Pagi itu Nick membaca barisnya sendiri tiga kali berturut-turut. Ia duduk di tepi tempat tidur dengan kertas di tangan, pintu kamar belum dibuka, dan kalimat terakhir di suratnya menatapnya balik dari kertas: Jangan biarkan Dave berhenti curiga.
Ia tidak ingat kapan menulisnya. Ia bahkan tidak tahu kenapa Dave harus curiga pada apa pun. Namun tinta yang menekan kertas itu terlalu dalam untuk diabaikan.
Ketika Alexa mengetuk dan masuk, membisikkan kalimat paginya dengan mata yang masih mengantuk, Nick menyodorkan kertas itu. "Kamu tahu apa maksudnya?"
Alexa membaca, lalu menarik napas. "Semalam sesudah makan malam, kamu masih kepikiran Dave. Kata Dave, kalau semua potongan cocok terlalu cepat, biasanya ada yang menaruhnya di sana. Soal Jessy dan Swiss."
"Dan aku setuju dengannya."
"Menurut suratmu, iya."
Nick melipat kertas itu hati-hati dan menyelipkannya ke Kotak Pagi. Lalu ia turun ke ruang makan dan menemukan Dave sedang menyesap kopi sambil berdiri, seperti biasa, dengan buku catatan terbuka. Nick berhenti di depan pria itu dan menatapnya cukup lama, sampai Dave menurunkan cangkirnya.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Aku hanya ingin bilang, jangan berhenti." Nick menepuk bahunya sekali. "Aku menulisnya di suratku. Entah kenapa."
Dave tak menjawab. Sudut bibirnya bergerak, dan ia menunduk dalam-dalam sebagai satu-satunya balasan yang pantas.
***
Butik itu terletak di sudut jalan dekat London Eye, dengan jendela tinggi yang dihiasi gaun-gaun putih gading di atas manekin berkaki ramping. Seorang pegawai berambut sanggul menyambut mereka dengan senyum profesional, lalu menuntun Alexa dan Angelica melewati deretan kain yang tergantung rapi.
"Nyonya Carter sudah menelepon sejak dua hari lalu," kata si pegawai. "Kami menyiapkan beberapa model yang sesuai dengan permintaan Nyonya."
Angelica mengangkat satu gaun sutra dengan lengan renda. "Yang ini bagaimana, Sayang?"
"Cantik sekali, Mom," ujar Alexa sambil menyentuh kainnya. "Tapi aku mau lihat yang polos dulu."
"Tentu."
Pegawai itu mengeluarkan pita ukur dari saku apronnya. "Kalau boleh, saya ukur dulu supaya penjahit bisa mulai menyesuaikan."
Alexa berdiri tegak di depan cermin besar. Pita ukur melingkar di bahunya, di pinggangnya, lalu pegawai itu menekan ujung pita dari tumit sampai puncak kepalanya. Pensil mencatat di buku kecil berkulit cokelat.
"Tinggi seratus enam puluh tujuh. Pinggang enam puluh dua. Lebar bahu tiga puluh delapan." Pegawai itu menutup bukunya. "Ukuran yang indah, Nona. Hampir tidak perlu diubah." Ia menyelipkan buku itu ke laci kasir dan menguncinya. "Catatan ini kami simpan di sini sampai gaunnya selesai. Tidak ada yang boleh melihatnya selain penjahit kami."
"Terima kasih," ujar Alexa. Ia merapikan ujung lengan bajunya di depan cermin.
Gaun pertama yang ia coba berwarna putih gading, polos, dengan potongan bahu terbuka yang jatuh lurus ke lantai. Angelica berdiri di belakangnya, memandangi pantulannya di cermin, dan untuk beberapa detik tidak mengatakan apa-apa.
"Mom?"
"Maaf, Sayang." Angelica mengusap sudut matanya. "Mommy baru sadar, beberapa hari lalu Mommy masih sibuk membayangkan gaun lain untuk orang lain."
"Itu masa lalu, Mom."
"Iya. Dan Mommy bersyukur." Angelica berjalan ke sisi Alexa dan merapikan kerah gaun itu dengan jemari yang sedikit gemetar. "Sayang, Mommy boleh bicara jujur?"
"Tentu."
"Mommy ingin sekali menggendong cucu. Dari kamu dan Nick." Suaranya merendah, dan ia memalingkan wajah ke cermin. "Mommy tahu ini terlalu cepat. Mommy tahu penyakit Nick membuat banyak hal tidak mudah. Tapi bayangan itu terus datang, dan Mommy tidak bisa menahannya."
Alexa menatap pantulan mereka berdua di cermin, perempuan paruh baya dan perempuan yang sebentar lagi menjadi menantunya. Ia tidak menjawab dengan janji. Ia meraih tangan Angelica dan menggenggamnya.
"Satu hari dulu, Mom," ujarnya pelan. "Kita jalani hari ini dulu. Nanti kalau waktunya tiba, Mom orang pertama yang kuberi tahu."
Angelica mengangguk keras, lalu menjentikkan jari ke dahi Alexa sambil pura-pura marah. "Pintar sekali kamu menjawab calon mertua." Pegawai butik yang menunggu di dekat tirai sempat menunduk pura-pura merapikan kain, memberi mereka sedikit ruang.
