Dira pagi-pagi sekali datang ke kantor untuk memberikan dua batang coklat kepada Shaka sebagai tanda terima kasih, karena kemarin sudah mengantarnya sampai ke rumah dengan selamat, dan dalam keadaan utuh. Mungkin Dira terlihat seperti anak SMA yang sedang jatuh cinta dengan kakak kelasnya, lalu diam-diam menaruh coklat di dalam lokernya. Terserah apa kata orang Dira hanya perlu melakukan apa yang memang perlu ia lakukan.
Ia memasuki lift dengan ekspresi cemas takut kalau misalnya Shaka sudah datang di waktu yang sama dengannya, dan ya kecemasannya itu pun terjadi. Saat pintu hendak tertutup tiba-tiba ditahan oleh seseorang. Seseorang itu adalah Shaka.
Lagi dan lagi yang menyapa lebih dahulu adalah Dira, “hei Shaka ketemu lagi.” Dira memasang senyum terbaiknya yang tidak dibalas oleh Shaka.
Shaka berdiri di samping Dira, dan hanya memandang Dira dengan sekilas. Entahlah Shaka sama sekali tidak tertarik dengan Dira. Perempuan yang terlihat ke kanak-kanakkan, dan Shaka suka memperhatikan sikap Dira saat bersama dengan Fida, lebay, cringe, dan Shaka tidak akan suka dengan Dira.
“Bukannya menurut norma sopan santun. Kalau ada yang menyapa itu dijawab, apalagi kenal sam orangnya.” kata Dira.
Shaka berdehem, “Hai Dira, iya yah kita ketemu. Ya, jelaslah ketemu lagi orang kita satu kantor.” jelas Shaka dengan ketus.
Dira lama-lama jadi terbiasa dengan tingkah laku dari Shaka. Jadi terserahlah ia mau bersikap seperti apa. Dira tidak mau ambil pusing. Ia berkerja di sini bukan untuk mencari musuh, tapi teman yang bisa membangun relasi supaya di masa depan dipermudahkan dalam segala urusan.
Dira menyerahkan coklat kepada Shaka. Saat Shaka hendak keluar dari lift karena sudah sampai di lantai 3. Shaka menatap Dira keheranan tidak paham apa maksudnya, Dira yang pun langsung mengatakan kepada Shaka. “Makasih yah kemarin udah nganterin gue, terima ini buat lo ngemil.”
Shaka pun mengambil coklat dari tangan Dira tanpa mengucapkan terima kasih, dan langsung bergegas keluar dari lift. Dira hanya ngedumel di dalam hati, ganteng doang yah Shaka ini, tapi tidak tahu caranya berterima kasih.
“Gila emang itu Shaka!” Dira sudah sampai di ruangannya menaruh tasnya di atas meja dengan kasar. Fida yang sudah sampai di kantor, dan sedang santai men-scroll timeline Twitter pun langsung menatap Dira heran.
Kenapa temannya ini baru datang pagi-pagi kok malah ngamuk kaya sapi yang mau dikurban di hari raya Idul Adha. “Kenapa lo? Ada apa lagi lo sama Shaka?”
“Lo pernah gue ceritaiin Shaka yang nganterin gue sampe rumah...”
“Iya gue tau, walaupun begitu ada sedikit perkembanganlah antara hubungan lo dan Shaka.”
“Iya. Tapi, tadi gue ketemu dia di lift, dan dia...” ucapan Dira lagi lagi di potong oleh Fida.
“Progresss yang bagus itu, Dir.”
Dira menatap sahabat kesal. Progress bagus dari mana? Shaka setiap kali bertemu dengannya seperti ia bertemu dengan najis besar. “Bagus dari mana? Orang dia...”
Entah kenapa hari ini Fida senang kali memotong pembicaraan Dira, “Lo selalu dipertemukan terus sama Shaka, berarti itu progress yang bagus.”
“Fida!!!” kata Dira sedikit membentak.”Lo bisa kagak nggak usah motong omongan gue melulu? Gue belum tuntas dari tadi ngomong, udah lo potong aja terus.”
“Iya maaf, Dir.” Kata Fida menyadari kesalahannya; sebenarnya bukan kesalahan Fida seepenuhnya fokusnya terbagi antar layar ponselnya yang sedang seru membaca kabar yang sedang viral di twitter.
“Ini bukan progeress yang baik, Fid. Shaka kok makin lama kalau ketemu gue itu kaya ketemu sama najis besar.” Dira yang sedari berdiri mondar-mandir karena kesal dengan perlakuan Shaka. Akhirnya duduk juga. Mungkin kalau kakinya bisa bicara ia akan berkata, ‘eh Dira please deh yah gue pegel woy, duduk napa.’ “Dir, gue mau Shaka. Tapi, kalo melihat kenyataan rasanya gue pengin duetin Maher Zain sama Maudy Ayunda nyanyai Insya Allah Tahu Diri.”
