kita,” ujar Shaka. “Lo pasti gajinya yang lebih gede dari kita-kita. Lo pernah nggak akhir bulan cuma makan mie sama nasi? Atau Cuma telur dadar doang?’
“Gue sih lebih parah yah Ka, gue pernah makan sama kecap doang.”
Timo membelokan setir mobilnya sambil berkata, “ini lo berdua kenap adu nasib jadinya?”
Shaka dan Adit pun langsung berkata dalam waktu bersamaan, “Biar lo mau beliin kita makanan mahal.”
“Lo berdua jodoh kali ya! Ngomong bisa barengan gitu.”
Shaka dan Adit pun berucap secara berbarengan, “amit-amit jangan sampe dah.”
“Yaudah pusing gue denger lo berdua debat bulu. Bisa gila gue lama-lama nin mikirn lo berdua aja.” Hanya dengan mereka saja Timo akan merasakan sangat lelah karena harus mendengarkan perdebatan orang dewasa. Orang dewasa yang di dalam dirinya msih ada si anak kecil, sama sekali tidak ada yang mau mengalah satu sama lain.
Mereka berdua pun langsung diam. Shaka langsung berpikir untuk makan apa kita. Pokoknya harus makan yang mahal. Begitupun dengan Adit yang memikirkan akan makan apa kita nanti. Akan tetapi, entah kenapa Adit masih kepikiran soto ayam.
Shaka pun langsung mencentuskan sebuah restoran yang membuat dompet Timo meronta-ronta ingin berteriak. “Namaaz Dining.”
Timo pun langsung mengrem mendadak tiba-tiba saat Shaka menyebutkan satu nama itu. Resotoran yang memang terkenal mahal di Jakarta, yang harga makanannya satu bulan biaya kost. Memang pikiran Shaka sangat berbeda. Untung saja saat ini mobil Timo berada di jalanan yang tidak terlalu ramai oleh lalu lalang kendaraan jadi mereka bertiga masih aman.
“Lo kalo minta nggak mikir ya?” ujar Timo ia pun meminggirkan mobil, dan berhenti di sana memang seharus ia harus berhenti dulu untuk membicarakan soal mau makan di mana.
Ini pilihan mau makanan di mana kenapa jadi panjang lebar begini. Ini hanya masalah makan saja bukan ingin membangun rumah tangga. Atau membangun candi yang dibangun oleh para jin, dan jika fajar datang pun jin itu pn menghilang.
“Kan kita mau yang mahal Tim,” Shaka merasa dirinya benar karena ia ingin minta yang mahal ya sekalian saja yang mahal. “Lo pelit banget dah sama anak buahnya, yang kalau akhir bulan itu pasti makan energen atau nggak promag untuk menganjal perut.”
“Masih sih Shaka lo kaya gitu?” tanya Adit tidak percaya. Memang selama akhir bulan ia tidak pernah melihat Shaka minum energen ataupun promag untuk menganjal perut, bahkan pernah akhir bulan Shaka mengajak Adit untuk ngopi di tempat yang mahal. “Selama ini gue nggak pernah lihat lo makan tuh dua produk, lo malah pernah..”
Ucapan Adit langsung dipotong oleh Shaka, “lo bisa diem nggak?!”
Timo tahu kalau ini akan berkahir pada berdebatan yang tiada akhir di antara mereka berdua. Timo pun langsung memukul setirnya cukup kencang, dan mengatakan ini. “Lo berdua jadi mau makan apa?”
“Yang tadi gue sebut.” kata Shak.
“Tapi, pilihan gue tetap soto ayam, Tim.” kata Adit.
“Yaudah makan soto ayam Bude Anin ya,” kata Timo dan itu membuat Shaka menghela nafasnya kecewa karena Timo lebih memilih makanan yang dipilih oleh Adit daripada dirinya.
“Yah milihnya si Adit, pilih kasih lo Tim.”
