Cincin berlian biru itu masih berkilau di jari manis Alexa ketika matahari akhirnya benar-benar hilang di balik dua pegunungan. Cahaya jingga di permukaan danau memudar pelan-pelan, dan lilin-lilin di sekeliling meja kini menjadi satu-satunya sumber terang yang tersisa.
Alexa menatap cincin itu cukup lama. Ia menggerakkan jarinya ke kiri dan ke kanan, memastikan semua ini bukan mimpi yang akan hilang begitu ia berkedip.
"Kamu sudah memandanginya hampir lima menit, Honey," ujar Nick sambil menopang dagu dengan satu tangan. Kedua sudut bibirnya terangkat geli.
"Soalnya berat, Hubby. Maksudku bukan beratnya, tapi harganya," jawab Alexa. Pipinya menghangat. "Aku takut menggosoknya terlalu keras lalu lecet."
"Berlian tidak mudah lecet, Honey. Gosok saja kalau kamu mau." Nick tertawa kecil, tetapi tawa itu cepat reda saat ia melihat Alexa menggigit bibir bawahnya, tanda ada sesuatu yang mengganjal di kepala wanita itu.
"Ada apa?"
Alexa menarik napas. Ia menyelipkan rambut ke belakang telinga kirinya, kebiasaan yang selalu muncul sebelum ia menolak atau mempertanyakan sesuatu. "Tadi kamu bilang sudah menghukum Jessy. Sampai sekarang aku masih memikirkannya. Apa yang kamu lakukan padanya, Nick?"
Nick tidak langsung menjawab. Ia menegakkan punggungnya, lalu menatap danau sejenak sebelum kembali memandang Alexa.
"Dave menemukan sesuatu sebelum kejadian di kantormu. Keluarga Jessy menunggak utang yang besar sekali, dan selama ini mereka bertahan karena kerja sama dengan RX. Pesanan, pasokan, semuanya lewat perusahaan kami." Suaranya tenang, tanpa nada puas sedikit pun. "Siang tadi, setelah aku tahu dia mencakar lenganmu, aku bicara dengan Daddy. Kami memutus semua kerja sama dengan perusahaan keluarganya. Para kreditur juga sudah diberi tahu soal tunggakan itu."
Alexa terdiam. Lilin di dekat tangannya bergoyang tertiup angin danau.
"Semuanya?" tanyanya pelan.
"Hanya bisnis dan utang. Rumah mereka tidak disentuh, dan Julie tidak akan kehilangan apa pun yang berkaitan dengan kesehatannya. Aku sengaja membatasinya." Nick menggeser telapak tangannya, menutupi punggung tangan Alexa. "Aku bukan orang yang suka menghancurkan keluarga orang, Alexa. Tapi dia melukaimu."
"Aku tidak nyaman, Nick." Alexa menggeleng. "Jessy memang salah. Tapi kalau gara-gara aku sebuah keluarga jadi runtuh, aku tidak bisa tidur."
"Bukan gara-gara kamu. Gara-gara pilihannya sendiri." Nick mengatakannya pelan, tetapi tidak ada celah untuk dibantah. "Dan aku lebih baik kamu merasa tidak nyaman daripada kamu terluka lagi."
Alexa ingin membalas, namun ia mengurungkannya. Ia tahu pria di hadapannya ini tidak sedang marah. Nick sedang takut, dan itulah sebabnya ia bertindak sekeras itu.
"Kamu tahu apa yang paling mengganggu?" Alexa memutar-mutar gelas air putihnya. "Tadi siang aku berdiri di ruang kerjaku dengan lengan berdarah, dan yang kupikirkan malah wajah Jessy waktu dia marah. Dia kelihatan seperti orang yang sudah tidak punya pegangan."
"Orang seperti itu paling berbahaya."
"Atau paling perlu dikasihani."
"Dua-duanya bisa benar," jawab Nick. "Tapi malam ini aku hanya mau mengasihani diriku sendiri yang hampir kehilanganmu karena cemburu."
Alexa tersenyum tipis. Gelasnya ia letakkan kembali, dan ia membiarkan masalah itu menggantung dulu. Ia berjanji dalam hati akan membicarakannya lagi, dengan kepala yang lebih jernih.
***
Pelayan datang membawa hidangan utama, lalu mundur tanpa suara. Uap dari piring daging panggang bercampur dengan wangi bunga yang tergantung di atas meja. Mereka makan beberapa suap dalam diam, sampai Nick meletakkan garpunya.
"Alexa."
"Hm?"
"Aku mau bilang sesuatu, tapi kamu jangan menangis ya."
"Itu bukan cara yang bagus untuk memulai kalimat," sahut Alexa, tetapi ia sudah menahan napas.
Nick menunduk sebentar, memainkan tepi serbetnya. "Malam ini aku bahagia sekali. Kamu, cincin ini, danau ini. Dan yang bikin aku takut justru itu. Besok pagi aku bangun tanpa tahu satu pun dari semua ini." Ia mengangkat wajah. "Aku akan membuka mata di kamar yang asing, lalu orang-orang yang kusayangi akan menjelaskan semuanya seperti menceritakan film yang belum pernah kutonton."
"Hubby..."
"Dave dan Andrew selalu membantuku. Rekaman juga. Tapi semuanya suara orang lain, Alexa. Aku ingin besok pagi ada suaraku sendiri yang bilang bahwa ini nyata."