“Jangan nyerah gitu dong, nanti gue bantuiin deh.” Fida sebenarnya tidak tahu ia akan membantu Dira dengan cara apa. Mengorek informasi tentang Shaka itu susah-susah gampang.”Nanti kalo ada kesempatan, gue balik bareng lagi deh yah sama Shaka. Boleh kan yah?”
Dira nampak menimang sebentar; mungkin ini cara terbaik untuk Fida bisa mengobrol banyak dengan Shaka. Mengorek inforamasi darinya, dan siapa tahu dari sana ada jalan untuk bisa mendekati dirinya dengan Shaka, tapi Dira tidak mau terlalu berharap. “Oke nggak apa-apa lo harusnya gak perlu ijin, memangnya Shaka siapa gue, Fid?”
“Nggak enak aja gue.”
“Santai. Yaudah yuk ah kerja.”
***
Hari ini sebenarnya Fida akan pergi ke rumah Timo membawa pudding buatannya untuk diberikan kepada Devin; Fida baru sempat membuatkan pudding untuk Devin padahal sudah dari kapan tahu membeli bahan-bahan untuk membuat pudding. Karena memang jadwalnya padat sekali, maklum Mahasiswi sekaligus Karyawan.
Akan tetapi, tidak jadi dikarenakan Timo akan pergi meeting di luar bersama dengan bosnya setelah jam pulang kantor. Berarti ini adalah kesempatan untuk Fida bisa pulang bersama dengan Shaka, dan memang ini sudah nasib baiknya Dira.
“Dir?” panggil Fida yang sudah siap hendak pulang. Sementara Dira masih membereskan barang-barangnya. Dira menoleh dan menjawab ‘iya’lalu kembali lagi membereskan barangnya dan dokumen yang mau dibawa ke rumah untuk lanjut bekerja di rumah memang karyawan teladan Dira itu yah. “Hari ini gue nggak jadi pulang sama Timo.”
“Terus?”
“Gue pulang bareng Shaka, ini rezeki lo berarti.” kata Fida.
Dira telah selesai memasukan barang-barang ke dalam tas. Ia berjalan menghampiri Fida melipat tangannya di depan d**a, “rezeki anak sholeha. Oke deh, tapi lo jangan kentara yah kalo gut yang penasaran sama Shaka.”
Fida mengacungkan jempolnya, dan Dira pun pamit untuk pulang lebih dahulu. Tidak lama kemudian Shaka mengirim pesan bahwa ia sudah berada di parkiran, dan meminta Fida untuk menunggunya di depan lobi.
Fida pun langsung keluar dari kantornya berjalan menuju lift, dan menunggu Shaka di lobi. Fida tidak perlu membutuhkan waktu lama menunggu Shaka. Laki-laki itu keluar dari parkiran basement dengan motornya.
Shaka berhenti di depan Fida, “nunggu lama nggak?” tanya Shaka sambil memberikan helm untuk dipakai oleh Fida.
Terlihat jelas bukan? Bagaimana perlakuan Shaka dengan Fida, dan Dira. Sebenarnya Shaka sama perempuan mana pun dia akan bersikap baik; tapi entah kenapa Shaka merasa ia agak risih dekat dengan Dira.
“Nggak kok, santai aja.” Fida tersenyum lalu langsung naik ke motor Shaka. “Yuk jalan Ka, nanti makan dulu yuk. Di warung pecel lele langganan gue sama Timo.”
“Lo mah ngajak makannya di tempat biasa.”
“Jangan sok. Ini akhir bulan. Udah buruan jalan.” kata Fida.
Shaka pun langsung melajukan motornya, dan pergi menuju warung pecel lela yang letaknay di daerah Senopati.
***
Biasanya warung makan pecel lele di Senopati itu selalu ramai. Akan tetapi, hari ini tidak terlalu ramai. Mungkin karena bukan hari Jumat atau Weekend. Fida memesan ayam goring d**a satu, dan nasi setengah. Untuk minumnya Fida memesan es the tawar. Sementara untuk Shaka ia memaesan lela goreng, nasi satu porsi, dan minumnya es teh manis.
“Seneng deh, gue bisa pulang bareng sama lo lagi.”
“Kenapa seneng?” tanya Fida.
“Seneng aja.”
“Lah, lo mah emang seneng pulang sama cewek mana pun. Nggak cuma sama gue.” Mustahil laki-laki seperti Shaka tidak memiliki kencenga.
“Nah tuh tau,” kecuali teman lo itu, Shaka melanjutakan kalimatnya di dalam hati.”Siapa sih cewek yang nggak mau diajak jalan sama gue. Cowok yang sudah jelas ganteng ini.”
