Apakah ini sebuah petunjuk Tuhan kalau Shaka memang jodohnya, atau ini hanya untuk menguji atau menyadari bahwa Shaka terlalu tampan untuk Dira. Dira tidak berharap pagi-pagi dipertemukan kembali dengan Shaka, setelah kejadian kemarin. Ya, pagi ini Dira dipertemukan kembali oleh Shaka di dalam satu lift yang sama.
Padahal Dira sengaja datang lebih pagi untuk menghindari kemungkinan bertemu Shaka, dan ternyata memang semesta selalu mempertemukan kita dengan hal-hal yang kita hindari, betul begitu? Saat kita mengejar-ngejar semesta menjauhkannya. Pagi ini saat Dira sudah memasuki lift, Shaka menyusul masuk ke dalam lift, dan di lift hanya ada mereka berdua.
Bisa nggak sih gue berubah jadi ubin lift, Dira sebenarnya tidak ingin menyapa duluan Shaka. Tapi, kalau tidak menyapa Shaka akan menganggapnya sombong. “Shaka?”
Shaka yang sedari tadi pandangannya lurus tidak menoleh ke mana pun, mungkin tidak menganggap kehadiran Dira. “hei Dira.” Shaka balas menyapa Dira tanpa tersenyum pandangannya kembali lurus ke depan.
Nyesel gue nyapa, kata Dira dalam benaknya. Lift pun berhenti di lantai 3 Dira berharap setelah Shaka keluar ia akan mengucap ‘hi Dira, duluan yah.’ Tapi, sayangnya kenyataan memang tak selalu sama seperti harapan. Shaka hanya keluar saja tanpa berpamitan kepada Dira dan Dira mendengus kesal.
Ketika Dira sampai di lantai 6 ia langsung masuk ke dalam ruangan dengan wajah murung, Fida yang melihat Dira seperti itu pun langsung menegurnya heran. “Tumben banget lo dateng pagi-pagi, terus napa tuh muka dilipet gitu?”
Dira menaruh tasnya di atas meja kantor dengan kasar, lalu duduk di kursinya. “Shaka ngeselin banget deh.”
“Hah? Shaka? Ngeselin?” Fida bertanya-tanya, kenapa si Shaka membuat kesal Dira. Mereka tidak pernah bertegur sapa. “Gue nggak ngerti maksud lo apa, kenapa emang si Shaka?” tanya Fida tidak sabaran.
“Lo juga ngeselin.” hardik Dira, karena ia masih dendam soal Fida yang meninggalkannya hanya berdua dengan Shaka.
Fida yang tidak tahu apa-apa pun tidak terima, “kok gue dibawa-bawa, Dir?”
“Lo sengaja kan kemarin ninggalin gue, sama Shaka hanya berdua aja?”
”Iya.” jawab Fida santai.”Lo marah? Bukannya lo harusnya seneng?”
“Iya gue seneng, tapi…” rasanya Dira ingin sekali mengutuk dirinya sendiri yang kemarin, atas kebodohannya yang keterlaluan. “Gue bodoh tau!” Dira menelungkupkan kepalanya di atas meja.
Fida bingung kebodohan apa yang dimaksud oleh Dira, “Maksud lo Dir, kebodohan apa?”
“Lo tau Fid, sangking groginya gue cuma berdua sama Shaka kemarin. Gue ninggalin tas gue di kursi tempat kita duduk, terus Shaka yang nganterin tas gue sampe di halte. Terus di halte dia manggil gue dengan sebutan ‘temennya Fida’. Dia selama ini kagak tau nama gue.” Dira berbicara dengan nada kesal, kesal terhadap dirinya, dan kesal terhadap Shaka.
Fida bukannya merasa iba ia malah menertawainya, “terus kelanjutannya gimana? Lo pulang nggak jadi naik Transjakarta, dan malah di anter Shaka.”
“MIMPI!” Dira mengerang kesal, dan memukul-mukul meja, “dan lo tau Fid?”
Fida mengangguk, “apa?”
“Gue ketemu lagi sama Shaka. Tadi, barusan di dalam lift hanya berdua. Gue nyapa dia, kalo nggak di sapa dia gak bakal nyapa balik kali. Terus pas di lantai dia keluar dari lift, gak ada basa-basinya kaya, ‘Dir gue duluan yah.’ Dia kayanya benci ama gue, tapi gue suka sama dia. Gimana caranya deket sama dia, kalo ada kesempatan deke tama dia bawaan gue maunya kabur aja, Fid.” Celotehnya.
“Gue bantuiin lo deh, tapi tetap Timo nggak bakal tau. Kemarin gue nanya ke Timo, katanya Shaka single. Jadi, tenang aja yah. Saba aja pelan-pelan, oke?” kata Fida untuk membuat tenang sahabatnya itu.
“Sipp. Makasih yah, entar makan siang di mana?”
“Di kantin, bareng sama Timo. Ada Shaka juga nanti. Lo tau sendiri kan Timo sama Shaka nempel mulu udah kaya prangko.”
“Siap!” kata Dira semangat.
Fida merasa kalau Dira dan Shaka cocok kok. Shaka yang pendiam, kalem, dan misterius itu cocok bersanding dengan Dira yang ceroboh, tidak bisa diam terkadang seperti cacing kepanasan, dan juga kalau melawak garingnya Masya Allah, tapi entah kenapa Fida pun bisa sampai tertawa ngakak. Siapa tahu dengan Shaka diberi wejangan lawakan Dira yang garing itu bisa tertawa lepas. Memang selama ini Fida sering melihat Shaka tertawa lepas, hanya sekadarnya saja. Bahkan seperti dipaksakan.
Fida dan Dira pun kembali pada meja masing-masing, setelah pagi ini atasan mereka meminta untuk membuat laporan bulan ini, yang akan dipresentasikan minggu depan di hadapan Direksi.