Cahaya pertama menembus tirai tipis ketika Alexa membuka matanya. Ia tidak sempat berpikir apa pun sebelum tangannya meraba nakas dan meraih ponsel. Pesan itu masih di sana, huruf demi huruf, tidak berubah sedikit pun.
Cincin itu tidak akan lama di jarimu.
Alexa duduk di tepi ranjang dan menatap cincinnya. Berliannya menangkap sinar pagi dan memantulkan kilau biru kecil di dinding. Semalam ia memutuskan menunda, dan pagi ini keputusan itu terasa lebih masuk akal. Nick harus lebih dulu tahu siapa Alexa. Baru sesudah itu ia boleh tahu bahwa ada orang yang mengincar cincin di jarinya.
Ia mencuci muka, menyisir rambut dengan jemari, lalu menarik napas panjang di depan cermin.
"Kamu bisa, Alexa. Kamu sudah berlatih."
Di kamar sebelah, Nick terbangun dengan jantung yang berdentum.
Langit-langit asing. Seprai putih yang bukan miliknya. Aroma kayu dan udara dingin yang tak ia kenal. Ia terduduk dengan cepat, napasnya memburu, matanya menyapu ruangan mencari sesuatu yang bisa dikenali. Jam dinding, lemari, jendela besar yang memperlihatkan danau berkabut.
Ia tidak tahu di mana ia berada. Ia tidak tahu sejak kapan ia di sini.
Tangannya yang mencengkeram selimut mendadak menyentuh sesuatu yang keras di samping bantal: kotak kayu kecil dengan tutup kuningan. Nick menatapnya, ragu, lalu membukanya.
Di dalamnya ada selembar kertas terlipat, foto sebuah cincin biru, sebuah kaset, dan pita rambut berwarna senada. Ia membuka lipatan kertas itu dengan jari gemetar, dan pada baris pertama ia berhenti.
Baris pertama langsung menyebut namanya sendiri, lalu menyebut penyakitnya tanpa basa-basi, dan menutup dengan tiga kata yang membuat dadanya longgar: tidak apa-apa.
Tulisan itu tulisannya sendiri. Huruf bersambung yang miring ke kanan, ekor g yang menjuntai, tarikan ujung t yang selalu terlalu panjang, tekanan pulpen yang ia kenali sejak sekolah. Nick membaca sampai habis, lalu membaca lagi dari awal dengan lebih pelan. Ketika sampai pada baris terakhir, tekanan pulpen di sana begitu dalam sampai ujung pulpen nyaris menembus kertas.
Baris paling bawah ditekan begitu dalam: dialah yang memilih perempuan itu, dan ia harus percaya pada tulisan ini.
Napasnya melambat. Dadanya masih berdebar, tetapi kini ada pegangan di antara jari-jarinya. Nick bangkit, mengganti piyama dengan kemeja yang tergantung di kursi, dan baru selesai mengancingkan lengan ketika pintu diketuk tiga kali, pelan.
Ia membukanya.
Seorang perempuan berdiri di ambang pintu. Rambut panjang, mata kebiruan, jari manis kirinya dihiasi cincin yang sama dengan yang ada di foto. Ia tersenyum, hangat dan sedikit tegang.
"Selamat pagi," ujar Nick, sopan dan kaku. "Maaf, aku... Aku baru saja membaca sesuatu, dan kalau tulisan itu benar, kamu pasti Alexa. Tapi aku harus jujur, aku tidak mengenal kamu."
"Aku tahu." Suara Alexa lembut. "Boleh aku masuk sebentar?"
Nick ragu, kemudian mundur selangkah. Alexa melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya, perlahan, sampai terdengar klik halus. Mereka berdiri berhadapan dengan jarak sekitar dua langkah. Nick tidak mendekat, dan Alexa pun tidak menyentuhnya.
Ia menunduk sebentar, menarik napas, lalu mengangkat wajah dan berbisik.
"Selamat pagi, Mr. Anterograde. Kita bertemu untuk pertama kali. Lagi."
Nick tidak bergerak. Wajahnya tidak berubah, tetapi tangan kirinya, yang tadi terkulai di sisi tubuh, mulai bergetar tanpa ia perintahkan. Ia menatap tangan itu seakan itu milik orang lain.
"Aku tidak ingat," katanya pelan. "Aku tidak ingat kalimat itu. Aku tidak ingat kamu."
"Tidak apa-apa."
"Tapi..." Nick mengangkat tangan yang bergetar itu ke dadanya, seperti memeriksa apakah di sana ada sesuatu. "Rasanya seperti pulang. Aneh sekali. Aku tidak tahu rumah yang mana, tetapi rasanya seperti itu."
Alexa menutup mulutnya dengan satu tangan. Matanya basah, tetapi ia tersenyum lebar. Nick, yang tidak mengerti kenapa, ikut tersenyum kikuk.
"Kamu boleh memanggilku Alexa," ujarnya. "Dan aku boleh memanggilmu Hubby, kalau kamu belum keberatan. Tapi hari ini aku akan pelan-pelan saja."
