“Kenapa lo mau stalk akunnya sih Elvira?” tanya Dira.
“Karena kepo.” Dira menjawab dengan santai. Benar bukan memang jawaban yang diberikan oleh Dira kalau ia kepo dengan sosok Elvira yang menjadi sahabat perempuan Timo satu-satunya, dan pernah menjadi mantan kekasih.
“Iya gue tau. Selain kepo apa lagi?” Fida kalau misalnya bukan teman yang baik mungkin telinga Dira sudah ia jewer.
“Penasaran aja orangnya kaya gimana, ternyata dia itu nggak cuma cantik ya, dia juga punya banyak presetasi. Pantas ya Timo suka sama dia.” Dira menatap Elvira dengan tatapan meledek. Ia paling suka membuat temannya itu emosi
“Jadi Timo nggak pantes gitu suka sama gue?”
Dira terkekeh,”langsung aja marah. Gue bercanda kali.”
“Siapa yang marah?”
“Lo yang marah.” Dira bisa menebak dari raut wajah Fida yang berubah jadi cemberut. Mungkin lebih tepatnya bukan marah, tapi lebih ke cemburu. “Atau lo cemburu ya?”
“Nggak!”
“Lo kalo nggak cemburu. Kenapa lo kayanya khawatir banget gitu mau ketemu dia?”
Fida sebenarnya bukan khawatir. Lebih tepatnya ia kalau ia bisa mengakui. Bahwa dirinya takut—takut cemburu. Sebenarnya wajar saja kalau cemburu asalkan jangan berlebihan yang malah jadi tekresan seperti anak kecil.
“Gue nggak cemburu tau! Lo sama Shaka kapan tanding?”
Dira memutar bola matannya pembicaraan ini berbelok sangat tajam. “Beloknya tajam banget yah lo udah kaya belokan puncak.”
Fida menyadari kalau dirinya berbicara dengan membelokkan topik, karena ia tidak mau tertangkap basah kalau dirinya sedang cemburu berat. Baik Dira maupun Timo sama-sama menyadari kalau Fida itu punya gengsi yang besar sekali. Bahkan ada masalah pun ia tidak mau bicara, ia akan mencari jalan keluar sendiri. Kalau sudah kepalanya mulai sakit ia baru mencari bantuan terkait dengan masalahnya.
“Gue nanya bukan membelokan pembicaraan tau.” Fida mengelak meskipun apa yang dikatakan Dira itu benar.
“Lo cemburu kan?”
Kalau saat ini ia sedang tidak berada di rumah Dira. Mungkin sahabatnya ini sudah ia ajak gelut satau berkata kasar sambil berteriak. Kalau Fida melakukan hal itu yang ada di dengar oleh orang tua Dira yang ada nanti jadi boomerang. Fida yang dikenal kalem di mata orang tua Dira. Jika ia bersikap seperti sekita penilaiannya pun akan berubah tentangnya.
“Iya cemburu.” Akhirnya Fida pun menjawab pertanyaan dari Dira. Gerah juga lama-lama dicecer dengan pertanyaan yang sama. “Wajarlah cemburu orang sama pacar, kalo gue cemburu ama Shaka nah itu baru aneh!” sambung Fida
“Bilang dong dari tadi. Kalo kaya gini gue baru mau jawab pertanyaan lo,” kata. “Sabtu ini kayanya gue mau tanding sama Shaka. Doain ya gue menang. Sebenarnya mau menang atau kalah gue sama Shaka tetap jalan kok.”
Fida sebagai teman yang baik juga ikut senang dengan kemajuan hubungan Dira dan Shaka. Semoga saja mereka berakhir dengan bahagia. “Gue pasti doain yang terbaik buat lo. Semoga berakhir dengan bahagia ya, supaya lo nggak jomblo mulu. Jadi obat nyamuk gue sama Timo, apa nggak bosen?”
“Bosen sih.” Kata Dira.”Tapi, nggak masalh sih. Gue seneng lihat orang pacaran. Walaupun hati gue ini menjerit menginginkan sebuah keuwuan gitu.”
“Makanya cari pacar.”
“Ini lagi diusahakan sama Shaka.”
“Semoga lancar ya.’
Tiba-tiba saja rasa insecure dalam diri Dira muncul karena ia merasa tidak pantas. Dira selalu merasa tidak cantik. Sebenarnya tidak ada perempuan yang tidak cantik. Setiap perempuan itu cantik dengan caranya masing-masing. Hanya saja standarisasi di masyarakat kalau perempuan cantik itu harus putih, tinggi, langsung, dan bodinya kaya gitar spanyol. “Gue nggak cantik, Fid.”
