pertemanan mereka tetap terjalin. Baru saat bekerja mereka berada di perusahaan yang sama. Dira baru beberapa bulan bekerja di sini sementara Fida sudah hampir dua tahun.
Pagi ini Dira datang terlambat ke kantor dikarenakan semalam ia habis maraton Drakor satu musim sampai jam 2 subuh. Memang Dira ini cukup addict dengan Drakor berharap kisah cintanya semanis di Drakor yang ia tonton.
Ia pun terburu-buru masuk ke dalam lift ia langsung menekan angka 8 di lift. Saat pintu akan tertutup tiba-tiba di tahan oleh seorang laki-laki yang cukup tampan, kalo cowok seganteng ini sih gue bakal dateng telat terus. Katanya dalam hati sambil memandang laki-laki itu.
Diperhatikan lamat-lamat wajah laki-laki itu kenapa seperti mirip dengan seseorang yang pernah ia temui waktu SMA. Kenapa sekarang jadi lebih tampan ya? Dira masih berusaha untuk mengingat-ingat mirip dengan siapa laki-laki ini. Dulu Dira mempunyai crush zaman SMA, namanya Shaka beda dua tahun dengannya saat Dira kelas 10 Shaka duduk di bangku kelas 12. Ia menatap laki-laki disampingnya itu lagi, tapi ini benar-benar mirip dengan Shaka. Orang yang berdiri di sebelahnya ini mirip sekali dengan Shaka apa jangan-jangan orang ini Shaka?
Ting!!
Lift berhenti di lantai 3, laki-laki yang disangka Shaka dan memang benar itu namanya Shaka—Dira melihatnya dari ID Card yang menggantung di lehernya di sana tertera nama Shaka, dan nama Shaka di Indonesia bukan hanya satu, begitulah pikir Dira. Dira pun langsung melupakannya mungkin itu hanya sekadar mirip saja dengan Shaka.
Saat sampai di kantornya ia langsung menyapa semua pegawai yang sudah datang, "pagi semua! Semangat kerjanya, kalau nggak kerja, kita nggak bisa minum boba!" Dira menaruh tasnya di atas meja. Teman-temannya hanya tertawa, bahkan ada yang menganggap kalau Dira ini orang stress.
Irfan dari bagian marketing menyahut, "bener banget Dir, gue setuju sama lo!"
"Hidup boba!" kata Dira.
"Hidup boba!" Irfan mengikuti ucapan Dira barusan.
Teman-teman yang lain hanya tertawa melihat tingkah dua orang yang rada gesrek otaknya. Fida yang duduk berhadapan dengan Dira—yang sedari tadi hanya diam saja kini ikut bersuara, "Lo kenapa? Pagi-pagi udah kek orang gila."
"Fid, hidup itu harus di bawa happy aja. Hidup udah sedih masa mau dibawa sedih. Yang ada double kill." ucapnya sambil mengikat rambutnya menjadi kuncir satu.
"Lo kenapa datang telat?" tanya Fida. Sebenarnya Fida sudah tahu jawaban kalau Dira datang telat itu karena habis begadang semalaman suntuk bahkan sampai subuh hanya untuk menamatkan satu musim Drakor kesayangannya. Tapi, Fida bertanya hanya untuk memastikan.
"Biasalah kaya nggak tahu aja. Mumpung bos lagi keluar kota."
"Kebiasaan."
"Daripada kerja begadang karena kerjaan? Tipus iya, kaya kagak." Dira tertawa sampai terbahak-bahak. Ia sampai ditegur oleh Anita yang duduk di sebelahnya.
"Ketawa biasa aja kali, udah kerja ngobrol mulu." kata Anita sambil menggebrak mejanya dengan tumpukan dokumen yang sudah ia susun.
Dira pun langsung diam, dan membuka komputernya untuk bekerja demi segelas boba yang harganya lumayan. Sementara Fida hanya cekikan menertawai temannya yang langsung ciut ditegur oleh Anita. Dira melihat Fida yang sedang meledeknya itu melempar dengan kertas yang sudah ia remas hingga berbentuk seperti bola. Fida tidak membalasnya ia hanya tertawa.
***
Jam istirahat pun tiba Dira yang paling excited kalau soal makana pun langsung bertanya kepada sahabatnya, "Fid, makan apa nih nanti di kantin?"
"Mie ayam deh."
"Bakso aja yang berkuah." kata Fida.
"Itu gue makan mie ayam, lo bakso aja."
"Duduknya entar pisah Dir!" ucap Fida.
Dira memicingkan mata heran, kenapa duduknya jauh kan tukang mie ayam sama bakso orangnya yang sama gerobak yang sama."Duduk misah gimana, Fid? kan tukang bakso sama mie ayam satu gerobak, dan orang yang sama."
Fida menepuk jidat, "oh iya yah! Napa gue jadi linglung gini dah."
"Makanya jangan kebanyakan kerja." kata Dira
"Nggak kerja, nggak makan gue"
Mereka berdua pun tertawa Dira langsung mengandeng tangan Fida untuk keluar dari kantor menuju kantin yang letaknya di lantai dasar gedung wisma.
Saat lift berhenti di lantai 3 entah kenapa Dira merasa kalau ini pertanda jodoh. Laki-laki yang ia temui pagi tadi masuk ke dalam lift bersama dengan Timo tunggu! Timo dan laki-laki ini berarti satu kantor? Soalnya mereka terlihat akrab. Kenapa selama ini Dira tidak menyadari kehadirannya?
