Flashback
Pertemuan dua insan itu untuk pertama kalinya terjadi di tahun 2018. Saat itu Fida baru pulang kantor sekitar jam delapan malam di luar sedang hujan lebat, ia pulang terlambat karena habis mengejar deadline dari atasan yang harus siap sedia di pagi hari. Untung saja Fida membawa payung kecil di dlaam tasnya meskipun hujan ataupun tidak. Kita kan tidak pernah tahu kapan hujan turun, apalagi sekarang sedang musim hujan. Payungnya memang tidak bisa meng-cover semua tubuhnya, setidaknya kepalanya masih terlindungi.
Suasana di lantai 8 sudah sepi Fida yakin di lantai yang lain juga sama pasti sudah sepi, karena ini sudah malam. Paling ada beberapa yang masih ada di kantor karena lembur. Fida pun memasuki lift begitu pintu lift terbuka. Lift dalam keadaan kosong jadi ia hanya sendiri di dalam lift. Saat lift berhenti di lantai 3 seroang laki-laki masuk ke dalam lift dengan wajah tanpa ekpresi alias datar. Laki-laki itu kira-kira tingginya 175 cm atau bahkan lebih. Wajah laki-laki yang kini berdiri tepat disampingnya itu campuan Chinesse-Indonesia. Laki-laki itu pun menekan tombol liftnya untuk bisa tertutup. Fida membalasnya, akan tetapi laki-laki itu tidak menjawab, Yasudah tidak apa-apa itu haknya untuk tidak membalasnya. Laki-laki itu turun di lantai yang sama dengan Fida. Mereka berdua turun sama-sama di lobi. Sampainya di lobi begitu pintu keluar laki-laki itu langsung keluar lalu diikuti oleh Fida. benar saja di lobi masih ada beberapa pegawai dari lantai lain yang sedang menunggu hujan reda.
Tadinya Fida tidak akan menunggu sampai hujan reda, karena seram juga di kantor sendirian tidak ada orang. Akan tetapi, niatnya ia urungkan saat ia sampai di lobi ia melihat ada beberapa karyawan yang menunggu hujan reda atau jemputan dari anggota keluarga mereka. Syukurlah Fida ada temannya.
Fida mencari-cari tempat duduk kosong, begitu melihat bangku di sebelah meja resepsionis kosong tidak ada yang menempati Fida langsung duduk di sana. Setelah ia duduk, Fida malah diam-diam melirik ke arah laki-laki itu. Entah kenapa ia jadi memperhatikan seseorang yang sama sekali tidak kenal. Laki-laki itu menoleh ke arah Fida. Cepat-cepat Fida membuang buka berpura-pura tidak melihatnya, dan langsung melihat ke arah lain. Padahal tanpa Fida ketahui kalau Timo tahu bahwa ia sedang memperhatikannya. Timo sempat sedikit tersenyum hanya sebentar, lalu ekspresinya kembali seperti sedia kala datar tidak ada ekpresi sama sekali.
Satu persatu pegawai yang sedang menunggu di lobi wisma Sejahtera pun mulai meninggalkan gedung wisma Sejahtera. Ada yang di jemput oleh keluarganya dengan mobil, ada yang di jemput taksi, bahikan ada yang nekat menerobos hujan dengan payung atau jas hujan yang mereka bawa. Kini tinggal tersisa mereka; Timo dan Fida.
Hujan pun perlahan mulai reda hanya menyisakan gerimis kecil rintik-rintik, walaupun begitun kalau tidak pakai payung akan tetap basah. Kalau menunggu sampai hujan benar-benar berhenti bisa-bisa sampai di rumah Fida sekitar jam 11 kasihan Tata di rumah seorang diri. Akhirnya ia pun memutuskan untuk pulang berbekal payung kecil miliknya yang selalu siap sedia kapapun di dalam tasnya.
Saat Fida hendak berjalan ke arah pintu keluar gedung wisma Sejahtera. Tiba-tiba tangan di pegang oleh laki-laki itu. Deg! Dia kayanya nyadar kalo yah gue perhatiin makanya dia sampe narik tangan gue, mau ngamuk-ngamuk sama gue. Fida berdoa di dalam hatinya semoga bukan karena itu, Fida tidak mau ribut dengan siapapun ia ingin hidup damai.
Fida menghentikan langkah kakinya, dan berbalik badan menghadapnya. "Maaf ada apa ya?"
Laki-laki itu tampak ragu untuk mengatakan sesuatu, sampai akhirnya ia berani mengatakan apa yang ingin diutarakan. "Lo pulang ke mana?" tanya laki-laki di depan Fida, kini posisi Fida sudah berhadapan dengan laki-laki itu.