"Hubby," ulang Nick. Ia mencicipi kata itu dengan dahi berkerut. "Aku... Kamu sering memanggilku begitu?"
"Hampir tiap hari sejak beberapa hari terakhir."
"Hanya beberapa hari?" Nick tertawa kecil, canggung, lalu gugup karena tertawa. "Kalau begitu aku tidak punya alasan menolak."
***
Sarapan disiapkan di ruang makan kecil dengan jendela menghadap danau. Dave sudah ada di sana, berdiri tegak di dekat meja dengan ponsel di tangan. Setelah Nick dan Alexa duduk, ia menyalakan layar kecil di sisi ruangan dan memutar rekaman lamaran dari apartemen Alexa.
Nick menonton dengan sendok tergantung di udara. Di layar, dirinya sendiri berlutut dengan cincin, dan Alexa menutup mulut dengan kedua tangan sambil mengangguk-angguk. Ia tidak menyela sampai rekaman habis.
"Aku tampak gugup," komentarnya. Ia mencondongkan tubuh ke layar. "Dan itu apartemenmu. Kamu tinggal sendirian?"
"Iya. Orang tuaku sudah meninggal," jawab Alexa tanpa nada sedih yang dibuat-buat. "Jadi tiap kamu datang, kamu selalu membawa makanan, karena dapurku terlalu sepi."
"Aku membawa makanan?"
"Kamu membawa boba. Aku suka boba."
Nick mengulang kata itu pelan, lalu mengangguk dua kali. Ia benar-benar bertanya seperti orang yang sedang berkenalan, dan Alexa menjawab satu per satu tanpa lelah, karena ia sudah memutuskan bahwa pagi seperti ini bukan beban melainkan bagian dari mereka.
"Kamu selalu memesan yang tanpa gula, lalu mengeluh rasanya seperti air," timpal Alexa, lalu tertawa ketika Nick mengerutkan hidung.
"Tuan," ujar Dave setelah layar dimatikan. "Ada satu hal lagi."
Alexa sudah mengeluarkan ponselnya sebelum Dave selesai bicara. Ia meletakkannya di meja dan menggesernya ke tengah, dan Nick membaca pesan itu dengan wajah yang perlahan mengeras.
"Kapan ini masuk?"
"Semalam, setelah kamu tidur. Aku tidak mau membangunkanmu."
"Anda tidak perlu menunda hal seperti ini, Nona," kata Dave, nadanya hormat tetapi tegas. "Boleh saya bawa ponselnya? Nomor ini terlihat seperti nomor prabayar, tapi saya bisa meminta orang melacak dari mana pesan ini dikirim."
Alexa menyerahkannya tanpa ragu. "Silakan, Dave. Tolong kembalikan secepat mungkin."
Dave membungkus ponsel itu dengan kain bersih, lalu menunduk dalam sebelum melangkah keluar. Nick masih menatap tempat ponsel itu tadi tergeletak. Ia mengangkat wajah, dan untuk beberapa detik ia tampak seperti sedang bergulat dengan hal yang tidak punya nama.
"Siapa pun dia, dia tidak akan mendapatkan cincin itu," katanya pelan. "Aku tidak ingat memberikannya padamu. Tetapi aku yakin tulisanku tidak berbohong."
***
Perjalanan pulang memakan waktu lebih dari setengah jam. Andrew sudah menunggu di samping mobil ketika Alexa keluar dari lobi resort. Pria itu membukakan pintu belakang, dan Alexa masuk lebih dulu, lalu menarik pintunya pelan sampai tertutup tanpa bunyi keras.
"Terima kasih, Andrew," ucapnya sambil tersenyum.
"Sama-sama, Nona."
Nick duduk di sebelahnya, memandangi jendela, sesekali menoleh ke arah Alexa seperti memastikan perempuan itu masih ada. Ia membuka kotak kayu di pangkuannya, memeriksa isinya satu per satu, lalu menutupnya lagi dengan hati-hati.
"Kalau kamu mau bertanya apa saja, tanyakan," kata Alexa.
"Aku cuma ingin tahu apakah kamu sering menunggu orang yang tidak ingat kamu."
"Baru dua kali. Dan keduanya sepadan." Di tengah perjalanan, tanpa banyak bicara, tangannya bergeser perlahan di jok dan berhenti di dekat tangan Alexa. Alexa membalas dengan menautkan jari-jarinya, dan Nick tidak menarik diri.
Gerbang rumah kediaman Carter terbuka lebar saat mobil melintas. Angelica sudah menunggu di teras dengan syal tipis di bahu dan kedua tangan saling meremas. Begitu mobil berhenti, ia setengah berlari menuruni anak tangga.
"Mommy menunggumu dari tadi, Nak." Ia memeluk Nick sebentar, lalu menarik Alexa ke dalam pelukannya juga. Setelah itu suaranya merendah, hampir berbisik. "Julie sudah ada di ruang tamu sejak pagi. Katanya ia tidak akan pergi sebelum bertemu kalian."