"Ka?!" panggil Tata kepada kakanya yang hendak berangkat bekerja. Tata membawakan sekotak bekal yang ia buat. Tata paham bahwa kakanya itu sedang tidak baik-baik saja, hanya saja kakanya belum siap untuk bercerita kepadanya. Maka dari itu pagi-pagi sekali Tata bangun lebih awal untuk menyaiapakan bekal yang akan dibawa oleh kakanya.
Fida yang hendak membukakan pintu pun tidak jadi, "iya Ta? Uang jajan kamu belum kakak kasih?" tanyanya.
Tata menyerahkan kotak bekalnya kepada kakaknya itu, "gue tau lo lagi nggak baik-baik aja. Gue ngeliat waktu malam kemarin lo lagi ribut sam aka Timo. Sebagi adik yang baik gue berinisiatif untuk membuatkan bekall, buat lo."
Fida terkejut melihat adiknya yang biasanya seperti monster kita berubah menjadi bak malaikat dari negeri dongeng. Andaikan Tata setiap hari seperti ini pasti hidupnay akan berwarna. "Wah, terima kasih adikku yang cantik. Nanti pulang kerja mau dibeliin apa?" tanya Fida.
"Nggak perlu. Tapi, lo punya utang." kata Tata.
"Utang apa?"
"Utang cerita."
Fida mengelus pipi adiknya itu dengan lembut, "iya nanti kakak cerita yah. Ini bekal kakak bawa, makasih yah. Kakak berangkat kerja dulu yah." Fida mencium kening Tata.
"Dah ka!" kata Tata.
Fida menoleh sebentar ke arah adiknya tersenyum dan melamabaikan tangan.
***
Saat Fida berada di dalam lift kantor ponsel bergetar. Panggilan masuk dari seseorang yang masih membuat Fida kesal. Siapa lagi kalau bukan Timo, kekasihnya.
Fida : Halo?
Fida menajwab teleponnya dengan malas. Serius kalau Timo menelponnya hanya untuk mencari masalah lagi lebih baik tidak usah, tapi kalau mau menyelesaikan masalah oke silahkan.
Timo : Nanti makan siang bareng yah. Cuma berdua aja yah, aku lagi nggak mau cari masalah. Aku mau kita menyelesaikan masalah kita. Aku kangen.
Fida keluar dari lift dengan ponselnya yang masih menempel ditelinga. Syukurlah Timo tidak ingin mencari masalahnya, ia ingin menyelesaikan masalah. Serius malas Fida jika harus ribut hanya masalah sepele. Padahal malam itu Fida berpikir akan menjadi malam yang spesial dalam rangka merayakan ulang tahun Timo.
Fida : Oke!
Fida hanya menjawab sekenanya saja, karena ia masih merasa kecewa dengan Timo. Fida pun langsung menutup telepon, memasukannya kembali ponsel kedalam tasnya lalu masuk ke dalam kantornya.
Ini masih pukul 08:35. Tentu saja kantor masih sepi hanya ada OB yang sedang membersihkan pantry dan menglap meja karyawan.
"Pagi mba Fida!" sapa pak Siji.
Fida menaruh tas di atas meja, lalu tersenyum ke arah pak Siji. "Iya pagi pak."
Fida pun membuka kotak bekalnya. Saat membuka kotak bekalnya ia melihat menu makan siang yang mengiuarkan. Ikan teri balado, kangkung, dan tempe goreng. Itu adalah makanan Favoritenya. Fida menutup kembali bekalnya itu, dan mulai mengerjakan pekerjaan supaya selesai lebih awal.
Tidak lama kemudian Dira datang. "Wih anak rajin mah beda yah belum mulai jam kerja, udah kerja duluan. Loyalitas tanpa batas."
Fida hanya menanggapinya dengan tertawa, ia tetap mau fokus.
"Eh, Fid! Lo tau nggak?" kata Dira seperti mau mengajak bergibah ria.
Fida yang sudah meyakinkan diri untuk tetap fokus pada pekerjaannya buyar sudah kalau Dira sudah berbicara begitu. "Apaan emang?"
"Gue ketemu Timo."
Fida yang sambil mengetik. Tarian jarinya di atas keyboard pun berhenti seketika. "Iya terus?"
