Ternyata Dira sampai di GBK lebih dulu daripada Shaka. Kadang heran dengan dirinya yang terlalu tepat waktu kalau janjian sama siapapun. Sudah mencoba untuk di leletin, tetap saja Dira yang selalu sampai duluan di tempat.
GBK memang selalu ramai kalau sore hari, begitu pun dengan pagi hari. Selalu saja ada orang-orang yang berdatangan untuk olahraga. Dikarenakan Shaka belum ada di lokasi, dan kebetulan juga di GBK ada cafe jadi daripada bengong menunggu Shaka yang sampai belum tentu jam berapa.
Dira membuka pintu cafe suara nyanyian yang diputar oleh pihak cafe pun masuk ke dalam pendengaran Dira. Ia pun langsung berjalan ke counter untuk memesan makanan, dan juga minuman. Kalau tidak memesan minuman yang ada nanti jadi seret.
Perempuan itu memesan satu roti dan satu botol s**u kacang kedelai. Dira duduk di dekat jendela sambil melihat pemandangan orang-orang yang sedang berlalu lalang sedang olaharga sore. Ada positif juga Shaka datang lebih lama, karena dengan begitu ia bisa mengisi perut dulu supaya bisa berlari kencanga mengejar angin.
Dira mengeluarkan ponselnya lalu ia langsung mengirim pesan kepada Shaka. Menanyakan sedang ada di mana. Namun, hampir satu jam lebih Shaka tidak membalasnya. Pikiran Dira pun langsung melalang buana ke mana-mana memikirkan bagaimana kalau misalnya Shaka membohongi dirinya, dan ia tidak datang ke GBK. Dira pun langsung berucap dalam hatinya, jangan sampe amit-amit. Jangan sampe semoga nggak bohong itu orang.
Karena kesal tidak kunjung dapat balasan Dira pun langsung menelepon. Dira pun ditambah kesal oleh Shaka karena di telepon pun tidak diangkat alias ada nada suara sepert ini, nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi.
Waktu terus berputar semakin hari semakin sore menuju malam. Seseorang yang sedang ditunggu oleh Dira tak kunjung datang. Lama-lama jadwal olahraganya akan berubah menjadi olahraga tenga malam berlarian ke sana ke mari bersama para hantu.
Dira melihat ke arah jam dinding yang ada di cafe jarum jamnya sudah menunjukkan pukul 17:45. Sebentar lagi magrib, dan Shaka belum juga datang. Tiba-tiba ponselnya bergetar tanda panggilan masuk. Itu panggilan masuk dari Shaka. Dira pun langsung mengangkat teleponnya, dan memarahi Shaka sampai orang-orang yang ada di cafe menoleh ke arahnya.
Dira : Lo lama banget sih ke mana aja? Gue nungguiin lo daritadi tau.
Kirain gue lo bakal nipu gue. Nggak jadi untuk tanding lari kita.
Shaka bukannya minta maaf atas keterlambatan datang ke GBK ini ia malah balik memarahi Dira. Memang mereka berdua lama-lama terlihat seperti Tom dan Jerry. Ribut melulu tidak pernah damai, kalau semesta menyumpahi mereka untuk berjodoh itu bagaimana.
Shaka : Lo itu kenapa banyak protesnya sih?
Sekarang lo lagi ada di mana?
Rasanya Dira ingin berteriak tepat ke Shaka, dengan kata-kata seperti ini; enak banget itu mulut mengeluarkan kata-kata. Dibilang banyak protes, atuaran di sini yang protes kan Dira bukan Shaka. Namun ia baru menyadari kalau sedari tadi orang-orang di cafe, memperhatikannya karena nada suaranya yang meninggi sepert ibu-ibu yang memarahi anaknya. Di telepon Dira pun langsung berbicara ke Shaka untuk segera menghampiri Dira di cafe, dekat pintu utara GBK. Dira menegaskan ke Shaka untuk tidak lama kalau ia berani datang lama, Dira akan meminta Shaka untuk menemani dirinya menonton bioskop selama satu minggu. Walaupun di bioskop filmnya tidak bagus tetap di tonton yang penting bersama dengan Shaka bukan orang lain.
