iElvira
Hai Tim
Gimana kabarnya?
Timo membaca pesan masuk dari Elvira meskipun ia dan Elvira masih saling menyimpan nomor. Mereka jarang sekali Bertukar pesan, apalagi telepon. Karena mereka juga sama-sama sibuk. Elvira sibuk dengan kuliah dan juga kerja part time nya di Aussie sementara Timo dengan pekerjaannya.
Setelah dua bulanan Elvira dan Timo tidak bertukar pesan, akhirnya Elvira yang memulai obrolan itu. Selalu begitu tidak pernah Timo yang menghubunginya duluan, itu sama sekali tidak masalah bagi Elvira selama mereka masih bersahabat dengan baik.
Elvira menunggu balasan pesan dari Timo dengan harap-harap cemas, takut kalau pesannya itu tidak balas oleh Timo. Atau malah menganggu aktivasinya karena ada pesan darinya, atau Timo yang merasa risih. Selang beberapa menit ponsel berbunyi; Timo membalas pesannya.
Timo
Hei El!
Baik kabar gue.
Kabar lo gimana?
Elvira menarik sudut bibir membentuk senyuman kecil, ia senang Timo membalas pesannya dengan ramah—Elvira merindukan sosok Timo tidak sabar untuk bisa segera bertemu dengan laki-laki yang pernah ia cintai itu.
Dengan fast respon Elvira langsung membalas pesan dari Timo. Dengan senyuman yang tidak hilang dari wajahnya. Seperti remaja yang baru saja jatuh cinta untuk yang pertama kali.
Elvira
Puji Tuhan, aku juga baik
Aku kayanya nggak deh
Untuk pulang bulan ini.
Masih ada beberapa mata kuliah
Yang harus aku selesaiin.
Elvira tetap menyebut dirinya sebutan 'aku' meskipun sudah lama sekali Timo tidak lagi menyebut 'kamu' memilih menyebut kata 'lo' sama seperti dulu sebelum mereka memutuskan hubungan mereka. Elvira menunggu dari balasan dari Timo yang lumayan agak lama, dari w******p terlihat online. Tapi, tak kunjung membalas pesan darinya. Kira-kira tiga puluh menitan Timo baru saja membalas pesannya.
Timo
Yah padahal gue mau ketemu.
Yaudah nggak pp selesaian aja
Apa yd
*yang perlu lo selesaikan El.
See you ya.
Entah kenapa tiba-tiba Elvira merindukan Timo memanggilnya 'Vira' dulu Vira adalah panggilan sayang untuknya dari Timo, seiring dengan perasaan mereka yang mulai hilang nama panggilan itu pun hilang begitu saja tidak pernah disebut lagi. Rasanya tidak ada yang perlu dibalas lagi dari chatting ia dengan Timo, Elvira pun membalasnya dengan seadanya.
Elvira
See you, Tim.
Chat terakhir darinya dibaca oleh Timo. Rasanya Elvira ingin mengatakan sebuah kata yang selama ini berusaha ia tahan, karena takut perasaan Timo tidak sama dengannya. Bila itu benar itu akan menyakiti hati Elvira tentunya dan ia memutuskan untuk tidak melakukan hal itu. Ia pun memasukan ponsel ke dalam tasnya, dan langsung pergi tidur karena hari ini ia sangat lelah dengan tugas-tugasnya.
Timo bukannya tidak ingin membalas pesan dari Elvira ia hanya berpikir tidak ada yang perlu dibicarakan lagi dengan Elvira, tapi kalau Elvira butuh dirinya untuk jadi teman ngobrol. Timo akan siap sedia selalu ada untuk Elvia, sebagai seorang sahabat.
Aminah mengetuk pintu kamar anak sulungnya membawakan dessert berupa puding coklat kesukaan putra sulungnya itu. "Nak, mama boleh masuk?" ucap Aminah dari balik pintu.
Timo yang sedang duduk di meja belajarnya (atau sekarang lebih tepatnya dipakai jadi meja kerja) karena sudah tidak kuliah, dan kini ia berperan sebagai orang dewasa yang harus berjuang untuk bertahan hidup. Bahasa memang berat sebaiknya lupakan saja soal kalimat yang terakhir.
