“Lo tahu nggak, Ka, Tim?”
Ketika laki-laki yang sedang makan soto ayam sambil bergosip ria tentang permasalahan yang terjadi di wisma Sejahtera itu pun langsung fokus kepada Adit, karena ia kaan membawakan berita baru yang baru saja beredar di wisma Sejahtera.
Timo menyeruput kuah sotonya. Sejujurnya Timo bukanlah tipe orang yang suka dengan gosip. Akan tetapi, entah kenapa kali ini ia tertarik dengan pergosipan ini. Oh yah, warung bude Anin tutup pukul sebelas malam. Jadi mereka akan bergosip di sini. Shaka pun menatap Adit tidak sabaran untuk spill the tea kali ini berita dari siapa yang akan di sharing oleh Adit.
“Kemarin gue denger ya. Di lantai 2 ada yang kesurupan,” percayalah kalau Adit membawa berita soal kejadian di wisma Sejahtera pasti tidak jauh dari yang horor. Shaka yang baisanya selalu protes kalau Adit cerita yang horor kali ini entah kenapa ia malah menunggu Adit untuk melanjutkan ceritanya. “Cewek yang keserupan. Admin sales, katanya dia keserupan hantu yang pernah tinggal di kantor lantai dua.”
Entah kenapa tiba-tiba Timo merinding seperti ini; apa karena ini suasana sudah malam jadi malam mencekam. “Hantunya mati kenapa?” tanya Shaka penasaran.
“Dia di bunuh!”
“Serius lo?” Timo bertanya kepada Adit dengan ekspresi wajah yang tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Adit. Kadang-kadang Adit suka melebih-lebihkan cerita. Padahal kenyataan seperti itu makanya Timo agak tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Adit.
“Iya benaran Tim!”
“Lo nggak ngada-ngada, kan?”
Adit mengelengkan kepalanya.
Shaka angkat bicara ia kesal dengan Timo yang dari tadi bertanya terus. “Lo banyak nanya Tim, udah sih dengerin dulu Timo.”
Adit pun melanjutkan ceritanya, “dia bunuh diri karena pacarnya tidak mau bertanggung jawab.”
“Nggak mau bertanggung jawab gimana?”
Adit menatap Shaka sedikit kesal. Temannya ini benar-benar tidak tahu apa hanya berpura-pura tidak tahu? Masa tidak bisa menyimpulkan dari kata ‘bertanggung jawab’ belaga polos memang Shaka ini padahal aslinya sangat berbahaya.
“Laga lo sok banget deh Shaka. Sok polos banget jadi orang. Padahal lo juga badung,” kata Adit dengan nada bicaranya yang ia tinggikan kesal tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh Shaka.
“Sejak kapan gue badung?”
“Sejak lahir juga lo udah badung, Ka.”
Timo tahu ke mana arah pembicaraan ini—pembicaraan ini akan mengarah pada berdebatan yang tidak akan berujung. Oborlan yang tadinya akan berfokus tentang orang yang kesurupan, nanti bisa merambat ke mana-mana.
“Lo berdua bisa nggak kali ini nggak usah berdebat. Ceritanya belum sampai k*****s. Tapi, lo berdua berdebat gini. Sampe kita balik pun tuh cerita masih ngegantung,” kata Timo.
Shaka heran dengan Timo yang biasanya tidak pernah tertarik dengan cerita yang seperti ini tiba-tiba tertarik. Aneh sekali.
“Lo kenapa, Tim?” tanya Shaka
“Lah lo ngapain tanya gue kenapa?”
“Karena lo biasanya nggak kaya gini tau!”
“Emang gue biasanya kaya gimana?”
Warung bude Anin sudah mulai sepi. Satu persatu mengunjung sudah pulang tinggallah mereka yang masih membiarakan hal-hal yang sama sekali tidak penting. Ujung-ujungnya malah tidak jadi cerita.
“Kesimpulan dari cerita lo tadi, Dit.” kata Shaka yang langsung to the point tidak ingin lagi berdebat ia ingin segera mengakhiri pembicaraan ini, dan mulai menuntaskan cerita yang sudah dimulai oelh Adit tentang orang yang bunuh diri di lantai 2 gedung wisma Sejahtera.
