Timo dan Fida pun akhirnya pergi ke mall berdua untuk membeli baju yang akan dipakai pada saat pertemuan Fida dengan orang tua Timo. Mereka pun berangkat ke mall yang tidak jauh dari rumah. Seperti biasa Timo menjemput Fida di rumahnya dengan mobil.
Sementara itu Fida yang sudah rapih mengintip dahul dari jendela untuk melihat Timo yang datang, dan sedang memarkirkan motornya di halaman depan rumah Fida. Fida agaka kecewe karena Timo datang dengan membawa mobil. Timo sendiri tahu kalau Fida itu setiap kali naik mobil pasti mabuk perjalanan.
Fida keluar rumah dengan memasang tampang cemberut. Timo keluar dari mobilnya menghampiri Fida, dan ingin memeluk Fida. Akann tetapi, ditolak oleh Fida. "Ih kamu apaan sih Tim, kok kamu bawa Mobil bukan motor aja."
Fida bisa melihat wajah Timo tidak merasa bersalah. Karena Timo berniat baik supaya Fida tidak kepanasan. Ya, Timo tahu kalau kekasihnya itu tidak suka naik mobil. Tapi, Timo ingin kekasihnya itu terbiasa naik mobil. "Yah nggak apa-apa dong, Fid. Biar kamu terbiasa." Jelas Timo.
Fida tidak menanggapi kekasihnya itu, dia langsung masuk ke dalam mobil Timo menutuppintinya dengan membantingnya cukup keras.
Timo tersenyum penuh kemenangan karena kekasihnya itu pun menurut untuk naik mobil. Walaupun nanti semisalnya Fida mabuk perjalanan, Timo siap kok membersihkan muntahan Fida.Timo pun langsung duduk di kursi kemudi, menyalahkan mesin mobil memilhat Fida yang masih saja cemberut.
"Kenapa pacar aku cemberut gitu?"
Rasanya Fida ingin berteriak di depan wajah Timo; kenapa ia malah bertanya Fida cemberut Kita karena Timo yang membawa mobil padahal ia sendiri tahu kalau pacar ini tidak bisa mencium hawa mobil, karena Fida pasti akan muntah-muntah.
"Pake nanya lagi, udah kaya kuis aja." kata Fida.
Timo melajukan mobilnya suara decitan basn besentuhan degan aspal terdengar. Jalanan ibu kota meskipun weeekend terkadang masih saja macet. Percaya untuk orang yang suka mabuk perjalanan pasti kalau macet malam tambah mabuk.
Fida mengerutu kesal, "tuh kan jadi macet, aku bilang juga apa. Ya kan? Aku jadi tambah pusing nih. Tanda-tanda bakal muntah."
Timo langsung bergegas mengambil kantong kresek yang di taruh di databsboard. Rupanya Timo sudah menyiapkan segalanya bahwa kekasihnya itu pasti akan mengalami mabuk perjalanan. "Ini aku kasih kamu kantong plastik silahkan kalo mau muntah."
Entahlah mungkin jika orang lain melihat Timo seperti itu akan menilai Timo sebagai orang yang tega karena memaksakan kehendak diri sendiri. Timo tidak bermaksud seperti itu, ia hanya ingin kekasih itu terbiasa jika dibawa naik mobil. Timo jadi membayangkan bagaimana kalau nanti mereka sudah punya anak, lalu anak mereka ingin naik mobil. Masa Timo harus tega membiarkan Fida, naik ojek seorang diri.
Akhirnya Fida pun benar-benar muntah, lipstik dibibirnya pun luntur. Fida meminta kepada Timo kalau sudah keluar dari kemacetan yang gila ini. Fida ingin pindah duduk dibelakang karena ingin merebahkan diri supaya rasa mual, dan pusingnya hilang meskipun tidak menjamin benar-benar hilang.
Timo pun langsung memberikan freshcare kepada Fida, supaya sakit kepala kekasihnya itu mereda, karena biar bagaimanapun Timo khawatir dengan apa yang terjadi dengan kekasihnya. Sudah sekitar sentegah jam mobil Timo tidak bergerak sama sekali, pelan-pelan mulai bergerak.