"Iya ma, masuk aja nggak aku kunci kok." kata Timo.
Aminah pun langsung masuk ke dalam kamar Shaka sambil membawa sepiring puding rasa coklat. Perempuan paru baya itu langsung duduk di bangku kecil yang ada di samping meja belajar Timo.
"Kamu weekend gini nggak jalan ama Fida?" tanya Aminah. "Kalo weekend gini daripada jalan keluar lebih baik main aja ke sini ke rumah, hemat biaya."
Timo melahap pudingnya coklatnya memotong dengan menggunakan sendok, "hari ini dia lagi nggak mau diajak jalan sama Timo. Pengin me time katanya. Sok-sokan banget dia me time."
Aminah tersenyum, "gak apa-apa. Kamu nggak boleh gitu, biarin dia ngabisin waktunya sendiri. Dia juga butuh waktu buat dirinya sendiri, nggak kamu sendiri."
"Iya iya ma." kata Timo. "Ini pudingnya enak banget ya ma."
"Siapa dulu yang bikin. Mama gitu loh." ucap Aminah, "Oh yah gimana kabarnya Elvira? Mama kangen ya sama dia."
Tentu saja Aminah rindu dengan Elvira; karena memang dulu mereka sangat dekat sekali. Aminah sudah menganggap Elvira adalah anak kandungnya sendiri. Apalagi ia tidak memiliki anak perempuan, begitu pun sebaliknya dengan orang tua Elvira menganggap Timo seperti anaknya sendiri karena memang mereka tidak memilik anak laki-laki.
Timo agak terkejut dengan Aminah yang tiba-tiba bertanya tentang Elvira, terakhir bertanya soal Elvira Natal tahun lalu sudah satu tahun bukan Aminah tidak pernah menanyakan perihal Elvira. "Fida baik ma, barusan aku abis chatting sama dia, mama mau telepon sama El?"
Aminah menggelengkan kepalanya, "nggak usah Tim, mama nanya aja. Dia baik kan? Gimana kuliahnya di Aussie lancar?"
"Lancar kok Ma, dia rencana mau balik ke Indonesia." kata Timo. "Tapi, belum pasti kapan ke Indonesia nya ma."
"Suruh mampir ke rumah ya, mama buatin sayur capcay kesukaannya. Kabari mama kalo dia udah di Indonesia ya." Aminah bangkit dari duduknya, "Yaudah kamu abisin itu pudingnya, nanti jangan lupa bekasnya bawa ke dapur." Aminah pun meninggalkan kamar anaknya tidak lupa ia menutup pintunya.
Timo menghela nafasnya ia pun bangkit dari duduknya berjalan ke arah lemari kaca ia membuka salah satu laci dari lemari kaca tersebut. Saat laci itu terbuka di sana ada foto dirinya dengan Elvira saat mereka sedang jalan-jalan ke Dufan.
Ternyata waktu sudah berjalan jauh ke depan masa ia bersama dengan Elvira dulu sudah berkahir. Kadang memang Timo suka rindu masa itu, akan tetapi ia selalu tepis sekarang masanya dengan Elvira sudah berbeda. Mereka berdua sudah punya kehidupan masing-masing. Jika ia ingin kembali? Sepertinya itu tidak akan pernah terjadi dalam hidupnya. Ia tidak akan sampai hati menyakiti kekasihnya yang sudah selalu ada dalam suka mau duka. Timo bukan tipe orang yang mudah menyakiti perempuan—ia sangat menyayangi ibunya mana mungkin ia melakukan hal seperti itu.
Timo memasukan kembali fotonya ke dalam laci lalu ia merebahkan dirinya di kasur. Tiba-tiba ponselnya berdering ada telepon masuk dari Elvira, Timo pikir itu dari Fida. Hari ini sepertinya Fida benar-benar sibuk dengan dirinya sendiri sampai dengan dirinya.
Timo pun menggeser layar ke kanan untuk mengangkat telepon dari Elvira, "iya halo?"