“Mulai deh insecure gitu,” ucap Fida. “Lo cantik Dir, dengan caranya lo. Gue tanya sekarang lo jeleknya dari mana?”
Dira mengelengkan kepalanya tidak bisa menjelaskan di mana letak tidak cantik dirinya. “Gue nggak tau.”
“Nah itu!” Fida menepuk paha Dira dengan kencang. Sampai Dira mengaduh kesakitan. “Berarti lo Cuma insecure aja nggak cantik seperti cewek-cewek lain kan? Capek tau kalo gitu ngikutin kecantikan sesuai dengan standar masyarakat yang sekarang. Cantik itu dimulai dari sendiri. Dimulai dari lo merawat diri lo, menghargai diri sendiri, dan percaya diri kalo lo juga cantik dengan cara lo.”
Memang kalau curhat sama Fida paling benar. Kata-kata bijak dari mulutnya langsung keluar perihal keresahan Dira yang begitu insecure. Merasa tidak pantas bersanding dengan Shaka, takut kalau misalnya ia dan Shaka menjadi sepasang kekasih malah di bully oleh para penggemar Shaka.
“Gue nggak siap.”
“Nggak siap kenapa?’ tanya Fida.
“Nggak siap di bully sama para penggemarnya Shaka.” kata Dira.
“Dengerin aja para haters mah nggak ada habis Dir.’
Dira mengangguk, “iya maaf yah Fid. Gue cuma khawatir aja.”
“Jangan khawatir kaya gitu deh, yaudah jalanin aja. Oke?”
“Iya”
“Gitu dong.”
Tiba-tiba Dira langsung memeluk Fida dengan erat. “Jangan insecure lagi ya.”
“Iya.”
Oborolan mereka berdua pun di lanjut dengan yang lebih random. Membicarakan Dira yang sempat jatuh di depan hotel. Pada saat itu ada pegawai hotel sedang menyiram rumput dengan selang. Dira jatuh tepat di depannya samapai pegawai hotelnya pun menoleh ke arah Dira dengan ekspresi wajah menahan tawa.
Fida pun menceritakan dirinya pada saat itu ia habis dari rumah saudaranya di Bogor. Entah kenapa, ia mungkin pada saat itu sedang kurang konsentrasi atau sedang lapar. Saat akan mengisi karut emoney di loket. Ketika petugas kereta api menanyakan kepada dirinya tujuannay ke mana. Fida dengan santai menjawabnya kalau ia ingin ke Bogor. Petugas kereta sampai tiga kali membantah kalau ini stasiun Bogor, tapi Fida tetap kekeh kalau dirinya ingin ke Bogor. Baru setelah ke-empat kalinya ia baru sadar kalau dia sedang berada di stastiun Bogor.
Begitulah mereka berdua kalau sedang mengoobrol yang diceritakan selalu hal absurd. Sampai mereka tertawa terpingkal-pingkal. Menewartawakan hal-hal yang sangat receh. Itu menjadi suatu hiburan untuk mereka melepas penat dari rutinitas sehari-hari yang menyita waktu, dan bikin stress.
***
Hari sabtu yang ditunggu-tunggu oleh Dira pun tiba. Hari di mana ia akan bertemu dengan Shaka sang pujaan hati. Dira mengakui kalau dirinya memang suka tidak tahu diri; ia sampai membayangkan beberapa adegan romantis yang akan terjadi di GBK nanti. Seperti Shaka yang membukakan tutup botol air mineral atau saat Dira jatuh Shaka membantunya seperti di film-film.
Mereka sebelumnya sudah janjian akan lari di GBK sore hari. Sebelum mereka fix akan pergi olahraga di sore hari. Shaka dan Dira berdebat dahulu perihal mau lari di pagi hari atau sore hari.
Dira
Hai Shaka!
Kita jadinya kan lari paginya?
Dira kira-kira mengirim pesan di jam setengah lima subuh. Perlu di ketahui menunggu balasan dari Shaka sampai berjam-jam, Shaka membalas pesannya di pukul satu siang. Sebenarnya bisa saja Dira menelpon Shaka. Akan tetapi, ia terlalu takut di semprot. Jadi Dira menunggu sambil mengerjakan pekerjaan rumah.
Shaka
Lo kemarin denger nggak sih yang gue ngomong?
