Semak di tepi danau itu basah dan rapat, penuh ranting yang menggores lengan jas Dave sementara ia menerobos masuk. Ia tidak berteriak. Dave tahu betul bahwa orang yang bersembunyi di tempat gelap lebih mudah ditangkap bila tidak tahu seberapa dekat pengejarnya.
Suara ranting patah terdengar di depan sana, lalu langkah kaki yang tergesa-gesa menjauh. Dave mempercepat larinya. Dadanya mulai nyeri, tetapi ia memaksa kakinya terus bergerak, mengikuti bayangan yang melompati akar pohon menuju jalan setapak berbatu di sisi resort.
Mesin motor menyala.
Suara itu pecah di tengah sunyi malam, begitu keras sampai burung-burung di pohon dekat danau beterbangan. Dave tiba di ujung jalan setapak tepat ketika lampu belakang sebuah motor hitam melesat ke arah jalan raya. Ia sempat melihat punggung jaket gelap dan helm penuh tanpa kaca terbuka. Tidak ada plat nomor yang terbaca.
"Sial," gumam Dave pelan, sambil menumpukan kedua tangan di lutut dan mengatur napasnya.
Namun matanya menangkap sesuatu yang tergeletak di tanah, tepat di tempat motor itu tadi diparkir. Dave berjongkok, menyalakan senter ponselnya. Sebuah tutup lensa kamera berwarna hitam, tertinggal di rerumputan yang masih lembab. Ia membaliknya. Di sisi dalam tertempel stiker kecil berwarna kuning dengan nama toko dan deretan angka inventaris.
Seorang petugas keamanan resort tergopoh-gopoh menyusul dengan lampu sorot, napasnya tersengal. Ia mengaku tidak melihat siapa pun masuk lewat gerbang utama. Jalan setapak itu menembus hutan kecil di belakang danau, dan siapa pun yang tahu rutenya bisa keluar masuk tanpa melewati penjaga. Dave mengangguk tanpa menyalahkannya, lalu meminta ia memeriksa seluruh sisi danau sampai pagi.
Dave memotret stiker itu dua kali, lalu membungkus tutup lensanya dengan saputangan. Barulah ia menghubungi nomor Carter.
"Tuan, ini Dave. Ada orang yang memotret Tuan Nick dan Nona Alexa dari semak di resort. Ia kabur dengan motor. Saya menemukan tutup lensa dengan stiker toko penyewaan kamera."
Hening beberapa detik di seberang sana. Dave bisa mendengar napas pria itu, tenang, nyaris tanpa gejolak, seperti seseorang yang telah terlalu sering menerima kabar buruk.
"Tambah penjaga di rumah malam ini juga," ujar Carter akhirnya. "Semua pintu, semua sisi. Dan Dave, jangan libatkan polisi."
"Baik, Tuan." Dave diam sejenak, lalu tak menahan diri. "Tuan, kalau boleh tahu, ini hanya foto. Bukankah laporan..."
"Ini urusan keluarga kita, Dave. Kita selesaikan sendiri."
Sambungan terputus. Dave menatap layar ponselnya yang meredup. Ia tidak mengajukan pertanyaan lagi, sebab ia sudah terlalu lama bekerja untuk keluarga ini. Namun dalam hati ia mencatat, rapi dan diam-diam, bahwa Carter tidak pernah sekalipun menyebut alasan untuk menghindari polisi.
***
Setengah jam kemudian, Nick duduk di serambi suitenya dengan jaket tipis menutupi bahu. Lampu gantung kecil menyala hangat, dan di meja kayu di depannya terhampar selembar kertas bergaris, sebuah pulpen hitam, serta cangkir teh yang sudah mulai dingin.
Alexa duduk di kursi sebelahnya dengan kaki terlipat. Ia baru saja mendengar laporan Dave dari ambang pintu, dan wajah pria itu masih menyisakan sisa lelah karena berlari.
"Hanya orang iseng, Nona," kata Dave tadi. "Tapi saya lebih tenang bila penjagaan ditambah."
Alexa tidak sepenuhnya percaya, dan ia tahu Dave juga tidak. Namun ia memilih diam dulu. Malam ini sudah cukup panjang.
"Aku harus mulai dari mana?" Nick menatap kertas kosong itu seperti menatap ujian. "Aku belum pernah menulis surat untuk diriku sendiri."
"Mulai dari namamu."
"Aku sudah tahu namaku."
"Besok pagi kamu tidak tahu apa pun, Hubby. Anggap saja kamu menulis untuk orang asing yang kebetulan pakai tubuhmu." Alexa tersenyum menggoda. "Tapi orang asing itu harus kamu sayangi."
Nick tertawa pendek, lalu menunduk dan mulai menulis. Pulpennya bergerak lambat di awal, kemudian makin lancar. Alexa tidak berniat membaca, tetapi matanya menangkap potongan kalimat saat Nick menulis dengan huruf bersambung yang rapi dan miring ke kanan.
