Timo dan Fida sudah sampai di supermarket, Fida langsung mengambil keranjang yang bisa di dorong itu. Langsung berjalan ke arah rak yang menyediakan s**u dari berbagai macam merk.
“Fid, kamu tadi kaya buru-buru gitu yah? Kamu sengaja yah ninggalin Dira, aku lihat yah tadi dia kek orang bingung gitu. Dia sehat kan, Fid?” tanya Timo yang penasaran kenapa kekasihnya meninggal Dira, tidak biasanya ia mennggalkan Dira begitu saja.
“Aku nggak berniat begitu kok, Tim.” Fida sebisa mungkin menutup kebohongannya, pokoknya Timo tidak boleh tahu kalau Dira menyukai Shaka. “Dia mukanya bingung, itu biasalah masalah kerjaan dari si bos.” Fida mencoba mengarah sebisanya. Fida meminta Timo untuk mendorong keranjangnya, dan ia menuntut Timo pergi ke rak yang berisi berbagai macam agar dan puding.
Padahal Fida sendiri tahu banget kalau Dira bingung bukan karena soal kerjaan, tapi karena ada Shaka di hadapannya.
“Oh gitu, semoga dia pulang dengan selamat.” kata TImo.
Fida membalasnya di dalam hati, semoga sih dianter sama Shaka. Walaupun kemungkinannya Cuma tiga persen.
“Fid, makasih yah udah sayang sama Devin.” ucap Timo tulus dari dalam hatinya. Timo bersyukur sekali memiliki kekasih yang baik hati seperti Fida, Fida tidak hanya sayang kepada dirinya, tapi semua anggota keluarga. Kehadiran Fida juga membuat semangat Devin untuk melawan penyakit kanker hatinya kembali semangat.
Fida memasukkan lima sachet bubuk instan rasa coklat, dan lima sachet rasa mangga berukuran sedang ke dalam keranjang, sekilas Fida menoleh ke arah Timo sekilas lalu tersenyum simpul. “Iya sama-sama, aku sayang sama Devin dia anak yang baik, dan kuat Tim. Semoga Tuhan selalu menguatkan yah.”
Timo mengikuti Fida menuju ke freezer temmpat menyimpan buah-buahan, “kamu memang perempuan idaman yah, beruntung punya kamu.”
Kini Fida tidak mau kalah dengan tingkat kepercayan diri Timo, “oh tentu saja, aku adalah perempuan tercantik, tercedas, terkeren, dan tidak ada yang bisa mengalahkannya.” Fida mengibas-ngibaskan rambutnya.
Setelah dirasa bahan-bahan untuk membeli pudding, dan buah-buahan untuk stock di rumah Fida cukup. Mereka pun langsung bergegas jalan ke kasir untuk membayar semua belanjaannya. Setelah selesasi bertransaksi di kasir; mereka berdua pun langsung mencari makan di sekitar supermarket yang cukup besar di sebuah mall di bilangan Jakarta selatan.
Di dalam supermarket ini banyak sekali stand makanan yang dijual; dari makanan berat sampai makanan ringan. Pandangan Timo langsung tertuju pada stand makanan yang menjual siomay, ia langsung mengajak Fida untuk makanan di sana. Tentu saja Fida mengiyakan ajakan Timo, karena perutnya sudah keroncangan sedari tadi.
Mereka pun langsung masuk ke stand tersebut, stand tidak terlalu kecil. Cukup untuk orang-orang makan di dalamnya. Fida dan Timo memesan dua porsi siomay, dengan isi yang sama. Perbedaan hanya Timo pakai pare, dan Fida tidak. Untuk minuman mereka memsan es the panis.
Tidak perlu menunggu lama, makanan mereka pun sampai. Karena memang stand Siomay Rica sedang tidak ramai. Ini siomay langganan mereka, rasanya pokok enak banget. Kalo lagi belanja berdua, pasti mereka selalu makan di sini.
“Fid, aku boleh ngomong serius nggak?” tanya Timo.
Fida yang tadinya ingin menyuapkan siomaynya ke dalam mulutnya pun tidak jadi, terheran-heran dengan Timo yang tiba-tiba ingin bicara serius. Ini maksud bicara serius seperti apa yah? Apa Timo akan memberithu, ‘Fid, kayakanya kita udahan yah.’ Fida langsung mengenyahkan pikiran negatifnya.
“Iya mau ngomong apa?”
“Aku bersyukur punya kamu, Fid. Aku bangga punya kamu, aku merasa Tuhan baik banget sama kau mempertemukan aku dengan orang yang sebaik kamu. Semoga aku bisa selalu menjaga persaaanmu, nggak mengecewakanmu.” kata Timo dengan menatap mata Fida dengan tatapan tulus, dan Fida bisa membacanya.
Akan tetapi, entah kenapa hati kecil Timo mengatakan bahwa ia takut kalau suatu saat nanti akan mengecewakannya, kita kan tidak pernah tahu hati manusia. Hati manusia bisa berubah kapan saja, sekarang sayang besok bisa jadi benci.
Fida langsung mengusap punggung tangan Timo yang ia letakkanya diatas meja, “aku pun sama. Aku bangga punya kamu, aku beruntung dipertemukan sama kamu, aku sayang kamu Tim, dan aku selalu begitu.” Fida tersenyum, “kalo misalnya kita berdua nggak saling sayang nggak mungkin kita bisa bertahan sampai sejauh ini, 4 tahun. Udah kaya kredit motor yah?”
Memang sepasang kekasih ini kalau berbicara serius, pasti tidak pernah sampai akhir bicara seriusnya. Selalu saja seperti, diakhiri dengan candaan, Timo pun langsung tertawa mendengar perkataan Fida barusan.
“Semoga awet sampai kakek nenek yah,” tiba-tiba kepikiran adiknya Fida, Dira. “Oh yah abis ini kan aku mau anter kamu balik. Dira lagi pengin makan apa?” tanya Timo. Memang Timo setiap kali ke rumah Fida tidak pernah lupa untuk membawakan makanan untuk Dira.
“Dia anaknya pemakan segala sih,” kata Fida. “Tadi sih pas aku mau berangkat kerja, aku bilang abis pulang kerja mau jalan sama kamu. Dia bilang mau dibawaiin kebab yang dipinggir jalan gitu, nanti pulangnya kalo di jalan ketemu tukang kebab kita beli yah.”
“Oke, yaudah cepetan kamu habisin itu siomaynya. Makan lama banget, entar jodohnya lama lagi.” Timo paham betul bahwa kekasihnya kalau makan itu pasti selalu lama.
“Nggak apa-apa.”
“Lah, nggak apa-apa?” tanya Timo bingung. Biasanya kan Fida kalau diledek, atau dibikin kesel selalu protesnya.
“Kan jodohnya aku di depanku.”
“Bisa aja dah, korek api.”
“Kue talam.”
Mereka pun berdua tertawa; serasa dunia hanya milik mereka berdua, yang lain mah cuma ngontrak. Fida, berjanji untuk selalu menjaga apa yang ia miliki sekarang. Timo salah satunya, semoga Timo pun begitu begitulah kira-kira harapan Fida. Semoga apapun yang ia harapkan akan sesuai kenyataan yang akan terjadi di depan nanti.