“Pd gila lo!” kata Fida.
Pesanan mereka pun sudah jadi. Fida tidak sabar untuk melahap ayam goreng yang berwarna keemasan, dan garing itu. Ia langsung mecelupkan tangan ke mangkuk kecil yang berisi air. Mencampur sambalnya di sisi nasi, ia mencubit daging ayam yang masih panas. Saat dagingnya dicubit mengeluarkan asep.
Fida heran menatap Shaka yang tidak merasa panas sama sekali, ia begitu lahap menatap ikan lele beserta nasi uduk. Ia menyadari bahwa Fida sedari tadi pun menyadirinya, dan langsung menghentikan aktifitasnya. “Terpesona lo yah sama gue?” tanya Shaka yang memang orangnya selalu percaya diri.
“Nggak sih. Cuma aneh aja, lidah lu kaya nggak kepanasan ama tuh lele.”
“Lebih panas sih, liat orang kita suka jalan cowok lain.”
Fida bingung dengan Shaka; ia merasa kalau Shaka itu sedang bermain teka-teki. Atau bahkan Shaka sepeti memberi pernyataan kalau ia sedang menyukai seseorang. Akan tetapi, kalau Fida bertanya apa Shaka sedang menyukai seseorang, jawaban pasti bahwa Shaka sedang menyukai siapa-siapa.
“Lo ngomong gitu itu memberi pernyataan, atau gimana?”
“Cuma ngomng aja kok,”
“Lo lagi nggak suka siapa-sapa, kan?”
Sumpah sebenarnya Fida mengutuk dirinya sendiri yang kepo nya sudah keterlaluan. Ia bukan tipe orang suka kepo dengan urusan pribadi seseorang. Akan tetapi, demi sahabat tercinta yang sudah men-jomblo sudah terlalu lama. Tidak apa-apalah.
“Lo suka sama gue, Fid?” tanya Shaka.
Fida sedang meminum es tawarnya pun langsung terbatuk sampai air sedikit muncrat. Bisa tidak, sih? Shaka kalau bicara lihat-lihat dulu sedang apa lawan bicaranya.
“Masa sih gue suka sama lo? Gila kali.. Timo mau gue ke manaiin.”
“Jual aja dia.”
“Songong yah!” kata Fida. “Emang barang dia, gue mah setia sama Timo.”
“Kalo Timonya nggak setia gimana?”
“Lo apaan sih, Ka.” Ini kenapa Shaka jadi suudzon gini dengan Timo.”Lo nggak boleh gitu sama Timo, dia nggak bakal kaya gitu.”
“Kita kan nggak tau hati orang Fid. Bisa berubah kapan aja.”
“Kok ini jadi gue yang kaya diintrograsi gue.”
“Oh jadi lo introgasi gue, Fid?”
Salah ngomong gue ngomong nih gue. “Maksud gue.. gue cuma mau tau gitu. Lo lagi suka sama orang nggak.”
“Kenapa lo nanya gitu? Lo cemburu sama gue?”
Gue salah nanya lagi ini mah. Fida memang bukanlah mak comblang yang baik. Kalau mak comblang yang baik mah yah, progressnya tidak jalan di tempat, dan ketika mengintrogasi target tidak kentara. Payah memang. Tapi, Fida tidak akan menyerah.
“Ngapain cemburu?”
“Takutnya kan lo cemburu.”
“Buat apa?” Fida menautkan alisnya. Ia memfokusnya pandanganya pada ayam goreng di hadapannya.
“Lo ngapain nanya kaya tadi?”
Di dalam dirinya Fida berteriak sangat keras seperti inilah kira-kira teriakan yang digaungkan oleh Fida Shaka, ‘Shaka lo susah bener dah gue korek informasinya.’
“Mau tau aja, dan penasaran cewek yang lo suka itu kaya apa sih?”
“Lo suka gue Fid?”
“Enggak.” Please ini kenapa gue yang kaya diintrogasi sih. Fida menghela nafasnya, dan untuk sekarang lebih ia diam.
Hening. Tidak ada yang bicara lagi di antara mereka berdua. Mereka pun menikmati makanan masing-masing sampai habis. Setelah selesai mereka menghabiskan makanan mereka. Shaka mulai mengajak Fida bicara lagi.
“Fid?”
“Ya?”
“Yang tadi gue bilang, ‘lo suka gue Fid?’. Cuma bercanda yah, gue juga tau kali lo ngak mungkin suka sama gue. Lo kan udah ada Timo, Fid.”
Serius. Fida tidak marah perihal Shaka yang bertanya soal ‘lo suka gue Fid?’ tapi, tadi Fida bingung ini bicara apa lagi. Kalau Fida bilang ingin bertanya begini ke Shaka, karena ia ingin tahu apakah Shaka single atau tidak, karena temannya Fida yang bernama Sahaka. Itu tidak mungkin, mungkin saja sih asalkan Dira mengijinkannya.
