Timo mendapat pesan dari Elvira bahwa ia akan pulang ke Indonesia bulan depan. Kata Elvira sudah fix ia akan datang ke Indonesia bulan depan.
Timo
Ini serius El?
Lo mau balik bulan depan.
Timo bukannya tidak percaya karena takut Elvira memberi harapan palsu kalau ia akan datang ke Indonesia bulan depan. Sudah dua kali Elvira begini akhirnya malah tidak jadi ke Indonesia.
Elvira
kamu nggak percaya sama gue apa?
Timo
Iya gue percaya.
Tapi kali ini bener kan ya?
Soalnya gue mau kabarin nyokap nih.
Elvira memang harus bersyukur meskipun anaknya—Timo sudah tidak menginginkannya, tapi ibunya masih menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Kalau anaknya sulit di dekati—dekati ibunya terlebih dahulu.
Elvira
Iya beneran.
Mau nitip oleh-oleh apa nih?
Jangan minta cewek aku nggak bisa nyariin
Peace love and gaul
Timo hanya tersenyum membacanya Elvira masih tidak berubah selalu bisa merubah suasana yang tadinya suram jadi tidak. Timo hanya bisa bedoa untuk sahabatnya itu semoga bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik darinya.
Timo
Nggak tau
Terserah lo aja.
Elvira
Oke
Bawaiin juga ya buat mama
Elvira memang sudah terbiasa memanggil Aminah dengan sebutan mama bukan tante karena bagi Elvira, Aminah sudah seperti dianggap seperti ibu kandungnya sendiri
Elvira
Kalo Devin mau apa?
Timo tahu betul adiknya itu suka sekali dengan coklat, jadi Timo pun menyarankan Elvira untuk membawa coklat sebanyak-banyaknya untuk Timo. Catat baik-baik ini tidak serius hanya bercanda.
Timo
Coklat aja yang banyak ya.
Eh!
Bercanda deh!
Secukupnya.
Elvira tersenyum membaca pesan teks dari Timo; banyak pun Elvira sama sekali tidak masalah dengan itu malahan ia jadi senang.
Elvira
Banyak juga nggak apa-apa.
Aku malah seneng.
Timo
Makasih banyak ya!
Elvira
Sama-sama
Percakapan mereka pun selesai sampai di situ meskipun dari hati terdalam Elvira masih ingin berbicara banyak dengan Timo. Lagi-lagi gengsi dan rasa bersalah menghalanginya.
Sementara itu Timo langsung pergi ke ruang keluarga untuk memberitahu ibunya bahwa Elvira akan datang ke Indonesia Minggu depan.
Di ruang keluarga sudah ada Aminah, Sumarno, dan Devin sedang menonton acara kartun tentu saja bukan mereka yang menonton. Mereka hanya menemani Devin.
"Ma?" Timo langsung duduk di sebelah Aminah, "Elvira mau dateng ke Indonesia bulan depan!"
"Ini serius kamu dia mau datang ke sini bulan depan?" tanya Aminah dengan ekspresi wajah yang bahagia. Akhirnya anak perempuannya datang juga ke Jakarta. Aminah selalu bicara ke Elvira kalau ia anak perempuannya. Karena ia benar-benar menyayangi Elvira layaknya anak kandung sendiri.
Devin yang sedang serius menonton kartun kesayangannya begitu mendengar Timo mengucapkan bahwa Elvira akan kembali ke Indonesia Minggu depan. Ia menghampiri kakaknya duduk di atas pangkuan kakaknya. "Bener yah ka, Ka Elvira mau datang bulan depan?"
Timo mengusap rambut Devin dengan lembut, "iya mau dateng nanti ka El bawain kamu coklat yang banyak buat kamu."
Devin tersenyum lebar ke kakaknya. "Asyik beneran yah ka?"
Timo mengangguk lalu mencolek hidung adiknya itu, "iya dong masa bohong."
"Tapi, kamu jangan makan coklat banyak-banyak ya nanti sakit gigi o." kata Sumarno kepada anak bungsunya.
"Tapi, aku suka banget sama coklat pa."
"Papa juga suka banget sama coklat. Nanti kalau coklat sudah ada di rumah kita, bagi dua ya?" Suwarno meledek anak bungsunya yang terkenal pelit kalau soal coklat karena itu makanan favorte Devin.
