Hari sabtu telah tiba; Fida yang biasanya kalau hari sabtu seharian ia gunakan kegiatan hanya untuk rebahan kali. Untuk hari sabtu sekarang Fida bangun lebih pagi, dan kini ia sedang mematut dirinya di cermin memastikan bahwa penampilannya sudah oke. Karena hari ini ia akan bertemu dengan Timo sekaligus calon mertuanya doakan saja bahwa hal itu akan menjadi kenyataan di masa depan nanti. Ya, hari ini Fida akan pergi ke rumah Timo untuk bertemu dengan Devin adik Timo, dan juga orang tua Timo. Meskipun Fida tahu bawah hal itu tidak akan mudah, tapi ia percaya pasti akan ada jalannya jika niatnya lurus.
Setelah ia rasa penampilannya sudah oke, dan terlihat cantik setidaknya di depan Timo, ia langsung mengambil ponselnya untuk mengirim pesan kepaad Timo, untuk bertanya sudah ada di mana kekasihnya itu.
Fida
Tim di mana?
Pake motor kan?
Fida sebagai manusia yang memiliki tipe yang tidak bisa naik mobil kecil; kalau bus ia bisalah menahan untuk tidak muntah. Akan tetapi kalau minibus ia tidak bisa di tahan, apalagi kalau pewanginya wangi jeruk. Kalau wangi yang lain masih bisa ditahan, tapi kalau sudah sampai pasti langsung muntah. Daripada merepotkan orang memang sebaiknya naik motor.
Akan tetapi, tidak ada balasan dari Timo mungkin kekasihnya itu sedang di jalan—jadi ya mustahil kalau ia membalas pesan darinya pada saat sedang menyetir mobil. Ia pun memutuskan untuk menunggu di ruang tamu rumahnya, Fida keluar dari kamarnya untuk turun ke bawah.
Adik perempuan Fida satu-satunya yang terlihat tomboy itu keluar dari kamarnya dengan wajah baru bangun tidur, "wih mau ke mana nih kakak gue yang cantik?"
"Ketemu pacarlah. Emang kamu nggak punya pacar." kata Fida sambil melewati adiknya itu dan ia langsung ke ruang tamu duduk di sana. Kamar Tata memang letak tepat di sebrang ruang tamu.
"Di jemput pake apa?"
"Motor paling."
Tata yang tadi berdiri di depan pintu kamarnya pun menghampiri kakaknya duduk berhadapan dengan kakaknya. "Feeling gue mobil sih." Tata paham sekali kalau kakaknya ini tidak bisa naik mobil karena selalu mabuk.
"Kok doa kamu jelek?"
"Bukan doanya jelek sih, tapi kan dia mau jemput lo ke sini mau ke Bekasi. Bekasi itu jauh lo, gak mungkin naik motor p****t dia mau panas?"
Benar juga apa yang dikatakan oleh Tata, kenapa dirinya tidak kepikiran sampai ke sana ya.
"Kok kakak nggak mikir sampai ke sana ya, Ta?"
"Siap-siap aja dulu itu fresh care yang banyak untuk persiapan," Tata bangkit dari tempat duduknya ia berniat untuk pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih. "Sama plastik ka." kata Tata sambil berlalu pergi.
Jadi ingat janji Timo waktu mereka akan pergi dinner ke restoran ternama di Jakarta. Timo awalnya bilang akan membawa motor, tapi kenyataannya malah membawa mobil. Fida pada saat itu kesal dengan Timo yang menetapi janjinya. Baru saja Timo sampai di depan rumah Fida, keluar dari mobilnya lalu menghampiri Fida di depan pintu dengan pakaian yang sudah rapih.
"Kamu kok bawa mobil!"
Timo tahu dari nada bicara Fida, Fida itu sedang marah dan kesal. Timo pun berusaha untuk menjelaskan kenapa ia membawa mobil. "Biar aku jelasin yah, Fid."
"Kamu.. ya Tim!"
"Kamu bisa kasih aku waktu untuk jelasin?"
"Kenapa kamu bawa mobil?" tanya Fida.
"Motor dipake sama papa." jawab Timo dengan jujur. Timo menjelaskan kenapa ia membawa mobil karena memang motornya dipakai oleh Sumarno, papanya. Ayahnya itu sedang bosan menggunakan mobil tidak bisa melihat pemandangan ibu Kota katanya, dan tipe adalah tipe anak yang tidak menolak permintaan orang tua. Ia pun mengiyakan, meskipun ia tahu resikonya kalau ia akan dimarahi Fida.
Setelah mendengar penjelasan dari Timo yang sebenarnya Fida pun melunak, Fida juga tidak suka kalau kekasihnya itu sampai melawan orang tuanya.
"Yaudah nggak apa-apa. Tapi, kamu nggak apa-apa?"
"Memangnya aku harus kenapa-napa ya?" tanya Timo bingung.
"Aku kan selalu ngerepotin kamu kalah naik mobil Tim, aku sering muntah. Mobil kamu nanti kotor, dan kamu nyuci mobil lagi kaya waktu itu kita dinner. Aku ini kampungan."