Dira yang baru saja selesai beberes rumah, ia mengecek ponselnya langsung menaikan satu alisnya. Ini orang sudah balas lama, sekalinya balas malam ngegas. Kalau orang normal itu bilang maaf dahulu atau apa gitu basa-basi ini langsung aja ngegas.
Dira
Bisa kali lo nggak usah marah-marah
Kan bisa ngomong-ngomong baik-baik.
Shaka pun dengan kesadaran penuh membalas pesan dari Dira dengan menyelipkan kata maaf. Meskipun di hati ada keterpaksaan; itu bukan urusan Dira yang dosa Shaka ini.
Shaka
Minta maaf.
Yaudah sore aja kita ketemu langsung di GBK
Di kamarnya Dira membanting ponselnya di atas kasur rambutnya ia acak-acak. Padahal dalam khayalannya Shaka akan menjemputnya di rumah. Pergi ke GBK bersama naik motor maticnya. Ternyata semuanya di luar ekspetasi Dira.
Dira bisa saja langsung bicara kalau dirinya ingin dijemput oleh Shaka ke rumahnya. Akan tetapi, sebagai perempuan ia harus punya harga diri. Masa harus mohon-mohon minta di jemput.
Dira
Oke.
Jam berapa?
Shaka membalas pesan dari Dira dengan cepat secepat kilat pada saat hujan. Akan tetapi, kalau boleh Dira berkata kalau sikap Shaka sedingin salju di kutub utara. Meskipun Dira belum pernah ke kutub utara setidaknya Dira tahu kalau salju itu dingin.
Waktu berjalan begitu cepat sore pun tiba. Dira pun langsung bergegas mandi, dan memersiapkan untuk olahraga berama dengan calon kekasih. Mengkhayal saja dulu masalah menjadi kekasih atau tidak itu masalah belakangan. Toh, kalau pun tidak menjadi kekasih yang sakit hati Dira—ia tanggung sendiri tidak ditanggung oleh asuransi kesehatan.
Ibu Dira yang paham betul kesaharian anaknya kalau lagi libur kerja pasti di rumah terus menonton drama Korea dari malam ke malam lagi. Keluar dari kamar kalau ia lapar atau ingin buang hajat di toilet. Ibunya sendiri pun heran kenapa anaknya sangat suka mengeram diri di kamar? Apa tidak bosan? Bahkan tetangganya pun menyangka kalau Dira bekerja di luar kota.
“Tumben kamu rapih? Mau ke mana?” tanya ibu Dira saat melihat anaknya mengambil sepatu di rak sepatu, ibunya sedang duduk santai di ruang TV sambil menonton sinetron di sore hari.
Dira menghampiri ibunya sambil menenteng sepasang sepatu olaharaga. Ia duduk di samping ibunya, sepatunya ia taruh di dekat kakinya, Dira mengluarkan kaos kakinya dari dalam tas yang ia bawa dari kamarnya.
“Mau ke GBK.”
“Ngapain?” Pandang ibunya masih fokus pada layar televise.
“Mau olaharga.”
Kata olaharga berhasil menarik perhatian ibu Dira, dan ia pun langsung menoleh ke anak semata wayangnya.
“Kamu kesambet ya?” Tanya ibunya.
“Hah?”
“Iya tumben olaharga?”
“Minggu kemarin juga olahraga, Ma.” Setelah memakai kaosu kakinya Dira pun langsung memasukan kakinya satu persatu ke sepatu. “Sekarang mau olahraga lagi, Ma. Emang kenapa?”
“Ya nggak kenapa-kenapa. Cuma heran aja kamu biasanya olaharga cuma sekali doang dalam sebulan, mungkin setahun kamu olahraga bisa dihitung,” ucap ibunya.
“Iya lagi rajin. Anaknya rajin kenapa nggak didukung si, ma?”
“Bagus deh. Daripada kamu ngedekem mulu itu di kamar. Bertelur nggak, mata panda kamu makin besar nanti.” Ibu Dira kini fokus kembali pandangannya ke televisi.
“Yaudah ma, Dira berangkat dulu ya.” Dira mencium tangan ibunya, dan langsung ke luar rumah. Ia tadinya mau naik ojek online supaya cepat sampai ke GBK. Tapi, dari rumah malah bikin dompetnya jadi terkuras habis. Yasudah ia naik kereta, baru dari stasiun menuju GBK naik ojek online. Dira berdoa semoga yang sampai di sana lebih dulu itu Shaka. Bukan dirinya karena ia sendiri malas menunggu.