“Lo mau ke mana, Fid?” tanya Dira. Melihat teman di depan meja kerja begitu terlihat bersemangat seperti ingin mengambil gaji, padahal ini bawal pertengahan bulan.
Fida mengeluarkan kotak bekal, dan itu menimbulkan tanaya tanya dalam benak Dira; tumben banget itu nih anak bawa bekal. Dira tidak tahu bagaimana perjuangan Fida, untuk bangun lebih pagi supaya bisa menyiapkan bekal untuk Timo. Oh yah, sampai hari ini Timo belum juga mengabari Fida. Fida tahu Timo sudah masuk hari ini pun itu ia mengirim pesan kepada Devin, menanyakan apakah hari ini Timo masuk kerja.
“Tumben banget lo bawa bekal? Udah mulai belajar iri, Fid?” tanya Dira.
“Ini bukan buat gue, tapi Timo.” kata Fida.
Bekal yang dibuatkan Fida untuk TImo adalah buncing daging cincang, nugget, dan tempe goreng. Tempe goreng adalah makanan favorite Timo, Timo kalau makan harus selalu ada tempe gorang.
“Jadi lo berdua udah baikan?” tanya Dira.
“Hah? Siapa bilang gue berantem sama Timo?” Fida tidak paham dengan jalan pikiran Dira, kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu. Padahal ia dan Timo dalam keadaan baik-baik saja, apakah hanya karena Timo tidak mengabarinya sampai sekarang itu dianggap berantem?
“Syukur deh, Fid. Gue kira karena dia nggak ngabarin lo sampai sekarang, lo bakal kesel sama dia atau marah. Timo beruntung punya pacar kaya lo, sabar banget.” Dira berjalan ke meja Fida, lalu ia memeluk sahabatnya itu.
“Anak kecil banget gue kalo kaya gitu. Ini lo kenapa meluk gue?” Fida yang merasa risih Karena dipeluk oleh Dira pun meminta kepada sahabat untuk melepaskan pelukannya. “Kalo mau meluk jangan gue, peluk tuh Shaka.”
“Itu mah impian gue!”
“Mau ikut nggak lo?” Fida yakin Dira pasti akan ikut dirinya untuk ke kantor Timo supaya bertemu dengan Shaka.
“Nggak, gue mau nonton drakor aja.” jawab Dira santai, kemudian kembali ke meja untuk duduk manis. Melanjutkan menonton drama korea ditemani dengan cemilan yang ia bawa sendiri dari rumah.
“Oke deh. Titip salam nggak ke Shaka?”
“Nggak perlu, entar gue salam sendiri ke dia.”
“Sipp!” Fida pun langsung ke luar kantor, dan berjalan menuju lift untuk pergi ke lantai tiga. Akan tetapi, Fida harus ke lantai dasar untuk membeli roti untuk dirinya, entahlah tiba-tiba ia ingin makan roti keju.
Saat pintu lift terbuka di lantai tiga. Shaka masuk ke dalam lift, dan Fida tahu pasti Shaka ingin makan siang. Fida pun menyapa Shaka, “hei, ka. Makan siang?”
“Iya, lo bawa bekal?” tanya Shaka sambil melirik paper bag yang dijinjing oleh Fid, di dalam lift hanya ada mereka berdua.
Fida mengangkat paper bag-nya. “Ini bekal buat Timo, nanti gue ke kantor lo yah. Timo ada di kantor kan yah?” Fida lo basa-basi banget sih, kan lo udah tau kalo Timo ada di Kantor.
Sebagai seorang perempuan normal berdiri di samping Shaka, dan hanya berdua di dalam lift. Fida merasa grogi, karena serius Shaka ini adalah pria yang tampan, dan diam saja pun terlihat berwibawa.
“Timo ada tuh, dia lagi tiduran di musola. Kayanya masih sakit dia, sepi kalo dia sakit di kantor nggak ada yang bikin joke nggak jelas.”
“Lo juga kan, nggak jelas ka.” kata Fida.
Ting!
Lift pun sampai di lantai dasar, Shaka dan Fida pun langsung keluar dari lift.
