Lampu dapur kecil di dekat ruang kerja Carter masih menyala ketika Alexa turun sebelum fajar. Dave sudah ada di sana, berdiri di depan jendela dengan secangkir kopi dan buku catatan yang tertutup. Ia menoleh begitu mendengar langkah, lalu menunduk hormat.
"Nona tidak tidur."
"Sedikit." Alexa menarik kursi dan duduk. "Kamu sudah baca pesanku semalam?"
"Sudah. Saya menelepon dr. Harlan sebelum tengah malam." Dave membuka bukunya. "Beliau minta Tuan Nick dibawa ke kliniknya dalam beberapa hari, kecuali sakitnya bertambah parah. Sampai saat itu, istirahat cukup, tidak ada kejutan, dan kalau Tuan memegang pelipis lagi, saya harus dikabari."
"Dia akan marah kalau tahu aku melapor padamu."
"Tuan Nick akan lupa marahnya sebelum matahari terbenam, Nona." Dave nyaris tersenyum. "Dan dia akan berterima kasih kalau mengingatnya."
Alexa tertawa kecil, lalu ia naik ke lantai atas, mengetuk pintu kamar Nick, masuk, dan menutup pintu di belakangnya sebelum membisikkan kalimat yang sudah menjadi miliknya. Nick yang duduk di tepi tempat tidur dengan surat di tangan mengangkat wajah. Matanya masih membawa kebingungan sisa tidur, tetapi bahunya turun perlahan karena ia sudah membaca suratnya dan memilih percaya.
"Tulisanku jelek sekali di halaman ini," katanya, menunjuk baris-baris yang melenceng di bagian bawah kertas.
"Kamu sedang tidak enak badan semalam."
"Sekarang?"
"Bagaimana kepalamu?"
Nick menimbang sejenak, lalu menjawab jujur. "Seperti habis mendengar suara keras yang sudah berlalu. Tidak sakit. Hanya ada gemanya."
"Kalau gemanya naik, kamu bilang."
"Surat ini bilang aku akan bilang." Nick tersenyum dan melipat kertasnya. Dari saku jasnya yang tergantung di kursi, ia mengeluarkan lembar lain dan membaca baris teratasnya. "Hari ini ke makam orang tuamu. Aku diminta memakai jas gelap, dan tidak menangis lebih dulu daripada kamu."
"Itu dari suratmu?"
"Itu dari Dave. Tapi aku akan berusaha."
***
Di dalam mobil, Nick duduk di samping Alexa dengan lembar catatan Dave terlipat di lututnya. Ia membacanya dua kali sepanjang jalan, dan dua kali pula Alexa menyadari bahwa ia sedang menghafal wajah ayah dan ibunya dari cerita.
"Ayahmu seperti apa?" tanyanya akhirnya.
"Pendiam. Suka memperbaiki barang yang sebenarnya tidak rusak." Alexa memandangi jalan yang lewat di jendela. "Ibuku yang bawel. Dia selalu bilang, masakan yang enak itu bukan soal bumbu, tapi soal siapa yang kamu tunggu pulang."
"Sup kentang itu resep ibumu."
"Kamu ingat?"
"Tidak. Suratku bilang kamu hampir menangis waktu Dad memuji sup itu." Nick tersenyum. "Orang tidak begitu pada sup, kecuali sup itu milik seseorang."
Pemakaman itu terletak di pinggir kota, di lereng landai yang ditumbuhi pohon-pohon yew tua. Mobil berhenti di ujung jalan setapak, dan Andrew keluar lebih dulu untuk membukakan pintu. Alexa membawa seikat lili putih yang ia beli sendiri di pasar bunga pagi tadi, menolak tawaran Angelica agar pelayan yang menyiapkannya.
Mereka berjalan berempat. Dave di depan, matanya menyapu pagar dan jalan masuk. Andrew di belakang, tangan terlipat di depan tubuh seperti pengawal upacara. Nick menggandeng tangan Alexa tanpa banyak bicara, dan saat jalan setapak mulai menurun, ia menahan langkah sedikit agar Alexa tidak tergesa.
Nisan itu sederhana, dua nama berdampingan, abu-abu dan agak berlumut di sudutnya. Alexa berlutut dan merapikan rumput yang mulai menutupi ujung batu.
"Ibu, Ayah." Suaranya rendah. "Ini Nick. Dia orang yang kuceritakan."
Nick berdiri diam di belakangnya. Ia melepas topinya, dan angin mengacak rambutnya yang rapi. Beberapa saat ia hanya menatap dua nama itu. Kemudian ia berlutut di samping Alexa, tidak peduli lututnya basah oleh tanah.
"Selamat pagi," ucapnya kepada batu itu. "Saya Nick Carter. Saya tidak akan pernah mengingat pertemuan ini besok, dan itu hal pertama yang harus Ayah dan Ibu ketahui tentang saya. Tetapi saya akan datang lagi, sebanyak yang diperlukan." Ia menarik napas. "Saya berjanji akan memperkenalkan diri lagi tiap pagi kepada putri Ayah dan Ibu, dan ia akan memperkenalkan dirinya lagi kepada saya. Kami sudah sepakat. Saya rasa itu cukup adil."