"Ko kamu ngomongnya gitu sih?" Timo tidak memperkarakan soal Fida yang suka mabuk di mobil. Tidak masalah baginya jika ia harus membersihkan bekas tempat muntahan Fida. "Aku nggak masalah kok Fid, kamu nggak usah pikiran aneh ya." Timo menarik tangan Fida lalu membawanya kepelukannya. "Kalo kamu ngerasa pengin muntah nanti pas di mobil aku udah nyiapin banyak plastik, dan fresh care khusus buat kamu."
Fida melepaskan pelukan Timo dengan lembut, "makasih yah Timo, kamu baik banget sih jadi pacar."
"Baru nyadar yah kamu?"
"Iya emang baik kamu, sayang."
Fida hanya menanggapinya dengan senyuman mereka pun akhirnya jadi berangkat pergi dinner dengan naik mobil. Pada akhirnya Fida tidak mabuk di mobil, melainkan di restoran tempat mereka dinner sampainya di restoran Fida langsung pergi ke toilet untuk memuntahkan segala sesuatu yang ada diperutnya yang sejak di mobil ia tahan-tahan.
Tata yang terkenal kalau mandi itu kaya bebek, sudah kembali dari kamar mandi dan ia menatap kakaknya aneh, karena senyum-senyum sendiri padahal tidak ada siapa-siapa.
"Ka lo kenapa? Kesambet?"
Suara adiknya itu pun lagnsung membuyarkan lamunannya ia menatap adiknya itu sini, dan langsung mengomentari waktu mandinya. "Mandi cepat amat?"
"Ngapain lama-lama. Gue mahngak mandi juga cakep."
"Pede gila kamu!'
"Emang gue cantik lo nggak mau mengakui ya?" ujar Tata dengan berkacak pinggang.
"Terserah." kata Fida.
Suara deru mesin mobil memasuki halaman rumah Fida; Fida sudah bisa menebak kalau itu mobilnya. Sipaa lagi kalau bukan Timo yang tiba-tiba masuk ke dalam halaman rumah Fida.
"Tuh kan gue bilang apa, Ka Timo pasti bawa mobil. Selamat bertarung kakakku sayang." kata Tata meledek kakaknya. Ia pun langsung pergi ke kamarnya karena biar bagaimana pun ia tidak mau jadi obat nyamuk kakaknya.
Bunyi bel rumahnya pun berbunyi ia pun cepat-cepat untuk menghampiri Timo sambil memasang wajah yang cemberut. Karena Timon mengikari janjinya. Katanya mau bawa motor malah bawanya mobil.
"Hallo udah siap?" tanya Timo setelah Fida membukakan pintunya.
"Udah." jawab Fida sekenanya. Lalu ia berjalan mendahului meninggalkan Timo yang masih berdiri di depan pintu rumahnya sambil menatap Fida yang sedang marah, Timo tahu kalau dia salah.
"Kamu marah?" Timo kini sudah berada di belakang Fida.
"Iya."
"Karena aku bawa mobil?"
"Iya."
"Maaf ya, aku bisa jelasin." kata Timo sambil membuka kunci mobil dengan menakan tombol yang ada di kunci mobil. "Aku nggak tega kalau bonceng kamu pakai motor dari Jakarta ke Bekasi itu jauh banget."
"Kamu mau nyiksa aku ya?" Fida berbalik badan menghadap Timo, "aku kalau muntah itu pasti ujung-ujungnya jadi lemas.
"Aku tanggung jawab. Aku udah ada fresh care di dalam lengkap dengan kantung plastik." Timo mengusap puncak kepala Fida dengan tangannya. "Jangan marah gitu ya, cantiknya nanti ilang." kata Timo. Timo pun membukakan pintu untuk mobil untuk Fida. "Pengharum ruangannya udah aku ganti bukan yang jeruk lagi, tapi yang lavender." Timo tahu kalau pengharum ruangan wangi jeruk itu bisa membuat kekasihnya itu mual-mual.
Fida pun langsung masuk ke dalam mobil dengan hidungnya ditutup. Timo pun menyusul duduk di kursi kemudi.
"Kamu mau cemberut aja giti sampe di rumah ketemu orang tuaku?"
Fida masih diam saja tidak merespon.
"Fid, jangan marah ya? Please maafin aku ya. Sedih kamu cemberut begini."
Fida yang sok-sokan marah pertahanannya pun runtuh seketika. Ia pun tertawa, "prank."
Timo hanya menjawab, "nggak lucu!"
Timo pun langsung melajukan mobil pergi meninggalkan rumah Fida menuju Bekasi yang jaraknya cukup jauh, tapi bagi Timo kalau perjalanan bersama Fida lebih menyenangkan dan tidak membuatnya stress.
***
Fida sampai di rumah Timo dalam keadaan pusing, tapi tidak mual karena ia terbantu oleh fresh care. Akan tetapi, ia harus tetap bersikap profesional di depan calon mertuanya nanti.
"Kamu oke?" tanya Timo pada saat berjalan menuju pintu rumahnya.
"Oke kok." kata Fida.