“Yang bayar makanan siapa?” tanya Timo.
“Lo!” jawab Shaka.
“Yaudah jangan banyak omong.” Timo pun langsung melajukan mobilnya menuju warung makan bude Anin, karena tempat makan itu juga tempat langganan mereka. Mereka bertiga sepakat kalau soto ayam bude Anin yang paling juara.
***
Sampainya mereka di warung bude Anin merkea pun langasung mencari tempat duduk yang masih kosong karena malam ini warung bune Anin cukup ramai sekali. Bahkan mereka sendiri tidak yakin akan mendapatkan tempat duduk. Akhirnya mereka pun mendapatkan tempat duduk di paling belakang dekat dapurnya warung ibu Anin.
“Padahal tadi kita mau makan yang mahal akhirnya soto juga. Ini gue bisa beli sendiri.” Shaka si tukang protes kalau keinginannya tidak diwujudkan. “Tadi aja gue nggak usah ikut.”
“Lo tulus nggak temanan sama gue?”tanya Timo.
Shaka protes seperti itu sebenarnnya hanya bercanda kenapa Timo jadi bertanya serius gitu. Shaka pun duduk di samping Timo, sementara Adit duduk berhadapan dengan mereka berdua. Adit dengan wajah yang sumringah karena keinginan sederhananya ini diwujudkan oleh Timo. Ia dengan semangat membuka menunya. Tidak meperdulikan kedua temannya itu sedang bersitengang.
“Lo kok tanya gitu?”
“Lo ikhlas nggak sih ngabisin waktu sama gue, di hari ulang tahun gue?” tanya Timo lagi. Sampai membuat Shaka heran.
Shaka pun langsung bertanya ke Timo seperti ini, “Kok lo kaya baper banget sih sama gue?”
“Abis..”
Shaka langsung memotong ucapan Timo, “ya ampun serius itukah muka gue sampe lo anggap kalo sikap gue yang tadi itu beneran?” Shaka mendekati wajahnya ke Timo, “coba lo perhatikan baik-baik wajah gue Tim. Coba perhatikan dengan seksama Tim.”
Timo pun langsung menempleng wajah Shaka dengan tangan kanannya, “lo bisa jauhkan nggak? Gue masih normal ya?”
“Ko lo bilang nggak normal?!”
Brak! Suara gebrakan meja yang dilakukan oleh Adit pun menghentikan perdebatan diantara Timo dan Shaka. Para pengunjung pun langsung memberikan perhatian ke meja mereka. tatapan-tatapan dari para penjung mendeskiprisi berbagai macam pemikiran. Mungkin mereka berpikir tiga orang yang duduk di belakang dekat dapur, apakah mereka waras atau tidak? Apakah mereka akan ribut dan terjadilah bangku hantam? Atau mungkin mereka adalah tiga orang mabuk yang sedang ingin makan soto ayam? Entahlah mereka bertiga pun tidak bisa menebak dengan pasti isi pemikiran dari para pengunjung.
Shaka yang memang suka cari ribut pun protes kepada para pengunjung yang memperhatiakn mereka dengan begitu intens. “Bisa fokus sama urusan masing-masing nggak kalian?!” ucap Shaka sedikit membentak. Para pengunjung pun langsung kembali fokus pada urusan mereka masing-masing. Setelah semunya kembali normal Shaka pun langsung berbicara kepada Adit, “lo kenapa sih pake acara gebrak meja segala. Gila lo ya?”
“Gue enek liat lo berdua berdebatan udah kaya sepasang kekasih yang lagi berantem.”
“Yah kenapa emang?” Shaka yang harusnya menyadari kesalahannya pun malah balik bertanya. Toh, menurut Shaka ini tidak akan terjadi perdebatan andai saja Timo tidak mulainya. “Lagian nih atasan lo nyari perdebatan.”
“Lah?” Timo tidak terima di sini ia menjadi pihak yang disalahkan, “kenapa harus gue ya?”
