Dira yang melihat sahabatnya pulang pas tengo. "Lo buru-buru amat sih, Fid. Udah kaya mau ambil gaji. Baru juga jam 6 teng. Lo biasanya juga keluar kantor jam 7 atau bahkan jam 8." ucap Dira yang masih duduk manis di kursinya, tanpa berniat untuk pulang cepat. Mungkin Dira ingin mendownload banyak Drama Korea terbaru, dengan menggunakan WiFi kantor. Biasanya kan Dira memang seperti itu. Jangan ditiru yah para pengemar Dira, siapa tahu di dunia ini ada yang nge-fans dengan Dira.
"Secara gue kan nggak jomblo kaya lo. Gue pulang cepat karena pengin ketemu sama pacar gue." Fida berucap sombong seperti itu bukan kerena ia benar-benar sombong. Hanya saja ia senang menggoda sahabatnya ini. Fida memasukan laptop ke dalam tasnya.
"Jangan sombong deh!" Tiba-tiba Dira bertanya pada dirinya sendiri, Fida mau ke kantor Timo. Itu berarti kantor Shaka juga. Dira yang tadinya ingin mencak-mencak kepada Fida karena sudah mengatainya jomblo, Dira langsung tersenyum. "Berarti lo ketemuan sama Timo, di kantor Timo?
Fida mengangguk, “kenapa emang?”
“Tungguin gue!”
“Kenapa lo jadi buru-buru, Marjinem.” Fida menatap heran sahabatnya itu. Perasaan tadi santai-santai aja yah. Kok sekarang malah terburu-buru begini.
“Lo mau ketemu Timo, kan? Di kantornya?” Fida mengangguk. “Nah! Gue mau ikut biar ketemu sama Shaka.” Sudah Fida duga kenapa sahabatnya begitu excited. Dira langsung men-touch up make up-nya, setelah selesai ia memasukkan barang-barangnya, dan setelah dirasa cukup Dira langsung merangkul lengan Fida, “yuk! Let’s go!”
Fida dan Dira pun langsung berjalan keluar dari kantor mereka, berjalan menuju lift. Sampainya di lift Fida langsung menekan tombol nomor 3. “Lo di sini mah keliatan kaya centil banget Dir, tapi pas lo ketemu sama si Shaka nanti langsung pucet kaya lagi berhadapan sama dosen penguji.”
“Yaelah gue begitu jaga image Dir. Soalnya lo tau sendiri, kan gimana dinginnya si Shaka sama cewek. Kalo gue yang kaya gini, yang ada dia malah ifeel.” kata Dira sambil mengaca di lift—di mana letak kacanya ada di samping kiri dan kanannya. Untungnya di dalam lift hanya ada mereka berdua kalau ada yang lain, Dira mana mungkin berani bicara begitu. Tiba-tiba Dira berimajinasi kalau Shaka akan mengantarnya pulang, “Eh Fid!” Nada bicara Dira membuat Fida terkejut.
“Lo bisa biasa aja nggak sih, gue kaget k*****t!” kata Fida sambil mengusap bahunya yang tadi di sentuh oleh Dira.
Ting!
Pintu lift pun terbuka mereka sudah sampai di lantai tiga Fida sangat bersemangat keluar dari lift karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan kekasihnya. Begitu pun dengan Dira yang akan bertemu dengan Shaka. Bedanya kedatangan Fida sangat ditunggu oleh Timo, sementara Dira sama sekali tidak diharapkan kedatangannya oleh Shaka.
Mereka berdua menunggu di dekat resepsionis duduk di kursi yang berhadapan dengan meja resepsionis yang sudah kosong. Sepertinya resepsionis di kantor Timo sudah pulang. Tiba-tiba Dira menggenggam tangan sahabat itu. "Fid, coba deh lo rasaiin tangan gue dingin banget nih." Lalu Dira mengarahkan telepak tangannya ke dadanya. "Lo rasaiin detak jantung gue di dalam sini."
Fida langsung melepaskan tangan Dira, "lebay lo. Biasa aja kali. Inget Shaka bukan siapa-siapa buat lo." Fida sebenarnya bermaksud untuk bicara dengan kalimat sarkasme, tapi kenapa jadi to the point gini.
"Kalo ngomong suka ben.." Dira tidak melanjutkan kalimatnya dikarenakan saat ia menoleh ada Shaka berjalan berdampingan dengan Timo. Suara pantofel yang beradu dengan lantai berbunyi sangat merdu. Entah kenapa suara pantofel jadi merdu seperti ini di telinga Dira. Shaka kenapa Sanga tampan? Kenapa ia harus suka dengan orang yang tampan. Sosok yang jelas-jelas susah untuk digapai, walaupun bisa digapai pasti Dira jadi bahan bully an se-Indonesia. Nanti ditanya pakai pelet apa? Kok orang setampan Shaka bisa menyukainya.