Timo pun menekan bel rumahnya tidak lama kemudia Aminah pun membukakan pintu untuk Timo dan Fida. Hari ini di rumah hanya ada Aminah dan Devin sedangkan Sumarno—Papa Timo sedang keluar kota untuk mengurusi bisnisnya.
Aminah tersenyum menyambut Fida—yang sudah ia anggap sebagai anak perempuannya sendiri karena memang Aminah tidak punya anak perempuan. Aminah mencium pipi kanan dan kirim Fida menyuruh untuk masuk. Wanita paruh baya itu sudah memberi tahu Fida kalau hari ini ia masak yang lumayan banyak, karena Aminah excited sekali akan bertemu dengan Fida karena sudah lama tidak bertemu.
"Kamu udah sarapan belum, Fid?" tanya Aminah.
Kini mereka sedang berada di dapur. Padahal Aminah sudah meminta Fida untuk menunggunya di luar ruang tamu saja, tapi Fida memaksa untuk membantunya di Dapur. Fida tidak bisa jika hanya berdiam diri tidak membawa apa-apa. Sementara itu Timo sedang
di ruang TV—bermain PS dengan Devin.
"Udah tan, tadi pas di jalan sempat berhenti untuk makan
bubur ayam sama Timo." kata Fida menolak halus.
"Yaudah kalo gitu," Aminah memasukan potongan buah
mangga ke dalam blender, sementara Fida menyiapkan gelas dan es batunya.”Tante ini ses batu sama gelasnya udah disiapin ya.”
"Nanti makan siang di sini ya, tante udah masak banyak khusus ada kamu nih." Aminah sangat begitu bersemangat berada di dalam dapur.
"Tante makasih banyak yah. Ya, Fida di sini sampe sore kok." Fida memeluk Aminah sebentar, lalu memasukan es batu ke dalam blender. Ia menakan tombol on pada blender dan blender pun berputar menghaluskan potongan buah mangga beserta es batunya.
"Sama-sama ya sayang. Baik-baik ya kamu sama Timo, semoga hubungannya langgeng."
"Aamiin." Setelah jus mangga jadi Aminah memasukan ke dalam gelas yang sudah di taruh dia atas nampan, dan Fida langsung membawanya ke ruang TV. "Tan aku bawa ya, makasih yah."
"Tante yang makasih, udah dibantuiin."
"Sama-sama tante." Fida pun langsung pergi ke ruang TV sambil membawa nampan berisi tiga gelas jus mangga. Sampainya di ruang TV kakak beradik sedang bertanding sepak bola di layar televisi jari-jarinya b***k di atas stick PS. "Kalian seru banget deh. Nih minum dulu jus buatan ka Fida."
"Ka Fida jangan ngomong Devin jadi nggak konsen." Kata Devin protes.
"Yaudah kakak diem deh." Fida pun duduk bersandar di tembok sambil memperhatikan adik dan kekasihnya itu sedang bermain PS. Ia jadi merasa seperti obat nyamuk di sini. Tak tahan menjadi obat nyamuk ia pun langsung bersuara."Devin katanya kangen sama ka Fida."
"Iya," jawab Devin seadanya pandanganya tetap fokus pada layar.
"Ka Fida kok dicuekin sih?" kata Fida.
"Maaf ka." jawab Devin polos."Yah.. kalah deh aku." kata Devin lalu ia menaruh stick PSnya tidak mau bermain lagi. Ia langsung menghampiri Fida dan memeluknya.
"Aku kangen ka." Seteleh memeluk Fida Devin langsung duduk dipangkuan Fida, "kenapa Kaka jarang ke sini. Putus yah sama ka Tim? Ka Tim jahat yah sama kakak."
Timo pun bersuara untuk membela dirinya, "nggak Vin, kaka mana bisa sih bikin sedih ka Fida."
"Kakak bohong." kata Devin
"Lah," kata Timo ia bingung kenapa ini adiknya malah menuduhnya. Padahal ia sudah mengatakan pada Devin kalau akhir-akhir ini Fida sibuk. "Kakak kan udah cerita."
"Kaka bohong ya?" Devin malah sengaja membuat kakaknya kesal.
"Devin!!!" Timo menghampiri Devin menggelitik perut adiknya sampai adiknya itu tertawa, begitu pun dengan Fida.
Bagi Fida rumah Timo adalah rumah keduanya, keluarga keduanya. Tempat ia pulang ketika diirnya merasa sepia tau butuh seseorang untuk mendengarkannya.
Kedua orang tua Timo sudah menganggap Fida sebagai anak mereka; Fida jadi merasa punya kedua orang tua lagi. Fida bersyukur Tuhan telah mempertemukan ia dengan Timo dan keluarganya. Hutang Fida untuk menemui Devin pun sudah lunas, Devin sangat senang ketik Fida membawakan buku anak-anak untuknya. Devin pun langsung membawanya ke kamar, dan membaca di sana tidak boleh diganggu gugat
oleh siapapun.
Fida pun diam-diam memotret kebersamaan Timo dan Devin, lalu ia jadikan profile picture w******p nya. Devin itu anak yang baik, dan Fida sudah menganggapn Devin sebagai adik kandungnya rasa sayangnya sama seperti ia kepada Tata.