Dira memasang muka senang sekaligus iri, "Dia bilang gini ke gue, Dir bikin Fida seneng terus yah hari ini. Nggak mau gue liat dia sedih, lo kan teman baiknya gue percaya sama lo." ucap Dira dengan nada dibuat-buat. "Gue iri!" tambahnya sambil mengerutu.
Fida yang masih kesal dengan kelakuan Timo yang kemarin malam itu, hanya menjawab. "Ohh." Ekspresinya tetap datar, dan kembali fokus dengan komputernya.
"Lo kenapa begitu ekspresinya?" Dira heran. Dia sebagai sesorang yang parkir keromantisan pun tidak mengerti kenapa ekspresi sahabatnya biasa-biasa saja.
"Lagi nggak mood." jawab Fida seadanya.
"Ah bohong banget deh!" Dira tidak percaya begitu saja. "Lo lagi berantem yah sama doi?"
Fida pun terbatuk-batuk mendengar pernyataan dari Dira, Dira sebagai sahabat itu memang tidak pernah salah tebak, apa yang dikatakannya tepat sekali. Fida hanya diam tidak langsung menanggapi, lalu Dira melanjutaknya kalimatnya. "Tumben banget berantem, lo berantem kenapa?" tanya Dira.
"Gue lagi kerja ya Dir, bisa nanti aja nggak ngomongnya." kata Fida. Sebenarnya ia bisa saja cerita sekarang, tapi nanti saja tunggu hasil dari pembicaraan ia dengan Timo nanti pada saat makan siang bersama.
"Iyaudah kalo nggak mau ceritanya." Dira tidak akan memaksa sahabatnya untuk certia sekarang juga, kalau ia memaksa yang ada nanti ia malah di amuk oleh Fida, ihh serem. "Gue mening dengerin musik adaja deh, sambil kerja. Jadi, kalo nyemprot gue, gue nggak kedengeren." Dira pun memasang earphone di kedau telinganya lalu mulia bekerja.
Yasudah bagus memang sbeaiknya untuk saat ini ira diam. Jjur saja Fida tidak suka kalo misalnya ia dipaksa untuk cerita, di mana dirinya sendiri pun belum siap.
***
Saat jam makan siang tiba Fida langsung bergegas pergi menuju lift, megabaikan pangiilan dari Dira yang mengajak untuk makan sisnb bersama. Fida memasuki lift, sebelum jam makan siang Timo mengirimi pesan bahwa ia menunggu Dira di Lobby utama. Fida tidak membalas pesannya ia hanya membacanya semoga saja benar Timo menunggunya.
Sampainya di Lobby saat pintu lift terbuk Fida meihat kekasihnya sedang duduk di dekat bangku resepsionis, sedang menatap layar posnelnya dengan gelisah. Timo yang mendengar suara ting dan pintu lift terbuka, ia menengadahkan kepalanya. Ia tersenyum kepada Fida, dan Fida hanay membalasnya dengan wajah datar.
"Kita mau makan di mana?" tanya Fida tanpa melihat wajah Timo. Ia masih belum ingin menatap wajah kekasihnay itu seperti biasa. Meskipun jauh di lubuk hatintya ika merindukan Timo.
Timo memaklumi sikap keksihnya itu. Karena sikapnya malam itu benar-benar keterlaluan, entah dia sendiri bingun pada idirnayu sendiri kenapa ia beriskap seperti itu. "Kita makan di cafe sebrang aja ya, soalnya aku lagi pengin makan nasi goerengnya." Timo berusaha bersikap biasanya saja t erhadap Fida supaya ketegangan di antara mereka.
Timo bangkit dari duduknya mencoba untuk menggeam tangan Fida. Tap, sayangnya Fida menolaknya, dan memilih untuk berjalan mendahului Timo. Timo pun cepat-cepat berjalan,d an menyamai angkah kakinya Fida. Kina mereka berdua berjalan beriringan, tapi seprti ada jarak di antara mereka.
Dari kejauhan tepat di mini market yang letaknya di seberang gedung Wisma Sejahtera. Ada Shaka yang yang baru saja keluar dari mini market tersebut, sehabis membeli kopi s**u dingin. Shaka memeprhatikan mereka karena aneh saja,mereka berdua berjalan bersama tapi sepeti orang yang tidak kenal. Itu bukan mereka yang biasnya, karena mereka berdua itu sudah seperti perangko. Pikir Shaka, tapi Shaka juga tidak perlu terlalu peduli itu bukan urusannya. Ia pun langsung pergi kembali ke kantornya.