“Udah ya lo berdua jangan ribut,” kata Adit. “Mening lo berdua pesen makan ya gue udah laper, gue udah nulis di kertas apa yang mau gue pesan sekarang giliran kalian yang pesan.”
Timo pun langsung mengambil buku menu yang diserahkan oleh Adit. Pertama Timo yang menulis di selembar kertas yang sudah disediakan oleh warung bu Anin. Lalu setelah itu pun Adit. Timo langsung memanggil pramusaji untuk membuatkan pesanan mereka.
“Dit, makasih yah lo udah menyarankan untuk makan soto. Daripada makanan yang seharga kost yang diusulkan oleh orang sebelah gue.”
Shaka yang merasa tersindir pun langsung angkat bicara, “gue bercanda Tim.”
“Santai-santai, biar rileks aja.”
“Oh yah Tim, harapan lo di umur sekarang gimana?’
“Harapan gue nggak banyak yang penting gue sehat, keluarga gue sehat, dan hubungan gue sama Fida langgeng terus.”
Entah kenapa baik Adit maupun Timo pun heran saat ia sedang menungungkapan apa keinginannya di umurnya yang bertambah ini ia pun langsung terheran-heran kenapa tiba-tiba terbatuk-batuk. Apakah Shaka keracunan? Begitulah isi kepala jahat Timo.
“Lo kenapa?” tanya Timo. “Ada yang salah sama kata-kata gue yang barusan ya?”
“Nggak apa-apa. Ini nggak tahu kenapa tenggorakan gue tiba-tiba jadi batuk gini, gatel.”Shaka menjelaskan kepada Timo, dan Timo hanya mengangguk mengerti.
“Lo kapan punya gebetan, Ka?” tanya Timo.
Pertanyaan Timo menurut Shaka itu sangat basa-basi sekali. Ia jadi ingat dengan temannay Fida yang bila bertemu selalu bertanya basa-basi. Eh gue dah lama nggak ktemu itu orang, apa kabarnya yah tiu orang? Shaka bertanay-bertanya dalam hatinya, ia pun langsung menepisnya: Gue mikriin apaan sih kok jadi mikirin dia.
“Belum ada yang cocok Timl.”
Adit yang menunggu menu pesananya jadi sedari tadi ia sudah bermain game tidak memperdulikan kedua temannya yang sedang berbincang. Mungkin bagi Adit teman di depanya itu hanyalah dua patung pria yang cukup tampan, kalau mereka berdua lagi waras saja. Adit langsng menyeletuk, “bukan nggak ada yang cocok ya. Dia mah belagu maunya sama yang cantik. Giliran dapat yang cantik eh malah di PHP-in. kasian banget dia.”
Adit yang paling tahu lika-liku perjalanan cinta Shaka yang tidak pernah mulus; karena memang kalau ada apa-apa Shaka selalau curhat dengan Adit. Kecuali tentang dirinya yang sedang menyukai seseroang di wisma Sejahtera. Entah apa yang membuat Shaka jadi enggan untuk becertia ke Adit.
“Tapi, ya Dit. Si Shaka ini emang cocoknya sama yang cantik yah. Secara kan visual dia cukup tampan untuk ukuran segini.” Puji Timo.
Shaka yang dipuji pun langsung membusungkan d**a ke dapan, “tentu saja!”
“Idih pede banget lo. Sombong banget lo!” kata Adit.
Dan Shaka tidak peduli hal itu. Tidak lama kemduian sang pramusaji pun datang ke meja mereka dengan membawa pesanan mereka. Menaruh meakanan di atas meja, lalu mengucapan selamat menikamti dan pamit untuk undur diri untuk memperkejakan—perkerjaan lain.
Malam itu pun mereka saling bertukar pikiran, dan mengobrol dari hal yang paling serisu sampai tidak serius, bahkan mereka juga tidak ketinggalan untuk menceritakan gosip yang beredar di wisma Sejahtera.