Kedua sepasang kekasih itu sedang duduk berdua di kantin wisma Sejahtera menikmati makan siang di hari Jumat. Wajah mereka berdua terlihat begitu ceria, dikarenakan weekend akan tiba besok. Di mana mereka berdua bisa menikmati waktu beristirhat setelah lima hari berkutat dengan pekarjaan.
“Minggu depan Elvira mau datang ke Jakarta. Kamu ikut ya, untuk jemput dia.”
Fida yang sedang fokus menikmati pangsit rebusnya pun langsung menengadahkan kepalanya ke arah Timo, “serius Tim? Aku emang perlu ikut ya?”
Fida sih oke-oke saja kalau diminta untuk ikut menjemput Elvira. Akan tetapi, ia takut kalau suasananya malah berubah jadi akward. Fida tahu siapa Elvira, namun ia tidak pernah mengenal secara personal. Fida memang seseorang yang kalau bertemu dengan orang baru bingung mau bicara apa, suka malu-malu, tapi kalau sudah kenal pasti malu-maluin.
“Kamu perlu ikutlah Fidaku sayang.” Timo menambahkan saus ke dalam mangkuk pangsit. “Aku udah janji juga ke Elvira kalau aku mau ajak kamu untuk jemput di ke Bandara.”
“Elvira nggak apa-apa aku ikut?” tanya Fida. Fida bertanya begini tidak bermaksud apa-apa ia hanay ingin memastikan kalau orang yang bersangkutan tidak terganggu dengan kehadirannya.
“Nggak apa-apa. Kamu banyak nanya kaya wartawan.”
“Aku kan hanya memastikan aja, Tim. Takutnya Elvira terganggu dengan kehadaran aku, siapa tahu kan dia maunya cuma pengin ketemu sama kamu. Bukan aku,” kata Fida.
Dengan Fida berbicara seperti itu Timo menanggapinya kalau Fida itu cemburu dengannya. Akan tetapi, Fida tidak mau mengakuinya. “Kamu cemburu ya?”
“Cemburu buat apa?” tanya Fida. Berusaha untuk terlihat biasa saja di depan Timo, padahal di dalam dirinya kalau boleh jujur ia cemburu dengan kehadiran kembali Elvira.
Timo tidak percaya dengan ucapan Fida barusan karena ia bisa membaca dari tatapan mata Fida kalau kekasihnya itu cemburu dengannya, “iya deh iya.” Timo hanya mengiyakan saja daripada terjadi perdebatan yang tidak berkesudahan.
“Jam berapa Tim?”
“Jadi kamu mau ikut gitu?” tanya Timo.
“Iya kan tadi kamu ngajak.”
“Oke. Untuk jamnya nanti aku kabarin lagi ya.”
“Siap.”
“Elvira itu orangnya gimana?” tanya Fida. Ia bertanya begini hanya untuk mengantipasi bagaimana caranya kalau bertemu nanti. Supaya ia bisa menyesuaikan diri, dan tidak kaku.
“Elvira baik kok orangnya. Dia juga anaknya easy going, aku yakin sih kalo kamu ketemu sama dia, dia bakal cocok banget cocok banget sama kamu.” Jujur saja Timo sendiri pun tidak sabar untuk mempertemukan dua orang yang ia sayangi. Elvira sebagai sahabatnya, dan Fida tentu saja sebagai kekasih tercintanya.
“Seyakin apa?” Fida menyeruput kuah pangsit. “Ini enak banget loh yah kuahnya. Emang pangsit kuah di Wisma sejahtera yang paling top.”
Fida memang suka random kalau ia sedang bertanya satu hal pasti di belakang suka menambahkan kalimat-kalimat yang mengalihkan pembicaraan ke arah yang lain. Supaya tidak jauh membahas hal ini takut tertangkap basah karena ia sedang cemburu, dengan Timo yang sedang mendeskripisikan sosok Elvira begitu antusias.
“Kamu cemburu y?” tanya Timo. Timo yakin kalau Fida sedang cemburu dari gelagatnya, dan cara kekasihnya itu membelokan pertanyaan—Fida cemburu.
“Kok kamu nanya gini?” Fida tetap kekeh tidak mengakui ia tidak mau terlalu kentara terlihat cemburu oleh Timo. Akan tetapi, secara tidak langsung dengan Fida bersikap seperti itu malah menunjukkan kalau ia cemburu.
“Oh nggak apa-apa, nanya aja.” Sebenarnya Timo masih ingin terus mengulik apakah kekasihnya itu cemburu atau tidak. Dari rawut wajah kekasihnya itu tidak sedap dipandang, jadi sebaiknya untuk saat ini ia mengalihkan pembicaraan juga supaya tidak menjadi panjang perkaranya. “Pangsit kuah di wisma Sejahtera yang juara, kaya kamu juara dihatiku.”
