Setelah pulang kantor Fida langsung menghampiri Timo di kantornya. Mereka berenca untuk pulang kantor bersama, untuk makan pecel ayam di daerah Kebon Sirih. Sampainya di kantor ternyata Timo tidak ada.
“Maaf nih, Fid. Timo tadi izin pulang lebih awal. Emang dia nggak ngabarin lo?” kata Shaka yang sudah besiap untuk pulang.
Terakhir Fida berkomunikasi dengan Timo saat makan siang tadi. Oh yah, mereka tidak makan siang karena ada pekerjaan yang harus Fida selesaikan, itulah penyebabnya ia tidak bisa makan di luar kantor bersama Timo.
“Nggak. Dia nggak biasanya pulang cepat lo, Ka.”
“Tadi dia bilang ke gue, kalo dia lagi nggak enak badan. Badannya anget, pas tadi gue pegang jidat. Gue takutnya dia bohong aja biar bisa pulang cepat,” canda Shaka.
“Oke deh, nanti gue coba telepon dia.” kata Dira dengan khawatir, bisa-bisanya Timo tidak mengabarinya bahwa ia sakit. “Gue duluan yah, Ka.”
“Nggak pulang bareng gue aja, Fid?” tawar Shaka.
“Makasih Shaka, yang kadang baik. Gue balik bareng sama Dira.” Fida langsung mengirim pesan kepada Dira untuk tidak pulang duluan, dan memintanya untuk menunggu dirinya di lobi.
“Yaudah kalo gitu, hati-hati Fid.”
Fida pun langsung berjalan menuju lift, dan mengirim pesan ke Timo. Fida benar-benar khawatir dnegan kekasihnya itu, padahal tadi pagi ketika bertemu di lobi Timo terlihat baik-baik saja.
Fida
Tim, kamu sakit?
Kamu kenapa nggak ngabarin aku?
Nanti aku telepon kamu yah, aku lagi otw pulang.
***
Sampainya di rumah Timo langsung memakirkan motornya di garasi rumahnya, kali ini Timo sampai di rumah tepat pukul 17:00. Timo berpikirnya untuk bisa sampai rumah secepatnya ini, sepertinya harus sakit dulu baru bisa pulang disaat matahari masih menampakkan dirinya.
Timo langsung masuk ke dalam rumahnya; pintu rumah tidak terkunci jadi ia tidak perlu mengetuk dipintunya. Diruang keluarga ia melihat Aminah—ibunya sedang menonton televisi. Perempuan paruh baya itu terkejut mendapati anaknya pulang lebih awal dari biasanya. Timo langsung menghampiri Aminah menyalami tangannya, dan duduk di sampingnya.
“Tumben jam segini kamu udah sampa rumah?”
Timo menyadarkan kepalanya dibahu Aminah. Aminah langsung mengusap dahi Timo, dan suhu tubuh anaknya cukup panas. Aminah bersyukur Timo masih bisa sampai dengan selamat di rumah padahal tubuhnya sedang demam.
“Aku lagi nggak enak badan, ma. Tadi aku ijn pulang cepat.” kata Timo yang masih bersandar di bahu ibunya.
“Badan kamu anget gini,” Aminah khawatir dan meminta anaknya untuk segera ganti baju, bersih-bersih, dilarang untuk mandi hanya boleh cuci muka.”Jangan mandi yah, mama bikinin kamu bubur, sekalian nanti mama bawaiin kompresan ke kamar kamu.”
Timo memang anak yang tidak pernah membantah dengan perintah orang tua, dengan lunglai ia berjalan ke kamarnya. Kamar Timo berada di lantai satu, bersebelah dengan kamar Devin, adiknya. Sebelum masuk ke dalam kamarnya Timo lebih dulu memilih untuk menengok adiknya, mungkin saat ini adiknya sedang bermain game ditabletnya, dan benar saja saat Timo membuka pintu Devin sedang fokus bermain game.
