Timo yang awalnya diminta Fida untuk langsung pulang ke rumah, akhirnya membelot mengajak Fida untuk night ride keliling Jakarta. Dengan alasan bahwa ia ingin membuat pikiran Fida kembali fresh setelah bergelut dengan pekerjaan, dan kuliah. Memang selama satu minggu ini mereka berdua sama-sama sibuk dengan kegiatan masing-masing. Bahkan rasanya kepala mereka berdua mau pecah, maka dari kalau weekend yang mereka lakukan adalah me time dengan menonton film, atau tidur seharian di rumah.
Mereka berdua sedang berhenti berada di pom bensin; untuk mengisi bahan bakar karena bensin motor Timo tinggal sedikit lagi. Fida diminta untuk menunggu, tapi ia memilih untuk masuk ke mini market yang ada di pom bensin tersebut. Untuk membeli minum, dan beberapa camilan.
“Aku ke mini market dulu yah, kamu mau nitip apa?” tanya Fida kepada Timo yang masih mengantre dengan pengemudi motro yang lain.
“Minuman soda yah satu,” kata Timo.
Fida yang tahu banget kalau Timo minum soda pasti perutnya kembung, langsung menyemprotnya dengan suara lantang—yang membuat mengendara yang lain langsung melihat kea rah mereka, “kamu tuh yah Timo, susah banget sih dibilangin. Kamu harus berenti minum soda, kamu tau kan perut kamu sekarang nggak bisa kompromi sama minuman soda! Aku capek bilangin kamu, kalau kamu kenapa-napa gimana?!”
Tiba-tiba ada yang menyelutuk dari mengemudi ojek online yang baris tepat di belakang motor Timo, “mas sabar yah, perempuan memang suka gitu. Dia bawel karena dia sayang sama mas.”
Timo menoleh ke arah belakang, dan tersenyum. “Iya pak saya sabar kok.”
Fida tidak mempedulikan perhatian orang-orang terhadapnya, “kamu harus tetap minum air putih.” Fida pun langsung beranjak pergi dan masuk ke dalam mini market.
“Pacar lucu yah mas, udah pacaran berapa lama?” tanya bapak ojek online.
“Sudah hampir 4 tahun, pak. Doakan langgeng yah.” Timo meminta doa kepada bapak ojek online, dan pak ojek online mengaminkannya. Mereka berdua tidak mengobrol banyak, karena sudah giliran Timo mengisi bensin. Ia mendorong motornya untuk lebih maju ke depan dan mengisi bensin.
Sementara itu Fida sudah keluar dari mini market dengan membawa tentengan berisi dua satu botol air mineral, dan satu kaleng minuman soda untuk dirinya beserta beberapa camilan untuk mereka berdua makan jika ditengah perjalanan perut terasa lapar.
Timo sudah menunggu Fida di dekat pintu keluar pom bensin, Fida menghampiri Timo dengan senyum sumringah. Seperti seseorang yang baru saja mendapatkan lotre.
“Aku beliin kamu air putih, dan aku beli soda. Alhamdullilah yah aku punya perut yang sehat.” kata Fida sengaja mengejek Timo.
Timo langsung merebut kantong plastik dari Fida, “iya nggak apa-apa, daripada aku kena semprot nek lampir.”
Fida langsung melotot saat Timo mengatakan ‘nek lampir’ jadi Timo itu dendam gara-gara tadi ia berbicara sedikit berteriak. “oke aku pulang jalan kaki.”
“Yaudah sono!” kata Timo tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia langsung menyalahkan mesin motornya.
Punya pacar astagfirullah, kenapa nggak berusaha gitu untuk bujuk pacarnya buat nggak marah. Ini kenapa dibiarin. “Tim, benaran kamu mau ninggalin aku?”
“Katanya kamu pulang jalan kaki, yaudah sana gih.” kata Timo.