“Santai aja sih. Yaudah balik yuk, gue udah ngantuk nih.” ajak Fida. Fida tahu bahwa ini gagal, gagal untuk yang kedua kalinya. Akan tetapi, Fida akan tetap berusaha ini semu demi Dira sahabat terbaiknya.
***
Fida merebahkan tubuhnya di kasur empuk. Fida sudah berada di rumahnya; hari ini cukup melelahkan, dan gagal mendapatkan informasi dari Shaka. Semoga basok saat Fida bertemu dengan Dira. Dira tidak akan mengorok lehernya karena gagal. Fida pun mengambil ponselnya untuk stalk i********:.
Di barisan story IG ada nama Elvira yang sepertinya baru saja mengupload sebuah cerita beberapa jam lalu. Fida pun meng-klik nama tersebut. Perempuan yang sangat cantik di mata Fida, bahkan mungkin di mata Timo juga. Elvira sedang berada di ruang makan ruamh yang cukup luas bersama dengan papa dan mamanya. Yang membuat shock Fida adalah di sana; ada Timo sedang tersenyum ke arah kamera ponsel milik Elvira. Timo tersenyum sangat lepas bahkan kekasihnya itu merangkul bahu Elvira.
Timo berbohong.
Bukankah hari ini ia hanya pergi meeting.
Tapi, kenapa ia tidak bilang kalau sedang berada di rumah Elvira? Kenapa harus berbohong?
Perasaan Fida saat ini sungguh tak karuan; Fida sangat kecewa dengan Timo. Karena ini kali pertama berbohong kepadanya. Bahkan pikiran jahat Fida pun muncul. Apakah kekasihnya itu masih menyayangi sahabatnya? Tidak salah juga kalau Timo masih menyayangi Timo; memang Elvira pantas mendapatkan itu.
Fida pun memutuskan untuk menelpon Timo, daripada ia berpikir yang tidak-tidak soal ini. Sebaiknya Fida mendengarkan penjelasan langsung dari Timo.
Fida : Hallo, Tim?
Fida bisa mendengar kalau bahwa Timo sedang berada di luar. Dari suara bising kendaraan, dan suara orang-orang yang sedang mengobrol.
Timo : Iya Fid?
Dari suara Timo Fida bisa menebak kalau kekasihnya ini sama sekali tidak merasa bersalah, atau lebih tepatnya merasa tidak ada yang salah di antara mereka.
Jujur Fida rasanya ingin marah saat ini. Entah kenapa semua amarah hanya tercekat di tenggorokan tidak bisa kelaur. Ia mencoba menahan tangis supaya tidak terdenger oleh Timo bahwa ia menangis.
Fida : Kamu sudah pulang?
Niat Fida diawal menelpon sirna begitu saja. Padahal niat awal Fida menelpon Timo adalah untuk bertanya kenapa Timo tidak memberitahunya bahwa ia pergi ke rumah Fida. Memangnya bagus menutupi semuanya begini? Seolah-olah Fida bukanlah bagian dari hidup Timo.
Timo : Udah nih. Aku baru aja masuk mobil.
Terdengar suara Timo sedang membuka kunci mobil, Timo beringsut masuk ke dalam mobilnya dan menutup pintunya.
Fida : Oke. Hati-hati di jalan.
Timo : Iya. Kamu tidur gih, udah malem.
Fida : Oke.
Fida langsung mematikan ponselnya, dan menangis sambil ditutupi bantal supaya Tata tidak mendengar suara tangis. Timo benar-benar keterlaluan dengannya, tapi ia sendiir pun kesal kenapa saat telepon tidak bisa berkata apa-apa.
Malam itu Fda tidak bisa tidur; ia memikirkan banyak. Sebentar-bentar Fida menangis, sebentar-bentar ia tersenyum, dan Fida menangis semalam hingga membuat matanya bengkak. Jujur sakitnya luar biasa, tidak pernah dibohongi. Tapi, sekalinya dibohongi rasanya itu benar menusuk hingg lerung hati yang paling dalam.
Fida berharap hubungannya dengan Timo baik-baik saja. Baik-baik saja seperti biasanya, dan Fida berusaha menyakinkan dirinya bahwa Timo tidak bermaksud begitu. Mungkin besok saat mereka bertemu Timo akan penjelaskan yang sebenarnya terjai.
Tidak baik bukan kalau kita berpuruk sangka pada orang. Fida pun berusaha memejamkan mata karena sekarang jam sudah menunjukkan puku 2 pagi. Ia harus cepat tidur karena besok masih harus ngantor.
Fida percaya dan yakin Timo akan menjelaskan itu semua besok.