Pintu cafe terbuka di sana menunjukkan sosok yang telah ditunggu Dira sedari tadi, dengan kaos polos hitam, celana olaharaga berwarna hitam, dan topi yang menutupi rambut. SERIUS GANTENG BANGET! Itulah raungan dari bantin Dira saat melihat Shaka. Shaka pun menangkap sosok perempuan yang sangat menyebalkan itu, sedang terpaku memandangnya.
Shaka yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang luar biasa, ia bergumam di dalam hati bahwa perempuan itu sedang memujanya dengan mengatakan, tampan sekali laki-laki yang sudah ditunggu-tunggu. Dengan gagah Shaka langsung berjalan ke arah Dira.
Shaka memasang wajah tidak bersalah duduk dihadapan Dira lalu ia berkata, “udah lama lo nunggu gue ya?”
Dira memandang Shaka dengan sinis ia meliaht ke arah kopinya yang tinggal setengah. Rasanya kalau saja Dira tidak punya rasa kasihan terhadap laki-laki di depannya ini. Ia pasti akan menyiram kopinya ke wajah Shaka. “Pertanyaannya terlalu basa-basi.” Dira mengatakan merasa ia bisa balas dendam ke Shaka karena Shaka juga pernah mengatakn itu ke Dira.
“Gue nanya lo bukan basa-basi.”
“Bukannya lo adalah orang yang nggak suka basa-basi. Tapi, lo sendiri barusan melontarkan pertanyaan yang terlalu basa-basi. Pertanyaan yang sudah ada jawabannya.” Dira menyesap kembali kopinya yang sudah dingin.
Shaka yang tidak mau kalah, dan selalu merasa ingin menang pun langsung melontarkan kalimat ini, “Lah? Gue nanya bukan basa-basi.” Dira memperhatikan Shaka dengan jengkel. Memperhatikan Shaka yang sedang mengantungkan kalimatnya. Lalu Shaka melanjutkan kembali kalimatnya. “Emang ada yang salah apa ya sama pertanyaan gue? Padahal lo tinggal jawab aja gitu, iya gue nunggu lo udah lama atau lo jawab gini; nggak kok belum lama gue nunggu lo. Jadi, enak kan gue dengernya kalo lo bilang gitu.”
Terserah. Itulah satu kalimat yang muncul dari dalam hati Dira setelah Shaka menyelesaikan kalimatnya yang malah membuatnya kesal. Sudah dating terlambat bukannya minta maaf malah terus membela diri kalau dirinya sama sekali tidak salah.
“Yaudah deh terserah lo. Intinya di sini lo itu salah, Ka.” Dira bangkit dari tempat duduk, “udahlah nggak usah dibahas soal ini, yang ada nanti kita nggak lari-lari. Oh yah, apa-apa jangan-jangan lo sengaja ya mengulur-ngulur waktu supaya kita nggak lari. Karena lo takut kalah?” Dira membungkukuk tubuh sedikit mendekatkan wajahnya ke wajahnya Shaka yang masih duduk di tempatnya.
“Lo bisa jauhan nggak? Nafas lo bau naga!”
Refleks perempuan itu langsung berdiri tegap, ia pun langsung bereaksi karena merasa terhina dengan perkatan Shaka barusan yang mengatai dirinya bau naga. “Mulut lo tuh! Lebih bau mungkin dari gue karena omongan lo tuh selalu pedas.”
“Ini kita jadi lari nggak?” tanya Shaka tiadk menanggapi perkataan dari Dira, “ini udah mau jam tujuh dan kita masih di sini memperdebatkan hal yang sama sekali tidak ada faedahnya.”
“Yang mulai duluan siapa?’ tanya Dira.
“Lo lah yang mulai duluan.”
“Lo!”
“Lo!”
Pemilik café yang merasa terganggu semenjak kedatangan laki-laki itu, dan berdebat tentang hal yang sama sekali tidak berfaedah. Pemilik café itu adalah seorang laki-laki parubaya bertubuh tambun langsung keluar dari counter nya. Menghampiri muda-mudi itu yang masih berbedat tidak ada yang mau kalah. Dengan berat hati pemilik café itu meminta Shaka dan Dira untuk keluar.