“Nggak jadi deh, yaudah sini helmku.” Timo langsung memberikan helm kepada Fida, lalau Fida segera memakainya di kepala.
Fida sudah naik ke motor Timo, dan Timo pun langsung menjalankan motornya. “Tim, kok kamu nggak kaya cowok lain sih? Ketika ceweknya ngancem gitu, langsung dirayu supaya nggak marah.”
“Aku bukan tipe yang seperti itu Fid; duh kamu kaya baru kenal aku sebentar. Lagian logikanya, mana mungkin kamu beneran mau jalan kaki. Aku biarin aja, toh nanti juga kamu bakal nyesel sendiri. Aku udah bisa nebak jalan pikiran kamu, Fid.” kata Timo.
Memang Fida harus banyak stock sabarnya punya pacar seperti Timo yang tidak ada romantisnya, tapi tidak apa-apa Fida lebih suka yang seperti ini. Timo apa adanya, sekalinya Timo melakukan hal yang romantis itu benar-benar membuat Fida terharu. Lagian kalau romantis terus kan membosankan yah.
“Kita mau ke mana?”
“Bawa ke mana pun kau mau, duhai padukaku.”
Timo langsung tertawa saat Fida mengatakan ‘padakaku’ mereka sedang di lampu merah, dan suasra tawa Timo mengundang perhatian para mengendara lain. Memang mereka berdua ini cocok yah, yang satu bikin malu di pom bensin, yang satu kalau ketawa tidak pernah bisa direm selalu menarik perhatian orang. Timo yang menyadari kalau orang-orang mulai memperhatikannya, ia langsung berhenti tertawa, dan berusaha tetap stay cool.
“Kamu kenapa alay si?” tanya Timo.
“Hah?” serius Fida tidak mendengar Timo bicara apa.
“Kamu kenapa alay?
“Apaan?!”
“KAMU KENAPA ALAY, FID.” teriak Timo, lagi dan lagi Timo mempermalukan dirinya sendiri, orang-orang langsung menengok ke arahnya. Dalam hatinya berkata, Tuhan aku ingin menghilang dari sini, bisa nggak? Kutuk aja aku jadi trotoar, malu banget ini. Duh kanapa lama banget sih lampu merah di sini.
“Tim, kita pura-pura nggak kenal yah. Anggap aja kamu tukang ojek aku,” kata Fida yang tidak mau merasakan malu seperti Timo.
“Kan, kamu yang buat aku begini, Fid! Kamu kenapa mendadak budeg, kesurupan setan buged kamu?” tanya Timo sedikit kesal.
“Yah maaf Tim, aku nggak kedengaran suara bising kendaraan mengalahkan segalanya.” jawab Fida tanpa rasa bersalah. Kini lampu merah sudah berubah menjadi hijau, dan akhirnya Timo terbebas dari tatapan orang-orang yang menganggapnya orang gila, terbebas menatap wajah orang-orang berusaha menahan tawa karena tidak enak menertawainya. Kalau ingin tertawa yah tertawa saja, tidak perlu ditahan-tahan begitulah kata Timo di dalam bantinnya.
Timo akan berkeliling di kawasan SCDB Jakarta, mengajak Fida makan di pinggir jalan seperti; ketoprak, mie ayam, bakso, pecel lele, dan masih banyak lagi. Mereka berdua memang sama-sama menyukai kuliner.
Baru setengah perjalanan perut mereka sudah keroncangan minta untuk diisi, di pinggir jalan mereka melihat ada tukang bakso malang. Timo mengajak Fida utnuk makan dulu. Tentu saja Fida menyetujuinya, siapa yang tega menolak ajakan makan. Mereka memesan dua porsi bakso malang; dengan menu yang sama bedanya hanya Fida pedas, dan Timo tidak.
Saat sedang asyik makan, Timo yang kadang pikirannya random pun langsung berkata, “Fida aku iri sama kamu.”