Fida diawal sebenarnya ingin tidur, akan tetapi ia malah tidak bisa tidur sama sekali ia malah kepikiran Tim, dan ia ingin menelpon Timo—tapi ia berperang dengan batinnya sendiri apakah ia harus menelponnya atau tidak?
Sampai akhirnya ia pun memberanikan diri untuk menelepon Timo, masalah diangkat atau tidak itu masalah belakangan. Ternyata teleponnya diangkat oleh Timo.
"Ganggu nggak, Tim?"
"Nggak kok. Ada apa telepon gue?"
Gue kangen suara lo, ingin rasanya ia ucapkan kata-kata itu. Tapi, posisinya sekarang Timo sudah bersama orang lain. Rasanya tidak baik jika harus menganggu hubungan orang yang pernah ia sayangi lebih dari seorang sahabat. "Nggak apa-apa pengin ngobrol aja sama kamu. Kerjaan kamu gimana? Lancar?" tanya Elvira membuka obrolan yang ia harapkan akan menjadi obrolan yang panjang.
"Kerjaan lancar. Cuma lebih sering bikin pusing ya." Timo tertawa sambil membayangkan pekerjaannya yang tidak pernah selesai kecuali dirinya resign baru kerjaan itu selesai. "Kuliah lo gimana?"
Suara Timo masih saja sama seperti dulu, dan ia merindukan suara tawa itu—suara Timo yang menertawakan joke nya yang garing sama sekali tidak lucu, tapi Timo tetap tertawa.
"Sama aja kaya kamu bikin pusing,"
"Minum obat dong."
"Nggak mempan Tim, rasanya aku kangen banget sama Indonesia." termasuk sama kamu juga Tim
"Makanya cepat ke sini, El." Tiba-tiba Timo teringat dengan Aminah yang menanyakan soal Elvira. "Omong-omong tadi mama nanyain kamu tuh. Katanya dia kangen sama kamu."
Wajah Elvira di sebrang sana tersenyum ia pun sangat merindukan Aminah, apalagi masakan Aminah yang sangat lezat—dan masakan favoritnya capcay. "salami ya ke mama Timo, aku juga kangen sama mamamu. Nanti aku kabarin kalo udah di Indonesia, dan aku pastikan aku bakal mampir ke rumah kamu."
Timo mengangguk, "siap El. kangen kan Lo sama capcay buatan mama gue?"
"Banget!!!" kangen sama kamu juga, Tim.
"Gimana di sana udah nemu yang pas belum?"
"Pas apa nih? Kalo baju di sini banyak yang pas kok."
"Maksud gue ada cowok yang lo suka nggak di sana?"
"Nggak ada lagi nggak pikirin itu sih." Memang untuk saat ini Elvira sedang tidak memikirkan hal itu, ia hanya ingin fokus pada pendidikannya supaya bisa segara pulang ke Indonesia.
"Bagus! Tetap pendidikan itu penting. Semoga segala urusan lo lancar yah El, sampai ketemu nanti. Omong-omong maaf nih obrolan kita sampai di sini aja ya, soalnya gue mau siap-siap on the way main futsal bareng teman-teman kantor." Padahal Timo bohong ia hanya ingin tidur lebih lama hari ini mumpung hari ini libur.
"Yah!!" Ada nada kecewa dari suara Elvira, ia pun langsung buru-buru untuk mengubah nada suaranya menjadi ceria agar tidak terlalu kentara oleh Timo. "Yaudah nggak apa-apa, bye Tim."
Elvira pun langsung menutup telepon melempar ponsel ke atas kasurnya lalu ia merebahkan diri di kasur.
Pikiran Elvira melalang buana ke mana-mana sampai membawanya ke masa lalu; ke bagian buku kehidupan saat ia bersama Timo. Dua pasang remaja yang dipertemukan di masa orientasi siswa, Elvira yang memang anaknya terkenal kalau ketemu orang baru ia akan bersikap Untuk sok kenal kepada orang itu. Itulah yang dilakukan oleh Elvira terhadap Timo.
"TIMO AKU KANGEN BANGET SAMA KAMU!!" Teriak Elvira—untung saja ia tinggal di Apartment seorang diri kalau bersama teman ia bisa disangka gila.