"Nggak boleh!" Devin cemberut. "Nanti coklatnya Devin taruh kamar, papa nggak boleh masuk kamar Devin."
"Papa bakal curi coklat kamu pas kamu tidur nanti.'
Devin yang tadinya hanya cemberut akhirnya menangis juga karena ledekan dari papanya. "papa!!!"
Aminah pun langsung mengendong anaknya itu dari pangkuan Timo, "papa ya. Demen banget ngeledek Devin."
Aminah pun langsung membawa Devin ke kamarnya sambil menenangkannya. "Jangan khawatir yah sayang, nanti mama jagain kamu supaya coklat kamu tidak di curi oleh papa ya."
Kini di ruang keluarga tinggal Timo, dan Sumarno. Timo dan Sumarno memang cukup dekat kalau soal apa-apa pasti Timo curhatnya ke Sumarno bahkan masalah ia dengan Elvira pun papanya tahu banget.
"Kamu gimana Tim?" tanya papanya saat Aminah sudah pergi ke kamar Devin.
Timo mengganti stasiun Tanya dengan acara bola. Timo yang tidak mengerti dengan ucapan papanya pun balin bertanya. "Maksud papa?"
"Kamu masih sayang sama Elvira?"
"Masih pa... sebagai sahabat."
Sumarno malah terkekeh mendengar jawaban dari Timo anaknya. "Masa sih?"
"Iya pak... nggak mungkinlah kaya dulu aku kan udah ada Fida sekarang. Nggak mungkin aku nyakitin Fida pa. Aku sayang sama dia pa."
"Laki-laki kadang omongannya suka nggak bsia dipegang." ucap Sumarno. Sumarno pun tidak mau munafik bahwa anaknya dan Fida yang berbeda keyakinan tidak mungkin bersatu menurut agama mereka masing-masing. Mungkin saran Sumarno untuk hubungan anaknya dan Fida terlalu menyakitkan tapi itulah sebuah kenyataan yang harus mereka terima. Mereka harus berpisah tidak baik bila harus memaksa untuk bersatu, terkesan menentang peraturan Tuhan. "Tim papa cuma mau bilang ek kamu untuk nggak nyakitin siapa-siapa ya."
"Iya pa."
"Kamu masih kontekan sama Elvira?"
"Masih pa, kenapa?"
"Nggak apa-apa. Bagus deh kalau masih kontakan. Kirain papa sudah nggak. Kamu tetap ya jaga silaturahmi sama Elvira." Sumarno menasehati anaknya sulungnya itu.
"Pa.. Fida gimana orangnya?"
"Baik." kata Sumarno."Dia baik... keliatan tulus juga sama kamu. Yang paling papa suka dia ternyata nyambung banget ngobrol sama papa." Sumarno mengakui itu. Rasanya akan menyenangkan bila Fida benar-benar bisa menjadi menantu suatu hari nanti. Akan tetapi, kembali lagi ke pertanyaannya 'apakah dinding besar itu menyatukan mereka?'
"Makasih ya pa."
"Makasih untuk apa?" tanya Sumarno.
"Makasih udah mau menerima Fida dengan baik di keluarga kita. Terlepas dari perbedaan yang ada di antara kita pa."Timo sendiri tidak menyangka bahwa keluarganya akan welcome sekali dengan Fida. Timo pun sama seperti Fida ia takut kalau Fida tidak diterima dengan baik oleh keluarganya. Syukurlah ketakutan itu tidak benar-benar terjadi.
"Kamu awal takut ya, Nak?" feeling Sumarno terhadap anak sulungnya ini memang kuat.
Timo mengangguk, "awalnya pa. Tapi, ngelihat papa sama Fida dekat gini. Timo bersyukur ketakutan aku tidak jadi nyata."
"Papa mau ke ruang kerja dulu ya.Pesan papa ke kamu cuma satu yah Tim. Tolong ikutin kata hati kamu, dan jangan nyaktin siapa-siapa ya Tim. " Sumarno bangkit dari tempat duduknya. Lalu pergi meninggalkan Timo yang sedang merenungi perkataan dari papanya itu. Jujur Timo masih tidak paham, dan ia tidak ingin membahasnya lagi ke ayahnya malah takut jadi obrolannya makin panjang.
***