Fida terkejut dengan pernyataan dari Timo. Iri? Timo iri dengannya? Bukankah harus ia yang iri dengan Timo? Timo yang dari lahir sudah menjadi orang kaya, apa-apa yang dia mau mudah untuk digapai. Sekolah di sekolah terbaik, sedangkan Fida? Untuk meraih sesuatu ia harus berjuang dulu sampai berdarah-darah.
“Iri kenapa?” tanya Fida satu bakso kecil ke dalam mulutnya.
“Kamu dikangenin sama, Devin. Aku sebagi kaka kandungnya aja nggak pernah tuh dirindukan.” Timo menatap nanar bakso malang di mangkuk, padahal kan yah itu bakso adalah makanan, yang tak perlu diberi empati.
Fida mengusap-ngusap pundak Fida, “sabar yah Tim, anggap saja itu sebuah cobaan dari Tuhan yang Maha Kuasa,untuk menguji kesabaran Anda.” Fida menampilkan senyum meledek kepada Timo; andaikan Fida bukanlah kekasih, rasanya Timo ingin menyiram kuah bakso malang ini ke wajahnya.
Timo memanyunkan bibirnya, “aku juga bingung deh sama Devin, padahal nih kakak kandungnya itu aku yah, Fid. Tapi, ko yah dia lebih kangen sama kamu.”
“Kamu gimana sih, Tim.” Fida menaruh mengkuk yang tadi ia taru di atas telapak tangannya, ke bangku plastik berwarna merah di depannya. “Kalian itu, kan se rumah yah. Masa kangen sih.”
Timo menjelaskan apa yang dimaksud dari perakataannya kepada Fida, “maksud aku tuh yah, kalo misalnya aku pergi jauh gitu. Devin nggak pernah tuh chat aku kaya bilang kangen, dia chat juga paling mau nitip oleh-oleh. Ngeselin kan punya adik kaya gitu.”
“Sabar yah, Tim.” kata Fida.
“Sudah banyak sabar kok, kalo ditabung udah kaya nih aku.” kata Timo.
“Kan kamu memang sudah kaya, Tim” Fida menyebutkan itu memang sebuah fakta, kalau sudah kaya sejak ia lahir ke dunia.
Timo tertawa renyah, “eh benar juga yah, Alhamdullilah.”
Ketika Timo mengucapkan satu kalimat yang selalu Fida ucapkan saat ia berucap syukur atas segala sesuat yang ia terima, rasanya hangat sekali yah. Mungkin perasaan Timo sama seperti saat Fida mengucapkan Puji Tuhan.
Mareka berdua pun sudah menghabiskan masing-masing bakso malanngnya, dan mereka pun melanjutkan perjalanan menujut GBK (Gelora Bung Karno). Kata Timo, “Fid, GBK yuk. Nanti kita gangguin orang olahraga yang sambil pacaran.” Dan Fida mengiyakan itu dengan penuh semangat, karena Fida sendiri suka sekali menganggu orang yang pacaran.
Mungkin para kaum single akan terheran dengan tingkah berdua, mereka berdua kan pacaran yah, tapi kenapa harus gangguiin orang pacaran. Padahal yang seharusnya menganggu orang yang pacaran adalah para kaum jomblo.
***
Timo melihat tingkah kekasihnya setelah sampai di GBK; Fida berlari ke sana ke mari sampai orang-orang di sekitarnya menatap aneh. Tapi, Timo malah menganggapnya dengan Fida seperti itu ia terlihat gemas. Timo tidak akan melewatkan kesempatan ini, ia langsung memotret Fida dengan kamera ponselnya tanpa Fida sadari.
Fida berjalan menghampiri Timo yang sedang melihat hasil fotonya, dan Timo benar-benar baru menyadari kalau Fida imut, manis, dan cantik pokoknya. Beruntungnya ia memiliki Fida, tak akan pernah Timo lepaskan Fida.
“Kamu lagi sibuk ngapain, sih?” tanya Fida.