“Loh ko, lo malah ikutin gue Ka?” tanya Fida saat Shaka berjalan ke arah mini market, di mana kalau ke kantin Shaka berjalan ke arah Barat.
Shaka tersenyum sangat manis, kalau boleh jujur Shaka ini kalau senyum memang bikin nagih. Pantesan Dira naksir berat. “Gue mau nemenin lo, Fid. Kayanya nggak jadi deh makan siang di kantin. Gue kayanya mau beli roti coklat aja, sama s**u UHT.” kata Shaka.
Kalau Dira tahu bahwa Shaka ingin menemaninya pergi ke mini market, tidak jadi makan siang di kantin, sahabatnya itu pasti akan bertanya. Bagaimana bisa? Sedangkan dengan Dira sendiri tidak pernah bisa. Bahkan kehadiran Dira mungkin tidak dianggap oleh Shaka.
Dalam perjalanan menuju mini market entah kenapa tiba-tiba otak Fida terpikirkan untuk bertanya, masalah asmara pribadi Shaka. ”Lo kenapa sampe sekarang belum punya cewek? ”
Fida langsung mengutuk dirinya begitu mimik wajah Shaka berubah, kenapa lo nanya begitu sih Fid, keliatan kepo banget. mendengar pertanyaannya barusan. ”Kenapa lo nanya begitu Fid? ”
Bukan Fida namanya kalau tidak pandai untuk membelokan pembicaraan, ”heran aja cowok seganteng lo kok belum punya cewek. ” Ka, gue nanya gue demi temen gue. Kalo nggak demi temen gue mah buat apa.
“Gue nggak punya cewek, bukan berarti nggak ada orang yang gue suka.” jawab Shaka santai, dan mimik wajah berubah seperti semula—Fida bersyukur akan hal itu.
Mereka berdau sudah sampai di mini market Shaka menahan pintu masuk mini market mempersilahkan Fida untuk masuk, such a gentlemen. Fida mengucapkan terima kasih, dan Shaka hanya membalas dengan senyuman membuntuti Fida dari belakang.
“Fid, gue mau nanya lupa mulu dari tadi,” Shaka mengaruk tenguknya yang tidak gatal. “Itu kan lo udah bawa bekal yah buat Timo, nah lo ke sini mau beli apa?” tanya Shaka.
“Buat gue, gue kan belum bawa apa-apa buat diri sendiri.”
“Sayang banget lo sama si Timo.”
“Oh tentu saja, kalo nggak ngapain gue bisa sama dia empat tahun?”
Fida pun berjalan kea rah rak yang berisi roti; begitu pun dengan Shaka karena memang Shaka ingin juga ingin membeli roti.
“Lo suka roti apa, Shaka?”
“Keju,” jawab Fida seraya mengambil dua tankup sandwich isi keju, sayuran, beserta daging. “Oh yah ka, lo mau beli roti rasa apa?” tanya Fida.
“Gue mau beli roti sobek yang rasanya ada tiga, biar berwarna kaya hidup gue.” gurau Shaka sambil mengambil satu bungkus roti sobek. “Udah lo beli ini aja, Fid?”
Fida mengangguk, “kalo minum bisalah yah minta di kantor lo, boleh nggak?”
“Boleh, apa sih yang nggak buat Fida.”
Shaka benar-benar berbeda yah ketika hanya berdua bersama Fida; Shaka terlihat lebih ramah, dan tidak dingin malah sering senyum. Fida merasa bangga pada dirinya bahwa ia membawa aura positif ke Shaka. Akan tetapi, Fida langsung membuang jauh-jauh rasa kepercayaan dirinya—mungkin saja hari ini mood Shaka sedang berwarna.
Mereka berdua pun langsung berjalan menuju kasir untuk membayar makanan masing-masing, setelah itu mereka berdua langsung keluar dari mini market, dan kembali ke kantor.
“Ka, lo suka cewek yang kaya gimana?” tanya Fida. Demi Dira pun ia berani untuk membuang urat malunya jauh-jauh. Kini mereka berdua sudah ada di dalam lift. Tidak hanya berdua ada dua orang karyawan dari lantai berbeda berdiri di depan mereka.