Alexa meletakkan ponselnya di tengah meja makan, layar menghadap ke atas, tepat di antara piring roti dan cangkir kopi Dave. Hujan semalam sudah berhenti, tetapi kaca jendela masih berembun dan ruangan terasa lebih dingin dari biasanya.
"Seharusnya aku bilang kemarin," katanya. "Pesan ini masuk waktu kita di ruang kerjamu. Tetapi kamu baru saja bilang percaya pada Dad dan pada Dave sekaligus, dan aku tidak mau merusak sore itu."
Nick membaca tiga kalimat di layar. Ia membacanya pelan, lalu mengangkat wajah. Surat paginya tergeletak di samping piring, terlipat dua.
"Sean," ujarnya. "Yang kutulis di suratku. Sean masa lalu."
"Iya."
"Kurus sekali." Nick mengulang kata itu pelan. "Kamu mau menelepon Aaron?"
"Kalau Nona mengizinkan, saya ingin ikut mendengar," sela Dave. Ia sudah meletakkan cangkirnya dan buku catatannya terbuka di tangan.
Alexa menekan nama Aaron dan menyalakan pengeras suara. Nada sambung hanya berbunyi dua kali.
"Alexa. Aku menunggu kamu telepon dari kemarin sore," suara Aaron terdengar serak, seperti orang yang baru tidur satu jam. "Dia datang sore, waktu bar belum ramai. Duduk di meja paling ujung, dekat pintu belakang, dan hanya pesan air putih."
"Dia bicara apa?"
"Hampir tidak ada. Dia tanya apakah kamu masih sering ke sini. Aku bilang jarang. Dia tanya apakah kamu baik-baik saja, dan aku tidak jawab apa-apa." Aaron berdeham. "Dia tidak meninggalkan nomor, tidak menyebut nama. Waktu pergi dia cuma bilang akan datang lagi. Aku sudah kenal dia sejak kalian masih bersama, dan aku hampir tidak mengenalinya. Bajunya kebesaran. Seperti orang yang makannya tidak teratur."
Nick memperhatikan Alexa. Jari-jari perempuan itu mengelus ujung ibu jarinya berulang-ulang, gerakan kecil yang sudah mulai ia hafal dari surat dan dari pengamatannya sendiri.
"Aaron, ini Dave," kata Dave. "Hari ini seorang teman saya duduk di ujung meja bar kalian, berpakaian biasa. Ia tidak akan mengganggu siapa pun. Kalau pria itu muncul lagi, jangan didekati, jangan ditanya apa pun. Cukup beri isyarat."
"Mengerti."
Setelah sambungan terputus, tak seorang pun bicara. Di luar, Andrew sedang mengelap kap mobil dengan kain flanel.
"Kamu mau bertemu dengannya?" tanya Nick akhirnya, pelan.
"Aku belum tahu." Alexa jujur. "Aku hanya tahu aku tidak mau dia muncul di hari pernikahan kita seperti hantu."
"Tiga tahun orang itu menghilang, Nona, dan baru muncul sekarang, tepat ketika ada yang memotret Anda dari balik semak," kata Dave hati-hati. "Saya tidak menuduh. Saya hanya tidak percaya pada kebetulan."
"Kamu dan kebetulan," gumam Nick.
"Itu satu-satunya hal yang tidak pernah salah saya curigai, Tuan."
Alexa mencoba tersenyum, tetapi bibirnya hanya bergerak setengah. Ia memasukkan ponsel ke saku dan merasakan bobotnya, seakan benda itu mendadak berisi lebih banyak daripada tiga kalimat.
Seorang pelayan muncul di ambang pintu sebelum Nick sempat menjawab. "Maaf, Tuan. Tuan Jack Rodwell dari Galaxi datang. Beliau membawa sesuatu dan meminta waktu sebentar."
Alexa menegakkan punggung tanpa sadar. Nick menangkap gerakan itu. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan selembar kertas yang sudah dilipat kecil, dan membaca satu baris di dalamnya dengan bibir yang nyaris tak bergerak. Alexa tidak melihat apa isinya.
"Persilakan ke teras," ujar Nick. "Dan aku ingin bicara dengannya sendirian."
***
Jack berdiri di teras dengan kotak panjang terbungkus kertas krem di kedua tangannya. Sinar pagi jatuh di bahunya. Ia menunduk sopan ketika Nick keluar.
"Tuan Nick. Ini hadiah dari seluruh Galaxi, satu set perak untuk meja makan. Mereka menitipkannya pada saya karena tak seorang pun berani mengantar sendiri."
"Terima kasih, Tuan Jack. Silakan duduk."
Mereka duduk berhadapan di kursi rotan. Dari balik kaca ruang makan, Alexa mengamati dua pria itu dengan cangkir kosong di tangannya. Ia tak bisa mendengar apa-apa.
"Saya akan langsung saja," kata Jack. "Saya tahu Tuan tidak mengenal saya secara pribadi, dan mungkin surat Tuan sudah menceritakan banyak hal."
"Surat saya bilang Anda orang baik yang mencintainya." Nick mengatakannya tanpa ragu, dan Jack terdiam sesaat. "Dan saya tidak diminta cemburu."
