Fida masih ingat moment di mana ia merasa tidak pantas untuk Timo. Bahkan Fida pernah beberapa kali meminta Timo untuk mengakhir hubungannya. Karena waktu ia pernah upload foto di i********: berama Timo, ada salah satu followers di mana pengikutinya ini adalah teman SMAnya dulu. Komentar cukup pedas sampai-sampai Fida mengarsipkan fotonya tersbut.
Komentar seperti ini :
Cowok lo bisa mau sama lo pakai pelet apa?
Fida menunjukan komentar itu kepada Timo, karena memang Timo tidak memiliki i********:. Mungkin orang-orang menganggap Timo kuno, tapi bagi Timo tidak punya banyak sosial media membuatnya tetap waras. "Udah biarin aja. Dia iri nggak bisa punya cowok seganteng yang kamu punya. Kamu sebaiknya jangan buku dulu Instagram."
"Aku jelek yah, Tim?"
"Cantik!"
"Kamu ngomong gini cuma biar aku seneng aja kan ya?" tanya Fida sambil memasang muka cemberutnya.
Timo kadang heran sama perempuan yang kalau nanya aku cantik? Tentu jawabannya pasti cantik. Tapi, tetap tidak percaya dengan jawabannya. "Beneran sayang." Timo merangkul Fida mencium kening kekasihnya.
Padahal tadi mereka baik-baik saja menonton film di rumah Fida, sambil memakan kentang goreng. Tapi, entah kenapa tangan Fida yang gatel ingin membuka i********: melihat komentar salah satu netizen yang membuat Fida uring-uringan bahkan sampai menangis.
"Bener ya?"
"Iya sayang."
"Fidanya aku. Kamu itu cukup untukku. Kamu cukup baik dan cantik nggak usahlah kamu dengerin apa kata orang ya?"
Pintu kamar Tata terbuka, "sabar yah ka Tim." kata Tata berdiri di depan kamarnya sambil membawa handuk. "Maklum lagi ada tamu bulanan, jadi uring-uringan, segala dibahas. Manjaiin aja ka."
"Tata!!"
Tata pun langsung ngibrit ke kamar mandi. Saat mereka sedang asyik-asyiknya mengobrol berdua tiba-tiba ada ponsel Timo yang diletakan di atas meja berdering. Tanda ada panggilan masuk dan panggilan masuk itu dari Elvira.
Sebelum mengangkatnya Timo izin terlebih dahulu, "boleh aku angkat?"
"Bolehlah sayang. Takut penting."
"Oke." Timo mengangkatnya dan berbicara di depan Fida.
"Halo El, ada apa?"
Untung saja Timo tidak meload speaker ponselnya, kalau ia lakukan itu yang ada bisa terjadi perang dunia ketiga.
Di sebrang sana Elvira mengatakan kalau ia sangat rindu dengan Timo, padahal baru tiga Minggu ini Elvira tidak bertemu dengan Timo.
"Kapan kita ketemu?" tanya Elvira.
"Harus ya emang, El?"
Mendengar pertanyaan Timo barusan benar-benar membuat Elvira kesal. "Kenapa kamu kok ngomong gitu."
Andai kata tidak ada Fida di sebelahnya mungkin Timo sudah berteriak karena emosi. Oke, Timo akan meluangkan waktu dengan Elvira. Akan tetapi tidak bisa seperti dahulu yang bisa menemaninya setiap saat. Keadaannya sekarang sudah berbeda. Mereka sudah bukan lagi sepasang kekasih, hanya sebatas sahabat. Kalau Elvira butuh teman untuk cerita Timo akan selalu ada kok.
Kalau Elvira butuh bantuan ia akan siap membantu kapan itu, tapi tidak harus setiap saat Elvira terus-terusan untuk meminta ditemani olehnya.
Timo menarik nafas berusah tetap rendah suaranya supaya Elvira tidak menyangka kalau dirinya sedang kesal, begitu pun dengan Fida supaya ia tidak curiga dengannya. "El, udah dulu ya ceritanya. Aku lagi sama Fida, nanti kalo kamu butuh teman untuk cerita aku ada kok. Kamu tinggal telepon aku aja." kata Timo dan ia langsung mematikan teleponnya.
Fida yang penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh Timo pun, lansgung bertanya kepada Timo. "Tadi Elvira ngomong apa ya?"
"Itu dia lagi kesel sama mantannya yang bule itu sayang, katanya masih ganggu dia."
"Oh gitu, emang nggak enak sih kalo dikejar-kejar sama mantan yang udah nggak mau kita tahuagi tentang dia."
"Mantan kamu ngajak balikan?"
Fida yang tidak menyadari kalau di dapur ada Tata yang sudah selesai mandi, tapi masih ingin di ruang makan untuk menguping pembicaraan antara Timo dan kakanya
"Mantan? Nggak ada kok, mereka masa lalu."
Dari meja makan Tata berteriak denga lantang, "siapa yang mau ngajak balikan. Nggak pernah ada kok ka, orang ka Fida sekali jadian sama orang kaya paket kouta."
Fida rasanya ingin memasang lowongan untuk mengadopsi adiknya, "Tata kamu udah selesai mandinya?" tanya Fida.
"Udah dari tadi ka."
"Kamu nguping pembicaraan kita ya?"
"Iya!!" Tata nongol dari ruang makan sambil menyengir kuda.
"Masuk kamar, anak kecil kok sukanya nguping pembicaraan orang dewasa." Fida menatap adiknya itu kesal, sementara Timo hanya menyengir kuda melihat kedua kakak adik beradik itu saling ledik meledek. Tata pun masuk ke dlaam kamarnya, dan mengunci kamarnya. Fida hafal butuh tabiat adiknya itu, ia pasti mengurung diri di kamar sambil menonton drakor. Tata dengan Dira sebelas dua belas kalau soal drakor.
"Itu kamu serius pacaran kaya paket kouta?" tanya Timo.
"Kok kamu jadi bahas ginian sih? Kamu mau ngeledek aku?"
"Kasian banget pacaran kaya paket kouta."
"Timo!!!" Fida memukul wajah Timo dengan bantal cukup keras.