First Time Timo Meet With Elvira
SMA Karya Bangsa adalah saksi pertemuan dua antara Timo dan Elvira. Pada saat itu mereka berdua adalah dua orang anak baru yang sedang menjalan masa orientasi siswa (MOS). Pertemuan itu terjadi pada hari pertama mereka MOS pada saat itu Elvira berbaris di paling belakang sebelah Timo.
Elvira yang memang di kenal sebagai orang yang supel (mudah bergaul dengan siapapun). Setelah kepala sekolah selesai berpidato di depan menyambut kedatangan para siswa baru yang terpilih untuk masuk ke SMA Karya Bangsa. Memang masuk ke SMA ini benar-benar dengan persaingan ketat. Yang masuk di sini hanya murid-murid terpilih, murid-murid yang mempunyai kemampuan akademik yang lumayan.
Elvira mencolek tangan Timo. Timo pun menoleh ke arah Elvira tanpa ekpresi lalu Timo kembali melihat ke depan yang kini pembicaranya digantikan oleh ketua OSIS SMA Karya Bangsa.
"Nama lo siapa?" Elvira memberikan tangannya kepada Timo untuk berjabat tangan. Tapi, Timo hanya menatapnya sebentar lalu kembali fokus lagi ke objek di depan sana.
Elvira kembali menarik tangannya, "kenalin gue Elvira. Lo bisa panggil gue El, Vira, atau Elvira langsung juga nggak apa-apa." Elvira berbicara dengan berbisik takut ketahuan yang ada malah di hukum. Timo menjawabnya diam, tidak merespon apa-apa. Tidak memperkenalkan dirinya ia cuek saja anggap saja orang yang sedang berbicara ini tidak ada.
Bukanlah Elvira kalau namanya kalau menyerah. Sampai kata sambutan yang diberikan oleh kepala sekolah, wakil kepala sekolah, perwakilan guru, dan semua siswa di minta untuk masuk kelas. Untuk pengenalan ekstrakulikuler apa saja yang ada di sini.
Elvira mengikuti Timo untuk mencari celah bisa duduk bersama dengan Timo. Elvira selalu beruntung ia bisa duduk bersama dengan Timo.
"Kamu dari SMP mana?" tanya Elvira. Kini mereka berdua sudah duduk di bangku paling di belakang.
"SMP Nuansa Bangsa I." jawab Timo dengan singkat tanpa bertanya balik di mana SMP Elvira.
"Istirahat nanti.."
"Lo bisa diem nggak?" Timo menoleh ke arah Elvira dengan tatapan sinis. "Kalo lo nggak bisa diem sebaiknya pindah tempat duduknya. Udah dengerin aja apa yang diomongin orang di depan lo sekarang." Maksudnya asah omongan dari guru BK SMA karya Bangsa.
Timo memang dikenal cuek sama perempuan kalau yang tidak ia kenal dengan baik. Seperti Elvira contohnya; sok kenal sangat mengganggunya.
Waktu istirahat pun tiba para siswa dan siswi pun langsung berhamburan keluar dari kelas untuk pergi ke kantin. Sementara Elvira dan Timo masih diam di kelas tidak bergegas keluar mengikuti yang lain.
"Lo nggak lapar?" tanya Elvira.
Timo mengeluarkan kotak bekal berupa nasi dan ayam goreng dari dalam tasnya.
"lo bawa bekal?" tanya Elvira.
"Iya."
"Yah berarti gue jalan ke kantin sendirian dong, nggak ada teman."
Bunyi suara tutup kotak bekal di buka pun terdengar saat Timo membuka kotak bekalnya."Kan bisa sendiri jalan. Punya kaki kan lo?"
"Ayuk ke kantin!" ajak Elvira.
"Lo nggak liat gue bawa bekal? Ngapain gue ke kantin."
"Bisa bawa bekalnya ke kantin. Lo nggak perlu jajan apa-apa. Temenin gue aja." Elvira memohon kepada Timo.
Timo melirik ke arah Elvira dengan tatapan kesal, “Ko lo malah maksa sih. Kan gue udah bilang kalau gue nggak bisa! Gue nggak bisa berarti gue nggak mau ke kantin, KARENA GUE BAWA BEKAL. Lo paham nggak sih?” Timo membentak Elvira, dan itu membuat Elvira hampir menangis. Timo aalah tipe laki-laki yang tidak bisa melihat seorang perempuan menangis pun langsung mengatakan. “Eh sori. Gue nggak ada maksud buat bentak lo. Gue cuma kesel aja lo maksa banget jadi orang.”
“Gue tuh cuma mau berteman sama lo. Kalau lo ngak mau yaudah nggak apa-apa” Elvira bangkit dari tempat duduknya, dan meninggalkan kelas untuk pergi ke kantin .
Timo yang merasa bersasalah pun mengikuti Elvira dari belakang, “tunggu! Iya gue temenin lo ke kantin.”
Elvira menghentikan langkah kakinya. Wajah pun tersenyum karena akhirnya Timo mau untuk menemaninya makan di kantin. Inilah awal di mana Timo dan Elivra saling kenal, sebelum akhirnya mereka berteman dan bersahabat.
Sampainya mereka di kantin pun tidak langsung memesan makanan. Elvira malah bingun ingin memesan makan apa di kantin. “Yang enak makan apa ya? Oh ya gue belum tahu nama lo. Nama lo siapa ya?”
“Timo.” Jawab Timo masih dengan singkat.
“Oke Timo, Lo ada saran nggak makan apa?”
“Nggak ada.”
Elvira menghela nafas kesal, “lo mah selalu ada saran.” Elvira melirik ke gerobak soto mie, dan ia tertarik untuk membelinya.
Elvira pun langsung mengajak Timo pergi ke gerobak soto mie. Sebenarnya Elvira tidak telalu doyan dengan soto mie. Ia melirik soto mie hanya karena temapt tidak terlalu ramai dari makanan yang lain.
Mereka berdau pun duduk saling berhadapan di bangku yang pas dekat dengan geroboak sto mie. Di gerobak ada bacaan ‘soto mie bang kumis’ memang yang jualannya ini berkumis dan mungkin ini alasnnya dinamakan soto mie bang kumis. Elvira sudah memsan satu porsi soto mie beserta dengan es jeruk.
"Soto mienya enak ya ternyata ya Tim." kata Elvira sambil menyerubut kuah soto mienya. "Mau nggak bisa lo bisa, soalnya gue liat lo makanannya kering Tim, cuam sama nasi dan telur dadar." tawa Elvira kepada Timo.
"Nggak usah. Gue nggak suka pedas, soalnya kuah lo keliatan pedas." Timo menolaknya dengan secara halus.
"Beneran nggak mau nih?"
"Iya."
Sambil menikmati soto mienya Elvira memandang wajah Timo sambil di dalam hatinay ia berkatat; Ganteng-ganteng tapi juteknya keterlauan banget ya, ini Timo."Lo pulang di jemput atau pulang sendiri?" tanya Elvira. Kalau pulang sendiri kan Elvira bisa pulang bareng sama Timo.
"Sendiri."
Elvira jujur sangat kesal dengan Timo; jawabannya irit-irit banget. Benar-benar yah ini orang bicara pakai kouta interntet.
bisa tidak Timo tidak harus bicara irit seperti itu lelah juga.