Menyadari kehadiran sang kakak Devin langsung menaruh tabletnya di sampingnya. “Tumben ka, udah pulang?” tanya Devin.
“Kakak izin pulang cepat Vin, gimana kamu udah minum obat?” Timo langsung duduk di samping adiknya. “Kamu harus minum obat, biar cepat sembuh yah.”
“Emang bisa sembuh, ka?” tanya Devin. Meskipun Devin masih kanak-kanak dia tahu bahwa penyakit ini mematikan, dan sebenarnya Devin sudah lelah menjalan kemoterapi.
“Harus optimis dong, kamu pasti sembuh.” Timo selalu mengatakan pada adiknya untuk selalu optimis, tapi di dalam dirinya pun ia ragu apakah memang Devin bisa benar-benar sembuh. “Oh yah, inget nggak kata ka Fida? Kita harus optimis. Bahwa kita bisa melewati hal ini dengan baik.”
Devin mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Timo—perkataan dari Fida. Devin merasa lebih baik, dan semangat kalau ada Fida disampingnya. Makanya Devin selalu berdoa semoga hubungan Fida, dan kakaknya langgeng terus. “Ka, Fida kapan ke sini?”
“Sabtu ini kayanya dia ke sini, akhirnya ketemu juga yah.” Timo mengusap rambut bahu adiknya itu lembut lalau memeluknya. “Kakak sayang Devin, kakak ke kamar dulu. Kamu jangan main game terus. Istirahat yang cukup.”
“Iya ka.” Devin tersenyum, “aku nggak sabar buat ketemu sama ka Fida, sabtu nanti.”
“Makanya makan obat jangan susah.” nasehat Timo.
Devin mengacungkan jempolnya, “sip ka!”
Timo mencium kening adiknya itu sebelum keluar dari kamar Devin. Setelah Timo menutup pintu kamar Devin, di dalam hati ia berdoa kepada Tuhan. “Ya Tuhan saya memohon kepada-Mu, berikanlah adik saya kekuatan untuk bisa melawan penyakitnya supaya Devin bisa berkegiatan layaknya anak seusianya.”
Kamar Timo dengan luas 3x3 dengan tema niche atau ceruk di mana sudutnya lebih menjorok ke dalam, di sudut itu Timo meletakkan tempat tidunya dan juga meja belajarnya berada di samping kiri tempat tidurnya, sementara itu lemari baju dan rak buku di letakkan berhadapan dengan posisi Timo tidur.
Timo menutup pintu kamar tidur, tanpa menguncinya karena ia tahu Aminah akan masuk ke dalam kamarnya. Karena biasanya Timo selalu mengunci kamarnya, karena baginya kamar adalah privasinya. Timo mengantungkan tasnya di belakang pintu kamarnya. Ia langsung bergegas pergi ke toilet yang ada di dalam kamarnya, untuk membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan dirinya, ia langsung berganti pakaian lalu merebahkan dirinya di kasur.
Timo sengaja tidak menyalahkan pendingin ruangan kerana pada saat ini tubuhnya terasa mengigil, kepalanya lebih pusing dari sebelumnya. Timo pun langsung mengubur dirinya dengan selimut bermotif club sepak bola kebanggannya Liverpool.
Saat Timo sedang meringkuk di dalam selimut merasakan tubuhnya yang semakin menggil, ponsel bordering tanda panggilan masuk. Timo pun langsung mengambil meraih ponselnya yang ia letakkan di meja kecil sebelah tempat tidurnya, dan panggilan masuk itu dari Elvira.
Tanpa berpikir panjang Timo pun langsung menerima panggilan masuk dari Elvira dengan mengulir layar ponselnya ke kanan.
Elvira : Halo, Tim? Aku ganggu kamu nggak?
Timo terbatuk sebelum menjawab pertanyaan dari Elvira.
Timo : Nggak kok, aku lagi di rumah istrahat. Aku lagi sakit.