Fida payah hanya dengan gombalan dari Timo pipinya langsung memerah begitu saja. Padahal kan awalnya ia agak kesal dengan Timo. Dengan Timo bersikap begitu kesal pun jadi hilang. “Kamu ngerayu aku ya?”
“Ngerayu apaan sih?”
“Itu tadi?”
Timo hanya tersenyum melihat kekasihnya yang di sentil dikit langsung memerah pipinya, “merah tuh pipi kamu kaya tomat.”
“Saus tomat kali!”
“Kamu salting tambah cantik ya?”
Fida rasanya ingin berteriak ke arah Timo dengan menyebutkan kata-kata, kamu bisa diem nggak sih nggak usah sok ngegombal begini. Tapi, Fida sadar diri kalau dirinya berteriak suaranya nyaring seperti ibu-ibu menyuruh anaknya untuk mandi sore atau menyuruh pulang dari bermain karena sudah magrib.
“Bisa diem nggak kamu duhai Timo?”
“Bisa!” Timo dengan sigap berubah menjadi seperti patung.
Fida menautkan sebelah alisnya, “kenapa kamu mukanya harus tegang kaya gitu?”
“Aku lagi jadi patung, kan tadi kamu minta aku untuk diem. Yaudah aku buru-buru jadi patung.” ucap Timo dengan nada sedikit mengeluh.
“Iya bagus kamu jadi patung.”
“Kamu punya pacar patung?”
“Kenap anggak?”
Timo paham sekali kalau Fida ini sengaja membuatnya kesal. Akan tetapi, mohon maaf untuk Fida kalau Timo tidak akan terpancing.”Yaudah aku jadi patung lagi,” kata Timo.
Untung saja Fida sangat menyayangi Timo; walaupun sekesal apapun ia dengan Timo. Fida tetap saja kembali luluh dengan sikapnya yang seperti itu. Fida tidak bisa marah lama dengan Timo.
“Udah nggak lucu. Abisin dulu aja pangsitnya kita sebentar lagi mau masuk nih untuk kembali bekerja lagi.”
“Nggak marah kamu?”
“Kata siapa marah?”
“Kata aku,” jawab Timo.
“Terserah!” kata Fida lalu ia menyuapkan pangsit kuah terakhirnya ke dalam mulut. “Kamu abisin itu pangsit, kita balik ke kantor. Saat untuk kembali nguli.”
“Oke. Oke.” Timo pun langsung bergegas menghabiskan pangsit kuahnya. “Pulang bareng yah nanti Fid sama aku.”
“Iya biasanya juga pulang bareng sama aku, basa-basi banget kamu,” kata Fida
Timo hanya terkekeh. Sekitar sepuluh menitan mereka berdua menghabiskan pangsit kuahnya kemudian mereka berdua pun kembali ke kantor masing-masing, untuk melanjutkan perkerjaan di akhir minggu ini.
***
“Sahabat Timo mau ke sini,” kata Fida membuka obrolan dengan Dira.
Hari sabtu ini Fida main ke rumah Dira sekalian mengerjakan tugas kampusnya. Sedari tadi saat Fida sampai di rumah Dira, ia hanya basa-basi sedikit fokus dengan tugasnya. Barulah saat selesai dengan tugas ia membuka obrolan dengan bermaksud untuk curhat kepada Dira.
“Shaka menerima tantangan gue untuk lari keliling GBK.” Dira pun sama ia ingin curhat perihal Shaka yang menerima tantangannya.
“Lo dulu apa gue yang cerita ni?” tanya Fida memastikan karena tidak ingin ada berdebatan kecil di antara ia dengan Dira.
“Lo dulu aja,” kata Dira. Ia meminta Fida duluan untuk cerita karena menurut dirinya cerita Fida itu lebih berat darinya.
“Oke.” Fida membenarkan posisi duduknya yang tadinya bersandar pada dinding kamar Dira dengan duduk tegak. “Lo tahu kan Elvira?”
“Iya?”
“Dia mau datang ke sini dua minggu lagi.”
Dira menatap Fida dengan bingung, “terus harus kenapa?”
“Nggak kenapa-napa sih, dia masa minta gue untuk ikut jemput kek Bandara. Info dari Timo sih katanya Elvira yang minta untuk gue jemput ke sana.” Fida menjelaskan kembali apa yang dikatakan oleh Timo waktu makan siang Jumat kemarin.
“Lo cemburu?” Dira yakin kalau Fida cemburu. Bagaimana tidak cemburu Elvira adalah sahabat dari Timo, dan juga mantan pacar Timo. Tidak mungkin seseorang yang pernah menjadi mantan kekasih dan masih terus bersahabat. Tidak punya perasaan yang tertinggal.