Fida lega mengetahui bahwa laki-laki di depan tidak ada maksud menegurnya perihal ia yang tadi diam-diam memperhatikannya. Namun, tiba-tiba Fida langsung berpikir: apa maksud dari orang asing ini bertanya pulang ke mana? Ada maksud jahat kah? Atau diam-diam laki-laki ini sedang mengincarnya dengan cara menyamar jadi salah satu pegawai di sini, lalu pada saat ada kesempatan laki-laki itu langsung beraksi. Sekarang mungkin waktu yang tepat, untuk menculiknya atau merampoknya.
"Kalo boleh tahu kenapa Anda bertanya begini?" Fida sudah bersiap-siap untuk memukul laki-laki di depannya ini jika macam-macam atau berbuat pelecehan s*****l dengan payung yang ada di tangannya.
"Gue cuma mau nebeng payung lo," kata laki-laki tersebut sambil melirik ke tangan kanan Fida yang sedang memegangi payung. "Gue pulang naik bus, kalo lo memang ke bus juga. Gue mau ikut. Boleh nggak?"
Ternyata pikiran Fida salah besar. Laki-laki ini baik ia tidak bermaksud apa-apa ia hanya ingin menebeng."Gue sama kaya lo arahnya." Fida tersenyum setulus mungkin secara langsung senyumannya itu sebagai permintaan maaf karena sudah berburuk sangka kepada laki-laki di hadapannya. "mau bareng? Tapi, payung gue kecil. Nggak apa-apa?"
Laki-laki di hadapan Elvira menimbang; payungnya memang kecil percuma saja pasti kebasahan juga—setidaknya yang basah hanya bajunya bukan kepalanya. Kalau kepalanya baru itu bermasalah; ia akan merasakan pusing dan bisa-bisa besok ia tidak bisa bekerja.
"Oke. Nggak apa-apa. Payungnya biar gue pegangin." katanya.
Fida pun langsung memberikan payung kepadanya, "yuk kita balik. Kalau nunggu hujan benar-benar reda kita nggak bakal pulang-pulang."
Laki-laki itu pun mengambil payung dari Fida berjalan beriringan menuju pintu keluar gedung. Sampainya di luar gedung laki-laki berkacamata minus itu membuka payung Fida. Kini payung kecil itu sudah sempurna menaungi mereka dari air hujan. Meskipun baju laki-laki itu tetap basah, yang penting kepalanya tetap terlindungi itu sudah cukup.
"Lo kebasahan nggak?" tanya Fida sambil melirik ke arah baju laki-laki itu yang terkena cipratan hujan.
"Nggak apa-apa kebasahan dikit doang, ujannya nggak gede." Katanya meyakinkan Fida untuk tidak perlu khawatir. "Oh yah lo kerja di lantai berapa?"
"Lantai 6 paling atas." jawab Fida. "Kalo lo?" tanya Fida balik.
Laki-laki itu tidak langsung menjawab pertanyaan dari Fida ia melirik ke arah baju Fida yang kecipratan air hujan. "Lo jalan di depan gue deh," pintanya.
Fida menatap bingung pada laki-laki itu, "kenapa?"
"Biar lo tubuh ke cover sempurna sama payung." katanya.
Penilaian Fida tentang laki-laki ini yang menurut Fida terkesan dingin, dan tidak peduli dengan sekitar ternyata ia peduli juga. "Oke kalo gitu. Makasih yah."
"Sama-sama." Setelah Fida maju ke depan laki-laki itu memayungi Fida. Mereka kini berjalan berbaris. "Soal pertanyaan lo tadi, gue kerja di lantai 3. Oh yah nama lo siapa?"
"Fida. Kalo lo?"
"Panggil aja Timo."
Fida mengangguk, "Ohh di lantai 3. Salam kenal ya." kata Fida.
Timo tertawa kecil. "Lucu juga yah lo."
Fida bingung apanya yang lucu perasaan kata-katanya barusan tidak ada yang lucu sama sekali. "Emang lucu ya?"
"Iya lucu."
"Kenapa?"
"Lucunya kenapa ya?" tanya Fida.
"Kaya orang kenalan via dating apps." Timo tersenyum dengan memperlihatkan deretan giginya yang rapih.
Fida menoleh lalu ia tertawa, "eh iya benar juga ya."
"Lucu kan?"
"Banget!"
Fida sangat senang karena akhirnya ia menemukan laki-laki yang se-frekuensi dengannya, sama-sama punya selera humornya rendah. "Seneng banget gue!" kata Timo.
"Seneng kenapa?"
"Seneng ketemu lo, yang punya selera humor rendah juga kaya gue." Timo memajukan sedikit payungnya, dan ia tahu resikonya belakang kepalanya akan kecipratan air. Tapi, tidak apa-apa. "Gue kalo ngelawak suka di judge mulu ama temen-temen gue, 'kaya apa sih lo Tim. Nggak jelas.'"
"Sama banget gue juga. Ya, padahal hidup tuh seru tahu menertawakan hal-hal receh kaya tadi." Fida tersenyum tanpa Timo tahu, karena posisinya berada di depan Timo.
"Bener banget, Fida."