Namamu Nick Carter. Kamu punya penyakit yang membuatmu lupa setiap kali tidur, dan itu tidak apa-apa. Semalam, di tepi danau saat matahari terbenam, kamu memasang cincin di jari seorang perempuan bernama Alexa. Dia perempuan yang memasak untuk orang lain dan berterima kasih pada sopir. Cincin biru di fotonya, kamu sendiri yang memilihnya bersamanya.
Nick berhenti, mengetuk-ngetukkan pulpen ke dagu, lalu menambahkan satu baris lagi dan menekannya lebih dalam dari baris-baris sebelumnya.
Kamu yang memilihnya. Percayalah pada tulisan ini.
"Satu hal lagi," ujar Nick sambil menoleh. "Tentang kalimat yang akan kamu ucapkan padaku tiap pagi."
"Aku belum memikirkan isinya."
"Memang belum. Tapi akan ada, bukan?" Nick tersenyum. "Aku tidak mau menuliskannya. Cukup kutulis bahwa ada satu kalimat pagi yang akan kukenali begitu aku mendengarnya. Kalau kalimat itu tertulis, siapa pun bisa menirunya."
Alexa terdiam. Ada rasa haru yang tidak ia duga muncul karena kehati-hatian kecil itu. "Kamu memikirkan sampai sejauh itu?"
"Aku memikirkan semua yang bisa dipakai orang untuk membohongiku," jawab Nick lirih. Jarinya berhenti di atas kertas, dan untuk sesaat bahunya turun. "Kamu tahu apa yang paling menakutkan, Alexa? Bukan lupa itu sendiri. Yang menakutkan kalau aku percaya pada sesuatu yang salah karena tidak ada yang bisa kuperiksa."
"Makanya ada aku." Alexa menggenggam tangannya. "Dan Dave, dan Andrew, dan kotak ini."
"Besok pagi aku akan membuka pintu pada perempuan yang tidak kukenal."
"Dan kamu akan menganggapku orang asing yang terlalu pagi." Alexa tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku sudah berlatih." Ia menandatangani surat itu, melipatnya dua kali, lalu menunggu Dave menyodorkan sebuah kotak kayu kecil yang sejak tadi dibawanya.
Kotak itu berwarna cokelat tua, sebesar kotak perhiasan besar, dengan tutup berengsel kuningan. Di dalamnya sudah ada kaset rekaman kecil, yaitu rekaman CCTV lamaran dari apartemen Alexa. Alexa memotret jari manisnya dengan cincin itu memakai ponselnya, mencetak gambarnya lewat printer kecil milik resort, dan menyerahkannya pada Nick. Foto itu bergabung bersama surat, kaset, dan sehelai pita biru yang ia pakai untuk rambutnya sore tadi.
"Kotak Pagi," kata Nick sambil menutup tutupnya. "Besok, itu yang pertama kubuka."
"Dan aku yang pertama mengetuk pintumu," balas Alexa.
Dave meletakkan kotak itu di meja samping tempat tidur Nick, membungkuk, lalu pamit. Alexa menunggu sampai Nick benar-benar terlelap di balik pintu yang setengah tertutup sebelum ia sendiri berjalan pelan ke suite di sebelah.
***
Balkon suite Alexa menghadap danau yang kini hitam pekat, hanya dihiasi pantulan bulan yang pucat. Udara dingin menyusup lewat gaun tipisnya. Ia memeluk lengan sendiri, memandangi cincin biru yang masih terasa asing di jarinya.
Ponselnya bergetar di saku.
Alexa mengira itu pesan dari Stefani, yang mungkin sedang menagih cerita. Ia mengeluarkan ponsel itu sambil tersenyum. Tetapi layarnya menampilkan deretan angka tanpa nama, dan di bawahnya hanya satu baris pesan pendek.
Cincin itu tidak akan lama di jarimu.
Senyum Alexa lenyap. Jarinya mengelus ujung ibu jari, kebiasaan yang muncul setiap kali ia berpikir keras, sementara matanya membaca kalimat itu sekali, dua kali, lalu tiga kali. Tidak ada tanda tangan, tidak ada kata lain.
Dari kejauhan, di ujung danau, sesuatu berkelip sebentar lalu padam, sama seperti kilatan yang dilihat Dave tadi.
Ia berdiri lama di dekat pintu kaca. Haruskah ia membangunkan Nick dan menunjukkan pesan itu? Pikiran itu muncul dan ditolaknya sendiri. Pria itu baru saja menulis suratnya, baru saja tidur dengan wajah yang tenang. Jika Alexa memberitahunya sekarang, malam ini yang tadinya bahagia akan berubah jadi beban yang besok pagi tidak ia ingat, tetapi tetap bekerja diam-diam di bawah kesadarannya. Lebih baik ia menunggu sampai Nick mengenal dirinya lagi, setidaknya lewat surat dan kotak kayu itu.
Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, Alexa mengambil kertas hotel dan menulis nomor asing itu satu per satu, huruf demi huruf, seolah angka-angka itu bisa melarikan diri bila ia berkedip.
Alexa mundur selangkah ke dalam kamar dan menutup pintu balkon tanpa suara.