"Tim? Kamu makan di kantin juga?" tanya Fida. Oke mungkin ini terdengar lucu sebagai kekasihnya Timo kok Fida tidak tahu kalau Timo akan makan siang di kantin. Tadi pagi Timo sempat mengabari Fida kalau ia tidak bisa makan siang bersama karena Aminah—ibunya sudah membawakan bekal untuknya. Makanya itu Fida seperti terkejut dan tidak tahu.
"Oh ini si Shaka, maksa aku buat makan di kantin. Yaudah deh aku ikut aja." kata Timo, sementara Shaka hanya tersenyum, Fida hanya ber 'oh' ria, dan Dira dengan tampang wajahnya terkejut karena namanya sama dengan crush nya waktu SMA, Shaka. "Mau makan apa kalian nanti?"tanya Timo.
"Mie ayam sama bakso," jawab Fida.
Dira mencuri-curi pandang ke arah Shaka, tapi ia berusaha sebisa mungkin tidak terlalu kentara bahwa ia sedang memperhatikannya.
"Kalian makan apa?" tanya Dira sok cool padahal sedang merasakan gugup. Tidak tahu kenapa Dira hanya gugup saja.
"Ketoprak nih, tapi kayanya bareng kalian aja deh. Gimana Ka?" tanya Timo.
Ting!
Pintu pun lift pun terbuka di lantai dasar. Wisma Sejahtera tuh memang paling enak liftnya. Saat lift terbuka langsung menghadap kantin wisma Sejahtera yang makanannya juara banget.
"Gue mah ikut aja." kata Shaka
Di dalam hatinya Dira kegirangan bukan kepalang karena Shaka menyetujui ajakan Timo. Itu berarti Dira akan duduk bersamanya, semoga saja akhirnya duduk di pelaminan bersama Dira.
Di tempat mie ayam bang Tono biasanya para penghuni wisma Sejahtera menyebutnya. Timo langsung memesan tiga porsi mie ayam dan satu porsi bakso beserta minumnya teh manis.
Posisi duduk mereka berempat adalah saling berhadapan; Shaka berhadapan dengan Dira dan Timo berhadapan dengan Fida.
"Gimana kerjaan kalian hari ini?" tanya Timo sambil mengaduk mie ayamnya dengan sumpit, dan menambahkan kecap asin ke dalam mie ayamnya.
"Biasalah, kerjaan mah nggak ada abisnya. Kecuali resign baru nggak ada kerjaan." kata Fida mencoba mencairkan suasana karena sedari tadi tidak ada yang angkat bicara. Dira yang tadi itu heboh sekali sekarang berubah jadi pendiam.
Yang tertawa hanya Timo, Shaka hanya tersenyum kecil Dira yang diharapkan oleh Fida tertawa heboh, gadis itu hanya menyengir kuda tanpa tertawa.
"Gue garing ya?" tanya Fida.
"Nggak Fid, kurang lucu aja." akhirnya Shaka angkat bicara juga.
"Tapi, lo kok cuma senyum aja?"
"Suka-suka guelah Fid." kata Shaka seraya menyuapkan mie ayam ke dalam mulutnya.
"Rese lo."
"Mereka nggak tahu selera humor kita Fid." Timo sebagai kekasih Fida akan membelanya.
"Nah lo Dir, kenapa diem aja?" tanya Fida. "Biasanya kan lo heboh banget."
Fid, gue lagi jaga image sih. Di depan Shaka yang mirip sama Shakanya gue, entalah semakin diperhatikan ini Shakanya gue. "Baksonya kepedesan Fid jadi susah ketawa." Alasan yang masuk akal menurut Dira, dan aneh bagi Fida.
Di meja itu meskipun mereka ber-empat yang banyak ngobrol hanya Timo dan Fida, sementara itu Shaka hanya diam fokus dengan makanannya dan Dira sesekali menimpalinya.
Setelah selesai makan siang mereka pun langsung bergegas untuk kembali ke kantor masing-masing, di lantai tiga Shaka dan Timo berpamitan untuk pergi lebih dulu. Setelah mereka berdua keluar, Fida mulai mengintrogasi Dira.
"Lo tadi diem aja kenapa? Gue nggak percaya kalo lo kepedesan karena makan bakso. Lo tuh mendadak diam pas ada Timo dan Shaka. Lo kenapa?"
"Nggak kenapa-napa. Gue mau diem aja." kilaj Dira berusaha untuk tidak terlihat curiga di mata Fida.
"Bohong," Fida tahu banget Dira itu seperti apa. "Lo ada Timo pun biasanya heboh. Apa karena ada Shaka? Lo ada apa ama dia?"
Emang nih yah si Fida Mama Laurent, tebakannya tepat sekali. "Gue nggak kenal dia. Gue aja baru tahu dia pas tadi, dan baru tahu kalo dia sekantor sama Timo."
"Ohh.." Fida masih tidak percaya, "lo nggak suka kan sama Shaka?"
"Gila kali lo langsung suka ketemu sama dia aja baru, nggaklah gue naksir sama dia." Dira membela dirinya.
Kini mereka sudah sampai di kantor, langsung duduk kursi kerja masing-masing. Fida masih memancing Dira soal Shaka. "Kalo lo suka sama Shaka juga nggak apa-apa. Kebetulan dia jomblo."
"Terserah lo."
Fida hanya tersenyum tanpa bicara apa-apa lagi. Kalau Dira seperti Fida jadi yakin pasti ada sesuatu, nanti dilain waktu kalau mood Dira sedang baik akan dipancing lagi supaya sahabatnya ini mau cerita.