Elvira tahu kalau dirinya lah yang salah karena dahulu ia yang memutuskan hubungannya dengan Timo dengan alasan ia ingin fokus pada pendidikannya, dan ia tak akan sanggup bila harus menjalankan hubungan jarak jauh dengan Timo.
Masih jelas diingatan Elvira bagaimana ia memutuskan Timo, masih ingat dengan jelas bagaimana ekspresi wajah Timo saat memohon untuk tidak memutuskan hubungan ini. Timo teramat menyayangi Elvira.
Meksipun berat untuk Timo menerima keputusan Elvira, ia sendiri tahu bahwa Timo tetap mengiyakan itu dan membiarkan ia pergi ke negeri orang untuk menempuh pendidikan.
"Tim, aku bodoh." Elvira memukul dirinya sendiri ia menyadari bahwa ia sangat jahat dengan Timo. "Timo itu baik banget. Lo putusin dia cuma gara-gara alasan klasik doang." Sekali lagi ia memukul dirinya sendiri, menjerit, kemudian ia menangis tersedu-sedu menyesali semua kesalahan di masa lalu bersama Timo.
Sementara Timo sudah memaafkan Elvira, dan melupakannya memulai lembaran buku yang baru bersama dengan kekasih yang sekarang yaitu Fida. Ia berjanji dengan sepenuh hati tidak akan pernah mengecewakan Fida. Semoga memang benar-benar Timo memegang janjinya.
***
"Elvira kemarin kirim WA ke aku." Timo memberitahu kekasihnya itu. Kini Timo sedang beradq di rumah Fida.
"Terus?" Fida membuka bungkusan kebab yang dibawakan oleh Timo.
"Iya udah lama aja dia akhirnya WA ke aku lagi, kita ini memang saling simpan nomor. Tapi, jarang komunikasi. Padahal kita sahabatan ya, dulu tuh dekat banget." Timo menyadari kalau hubungannya dengan Elvira semakin lama semakin berjarak. Entalah seperti ada dinding yang menghalangi mereka mungkin kalau di masa itu ia tidak menjadikan Elvira kekasihnya mungkin akhirnya tidak ada akan seperti ini.
"Kenapa kamu jaga jarak?'" Fida sangat paham bagaimana rasanya di posisi Timo; meskipun ia tidak pernah berada diposisi itu. Mereka berdua ini bersahabat satu sama lain, dari ceritanya Timo kekasihnya itu memberitahunya kalau mereka pernah menjadi sepasang kekasih. Fida pun akan menjadi kikuk kalau sahabatan lalu pacaran kemudian putus.
"Iya kita udah beda," jawab Timo. "Maksudku gini loh Fid, kita memang masih sahabat. Kalo dia memang butuh aku, aku pasti akan selalu ada. Pernah menjadi sepasang kekasihnya itu lo yang jadi canggung." Timo sudah memaafkan Elvira sepenuh hati, ia akan selalu menganggap Elvira sebagai sahabatnya.
"Cairin lah suasananya. Mau aku yang jadi jembatan untuk bisa nyatuiin kamu sama Elvira sebagai sahabat? Aku sedih loh lihat hubungan kamu sama Elvira yang renggang gini padahal kalian dulu dekat banget." ucap Fida tulus. Fida tidak pernah berpikir kalau Akan kembali lagi dengan Elvira atau Elvira merebut kekasihnya kembali. Fida sama sekali tidak berpikir seperti itu.
"Nggak perlu. Nanti kalo dia udah di Indonesia juga, kita bakal balik lagi kaya semula."
Dari nada bicara Timo. Fida dapat menyimpulkan kalau Timo tidak yakin dengan ucapannya. "Nggak yakin aku, nggak apa-apa sih Tim. Sekalian aku kenal sama Elvira. Nggak boleh pacar kamu ini kenal sama sahabatnya?" tanya Fida.
"Boleh kok." Timo seperti sedang berpikir untuk pakai kalimat yang tepat untuk disampaikan kepada Fida. "Tapi, nggak perlulah aku bisa mengatasinya sendiri." Timo sudah menghabiskan dua kebab, memang Timo dikenal kalau makan banyak. Tapi, tidak pernah bertambah berat badannya.
