ida ingin sekali bertanya soal hubungan mereka ke Timo, mau di bawa ke mana kah hubungan ini? Apakah masih pantas untuk dilanjutkan? Setelah apa yang di lakukan oleh Timo. Entah kenapa perasan ini masih sama. Fida masih menyayangi Timo dengan amat sangat.
"Eh loh kenapa?" tanya Dira yang melihat temannya sedang menatap layar komputer dengan tatapan yang kosong.
"Nggak apa-apa."
Dira yang memang orangnya super duper kepo pun langsung menarik bangkunya, dan duduk di sebelah Fida."Lo nggak berantem kan sama Timo?"
Fida menggelengkan kepalanya ia masih tidak mau membeberkan fakta bahwa Timo sudah berkhianat kepadanya. "Gue baik-baik aja."
"Dia selingkuh?"
Pertanyaan dari Dira kadang-kadang malah membuat Fida jadi over thingking. "Lo kalo ngomong tuh dipikir dulu, Dir." kata Fida.
"Iya gue pikir dulu," Dira diam sejenak sambil berpura-pura seperti orang yang sedang berpikir padahal sama sekali tidak. "Terus kenapa dong?"
"Nggak apa-apa. Gue lagi capek sama hidup." Fida langsung bangkit dari tempat duduknya. "Gue ke bawa dulu mau beli kopi. Lo mau nitip nggak?" tanya Fida.
"Iya nitip satu."
"Oke." Fida langsung berjalan keluar untuk membeli kopi di bawah. Padahal perasaan saat ini sedang gundah gulana tentang hubungannya.
Di tempat kopi saat ia hendak berjalan keluar dari tempat kopi, ia bertemu dengan Shaka.
"Fida? Abis beli kopi loh yah?"
"Iya abis beli kopi. Masa abis beli mie ayam."
Shaka tertawa. Mungkin orang-orang akan bertanya-tanya kenapa Shaka begitu Rahmah terhadap Fida sementara ke Dira tidak? Yang tahu hanya Shaka dan hatinya.
"Iya itu ada dua kopi. Temenin gue ngopi yuk sebentar." kata Shaka.
"Gue banyak kerjaan..." Fida berpikir sebentar apakah sebaiknya ia ikut dengan Shaka? Gampanglah kalau bosnya bertanya tentang keberadaannya ia bisa bilang kalau ia sedang sakit perut dan butuh istirahat sebentar. "Oke gue temenin." jawab Fida semangat.