Sampanya di Cafe Timo langsung bertanya kepada Fida ia ingin pesan apa? Biar ia memsannya. Fia hanyamenajawab seadanya, dan Timo pun langsung berjalan untuk memesan makanan di counter. Setelah memesan makanan Timo kembali ke temapt duduk di mana Fida berada.
"Fid?"
"Hmm."
"Kamu masih marah sama aku?"
Masih nanya lagi gue masih marah atau nggak, ya jawabannya lo pasti tahu. Dengan gue itu masih amrah sama lo. Fida mencak-mencak di dalam hatinya, ia hanya diam itdak mempedulikan pertanyaan Timo.
"Kamu jangan diam gini, Fid. Aku sedih lihat kamu kaya gini."
"Harusnya kamu tahu jawabanya, Tim. Tentu saja aku masih marah sama kamu. Ya, kamu pikir aja. Kesalahan kamu itu ada dua Tim. Pertama, kamu bohongin aku. Jujur yah aku sih nggak masalah kalo kamu main ke rumah si Elvira, asal kamu bilang ke aku. Aku tahu kamu lagi di ruamh Elvira yah dari mulut kamu, aku juga bukan orang gila yang bakal ngelarang kamu untuk main sama sahabat kamu sendiri. Bukan dari insta story nya Elivra. Kedua, kamu udah aku okeiin untuk jemput Elvira sikap kamu malah kaya bukan Timo yang aku kenal." Fida benar-benar kecewa soal ini. Timo tidak seperti ini, Timo selalu terbuka dengannya.
"Maafin aku ya?" Timo mengengam kedua tangan Fida. Ia memasang muka andalannya yaitu, memasang wajahnya puppy face. "Aku janji kali tidak akan mengulanginya. Jadi, maafin aku ya sayang." Timo memohon dengan sangat sungguh-sungguh supaya kekasihnya itu memaafkannya.
Fida menarik tangannya dari gengamn TImos aat meliaht pelayan cafe datang membawa pesanan mereka. Pelayan icafe itu menaruh pesaanya mereka dia tas meaja, Fida memesan sphagetti carbonara dan es lemon tea, dan TImo nasi goreng beseta air mineral.
"Makan dulu aja, aku masih butuh waktu." kata Fida. Tidak semudah itu memaafkan Timo, FIda perlu waktu.
"Oke." Timo memakluminya. "Nggak apa-apa kalo kamu belum bisa maafin aku, dengan kamu mau diajak makan siang barang aku aja udah bikin aku sedikit lega, aku bisa nebak kok Fid. Kamu marah, tapi sebenarnya kamu kangen aku kan?"
Fida mendelik. Kenapa sih disaat ia marah seperti wajah kekasihnya mengemaskan, dan tebakannya benar. "Jangan jadi manusia yang kepedan yah. Makan siang yah karena lapar!"
Timo mengangguk-angguk, "ia deh paham. Nanti pulang bareng yah?" ajak Timo. Pokoknya ia tahu bagaiman caranya supaya Fia lama-lama luluh, berusaha untuk bersikap baik kepada Fida.
"Iya, aku mau nitip sekotak coklat yah buat Devin. Bilangin ke Dufan-nya bulan depan yah, ka Fida janji." kata Fida. Ia sebenarnya berniat untuk mengajak Devin ke Dufan dua minggu lagi, tapi seperti waktu kurang tepat. Devin masih harus menjalani beberapa proses pengobatan. "Boleh kan Devin diajak ke Dufan?" tanya Fida memastikan karena waktu itu Timo menolaknya dengan keras.
"Iya boleh sayang." Timo melahap nasi gorengnya.
Fida menahan senyum; ia bertekad untuk tetap bersikap biasa saja. Biarkan Timo mencari caranya sendiri bagaiman caranya membuatnya kembali baik."Oke makasih ya."
"Sama-sama sayang." kata Timo.
Kenapa tidak seperti ini terus ya, maksudnya sealu memanggilnya sayang. Kalau pada saat mereka sedang baik-baik saja Timo jarang sekali memanggilnya sayang, dan tidak pernah siikap manis, dasar yah laki-laki bisa benget gitu membuat perempuan luluh, dan kembali percaya.