Elvira di sebrang sana langsung memasang wajah khawatir. Elvira bisa dengar dari suara Timo kalau mantan kekasihnya itu sedang tidak baik-baik saja.
Elvira : kamu kecapean pasti? Kamu nggak berubah yah dari dulu.
Timo tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Elvira.
Timo : maksudnya?
Elvira : suka makan telat kalo udah fokus sama kerjaan, gimana kabar tante Aminah?
Timo : baik kok.
Elvira : Devin?
Timo : seperti yang kamu tau, dia sedang berjuang.
Elvira : semoga Devin segera sehat yah. Kamu udah minum obat?
Timo tidak langsung menjawab pertanyaan dari Elvira, Timo melamun; Timo tahu bahwa di ponselnya sudah banyak panggilan masuk dari Fida. Akan tetapi, kenapa ia malah menerima panggilan masuk dari Elvira, Timo sendiri bingung dengan dirinya sendiri.
Timo : belum, mama nanti ke kamar aku paling bawa obat. Gimana kabar kamu?
Setelah sekian lama dua orang yang pernah berlayar bersama, berjanji akan bersama apapun badainya. Tapi, sayangnya harus karam juga oleh badai. Dua orang itu berbicara via telepon, biasanya mereka hanya bertukar pesan. Kalau Elvira bisa memberitahu Timo, bahwa dirinya menelpon Timo karena tiba-tiba Elvira merindukan suara Timo.
Elvira : baik. Yaudah kalo kamu lagi sakit, kamu istirahat aja yah. Diminum obatnya, jangan lupa makan. Cepat sembuh yah, nanti aku tlp kamu lagi.
Rasanya Elvira ingin mengucapkan kata rindu kepada Timo, tapi entah kenapa lidahnya kelu.
Timo : iya El.
Ada perasaan kecewa di hati Elvira, ketika Timo yang dahulu selalu memanggilnya dengan sebutan ‘Vira’ bukan ‘El’. Karena Vira adalah panggilan sayang dari Timo untuk Elvira semasa mereka pacaran.
Elvira : bye Tim.
Timo. By El.
Timo pun langsung mematikan ponsel; ia memeriksa ponselnya ada banyak pesan masuk dari Fida, dan juga telepon. Tapi, Timo tidak langsung membalasnya karena ia memilih untuk menaruh kembali ponsel di meja kecil samping tempat tidurnya.
Tidak lama setelah itu suara ketukan pintu terdengar. Itu Aminah, Aminah meminta izin ntuk masuk ke dalam kamar anaknya. Timo mempersilahkan, karena pintunya memang sedang tidak di kunci. Aminah masuk ke dalam kamar Timo dengan membawa napan berisi bubur buatannya, baskom kecil berisi air yang diisi es batu, dan sapu tangan untuk mengopres Timo.
Aminah mengeser ponsel milik Timo yang diletakkan di meja kecil untuk menaruh nampannya. Aminah langsung duduk sisi ranjang, memegang dahi anaknya panasnya makin meninggi, perempuan paruh bayah itu langsung mengoperesnya.
Setelah mengopresnya Aminah langsung mengambil semangkuk bubur buatannya, ia mengaduk-aduknya lalu meniupnya, dan menyuapkan ke dalam mulut Timo. “Kamu pasti telat makan deh, makanya sakit begini. Kamu boleh fokus kerja, tapi makan tetap nomor satu.” Oceh Aminah.
Timo mengunyah buburnya, “maaf yah, ma.”
Aminah hanya mengangguk. “Kamu sakit begini, udah kabarin belum ke Fida?”
“Belum ma, nanti Timo kabarin.” jawab Timo dengan suara lemah.
Aminah menatap putra sulungnya dengan sedikit kecewa, “berarti kamu izin pulang cepat pun dia nggak tahu?” Timo mengelengkan kepalanya. “Kamu kenapa, mama yakin dia nyariin kamu. Kasian dia, Tim. Nungguin kabar dari kamu.”