Alexa menutup mulut dengan punggung tangannya. Air matanya sudah jatuh sebelum ia sempat menahan, dan Nick, yang bertekad tidak menangis lebih dulu, hanya menunduk dengan mata memerah.
"Kamu melanggar," bisik Alexa, setengah tertawa.
"Aku bilang akan berusaha."
Ketika Alexa meletakkan lili itu di depan batu, tangannya berhenti. Di sisi kiri nisan, tersandar pada batu, ada seikat bunga kecil yang masih segar. Kelopaknya belum layu, tangkainya diikat tali rami dengan simpul yang ceroboh. Di sela-sela tangkai terselip kartu persegi tanpa amplop.
Alexa mengambilnya. Tulisan tangan di atasnya kecil dan miring ke kanan.
Maaf aku terlambat. S.
Wajahnya memucat. Ia tidak berteriak dan tidak menjatuhkan kartu itu. Ia hanya berdiri kaku dengan tangan terulur, memandangi satu huruf itu tanpa berkedip.
"Alexa?" Nick menyentuh sikunya. "Siapa?"
Alexa membuka mulut dan menutupnya lagi. Ia ingat tulisan itu. Ia ingat kapan terakhir kali melihatnya, di sebuah catatan kecil yang diselipkan di bawah pintu apartemennya, tiga tahun lalu, berisi daftar belanjaan.
"Sean," katanya. "Ini tulisannya."
Nick memandang kartu itu, kemudian memandang Alexa. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Ia mengambil kartu dari tangan Alexa dengan hati-hati, membacanya sekali, lalu mengembalikannya.
"Dia sudah ada di sini," ujar Nick tenang. "Di depan orang tuamu."
"Iya."
"Berarti ia benar-benar menyesal." Ia menatap bunga itu. "Atau ingin kamu tahu ia menyesal. Aku belum tahu yang mana."
"Nick..."
"Aku tidak apa-apa, Alexa." Ia menggenggam tangannya. "Aku hanya ingin kamu tidak membawa ini sendirian."
***
Mereka sudah kembali ke ujung jalan setapak ketika Dave memanggil penjaga makam, seorang pria tua berjaket kerja yang sedang menyapu daun di dekat gerbang. Alexa tidak mendengar pertanyaannya dari jauh, hanya melihat bagaimana pria tua itu menggaruk dagu, berpikir, lalu menunjuk ke arah lereng bagian barat.
Dave kembali dengan wajah yang sama tenangnya seperti sebelum pergi. Hanya bahunya yang lebih kaku.
"Dua hari lalu, Nona, menjelang sore," katanya pelan, agar Nick yang sedang membantu Alexa masuk ke mobil tidak ikut mendengar. "Seorang pria kurus dengan jaket abu-abu. Ia berdiri di depan makam hampir sejam. Penjaga itu mengira ia kerabat yang sedang berduka dan tidak mengganggunya. Ia membawa bunga kecil dan pergi sebelum gerbang ditutup."
"Dua hari lalu," ulang Alexa. "Berarti sebelum dia ke bar."
"Atau setelahnya, tergantung bagaimana kita menghitung." Dave mengeluarkan ponsel, kembali ke nisan, dan memotret kartu yang Alexa letakkan lagi di atas batu, dari tiga sudut berbeda. "Saya akan menyimpannya, Nona. Tulisan tangan sering berguna kalau kita butuh membuktikan sesuatu."
"Membuktikan apa?"
Dave tidak langsung menjawab. Ia memasukkan ponselnya, lalu menatap lereng barat, tempat daun-daun yew bergoyang meski angin sudah mereda.
"Kalau pria itu ingin menemui Nona, ia punya seribu cara yang lebih mudah," katanya. "Ia bisa mengetuk gerbang rumah, menunggu di depan Galaxi, atau menelepon. Ia memilih berdiri di sini, di depan orang tua Nona, dan pergi sebelum ada yang melihatnya. Orang yang berbuat begitu sedang mengukur sesuatu."
"Mengukur apa?"
"Itu yang belum saya tahu." Dave menutup kancing jasnya. "Tetapi satu hal yang saya tahu pasti. Besok Tuan Nick tidak akan ingat kita pernah ke sini, dan kartu itu tidak akan ada di suratnya kalau Nona tidak menulisnya sekarang."
Alexa menoleh ke mobil. Dari kaca belakang yang terbuka sedikit, Nick sedang menatap mereka dengan tatapan orang yang tahu dirinya sedang dibicarakan. Ia mengangkat tangan dan melambai kecil.
"Kalau begitu kita tulis," kata Alexa. "Semuanya. Dan aku yang akan bilang padanya sendiri."
"Ada satu hal lagi, Nona." Dave menurunkan suaranya. "Penjaga itu bilang pria tadi tidak pulang berjalan kaki. Ia mendengar motor di balik gerbang timur, dinyalakan dua kali, seperti orang yang belum yakin mau pergi atau kembali."
Alexa tidak menjawab. Di kaca belakang mobil, Nick masih melambai.