“Nggak. Gue nggak cemburu sih, yah cuma bakal canggung.” Canggung di sini dalam artian adalah cemburu sebenarnya. Akan tetapi, Fida gengsi untuk mengakui hal itu.
“Bohong banget, “ Dira yang tuna asmara pun bisa paham kalau Fida itu sedang cemburu. Mustahli sekali kalau Fida tidak cemburu.
“Iya kagak Dir, nggak percayaan banget deh jadi orang.”
“Sekarang gini deh yah. Si Elvira ini dulu sahabatan sama cowok lo itu lama banget ya. Terus mereka itu pacaran, dan yang mutusin itu bukan si Timo kan? Tapi, ceweknya ini. Kemungkinan Timo masih sayang. Apalagi lo pernah cerita kalau Elvira itu pacar pertamanya Timo. Biasanya yang pertama itu yang lebih berkesan. Soalnya gue sering nemu kasus kaya gini.”
Fida rasanya ingin mengacak-acak rambut Dira yang membuat berpikir yang tidak-tidak tentang Timo, padahal ia sedang matian-matian berusaha untuk berpikir positif. Untung saja Fida punya batas kesabaran yang luar biasa terhadap Dira yang memang sangat mengesalkan.
“Kok lo malah mengosok-gosok gue untuk berpikir yang negatif begini?”
“Gue nggak gosok-gosok lo untuk berpikir negatif, gue cuma menganalisa sesuai dengan kejadian yang selama ini gue temuin dalam perjalanan hidup gue.”
Fida diam tidak langsung merespon ucapan Dira. Ucapan Dira bisa saja benar, bisa saja tidak sama sekali. Bikin pusing mendengarkan perkataan dari sahabatnya itu. “Sekarang gue ikut apa nggak ya?”
“Harus ikut!”
“Kenapa gue harus ikut, Dir?” tanya Fida.
“Biar bisa jagaiin Timo, takut ada cinta lama bersemi kembali.”
Fida tertawa, “ada-ada aja lo!”
“Ya kan bisa aja, jaga-jagalah!”
“Oh oke saran lo gue tamping,” Fida tidak ingin obrolan ini berlanjut malah membuatnya semakin berpikir yang negatif tentang Timo, dan membuat kepalanya pusing. “Sekarang giliran lo yang cerita.”
“Emang gue mau cerita apa?”
Fida mencibir. Bohong sekali; pura-pura lupa. “Si Shaka lah siapa lagi. Dia kenapa? Lo jadian sama dia.”
“Kalo gue jadian sama Shaka. Sabtu gini masa di rumah berdua sama lo,” kata Dira. “Bukan soal ini. Soal Shaka yang menerima tantangan dari gue.”
“Tantangan untuk jadi pacar pura-pura lo? Karena dipaksa sama lo untuk jadi pacarnya ya?” selidik Fida dengan curiga.
Dira melempar bantal ke arah wajah Fida, “lo kalo pikir itu suka yang aneh-aneh yah. Jangan gitulah doain gue benaran jadi pacarnya Shaka. Itukan salah satu impian gue untuk bisa jadi pacarnya Shaka.”
“Kirain kan, emang tantangannya apa?”
“Gue ngajak dia untuk lari keliling GBK, gue lupa kemarin bilangnya berapa puteran. Pokoknya sekuat kita, yang kalah jadi teman nonton dan makan. Pinter, kan modus gue?”
“Tunggu dulu deh, kok bisa sih? Maksud gue lo kok bisa kepikiran ke situ? Ngasih tantangan itu. Coba jelasin gue bingung.”
Dira menarik nafasnay dalam-dalam. Lalu ia menjelaskan semua kejadian saat ia bertemu dengan Shaka di GBK. Lalu di kepalanay muncul ide untuk menantang Shaka.
“Kenapa dia bisa mau?”
“Gue bilang aja, kalo nolak permintaan gue. Berarti Shaka cupu, dan nggak punya nyali. Ganteng doang, tapi cemen. Gue tau kelemahan dia apa, dia nggak mau terkalahkan. Akhirnya nerima deh permintaan gue.” Dira tersenyum penuh kemenangan merasa dirinya berguna juga.
“Pinter juga ya lu.”
“Dari dulu gue emang pinter, tapi lonya aja nggak pernah sadar sama gue yang pinter ini,” ucap Dira lalu ia mengambil kripik singkongnya. “Elvira cantik ya?”
“Kok lo bisa tahu sih dia cantik?”
“Gue nge-stalk akun IGnya.”
“Pake akun real lo?” tanya Fida
“Bukan second akun gue.”
Fida hanya mengeleng-gelengkan kepala heran, dengan temannya satu ini kok bisa-bisa berpikir untuk stalk si Elvira.