“Iya, ma. Nanti Timo kabarin yah. Dia anak baik yah, Tim. Jangan kamu kecewaiin dia yah, kalo berani ngecewaiin dia. Mama akan jadi orang terdepan, belaiin Fida.” tegas Aminah.
Mendengar ucapan Aminah barusan langsung membuat Timo terbatuk, Aminah dengan sigap langsung mengambil air meminta Timo untuk minumnya. Setelah meminum airnya, Timo segera meminta Aminah untuk meninggalkannya sendiri di kamar. “Ma, buburnya nanti Timo abisin sendiri. Sebaiknya mama, siapin makan malam buat papa, dan juga Devin.”
“Oke deh, kamu jangan lupa minum obat. Terus langsung istrahat.” Aminah pun langsung bangkit dari duduknya, dan meninggalkan Timo di kamarnya. Sebelum menutup pintu Aminah berkata, “cepat sembuh yah putra sulungnya mama, mama sayang Timo.”
Timo hanya membalas dengan senyuman. Pintu kamar Timo sudah tertutup, Timo jadi memikirkan perkataan Aminah tadi. Apakah ia sudah mengecewakan Fida dengan menerima telepon dari Elvira? Sementara mengabaikan panggilan masuk dan juga pesan dari Fida. Padahal Timo sangat tahu bahwa Fida pasti sangat mengkhawatirkannya.
Fida tahu, kalau Timo masih berhubungan baik dengan Elvira. Fida percaya dengan mereka berdua bahwa itu sebagai bentuk bahwa mereka sudah dewasa. Tidak baik bukan kalau Timo dan Elvira bermusuhan, pada awalnya mereka kan bersahabat masa harus bermusuhan.
Akan tetapi, yang Fida tidak tahu bahwa Timo dan Elvira sering chatting secara intens. Segala yang disembunyikan suatu saat pasti akan terbongkar.
***
Fida dan Dira sekarang sedang berada di warkop yang tidak jauh dari kantor mereka; awalnya mereka berdua ingin langsung pulang. Tapi, tiba-tiba menyarankan untuk makan indomie dulu di warkop karena perutnya sudah lapar.
Sekarang di depan mereka sudah ada dua mangkuk indomie. Dira memesan indomie kuah rasa soto, dengan telur setengah mateng, dan sawinya banyak. Sementara Fida memesan mie goreng dengan telur yang mateng. Dira sibuk menikmati mie kuah rasa sotonya dengan fokus, sementara Fida menikmati mie gorengnya sambil fokus ke ponsel.
“Timo belum ngabarin lo juga?” tanya Dira.
“Belum.” jawab Fida. Harusnya Timo sudah bisa membalas chat-nya atau menelepon balik, karena pasti Timo sudah sampai di rumah.
“Lagi sama yang lain.”
“Ngomongnya yah. Nggak mungkinlah kaya gitu.”
Dira menyeruput teh tariknya, “jangan terlalu percaya, Fid. Nanti malah kejadian.” Dira sendiri berkata seperti; entahlah terkadang mulutnya tidak bisa direm asal jeplak saja.
“Omongan adalah doa, Dir. Lo jangan kaya gitu.”
Tiba-tiba Dira menatap Fida dengan serius, “Antipasi perlu, Fid. Lo pernah lihat hpnya si Timo, nggak?”
Fida menggelengkan kepalanya; memang selama mereka pacaran ia tidak pernah mengecek ponsel milik Timo. Itu privasi saling percaya saja, itu kunci hubungan langgeng. Karena kalau memang kekasih kita benar-benar menyayangi kita, ia tidak akan tega menghianati kita.
“Nah ini!”
“Kenapa?”
“Lo terlalu nggak mau tau, dan terlalu percaya.”
“Itu menganggu privacy Dir.”