“Kalian akan ribut di sini, sampai kapan?” tanya pemilik Café itu. Kedua orang itu pun langsung menoleh, dan menemjkan pemilik café sedang berdiri di belakang Dira. “Jujur saja itu menganggu para pengunjung saya. Sebaiknya kalo memang sudah tidak ingin berlama-lama di sini, kalian silahkan keluar.” Suara pemilik café itu tetap lembut, dan Dira sudah mengerti bahwa pemilik café ini mengusir ia dan Shaka secara halus.
Mereka berdua pun meminta maaf, dan langsung terburu-buru untuk keluar dari café. Sampai dari luar Dira langsung mencaci maki Shaka secara membabi buta. “Gue ngerasa malu tadi ditegur gitu sama pemilik cafe. Soalnya gue nggak pernah tuh lagi di tempat umum diusir kaya gini, karena gue anak baik nggak suka keributan kaya lo. Lo tuh yah bener-bener ya, Ka. Dari dateng kayanya cari masalah mulu sama gue, dan heran kenapa gue malah pengin deket sama lo.” Ketika Dira menyadari kalimat terakhir ia langsung menutup mulutnya, merasa bodoh berbicara seperti itu. Makin besar kepala si Shaka, “sori. Gue ralat kalimat gue terakhir, maksudnya gue makin gerah dekat sama lo.”
“Oke. Jadi nggak jadi lari nih?”
“Jadi!” Dira berjalan mendahului Shaka.
“Tadi katanya lo makin gerah deket sama gue, kalo kita lari berarti lo deket gue, kalo gue kalua atau gue menang kita berdua bakal tetap dekat. Sebenarnya lo masih mau dekat sama gue ya?”
Mendengar ucapan Shaka yang memang benar, Dira pun langsung berbalik badan. Memberikan tarapan seolah-olah kalo dirinya enggan untuk terus dekat-dekat dengan Shaka. “Itu perjanjian, dan perjanjian harus tetap ditepi. Yaudah lari nanti keburu malam.”
Shaka hanya memasang senyum misterius berjalan melewati Dira, “lo pasti kalah!”
“Shaka!” teriak Dira. Lalu ia mengikuti Shaka yang berjalan terlalu cepat. Shaka dan Dira berjalan ke dalam GBK untuk berlari memutari GBK.
***
Besok dalah hari kedatangan seseorang yang mungkin pernah membuat Timo Tahagia. Cinta pertama Timo, sahaabat Timo, dan juga mantan pacar Timo. Di dalam kamarnya Fida sedang mondar-mandir sambal memegangi ponselnya. Berusaha mencari alasan supaya ia tidak ikut ke Bandara untuk menjemput Elvira.
Akan tetapi, entah kenapa ia tidak menemukan alasan yang tepat untuk menolaknya. Kalau ia bilang ada kuliah yang tidak bisa ditinggal, besok adalah hari minggu. Kalua misalnya ia bilang sakit, pasti Timo akan datang ke rumah untuk memastikan kalua ia benar-benar sakit. Timo itu paham sekali kalau misalnya Dira sakit dan tidaknya.
Ponselnya bergetar tanda pesan masuk dari Timo, dan ia pun segara membukanya.
Timo
Untuk besok udah siapkan?
Fida pun langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjangnya. Ia rasanya ingin membalas dengan kata-kata seperti ini: Timo yang baik hati, kekasihku, pujaanku, bolehkah aku tidak perlu ikut ke Bandara utnuk menjemput Elvira sahabat kamu yang juga mantan kekasihmu.
Kadang kala memang sulit untuk mengungkapkan apa yang kita mau, dan tidak suka. Hanya karena tidak enak dengan orang tersebut. Hanya karena tidak enak dengan orang tersebut. Padahal itu hak kita untuk menolak atau tidak.
Pada akhirnya Fida pun membalas dengan kalimat yang sama sekali tidak ia inginkan.
Fida
Iya udah siap sayang.
Fida menutup wajahnya dengan bantal sambal berteriak kesal. Gue harus bisa nolak! Bodoh lo Fida. Fida pun langsung bangkit dari tempat tidur, berniat untuk memasak mie instan daripada ia overthinking sebaiknya masak mie instan yang membuat pikiran plong.