***
Kembalinya ke kantor dengan memasang wajah lebih baik. Maksudnya lebih baik itu, tidak semenyeramkan tadi. Begitulah menurut pandangan DIra. Fida langsung berjalan menuju meja kerjanya, duduk dengan memsang wajah sumringah.
"Udah baikan lo sama si Timo?" tanya Dira terhean-heran."Lo berdua cepet amat baikan yah, gue kalo puanya pacar bisa seminggu gue ngamuknya. Lo jinak juga yah."
Fida melihat adas kertas bekas di meja. Ia meremas-remas kertas bekas itu, dan melemparnya ke wajah DIra, DIra pun membalas. "Sok tahu banget lo kalo gue udah baikan sama Timo. Masihlah nggak semudah itu yah gue maafin dia."
"Udah kebaca lo mah Fid, lo di depan dia aja sok marah. Padahal hati mah kangen kan lo yah?" tanya Dira.
"Tahu aja lo!"
Dira langsung menarik bangkunya ke meja Fida, "eh lo masih utang cerita yah sama gue. Lo berantem sama Timo kenapa?"
Akhirnya Fida pun mencertiakan semuanya ke Dira kenapa ia bertengakah dengan Timo sampai membuatnya memasang wajah masam, bahkan tidak mau mendengarkan Dira bicara. Dira yang memang orang cepat sekali kepancing emosi, tapi yah entah kenapa kalau sama Shaka nyalinya jadi menciut.
"Gila sih yah bener sih Timo, gue pikir dia masih ada perasan sama si Elvira." Dira si pemancing orang untuk berprangka buruk pun keluar. "Nggak mungkin si, si Timo itu bisa dengan mudahnya melupakan si Elvira."
Dira langsung memukul dahi Dira dengan buku catatanya, "lo kalo ngomong jangan memancing orang untuk overthingking."
"Yah maaf, Fid." Dira mengusup-usap dahinya yang habis dipukul oleh Fida, "Coba kalo boleh, gue mau lihat si Elvira itu orangnya yang mana sih?" tanya Dira.
Fida pun langsung mengeluarkan ponselnya pergi ke laman i********: membuak profil ELvira, dan meminta Dira untuk memilihatnya sendiri. Dira pun dengan senang hati untuk melihatn ya, akrena ia memang paling senang men-stalking orang lain. Kalau bisa Dira pengin resign dari sini dan bekerja menajdi bagian agen FBI.
"Wih cantik yah, Elvira."
"Yup!!" kata Fida mengakui memang Elvira cantik.
"Pintar lagi, kuliah di luar negeri, dan dapat beasiswa. Keren!"
"Emang!"
"Cocok ini mah sama Timo."
Mendengar ucapan DIra barusan Fida langsung menyabet kemabli ponselnya dari tangan Dira. "Kalo ngomong jangan sembarangan, omongan adalah Dir."
"Ya maaf sayang. Tapi, dia berdua seiiman kan?" tanya Dira, dan Fida mengangguk. "Berat Fid, dan lo juga bilang tadi kalo keluarga Timo sma Elvira itu udah saling mengenal. Berat Fid."
"Lo tahu nggak kenapa gue menyesal cerita ke lo, Dir."
"Kenapa?"
"Yah karena lo bikin gue overthingking."
"Ya maaf yah sayang, gue cuma ngomong apa yang ada diotak gue, maaflah. Eh tapi emang Elvira itu cantik ya, pintar, nggak pernah kali dia makan cilung." kata Dira yang kalau bicara memang tidak dipikirakn dulu.
Fida pun langsung mendorong kursi Dira untuk kembali ke meja kerjanya, "kembali kerja ya, Otak lo udah mulai geser."
Fida merenung sebentar tentang apa yang dikatakan oleh Dira barusan, memang kalau dipikir secara baik-baik.yang berhak untuk bersama dengan Timo adalah Elviara. Tidak ada perbedaan yang kentara diantara mereka, kalau memang mereka bersatu yah tidak akan ada masalah yang bararti. FIda langsung mengusir jauh-jauh perasaanya itu. Fida percaya Timo meyayanginya, dan tidak mungkin sampai tega menyakiti dirinya. Semoga saja begitu.