Setelah itu mereka mencoba dua gaun lagi. Alexa memilih yang pertama, putih gading yang polos, karena kainnya jatuh tanpa perlu dipaksa. Angelica sempat membujuk agar ia mencoba yang lebih berkilau, tetapi Alexa menggeleng sambil tersenyum.
"Aku ingin Nick melihat aku, bukan gaunnya."
"Dia akan melihat kamu." Angelica menepuk punggung tangannya. "Walau besok paginya dia lupa, dia akan tetap melihat kamu."
***
Siang menjelang sore, Alexa tiba di gedung RX Corporate dengan Andrew yang mengantar. Nick sudah menunggu di lobi dan menuntunnya ke lift pribadi.
"Gaunnya cantik?" tanyanya begitu pintu lift menutup.
"Rahasia."
"Aku calon suamimu."
"Dan itu alasan kenapa kamu tidak boleh tahu." Alexa tertawa melihat wajah Nick yang cemberut. "Aku baru mencoba beberapa dan sudah menangis dua kali. Bukan karena gaunnya, tapi karena ibumu."
"Mommy memang begitu. Dia menangis kalau melihat bunga mekar."
"Dia bilang kamu juga begitu waktu kecil."
"Itu fitnah," kata Nick, tetapi telinganya memerah, dan Alexa menyimpan pemandangan itu baik-baik di ingatannya.
Di lantai teratas, Angel Lorenz menyambut mereka di depan ruang kerja Nick. Ia mengenakan setelan abu-abu rapi, rambut disanggul, dan map hitam terjepit di lengan.
"Selamat sore, Tuan Nick. Nona Alexa." Sapaan itu sopan dan datar. Tak ada nada lain yang tersisa dari kecemburuan kecil di pertemuan mereka beberapa hari lalu. "Ada satu hal yang perlu saya laporkan."
"Silakan, Angel."
"Kemarin seorang wartawan menelepon ke meja saya. Ia mengaku dari majalah gaya hidup dan menanyakan tanggal pasti pernikahan Tuan. Saya jawab bahwa jadwal itu tidak dipublikasikan. Hari ini ia menelepon lagi dan lebih memaksa. Namanya tidak ia sebutkan dengan jelas."
Nick mengerutkan dahi. Ia menoleh pada Dave, yang berdiri di dekat jendela dengan ponsel di tangan. Dave sudah lebih dulu mengangguk.
"Saya sudah menelusuri nomornya, Tuan. Prabayar. Tidak terdaftar atas nama siapa pun yang bisa kita temukan." Dave menyimpan ponselnya. "Dan ini nomor yang sama dengan yang menelepon rumah, dua hari lalu, mengaku salah sambung."
"Mungkin hanya wartawan murahan." Nick menenangkan dirinya dengan suara pelan. Alexa memperhatikannya. Rahangnya santai, bahunya turun. "Jessy ada di Swiss, bukan? Dad sudah memastikannya. Kalau ada orang yang menginginkan jadwal pernikahan, mungkin hanya ingin menjual berita."
Dave tidak membalas. Matanya bertemu dengan mata Alexa sekejap, lalu ia menunduk dan kembali menekan layar ponselnya.
"Terima kasih, Angel," ujar Alexa, mencoba mencairkan suasana. "Maaf kalau urusan pernikahan kami merepotkan kantor."
"Tidak sama sekali, Nona," jawab Angel. Senyumnya tipis tetapi tulus.
Mereka masuk ke ruang kerja Nick, ruangan luas dengan jendela setinggi dinding yang menghadap sungai. Nick menunjukkan meja kerjanya, lalu laci tempat ia menyimpan foto kecil dirinya dan Alexa yang dicetak pagi tadi oleh Dave.
"Dave yang menaruhnya di sana," katanya. "Supaya kalau aku membuka laci ini dan lupa kenapa aku di sini, ada yang mengingatkan."
"Dan kamu percaya Jessy di Swiss?" tanya Alexa pelan, hampir tak berani menanyakannya.
"Aku tidak ingat Jessy sama sekali, Alexa. Yang kutahu hanya dari surat dan cerita Mommy. Kalau Dad bilang dia pergi, aku mau percaya itu." Nick mengangkat bahu, lalu menatapnya lebih serius. "Tapi aku juga menulis supaya Dave jangan berhenti. Jadi aku percaya dua-duanya. Itu aneh?"
"Sedikit." Alexa tersenyum samar. "Tapi itu kamu."
Alexa baru saja duduk di sofa tamu ketika ponselnya bergetar di dalam tas. Ia mengeluarkannya, mengira itu Stefani, dan membaca nama pengirimnya. Aaron.
Jarinya membuka pesan itu. Hanya tiga kalimat pendek.
Sean baru ke bar. Bertanya tentang kamu. Dia kurus sekali.
Alexa membacanya sekali lagi, lalu mengunci layar. Dari sofa seberang, Nick sedang tertawa pada sesuatu yang dikatakan Angel di pintu. Alexa menimbang, dan ia tahu persis ini hal yang Nick takutkan di taman belakang: ia menyimpan sesuatu. Tetap saja ia memasukkan ponsel ke dalam tas. Ia sendiri belum tahu harus merasa apa tentang kabar itu, dan ia ingin paham perasaannya dulu sebelum menyampaikannya. Besok pagi, setelah Nick membaca suratnya, ia akan menunjukkan pesan itu.