Adit berdehem terlebih dahulu sebelum melanjutkan cerita tentang sosok perempuan yang bunuh diri lalu gentanyangan, dan marasuki penghuni yang baru. “Iya jadi salah karyawan di sana cewek itu kesurupan sama tuh cewek yang bunuh diri karena ditinggal pacarnya.”
“Cowoknya jahat sih,” ujar Shaka.
“Lo juga termasuk!”
Timo kadang ingin sekali menjitak kepala Adit sesekali. Entah kenapa Adit paling suka kalau mancing-mancing Shaka untuk berdebat kusir. “Dit, lo mening diem deh lain kali.”
“Lah emangnya kenapa gue?”
“Lo mancing si Shaka untuk berdebat, kapan ini sampe klimaksnya gue mau denger tau nggak sih lo.” Timo kali ini benar-benar kesal dengan mereka berdua kalau cerita tidak pernah selesai, selalu saja mengantung. “Ini udah malam juga mening kita balik. Cerita itu, ceritaiin aja besok di kantor. Ka, gue nginep di rumah lo ya. Gue kalo pulang sekarang bisa sampe rumah jam 1 malam ini udah jam setengah dua belas. Kasian juga bude Anin mau tutup kali warungnya cuma nungguin kita.”
Benar memang apa yang dikatakan Timo di meja kasir bude Anin sedang menahan kantuk ingin tutup, tapi masih ada tiga pelanggannya yang berdebat tidak beres-beres. Ingin mengusirnya bude Anin tidak enak karena mereka bertiga adalah pelanggan setia.
“Yaudah yuk balik. Lagian dari tadi kita ngomong yang tidak berfaedah.” Shaka pun langsung bangkit dari tempat duduknya. Bersiap untuk pulang, “jangan lupa yah Tim dibayar.”
“Lo kok nyolot ya?”
“Nyolot kenapa?” tanya Shaka.
“Lo bilang kaya gitu. Itu berarti lo nggak percaya sama gue. Sam ague yang mau bayarin lo. Paham?” entah kenapa mala mini Timo emosi sekali dengan kedua temannya.
“Bercanda Tim, lo kenapa sih?”
“Gue sensi sama lo berdua.” Timo bangkit dari tempat duduknya mengambil kunci mobil yang ia taruh di atas meja. Lalu langsung berjalan ke arah kasih untuk membayar semua pesanan yang sudah ia pesan.
Adit dan Shaka saling berpandangan satu sama lain, “kenapa dia?” tanya Shaka.
“Biasa abis kebentur.”
Mereka berdua pun langsung tertawa, dan berjalan mengikuti Timo untuk pulang bersama. Adit pulang ke rumahnya sementara Timo menginap di rumah Shaka.
***
Sudah beberapa minggu ini memang Dira terus menghindari Shaka. Karena ia tidak ingin di introgasi dengan Shaka. Namun setelah Fida bercerita kepada dirinya kalau laki-laki itu sudah tidak mempermasalahkan masalah itu. Karena itu hanya masalah sepele saja. Jika semesta hari ini mentakdirkan dirinya untuk bisa bertemu dengan Shaka kembali ia kan menerimanya, karena jujur saja ia sudah rindu dengan Shaka.
Saat pagi-pagi sekali di hari sabtu. Dira sedang jogging di GBK. Ia berlari mengelilingi GBK sampai dua putaran. Sudah dua putaran ia memutuskan untuk berhenti untuk membeli air mineral. Saat ia sedang membeli air mineral ada seorang laki-laki juga yang membeli air mineral. Saat ia menoleh sosok itu adalah—sosok yang sangat ia temui. Tuh kan, semesta sepertinay merestui dirinya untuk berjodoh dengan Shaka.
“Lo habis olahraga yah ini?” tanya Dira setelah ia menerima aqua yang diberikan oleh abang penjual air minum disekitan GBK.
Shaka tidak menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Dira. Setelah mengambil air mineral miliknya ia langsung meninggalkan Dira. Bukan seorang Dira kalau tidak mengejar Shaka. Ia bukan ingin mengejar lebih tepatnya Dira tidak terima di cukein oleh Shaka.
