Alexa menceritakannya malam itu juga di ruang baca, semua yang Dave katakan berdua dengannya sesudah mereka dari makam, dari motor yang dinyalakan dua kali di balik gerbang timur sampai dugaan Dave bahwa Sean datang bukan hanya untuk berduka, tetapi untuk mengukur sesuatu.
Nick mendengarkan tanpa menyela. Hanya sekali ia bertanya, "Dave bilang begitu?" lalu mengangguk waktu Alexa menjawab ya.
"Kamu tidak marah aku baru cerita sekarang?"
"Aku marah kalau kamu menyimpannya sendirian sampai menangis." Nick menarik selembar kertas. "Diktekan juga bagian Dave. Besok aku perlu tahu siapa yang sedang kita curigai."
Alexa mendiktekannya, dan ia menyaksikan kalimat demi kalimat berpindah ke kertas dalam huruf miring yang makin akrab di tangan Nick.
***
Nick membaca halaman suratnya yang terakhir dengan telunjuk bergerak mengikuti baris. Di ruang baca yang hangat oleh sinar tengah hari, kertas itu tampak lebih tebal dari seharusnya, penuh coretan dan panah yang ia tulis sendiri semalam setelah Alexa selesai bercerita tentang kartu di makam.
"Jadi Sean," ujarnya. "Tiga tahun menghilang, sekarang ia mulai muncul di tempat-tempat yang kamu kenal."
"Iya."
"Dan kamu belum tahu mau apa."
"Aku belum tahu mau apa, belum tahu mau bilang apa, dan belum tahu apakah aku mau bertemu atau tidak." Alexa menghela napas. "Itu terdengar seperti tiga jawaban yang berbeda."
"Itu satu jawaban jujur." Nick mengangkat bahu. "Dave pasti memberimu nilai tertinggi."
Alexa duduk di sofa seberangnya, memeluk bantal kecil di pangkuan. Ia sudah membuka mulut beberapa kali sejak sarapan tetapi urung. "Aku takut, Nick. Bukan takut pada Sean. Aku takut pada diriku sendiri kalau melihat dia. Aku tidak tahu apa yang akan kurasakan, dan aku tidak mau kamu membaca wajahku lalu salah mengerti."
Nick menurunkan suratnya. Ia tidak langsung menjawab, dan Alexa melihat bagaimana ia berpikir: alisnya sedikit turun, jemarinya mengetuk lutut dua kali.
"Kalau dia datang," katanya perlahan, "aku sudah menyiapkan kalimat pertamaku."
"Apa?"
"Duduklah, kamu kelihatan belum makan. Aaron bilang dia kurus sekali."
"Hanya itu?"
"Satu syarat." Ia mengangkat telunjuk. "Kalau kamu memutuskan bertemu dia, bilang padaku dulu. Bukan minta izin. Supaya besok pagi suratku sudah tahu ke mana kamu pergi, dan aku tidak perlu bertanya pada orang lain." Ia tersenyum miring. "Itu cukup bagiku."
Alexa melempar bantal ke arahnya, yang ditangkap Nick dengan satu tangan, dan untuk beberapa saat ruang baca itu terasa seperti ruang biasa milik dua orang yang baru jatuh cinta.
"Pergilah ke bar," lanjut Nick. "Dengan Stefani. Tanyakan sendiri pada Aaron. Dave akan menunggu di mobil, dan aku akan menulis surat tentang pria bernama Sean yang tidak perlu dikhawatirkan sampai terbukti sebaliknya."
Ketukan pendek terdengar di pintu. Dave masuk membawa selembar cetakan foto kartu dari makam, dan Nick menerimanya sebelum Dave sempat menjelaskan. Ia memiringkan kertas itu ke arah jendela, menelusuri huruf S yang miring ke kanan.
"Ditulis terburu-buru," komentarnya. "Tapi ditulis oleh orang yang sempat berhenti dan mengulang kata terakhir. Lihat, tintanya menebal di sini."
"Saya melihatnya, Tuan."
"Taruh di Kotak Pagi. Tetapi jangan di bagian atas." Nick menyerahkan kertas itu kembali. "Aku tidak mau membuka kotak itu tiap pagi dan langsung melihat tulisan orang yang membuat Alexa gelisah."
Dave menunduk, dan Alexa melihat sudut bibirnya bergerak lagi, lebih lama dari biasanya.
***
Bar Aaron di siang hari berbau lemon dan kayu yang digosok. Kursi-kursinya masih terbalik di atas meja, dan hanya satu lampu menyala di atas rak botol. Aaron berdiri di balik konter sambil mengelap gelas, dan begitu melihat Alexa, ia meletakkan lap dan mengangkat kedua tangan seperti orang menyerah.
"Sebelum kamu marah, aku tidak tahu dia akan datang lagi kemarin."
"Aku tidak marah." Alexa duduk di bangku tinggi. Stefani menyusul di sampingnya, menatap sekeliling sambil mengerutkan hidung.
"Tempat ini lebih kecil dari yang kubayangkan. Kamu bilang kamu ke sini empat kali seminggu."
"Dulu."
"Pantas kamu terlambat terus kalau pagi," gumam Stefani.
"Temannya Dave itu seram," tambah Aaron sambil menuang jus jeruk untuk mereka berdua tanpa bertanya. "Dia memesan satu kopi dan membacanya selama dua jam. Maksudku, membaca koran dengan kopi yang sudah dingin. Pelangganku mulai bertanya apakah dia polisi."