Alexa meletakkan sendoknya. Matanya sudah panas, tetapi ia menolak menangis lebih dulu, karena Nick sudah meminta. Ia memikirkan kalimat itu sejenak, lalu sesuatu terlintas di kepalanya.
"Tulis saja," katanya.
"Tulis apa?"
"Surat. Untuk dirimu sendiri, tiap malam sebelum tidur, tulisan tanganmu sendiri." Suara Alexa mulai bersemangat. "Ceritakan apa yang terjadi hari itu, siapa yang kamu cintai, dan apa yang harus kamu percayai. Kalau besok kamu membaca tulisanmu, kamu tidak sedang mendengarkan orang lain. Kamu sedang mendengarkan dirimu."
Nick menatapnya begitu lama sampai Alexa mengira ia salah bicara. Lalu pria itu tersenyum, senyum yang membuat garis lelah di pelipisnya mengendur.
"Satu halaman cukup," lanjut Alexa cepat-cepat, karena diamnya Nick membuatnya gugup. "Atau setengah halaman. Yang penting tulisan tanganmu sendiri, supaya begitu kamu melihat huruf-hurufnya, kamu langsung tahu itu kamu. Bukan Dave, bukan aku."
"Dan kalau besok pagi aku curiga pada tulisanku sendiri?"
"Berarti kamu perlu menulis kalimat pertamanya dengan sangat meyakinkan." Alexa mengangkat bahu. "Misalnya, Percayalah, ini bukan tipuan."
Nick mengulang kalimat itu tanpa suara, seolah sedang mencicipinya.
"Dan tiap pagi aku yang mengetuk pintumu lebih dulu," tambah Alexa, "dengan satu kalimat yang cuma kita berdua yang tahu. Biar tulisanmu dan suaraku saling menguatkan."
"Kalimat apa?"
"Belum kupikirkan. Nanti."
"Kalau begitu aku menunggu."
"Kenapa aku tidak pernah memikirkan itu?"
"Karena kamu terlalu sibuk menjadi CEO yang tidak butuh bantuan," balas Alexa. Nick tertawa, kali ini lepas.
"Baik, Nyonya Carter yang belum jadi. Aku akan menulisnya malam ini."
"Dan jangan kamu tulis aku cantik berlebihan. Nanti besok pagi kamu kecewa waktu lihat aslinya."
"Aku tidak bisa menulis bohong, Honey."
Alexa melempar gumpalan serbet ke arahnya, dan Nick menangkapnya dengan sebelah tangan, refleks seorang pria yang tubuhnya masih mengingat lebih banyak daripada kepalanya.
Langkah kaki terdengar dari jalan setapak. Dave muncul di tepi cahaya lilin, berhenti sepuluh langkah dari meja, lalu mendekat dengan membungkuk sedikit. Ponselnya masih menyala di tangan.
"Maaf mengganggu, Tuan, Nona. Ada hal yang perlu saya sampaikan."
"Katakan saja, Dave," ujar Nick.
"Nyonya Julie, ibunda Nona Jessy, menelepon Nyonya Angelica berkali-kali sejak siang. Menurut Nyonya Angelica, suaranya terdengar sangat tertekan. Beliau meminta bertemu secepatnya."
Alexa dan Nick saling berpandangan.
"Julie," ulang Nick pelan. Rahangnya mengeras sedikit, lalu mengendur lagi. "Kita bahas besok, Dave. Hari ini aku tidak mau membuat keputusan apa pun soal keluarga itu."
"Baik, Tuan."
"Tolong sampaikan pada Mommy bahwa kami akan pulang besok pagi, dan Julie boleh datang setelah itu." Nick menoleh pada Alexa. "Kamu setuju, Honey?"
"Setuju." Alexa mengangguk, walau dadanya terasa berat. Ia membayangkan Julie berjalan mondar-mandir di ruang tamu rumah besar itu, ponsel menempel di telinga, menunggu suara yang tak kunjung menjawab. Ia menatap Dave sekilas. "Terima kasih sudah mengatur semua ini, Dave. Jujur saja, aku hampir menangis di mobil tadi."
"Itu sudah tugas saya, Nona." Dave tersenyum kecil, menunduk sebentar, lalu berbalik hendak kembali ke tempatnya.
Namun langkahnya terhenti di tengah jalan setapak. Kepalanya menoleh ke arah semak-semak di tepi danau, tempat gelap yang berjarak kurang dari tiga puluh meter dari meja mereka. Alexa memperhatikan bahu pria itu menegang.
"Dave? Ada apa?" tanya Nick.
"Tuan..." Dave tidak menoleh. Suaranya rendah, hati-hati. "Maaf, saya harus pergi sebentar."
Nick sudah setengah berdiri dari kursinya. Tangannya otomatis meraih lengan Alexa, menariknya mendekat, dan tubuhnya bergeser menutupi sisi yang menghadap semak. Gerakan itu begitu cepat dan terlatih sampai Alexa sendiri terkejut. Ia teringat malam di bar, dua pria yang tumbang sebelum sempat menyentuhnya.
"Tetap di belakangku, Honey," bisik Nick.
"Nick, itu apa?"
"Aku belum tahu."
Sesuatu berkilat di balik semak itu. Satu kali, kecil, seperti pantulan lilin pada kaca. Alexa baru sempat melihatnya ketika Dave sudah berlari menembus gelap dengan jas yang berkibar di belakangnya.