Timo langsung memasukan ponselnya ke dalam saku celanannya. Mungkin kalau Fida berpikiran negatif; Fida akan berpikir bahwa Timo habis chatting-gan bersama perempuan lain, tapi Fida tidak berpikiran seperti itu.
Fida merangkul tangan kekasihnya, “kamu hari ganteng banget yah , Tim.”
Timo yang punya rasa kepercayaan diri terlalu over berkata, “tentu saja aku ini tampan, dan tentunya kalau aku nggak tampan. Mana mau kamu sama aku.”
Fida mengelengkan kepalanya heran, kenapa yah pacarnya over banget percaya dirinya meskipun yang dikatakannya memang benarnya ada. “Iya deh biar cepat kelar, omomg-omong yah mana nggak ada yang olaharaga yah?”
“Emang nggak ada, paling orang pacaran. Kan sekarang sudah jam delapan, cantik.”
Cantik? What? Timo mengatakan ‘cantik’ kepada Fida barusan; jujur saja Fida sendiri pun tidak percaya. Karena, Timo jarang sekali memuji dirinya.
“Kamu nggak ke sambet setan, kan?” tanya Fida.
Mereka duduk di bawa lampu taman, sambil menghadap ke arah stadion GBK yang cukup luas, megah, dengan lampu yang berkelip-kelip mengeliling bangunan stadion.
“Kesambet cinta kamu, iya.” Timo mencubit pipi Fida.
Fida memang ingin sekali digombalin gitu sama Timo, tapi kalau kaya gini kok Fida malah merasa geli sendiri yah sama Timo. “Obat kamu habis, yah?”
“Aku nggak butuh obat, aku butuhnya kamu.”gombal Timo lagi.
Fida langsung menaruh tangannya di kening Timo, “kamu waras, Tim?” Sumpah! Fida tidak percaya bahwa kekasihnya bisa tiba-tiba gombal seperti.
“Waras kok, Puji Tuhan.” Jawab Timo santai, lalu ia mengluarkan ponselnya bermaksud untuk menunjukkan foto-toto foto Fida yang tadi ia take.
Fida tertawa terlalu keras, karena melihat foto yang di ambil oleh Timo sama sekali tidak ada yang benar, mulai dari Fida yang mengap, bibirnya monyong, tangannya seperti orang ingin berenang, dan segala macam pose. Fida meminta Timo untuk tidak menghapus ia malah meminta Timo untuk mencuci fotonya. Tentu saja, Timo menyetujui permintaan Fida.
Mereka sudah puas berkeling kota Jakarta, mulai dari keliling sekitar SCBD, Ragunan, Blok M, Lebak Bulus, dan Kuningan. Mereka pun melakukan ritual mereka mengobrol tentang apapun di GBK, padahal niat awal mereka adalah menganggu orang olahraga sambil pacaran ternyata yang olahrganya sudah tidak ada.
“Kamu inget nggak, waktu itu kamu pergi ke puncak sama keluarga aku?”
“Iya aku inget. Seru banget itu.” kata Fida dengan antusias.
“Bukan serunya, Fid.”
Fida pun berpikir kalau bukan karena serunya, lalu karena apanya? Padahal memang seperti itu faktanya. Bahwa pergi bersama keluarga Timo memang menyenangkan, dan Fida merasa punya keluarga kamu.
“Terus apa dong?” tanya Fida.
“Waktu kamu mabuk perjalanan.” Timo mengingat moment di mana Fida yang pada awalnya ceria, mengikuti nyanyian dari radio mobil Timo, tapi ditengah perjalanan Fida memuntahkan semua isi perutnya. Sampai dashboard mobil Timo terkena cairan muntah dari Fida. Untung saja pada saat itu mereka tidak satu mobil dengan keluarga yang lain, kalau tidak Fida pasti malu banget.