Tidak terasa dari obrolan itu mereka sudah sampai di halte bus. Fida bersyukur sekali hari ini walaupun hujan, ia tidak pertemukan dengan teman baru yaitu Timo. Fida masuk duluan ke dalam halte. Sementara itu Timo menutup dahulu payungnya Fida, sebelum di tutup ia mengibaskan payung supaya airnya turun dan tidak membuat payungnya rusak, baru setelah itu ia juga memasuki halte.
Setelah Fida men-tap kartunya lalu diikuti oleh Timo. Kini mereka sudah berada di dalam halte. "Lo pulang ke mana?"
"Bekasi."
Fida melotot terkejut. Rumah Timo jauh sekali; ia bertanya-tanya dari rumah Timo pulang jam berapa? "Jauh juga yah. Capek nggak?"
"Nggak kan kerja dapat uang."
"Iya juga yah Tim, bener sih." Fida menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Rumah lo sendiri di mana?" tanya Timo.
"Deket kok rumah gue. Cukup satu kali naik bus ini nggak perlu transit, sampe deh di rumah gue. Gue turun halte RS Pelita keluarga. Rumah gue tepat di belakang rumah sakit itu." Fida melihat ke arah bus yang sedang mendekat ke halte. "Itu bus kita sudah sampai."
Mereka berdua sama-sama bernafas lega karena mereka tidak perlu menunggu bus lebih lama. Karena memang halte Kenari Indah dikenal dengan busnya yang suka ngaret kalau datang. Mereka berebut masuk ke dalam bus dengan penumpang lain. Fida yang berharap bisa duduk saat berada di dalam bus harapannya pun pupus karena di dalam bus cukup padat. Mereka berdua berdiri di dekat jendela bus. Saling berdempetan dengan penumpang lain.
"Lo ini turun di mana?" tanya Fida.
"Stasiun, naik kereta ke arah Bekasi."
"Kereta lo kaya gini juga nggak? Dempetan gini."
Timo berdehem, "tentu saja lebih parah malah."
Fida mengangguk mengerti ia salut dengan Timo tetap semangat meskipun rumahnya jauh dari Ibu kota.
Fida mendengar suara getaran ponsel, dan itu berasal dari saku celana Timo bisa dilihat dari lampu ponselnya yang menyalah. "Kayanya itu ada telepon deh Tim."
Timo pun menundukkan kepalanya, tapi ia tidak berani mengangkat telepon karena sedang berada di bus—dan bisa dilihat suasana bus saat ini sedang ramai.
"Biarin aja Fid, itu paling telepon dari nyokap. Nanyain udah sampe mana. Bukan nggak mau angkat yah, takut ada copet gue gak berani. HP gue satu-satunya. Mau makan malam apa, gitu-gitu deh paling nyokap kalo nelpon." kata Timo.
Fida mengangguk mengerti. "Oh iya. Nanti kalo udah sampe di stasiun sebelum masuk kereta. Kabarin dulu mama lo ya."
"Iya!" ucap Timo.
Mereka berdua pun diam tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sepertinya mereka sudah terlalu lelah untuk berbicara lagi. Sekitar tiga puluh menit mereka berada di dalam bus, akhirnya mereka sampai di halte tujuan mereka Timo turunnya sama dengan Fida. Tapi, Timo tidak keluar halte dia harus transit naik bus lain yang ke arah stasiun.
"Fida ini payung lo." kata Timo sambil mengembalikan payung kecil milik Fida.
Fida yang tidak menyadari kalau payungnya sedari tadi di pegang oleh Timo, "oh yah payung gue. Sori nih, lo jadi pegangin payung gue. Thanks ya!" Fida menerima payung yang diberikan oleh Timo.
"Santai aja kali. Gue balik duluan yah." Timo berpamitan setelah ia memberikan payung kepada Fida.
"Oke hati-hati yah Timo." ucap Fida sambil melambaikan tangan.
Keduanya pun berpisah di halte bus tersebut tidak ada yang berharap untuk bisa bertemu. Timo seseorang yang sedang butuh payung dikarenakan hujan untuk sampai di halte, dan Fida orang yang memiliki payung tersebut. Kalau saja saat itu tidak hujan pertemuan ini tidak akan pernah terjadi mereka tetap dua orang yang sama—dua orang yang tidak mengenal satu sama lain. Dua orang yang berada di gedung yang sama, tapi tidak saling menyadari kehadiran masing-masing.
Akan tetapi, mereka lupa kalau sebenarnya pertemuan malam ini sebuh awal untuk kisah mereka. Kisah dua orang dengan latar belakang yang sangat jauh berbeda, tapi sang Maha Kuasa dan semesta merestui hubungan mereka—hubungan kedua orang yang memiliki keyakinan yang berbeda.
Jauh di lubuk hati masing-masing pertemuan pertama mereka sungguh berkesan; tapi pada saat itu mereka sama-sama tidak mau mengakuinya.