“Sombong banget lo!” ujar Dira setelah ia berhasil menyamai langkah kaki Shaka.
Shaka menghentikan langkah kakinya lalu menoleh kea rah Dira yang berdiri tepat di belakangnya dengan tampang wajahnya yang rasanya ingin Shaka tampar, tapi ia adalah seorang perempuan. “Haruskah gue jawab pertanyaan basa-basi lo?”
Ya Tuhan ini laki-laki di depan hamba wajah sih tampan kok kelakukan mirip sama jin sih. Mungkin kalau Dira berbiara langsung di depan Shaka pasti akan dimarahi habis-habisan. “Lo ke GBK sendirian aja?” Meskipun pertanyaan Dira diawal tidak ditanggapi oleh Timo, ia tetap bertanya yang lain meskipun ia tahu kalau jawaban yang diberikan oleh Shaka pasti tidak enak. Jadi tidak apa-apa bertanya saja lebih baik daripada sesat di jalan.
“Lo bisa nggak, nggak usah ikutin gue?”
Tebakan Dira seratus persen benar kalau Shaka tidak menjawab pertanyaannya. “Lo bisa nggak jawab pertanyaan gue dulu?” tanya Dira yang tidak mau kalah dengan Shaka.
Shaka bersumpah demi dewa dan dewi bisa tidak makhluk yang bernama Dira ini dihilangkan dari muka bumi ini, karena sungguh meresahkan. “Iya gue ke sini untuk olahraga seperti yang lo liat.”
“Bisa kali olahraga bareng.”
Shaka tidak mengubrisnya ia memilih untuk melanjutkan aktivitas larinya. Tentu saja Dira mengikuti jejak Shaka untuk berlari di sampingnya. Supaya orang-orang menyangkanya ia adalah pacarnya, jadi simulasi dulu. Siapa tahu menjadi kenyataan ia dan Shaka bisa berpacaran.
“Lo sering ya olahraga di GBK?”
“Iya.”
Dira tidak lagi bertanya karena kalau bertanya sambil berlari itu sangat melelahkan sekali. Jadi sebaiknya diam. Kira-kira ada kali mereka mengelilingi GBK tiga kali ternyata lumayan melelahkan juga lari-larian di GBK mengikuti ritme kecepatan dari Shaka. Sampai akhirnya Shaka pun berhenti di bangku panjang yang terbuat dari semen di area GBK.
“Capek ya tiga putaran,” nafas Dira pun tersengal-sengal. “Gila kok lo kaya nggak keliatan capek gitu?”
“Makanya jadi orang kalau lari itu jangan setengah-setengah.” Shaka meremehkan kemampuan lari Dira.
Dira pun berinisiatif untuk menantang Shaka lari mutarin GBK sebanyak lima kali. Kalah Dira Kalah, Dira yang akan mentraktir makan dan nonton Shaka, begitu pun sebaliknya. “Gimana lo setuju nggak dengan usulan gue?” tanya Dira.
Shaka tidak langsung menjawab pertanyaan dari Dira. Ia malah memainkan ponselnya kalau ia menerima tantangan itu kalau semesta tidak sedang berpihak padanya kalau ia kalah pasti ia harus mentraktirnya. Shaka tidak masalah dengan traktirannya. Yang jadi permasalahannya adalah ia akan terus bersama dengan makhluk yang kini duduk di sebelahnya.
“Gue nggak mau.”
“Berarti lo cupu, Ka.” Dira kadang kalau bicara suka tidak disaring lagi.Main to the point saja.
Shaka yang tidak terima bilang cupu pun menyanggupi ajakan dari Dira, “ayuk mau kapan adu lari?”
Dira di dalam hati bersorak gembira karena akhirnya Shaka menyanggupinya. Berkat dari perkataan tadi yang mengatai Shaka cupu. “Serius?”
Shaka mengangguk, “iya serius. Mau kapan?”
“Minggu depan.”
“Oke deal minggu depan ya.”
“Siap,” kata Shaka.
Diminggu depan perjanjian di anatara dua orang untuk lari muterin GBK sampai lima kali pun benar-benar terjadi, dan itu adalah kemenangan bagi Dira karena ia bisa lebih lama bersama dengan Shaka.