Jack tertawa pendek, getir. "Tuan menulis itu untuk diri Tuan sendiri?"
"Saya menulisnya tadi malam, setelah Alexa bercerita tentang Anda." Nick menyandarkan punggung. "Saya tidak bisa menjanjikan ingatan saya, Tuan Jack. Besok pagi mungkin saya lupa kita pernah bicara. Saya hanya bisa menjanjikan kehadiran. Dia pantas bersama pria yang selalu ada, dan saya sedang berusaha menjadi pria itu."
Jack memandangi tangannya sendiri cukup lama. "Kalau begitu izinkan saya membantu. Ada beberapa hal tentang Alexa yang saya hafal selama bekerja satu atap dengannya. Mungkin berguna untuk Tuan, karena Tuan sering harus mengenalnya dari awal."
"Saya mendengarkan."
"Kalau dia sedang berpikir, dia mengelus ujung ibu jarinya dengan telunjuk. Kalau dia akan menolak sesuatu dengan sopan, dia menyelipkan rambut ke belakang telinga kirinya dulu. Dan dia berterima kasih kepada siapa pun, sampai ke sopir taksi yang baru dua menit mengantarnya." Jack tersenyum tipis. "Saya pernah melihatnya mengucapkan terima kasih pada mesin kopi yang akhirnya mau bekerja."
Nick tertawa, lalu mengeluarkan pulpen dari saku dalam dan mencatat semuanya di sisi kosong kertas lipatnya. Ketika ia selesai, ia menatap Jack dengan serius.
"Itu berharga. Terima kasih, Tuan Jack."
"Saya melakukannya bukan untuk Tuan." Jack berdiri. "Tetapi saya senang Tuan menerimanya."
Alexa sudah menunggu di ambang pintu ruang tamu ketika Jack masuk kembali. Jack menunduk di depannya.
"Alexa, saya ingin minta maaf sekali lagi atas ajakan saya waktu itu. Saya tidak seharusnya mengatakannya kepada bawahan saya."
"Sudah, Tuan Jack." Alexa menggeleng. "Saya menerimanya. Saya sungguh-sungguh."
"Kalau suatu hari kamu butuh seseorang untuk dipercaya, hubungi saya. Hanya itu."
"Terima kasih."
Jack pergi tanpa menoleh. Dari jendela, Alexa melihat mobilnya keluar dari gerbang. Nick berdiri di sampingnya, entah sejak kapan, sambil memutar-mutar pulpen di jarinya.
"Kamu mencatat sesuatu tentang aku," kata Alexa.
"Tiga hal. Akan kumasukkan ke Kotak Pagi." Nick tersenyum. "Hati-hati, Honey. Besok aku akan tahu kamu mengelus ibu jarimu setiap kali berbohong."
"Itu ketika aku berpikir, bukan berbohong."
"Kita lihat nanti."
***
Menjelang malam, Nick duduk di meja kecil dekat jendela kamarnya, menulis suratnya. Set perak dari Galaxi sudah dipajang Angelica di lemari kaca ruang makan, dan sepanjang makan malam Carter hanya mengomentari satu hal: bahwa Jack Rodwell tahu cara datang tanpa membuat gaduh. Alexa duduk di tepi tempat tidur dengan buku di pangkuan yang tak pernah ia baca. Dari dasar rumah, suara Angelica terdengar menyuruh pelayan menutup tirai ruang tengah.
Pulpen Nick berhenti di tengah kalimat.
Ia memegang pelipis kirinya dengan dua jari, lalu menarik tangannya cepat-cepat, seolah gerakan itu tidak pernah ada. Napasnya tertahan sebentar, kemudian ia kembali menunduk menulis. Namun garis-garis hurufnya melenceng, dan beberapa kali ia memicingkan mata pada kertas.
Alexa menutup bukunya.
"Hubby."
"Hm?"
"Kepalamu."
"Tidak apa-apa." Nick tidak menoleh. "Capek saja. Hari ini panjang."
"Sejak kapan?"
"Siang tadi, sesudah Jack." Ia akhirnya berbalik dan melihat wajah Alexa. Ia tampak sadar bahwa berbohong tidak akan berhasil. "Seperti ditusuk dari belakang mata. Cuma sebentar."
"Dan kamu tidak bilang apa-apa pada siapa pun."
"Aku tidak mau Mommy cemas. Kalau Mommy cemas, Dad cemas, dan Dad menambah penjaga lagi." Nick tersenyum lemah. "Aku akan menulisnya di surat, supaya besok aku tahu."
"Tidak." Alexa berdiri, mengambil pulpen dari tangannya dan meletakkannya di atas kertas. "Biar aku yang bilang pada Dave. Kamu tidur sekarang. Ini bukan permintaan."
"Kamu terdengar seperti Dad."
"Dad mengajari aku dengan baik." Alexa mematikan lampu meja dan menarik selimut sampai ke dagu Nick. "Dan jangan coba-coba menyembunyikan ini lagi. Mulai malam ini, rasa sakitmu bukan urusan pribadimu saja."