“Maaf yah Timo, soal itu. Aku nggak bermaksud seperti loh, nggak tau nih kenapa nggak bisa banget diajak naik mobil.” Fida menyadarkan kepalanay di bahu Timo, “maaf yah Tim, aku emang suka banget ngerepotin orang.”
Timo sebenarnya tidak masalah dengan Fida seperti itu. Ia menerima segala kekurangan, dan kelemahan yang Fida miliki. Termasuk Fida yang suka mabuk perjalanan, “iya nggak apa-apa kok. Kamu juga tau kan, aku nggak masalah selama ini. Kalo aku nggak sayang kamu, kemarin pas ke puncak kamu udah aku buang di jalan tol.”
Fida langsung mencubit lengan Timo, dan Timo mengaduh kesakitan. “Tapi, makasih yah Tim. Aku bangga punya pacar kaya kamu.”
“Aku pun yah, Fid.” Timo mencium kening Fida, “aku tuh yah sampai bersihin bekas muntah kamu, sangking sayangnya aku sama kamu Fid. Tega banget kalo kamu ninggalin aku mah. Bisa galau bertahun-tahun aku.” kata Timo.
Fida menatap wajah Timo dengan tatapan, Fida sangat bersyukur dengan apa yang ia miliki sekarang, termasuk memiliki Timo sebagai pacarnya. “Sayang, aku makasih banget yah sama kamu. Kamu baik banget, aku beruntung banget Tuhan mempertemukan kita.”
“Iya sayang,” jujur saja yah, selama pacaran mereka jarang sekali manggil sayang. Rasanya kalau sekarang manggil sayang itu luar biasa banget. “Memang kamu beruntung banget punya aku Fid, aku ini ganteng, baik, nggak neko-neko, pintar, dan kaya. Nggak cuma…” belum melanjutkan kalimatnya, karena Fida menaruh jari telunjuknya di bibir Timo.
“Kepercayaan diri kamu memang too much,” kata Fida. “Eh, tapi yah Tim. Apa yang kamu bilang fakta, jadi yaudahlah yah. Aku jadi kangen opor ayam mama kamu, gimana kabar mama sehat?”
“Mama sehat, Fid. Hayuk makannya cepet ke rumah sekalian jenguk Devin.” kata Timo.
“Oh yah Tim, aku mau beliin Devin sesuatu, kamu ada saran nggak?” tanya Fida.
Timo meletakkan jari telunjuknya di dagu berpikir kira-kira hadiah apa yang cocok untuk adiknya. Sayangnya, entah kenapa otaknya nge-blank kalau disuruh mikir hadiah bukan untuk dirinya, kalau untuk dirinya pasti Timo berpikir lebih cepat maunya apa. Sebenarnya ada sih, satu ide yang muncul di kepala Timo, mainan, dan mainan Devin sudah banyak di rumah. Kalau makananan Devin tidak boleh makan sembarangan. “Aku nggak ada ide sama sekali nih, Fid. Untuk hadiahnya Devin, menurut kamu apa hadiah yang bagus untuk Devin?”
Fida juga sebenarnya bingung mau membelikan Devin apa, “gimana kalau aku bawaiin Devin buku anak-anak aja yah, supaya dia baca buku gitu. Biar nggak main game, aku nggak Devin kaya kamu masih muda sudah berkacamata.”
“Kamu juga berkacamata, Fid.” kata Timo.
“Nah, makanya itu aku nggak mau genarasi penerus kita berkacamata. Walaupun aku kalau lihat yang berkacamata suka, apalagi cowok jadi tambah ganteng. Tapi, kata Dira cowok berkaca mata kebanyakan b******k, Tim.” Dira memang sempat dekat dengan beberapa cowok yang berkacamata, dan semuanya b******k tukang ghosting.
