Fida masih mengingatnya dengan jelas waktu pertama kali Timo menyatakan perasaannya kepadanya. Waktu itu Timo mengajaknya untuk pergi jalan-jalan keliling Jakarta sambil kulineran. Fida tahu bahwa statusnya dengan Timo masih sebatas teman—tidak lebih dari itu.
Akan tetapi, insting seorang perempuan kadang tidak pernah salah—Fida merasa kalau Timo menyukainya. Itu semua bisa dilihat dari perhatiannya, sikapnya yang layaknya bukan teman, tapi Fida selalu memperingati dirinya untuk tidak terlalu berharap.
Percayalah berharap sama manusia itu cukup menyakitkan. Jadi Fida pada saat itu tidak berpikir apa-apa; tidak berpikir kalau Timo akan menyatakan perasaan. Mengajaknya untuk berpacaran padahal sudah jelas perbedaan di antara mereka. Lihatlah sekarang Fida sedang menungggu Timo di luar gereja—menunggu temannya itu selesai beribadah.
Sambil menunggu Timo Dira terlebih dahulu memilih untuk jajan tahu gejrot yang berjualan di depan Gereja. Mamang tahu gejrot pun bertanya kepada Fida, "kenapa kamu nggak masuk?" tanyanya.
"Saya muslim pak. Ini saya lagi nunggu teman saya selesai ibadah."
Mamang tahu gejrot hanya ber 'oh' ria kepada Fida. "Pedes nggak tahu mba?"
"Iya pedes ya."
Kira-kira Timo akan keluar lagi Gereja sekitar tiga puluh menit lagi. Ia pun punya kesempatan untuk makan terlebih dahulu sebelum mereka memulai petualangan mengelilingi Jakarta. Tahu Gejrot yang di pesan oleh Fida pun sudah jadi.
Fida pun duduk di bangku plastik yang disediakan oleh mamangnya, dan tidak lupa Fida memesan es kelapa yang ada di sebelahnya.