first time when Timo he fall in love with her best friend
Elvira pagi ini meminta pada ibunya untuk dibuatkan bekal untuk makan saing dua kotak. Satu untuk dirinya, dan satu lagi untuk Timo. Elvira tahu banget kalau Timo itu datang ke sekolah selalu terlambat, dan selalu lupa untuk sarapan. Bahkan pernah waktu itu Timo pingsan pada saat upacara.
Ketika Timo di bawa ke ruang UKS. Elvira sangat khawatir ia pun langsung ke koperasi sekolah untuk membelikan sebungkus roti, dan juga s**u untuk Timo. Sampainya di UKS ia melihat Timo sedang berbaring lemas, dan ia pun langsung menghampiri Timo.
"Kamu nggak apa-apa kan?"
Yang ditanya menjawab dengan santai seperti orang masih dalam kondisi sehat, "santai cuma pingsan doang kok Vira." Vira adalah panggilan sayang Timo untuk Elvira.
"Kamu duduk! Bisa kan?" Elvira meminta Timo untuk duduk, lalu ia menyerahkan roti dan s**u yang tadi ia beli di koperasi sekolah. "Makan ini."
Timo pun menerima makanan yang diberikan oleh Elvira, "makasih ya Vira kau yang cantik."
Elvira pun langsung duduk di bangku yang ada sebelah ranjang tempat tidur UKS, "kamu tuh kenapa sih kuping tebel amat."
"Emang kuping aku tebel ya?" tanya Timo.
"Iya tebel! Kamu tuh paling seneng banget yah bikin aku kesal, Tim? Bikin aku khawatir? Please. Kumohon sama kamu untuk jangan lupa sarapan."
Timo yang dinasehatin bukannya malah minta maaf; atau apa gitu. Ia malah tertawa dengan santai, dan berkata begini kepada Elvira."Kamu kaya mama aku ya."
"Aku tuh sayang sama kamu."
"Aku juga, Tim." kata Elvira.
"Ada yang nggak kamu tahu." Timo menaruh roti dan susunya meja kecil yang terletak di sebelah ranjang temapt tidur.
Elvira bingung dengan apa yang dikatakan oleh Timo, "maksudnya?"
"Kamu sayang aku karena apa?" tanya Timo.
"Karena kamu sahabat aku."
"Kalau aku sayang sama kamu, lebih dari orang sahabat. Boleh nggak?"
Elvira tidak mengerti apa kata-kata yang dimaksud oleh Timo, "maksud apa sih? Kamu kok bisa-bisanya yah lagi sakit bikin teka-teki gini?!"
"Jawab dulu boleh apa nggak?"
"Gimana ya?" Elvira sampai di sini paham apa yang dimaskud oleh Timo.
"Boleh nggak?"
"Kalo aku jawab nggak kamu gimana?"
"Aku sedih."
"Kalo jawab iya?"
"Aku bahagia." Timo memegang tangan Elvira, "pilih jawaban yang kedua ya."
"Ko maksa?"
"Nggak maksa. Kalau jawab yang kedua itu berarti kamu membohongi perasaan kamu. Aku bisa baca dari matamu kalau kamu juga punya perasaan yang sama denganku."
Elvira tidak langsung menjawab pertama-pertama yang ia lakukan adalah langsung memeluk Timo. "iya boleh kok. Aku juga sayang sama kamu."
Timo melepaskan pelukan Elvira, "sebagai apa?"
"Lebih dari seorang sahabat."
Itulah waktu pertama kali Timo mengatakan bahwa ia jatuh cinta kepada Elvira. Elvira adalah perempuan pertama yang berhasil membuat Timo jatuh cinta, seumur hidup ia baru jatuh cinta hanya kepada dua perempuan. Pertama Elvira, kedua Fida.
"Yaudah kamu balik tidur lagi El, aku percaya kok suatu hari nanti kamu akan bertemu dengan orang yang lebih baik dari aku." Timo mencium kening Elviar lalu kembali masuk ke dalam. Sementara Elvira tetap di dalam, sampai matanya benar-benar merasa kantuk ia baru masuk ke dalam.
***
Entah kenapa tiba-tiba pikirannya di bawa ke masa saat ia jatuh cinta dengan Elvira, dan untuk pertama kalinya ia berani menembak seroang cewek. Kini ia masih berada di Bandung, sedang berjemur di dekat kolam renang, sore nanti mereka berenam akan kembali ke Jakarta. Shaka yang baru kembali dari berolahraga pun melihat Timo sedang melamun di kola renang, dan taku kalau temannya tiu keserupan ia pun menghampiri Timo.
"Keluarlah engkau wahai jin yang mendiami tubuh Timo." Shaka memegang kepala Timo dan langsung ditepis oleh Timo.
"Lo gila?"
"Syukurlah di dalam diri lo masih Timo."
"Lo nyangka gue kesurupan."
"Takutnya." Shaka mengambil buah yang ada di meja. "Lo ngelamunin apa sih?"
"Masa lalu."
"Emang lo punya masa lalu?" Shaka kadang-kadang suka rada mirip dengan Adit kelakuannya. Timo jadi curiga kalau mereka berdua adalah kakak adik.
"Nggak serius. Lo kenapa ada masalah? Cerita sama gue jangan di pendam Timo. Cerita sama gue."
Shaka memang terlihat tengil. Timo paham karakter temannya seperti apa, tapi untuk jadi pendengar yang baik Shaka memang juaranya.
"Kenapa ya orang di masa lalu kita sangat berkesan yah, ka?" tanya Shaka seperti menyelidik. "Emang siapa sih orangnya Tim? Kalo boleh tahu itu juga."
"Ada." Orangnya ada di sini kok. "Cantik?"
"Banget."
"Pintar?"
"Banget."
"Masih sayang?" Shaka terlihat kepo di sini. Tapi, ia penasaran dengan mantannya Timo bisa sampai bikin si Timo gagal move on. Salut juga sih.