"Oke kalau gitu," kata Fida. Fida juga tidak bisa memaksa keputusan tetap ditangan Timo, "wih kamu lapar apa doyan?"
"Lapar dan juga doyan, tapi tenang aja nih aku udah pisahin untuk punya Tata." kata Timo. Kebetulan memang hari minggu ini Tata sedang tidak rumah; sedang keluar bersama dengan teman-temannya.
"Iya, iya makan deh silahkan." kata Fida. "Shaka kalau minggu ke mana biasanya ke mana, Tim?" Pertanyaan itu sesungguhnya adalah milik Dira, soalnya waktu kemarin saat mereka teleponan dan Fida bilang minggu ini Timo mau main ke rumahnya. Dira langsung tetap pesan begini; Fid, tolong dong selidiki Shaka. Lo tanya-tanya ke pacar lo. Dia kan dekat banget tuh sama lo. Mau tidak mau ia laksanakan karena Dira ada janji mau traktir dirinya toast di kafe Cozy sebagai balasan di malam minggu, dan juga informasi yang Fida berikan kepadanya.
Timo menaikan sebelah alisnya, "kamu kenapa nanyaiin si Shaka?" ia menatap Fida dengan curiga takut kalau kekasihnya itu naksir dengan Shaka, Timo mengakui kalau Shaka lebih tampan darinya. "Kamu suka ya sama Shaka."
Fida langsung tertawa keras suaranya tawanya itu berhasil memekakkan telinga Timo. Untung Timo sabar kalau tidak mungkin Fida sudah disirem air keras, air keras telalu kejam air dingin saja.
"Yakali aku suka sama dia, nggak mungkin Tim. Aku kan punya kamu." Fida meraih tangan Timo lalu menaruhnya dipipinya. "Kamu yang aku sayang. Aku nanya aja."
"Bener?" tanya Timo.
"Iya sayang."
"Dia mah jomblo ngenes. Nggak ke mana-mana kalau weekend di rumah terus main sama game, atau nggak kalau lagi mood dia suka naik gunung sama si Adit." ucap Timo.
Fida dalam hati bersorak 'Yes gue dapat informasinya!!!' "Nggak nyangka lo Adit anak gunung padahal dia itu kayanya grammer banget."
"Iya emang tuh anak berdua itu, cocok banget. Apalagi sama-sama jomblo. Oh yah, gimana kalo Adit sama Dira aja?" tanya Timo.
Sayang Diranya tidak mau sama Adit, maunya sama Shaka. "Dira lagi nggak mau pacaran percuma dijodoh-jodohin juga." kata Fida. Padahal bukannya tidak mau pacaran, ia suka dengan Shaka--Shakanya tidak suka dengan Dira. Begitu ada yang suka dengannya Dira tidak suka.
"Salut banget ya dia."
"Dia walaupun jomblo nggak kesepian, Tim." ujar Dira. Ia bangkit dari tempat duduknya berjalan ke dapur untuk mengambil botol air minum karena botol air minum sebelumnya habis. Tidak lama Fida kembali dari dapur dengan membawa botol air minum yang masih terisi penuh. Fida pun kembali duduk di tempatnya semula.
Timo yang sedari tadi ingin bertanya kepada Fida perihal kenapa Dira bisa tidak kesepian. Timo pun melontarkan pertanyaan, "nggak kesepiannya kenapa? Banyak gebetannya ya?"
"Salah besar kamu, maksudnya adalah dia punya oppa Korea."
Timo seperti kecewa, "kirain dia banyak gebetannya. Nggak apa-apalah selama dia bahagia, Fid."
"Iya bene banget! Aku sebagai temannya hanya bisa mendukung hal-hal yang memang baik." Fida meneguk air minumnya yang baru saja dituangkan oleh Timo.
Obrolan mereka kalau lagi berdua tidak pernah membicarakan orang-orang di luar circle mereka; kata Timo dan Fida kalau membicarakan orang lain apalagi yang buruk-buruk sebenarnya bukan membicarakan orang itu, tapi diri kita sendiri.