Timo benar-benar tiak memperhatikan Fida sedang bicara apa, entah kenapa di bawah cahaya lampu taman GBK hari ini Fida terlihat lebih cantik. Ke mana saja dirinya selama ini? Kenapa ia tidak menayadari bahwa pacarnya sangat cantik. Fida itu perempuan imut yang pernah Timo temui, rambut pendeknya yang dipotong model bob, pipinya yang chubby, rasanya Timo ingin mencubit pipi Fida terus-terusan.
“Hah? Kamu ngomong apa?”
Fida kesel dengan Timo; dia sudah bicara panjang kali lebar, ternyata tidak ada satu pun omongannya yang masuk. “Kamu pikirannya lagi ke mana sih?”
Pikiran aku lagi tenggelam dalam kecantikanmu, kata Timo dalam hati. “Maaf aku lagi nggak konsen. Biasa lelah, kan habis bekerja, dan menghabiskan waktu bersama kamu.”
“Yaudah, nggaak ada pengulangannya.” kata Fida.
“Iya terserah.” kata Timo, Timo lebih senang memandangi kecantikan Fida.
Timo pikir Fida akan protes, saat dia mengucapkan, ‘terserah’ ternyata tidak bersyukur sekali mood-nya Fida hari ini sedang baik.
“Sebelum pulang, nanti anterin aku ke supermarket yah. Untuk beli bahan-bahan bikin puding, aku mau buatin puding buat Devin.” Fida melirik arlojinya, sudah menunjukkan pukul setengah 10 malam. “Besok aja deh kita pulang kantor yah, Tim. Ini udah malem sebaiknya kita pulang, aku nggak mau kamu kenapa-napa di jalan.”
“Buat kamu, apa sih yang nggak Fid. Yuk sekaran aja.” Timo langsng bangkit dari duduknya, mengulurkan tangan ke Fida. Akan tetapi, Fida tidak maraihnya karena kesal dengan Timo yang keras kepala.
“Kamu tuh keras kepala yah.” Fida masih dalam posisi duduk, sambil bersidekap. “Ini udah malam Tim, kamu sebaiknya pulang. Nanti kalo kamu kenapa-napa, kamu kecelakaan, yang sedih siapa? Aku, orang tua kamu, dan Devin. Jangan ngeyel kalo dibilangin. Bisa nggak sih, sekali ini aja kamu nurut.”
Timo hanya tersenyum melihat kekasihnya ini marah-marah begini; Timo malah menyukai saat Fida seperti ini. Bukannya risih malah ketagihan, soalnya ekspresi Fida saat marah-marah itu lucu banget. Timo langsung duduk kembali di samping Fida, “yaudah jangan marah-marah gitu yah, yaudah yuk kita pulang.” Timo mencubit pipi Fida. “Kamu kalau marah-marah gini kenapa gemesin yah, Fid. Jadi, pengin dimarahin terus sama kamu, Fid.”
“Lepasin cubitan kamu, sakit tau!” Fida menarik tangan Timo dari pipinya. “yaudah ayuk pulang!” Fida bangkit dari bangkunya, begitu pun dengan Timo.
“Kamu jangan ngambek yah, entar diparkiran aku tinggal loh.” kata Timo seraya merangkul bahu Fida.
Fida reflek langsung mencubit perut Timo, sambil memegangi perut Timo mengaduh kesakitan. “Kamu tuh yah, nggak sweet-nya sama sekali.”
“Sweet peremen kali ah.” jawab Timo.
Meeka berdua pun langsung tertawa, dan suara tawa mereka lagi-lagi mengundang perhatian orang-orang di sekitar mereka, sampai di parkiran pun mereka tetap tertawa dan tetap jadi perhatianl.
Mereka berdua memang pasangan yang benar-benar serasi dalam segi apapun, tapi satu yang membuat mereka tidak serasi. Cara mereka beribadah, dan harapan Fida dalam doanya tetp sama. Semoga hubungnnya dengan Timo berjalan baik. Meskipun sampai sekarang Fida belum menemukan bagimana caranya mempersatukan mereka dalam hubungan yang lebih serius.