"Dia lebih buruk dari polisi," kata Stefani. "Dia pengawal."
Aaron mengangkat alis, tetapi tidak berkomentar. Lalu ia bercerita dengan suara rendah, dan Alexa mendengarkan sambil memutar gelas di jarinya. Sean datang dua kali: pertama sore hari, dua hari lalu, kemudian kemarin tengah hari, saat bar nyaris kosong. Teman Dave yang duduk di ujung konter sempat melirik, tetapi sesuai perintah ia tidak menyapa. Sean masuk, memesan segelas air putih, meminumnya, dan meletakkan koin di meja. Ia tidak membuka dompet.
"Dia bilang apa?" tanya Alexa.
"Dia tanya apakah kamu mau menikah." Aaron menunduk menatap lap di tangannya. "Aku bilang iya. Dia diam lama sekali. Terus dia bilang akan menemuimu sesudah pernikahan, kalau kamu sudah bahagia."
"Kalau aku sudah bahagia," ulang Alexa lirih.
"Itu persis kata-katanya. Aku tidak tahu apa maksudnya, tetapi aku tidak suka." Aaron mencondongkan badan. "Alexa, aku sudah menjaga konter ini sebelas tahun. Aku tahu orang yang datang karena rindu, orang yang datang karena marah, dan orang yang datang karena takut. Dia yang ketiga. Dia duduk menghadap pintu. Dua kali dia melihat ke belakang waktu ada mobil lewat. Dia kelihatan berutang pada seseorang."
"Berutang?"
"Uang atau sesuatu yang lebih buruk. Entahlah."
Stefani yang sejak tadi diam menaruh gelasnya terlalu keras. "Aku tidak suka ini. Kamu tidak boleh sendirian di mana pun sampai hari pernikahan."
"Aku tidak sendirian. Aku punya penjaga yang berpakaian seperti orang biasa dan pura-pura membaca koran."
"Itu bukan hiburan, Alexa."
Alexa tertawa kecil, lalu tawanya hilang. Ia mengedarkan pandangan ke ruangan, ke meja ujung dekat pintu belakang, tempat segelas air putih pernah diminum oleh orang yang dulu ia percayai paling dalam.
"Aaron," katanya, "pesta lajang."
"Pesta apa?"
"Kecil saja. Malam sebelum pernikahan, di sini. Stefani, Merry, kamu. Tanpa alkohol, aku sudah berjanji pada diriku sendiri." Alexa mengusap tepi gelas. "Aku ingin satu malam yang biasa sebelum semuanya berubah. Dan kalau pria itu mau menemui aku, lebih baik di tempat yang kukenal, bukan di tempat yang ia pilih."
Stefani menatapnya lama. "Kamu gila, tahu?"
"Jus jeruk dan keripik kentang. Kita bisa pakai topi karton." Alexa menahan senyum. "Dave pasti memasang tiga pengawal."
"Empat," kata Aaron. "Aku akan membawakan kue."
"Kue apa?" tanya Alexa curiga.
"Yang pernah kamu bilang paling enak. Kue lemon buatan ibumu. Aku masih ingat resepnya dari kamu sendiri."
Alexa tertawa, dan akhirnya bahunya benar-benar turun.
"Baiklah." Stefani mengembuskan napas panjang. "Aku datang. Tetapi kalau ada yang berani menyentuhmu, aku lempar mereka dengan nampan."
***
Matahari sudah condong ketika mereka keluar. Dave menunggu di dalam mobil di seberang jalan, dan Stefani berhenti di trotoar untuk membalas pesan di ponselnya. Alexa berdiri di sampingnya, memandangi lalu lintas.
"Kamu mau bertemu dia?" tanya Stefani tanpa mengangkat mata dari layar. "Jawab jujur. Aku sahabatmu, bukan hakim."
"Aku mau tahu kenapa."
"Itu bukan jawaban."
"Itu satu-satunya yang kupunya." Alexa menatap ujung sepatunya. "Tiga tahun aku mengira ada yang salah denganku, sampai Nick datang dan bilang aku tidak salah apa-apa. Aku tidak mau mendengar alasan Sean kalau itu berarti harus mengulang semuanya."
Stefani menyimpan ponselnya. Ia merangkul bahu Alexa dengan satu tangan, kasar dan hangat seperti biasa. "Kalau begitu jangan dengarkan. Tutup telingamu. Biar aku yang menjawabnya dengan nampan."
Alexa mengeluarkan ponselnya dari saku. Ia tidak tahu kenapa jarinya melakukannya. Ia sudah menghapus nomor itu dari ponsel lamanya, tetapi angkanya tidak pernah benar-benar hilang dari kepala. Satu per satu ia menekannya di layar, sebelas digit yang dulu ia hafal lebih mudah daripada nomornya sendiri, lalu ia menempelkan ponsel ke telinga sebelum sempat berubah pikiran.
Nada sambung berbunyi sekali. Dua kali.
Sambungan terangkat.
Tidak ada suara. Alexa menahan napas. Di ujung sana hanya ada keheningan yang bernapas, dan jauh di belakangnya, samar tetapi jelas, suara mesin motor yang menderu rendah lalu melambat.
"Sean?" bisiknya.
Napas di seberang menahan sesaat. Lalu sambungan terputus.
Alexa menurunkan ponselnya. Stefani sudah menatapnya dengan wajah pucat.
"Siapa yang kamu telepon?"
"Nomor lama."
"Dan?"
"Tersambung."