"Nomor itu menyala selama empat menit, Nona," lapor Dave dari kursi depan. Mobil melaju pelan di jalan menuju RX Corporate, dan di jok belakang Nick sedang membaca surat paginya dengan alis berkerut. "Dari menara di sisi timur kota. Setelah sambungan terputus, sinyalnya hilang. Ponselnya mati atau dibuang."
"Jadi dia masih memakai nomor itu selama tiga tahun?" tanya Alexa.
"Atau ada orang lain yang memakainya sekarang." Dave menoleh sekilas. "Saya tidak suka kemungkinan kedua, tetapi saya harus menyebutnya."
Nick melipat suratnya. "Jadi nomor itu hidup, dan ada motor di belakangnya." Ia mengatakannya seperti membacakan berita, tetapi tangannya yang menggenggam tangan Alexa menguat sedikit. "Kamu tidak perlu cemas. Aku di sini."
"Iya."
"Itu sudah kutulis di suratku, dua kali, supaya tak ada alasan untuk lupa." Ia tersenyum miring. "Dan aku berniat tetap di sini."
Alexa tertawa pendek, dan untuk beberapa detik beban di dalam mobil itu terasa lebih ringan.
Di lantai teratas RX, Nick membaca berkas kerja sama dengan Angel Lorenz berdiri di sampingnya, sementara Alexa duduk di sofa tamu membolak-balik majalah tanpa membaca. Menjelang tengah hari, Nick berhenti di tengah kalimat. Pulpennya jatuh ke meja dan menggelinding sampai berhenti di tepi.
"Tuan?" panggil Angel.
Nick menekan pelipis dengan telapak tangan. Matanya terpejam rapat, rahangnya mengeras, dan wajahnya berubah pucat sepucat kertas di depannya. Ia mencoba berdiri, lalu tubuhnya miring ke samping.
"Nick!" Alexa melompat dari sofa. Dave sudah lebih dulu ada di sana. Ia menangkap bahu Nick sebelum kepalanya menyentuh meja dan menurunkannya ke lantai dengan satu gerakan terlatih.
"Panggil mobil ke lobi. Sekarang," titah Dave kepada Angel. "Dan telepon dr. Harlan, bilang kami pulang ke rumah Tuan Carter."
Angel berlari keluar. Nick membuka mata sedikit, dan tatapannya kosong melewati Alexa. "Siapa..." bisiknya, lalu terdiam, dan Alexa merasa dadanya diremas dari dalam.
"Aku Alexa," katanya, berlutut di sampingnya. "Kamu Nick. Kita di kantormu. Kepalamu sakit, tapi kamu tidak apa-apa."
"Alexa," ulang Nick, seperti menyebut nama sebuah tempat yang pernah ia kunjungi dalam mimpi. Napasnya terputus-putus. "Ada surat di sakuku?"
Alexa mengeluarkan lipatan kertas dari jas Nick dan meletakkannya di tangannya. Nick tak sanggup membaca, tetapi jari-jarinya menggenggam kertas itu erat-erat sepanjang jalan pulang.
***
Dr. Harlan Webb datang dalam satu jam dengan tas hitam tuanya. Ia memeriksa mata Nick dengan senter kecil, menekan beberapa titik di leher, dan bertanya hal-hal sederhana. Nick menjawab pelan, kadang tepat, kadang berhenti lama.
"Ini migrain berat," katanya setelah menutup tas. "Bukan tanda kerusakan baru. Tetapi tekanan dan ancaman yang terus-menerus membuat tubuhnya tidak bisa beristirahat. Kalau terus begini, ingatan jangka pendeknya akan lebih rapuh dari biasanya. Ia butuh tidur teratur, ruangan tenang, dan orang-orang yang tidak mengubah cerita setiap hari."
"Berapa lama?" tanya Alexa.
"Beberapa hari, kalau lingkungan mendukung." Harlan menatapnya. "Dan jangan biarkan dia memaksakan diri hanya karena merasa wajib kuat untuk Nona."
Ketika Harlan keluar, Nick membuka mata. Ia menatap langit-langit, lalu dinding, lalu wajah Alexa yang duduk di tepi tempat tidur. Ada jeda panjang di antara mereka, dan Alexa tahu persis apa yang sedang dilakukan kepalanya: mencari pegangan di ruangan yang tidak ia kenal.
"Ini kamarku," ujar Nick pelan, bukan bertanya. "Aku mengenali jendelanya."
"Iya."
"Dan kamu..." Matanya turun ke tangan Alexa yang menggenggam kertas lipatan. "Kamu yang ada di suratku. Kenapa tanganmu dingin?"
"Karena kamu membuatku takut."
"Maaf." Nick memejamkan mata sebentar, lalu membukanya lagi. "Aku jatuh?"
"Di kantormu. Dave menangkapmu."
"Dave selalu menangkapku." Nick tersenyum lemah. "Aku seharusnya memberinya kenaikan gaji."
"Dia pasti menolak dan bilang itu tugasnya."
"Karena itu aku harus memaksanya." Ia menggenggam jari-jari Alexa dengan sisa tenaga. "Jangan menangis. Aku masih ada di sini."
Di luar kamar, di koridor lantai dua, suara Angelica menembus pintu. Alexa keluar untuk mengambil air dan tertahan di ujung koridor.
"Kamu menurunkan penjagaan, sayang, dan lihat apa yang terjadi," kata Angelica dengan suara rendah yang bergetar. "Anakmu pingsan di kantor."
"Itu migrain, Mom, bukan serangan."
"Itu akibat, sayang. Semua ini akibat." Angelica menarik napas. "Kenapa kamu tidak mau memanggil polisi? Satu kali saja, aku minta penjelasan. Satu kali."
Carter diam cukup lama. "Bukan sekarang."
"Sampai kapan?"
"Sampai aku yakin itu perlu." Ia menurunkan suaranya lagi, nyaris tak terdengar. "Percayalah padaku, Mom."
Angelica tidak menjawab. Ia berbalik masuk ke kamar, dan pintu menutup pelan.
***
Menjelang malam, ketika Nick tertidur dengan Angelica duduk di sisinya, Carter memanggil Alexa ke ruang kerjanya. Pria itu berdiri di belakang meja besar dengan tangan terlipat di punggung. Lampu baca menyorot sebagian wajahnya, meninggalkan sisanya dalam bayangan.
"Duduk, Alexa."
Alexa duduk di kursi kulit yang menghadap meja. Carter berjalan ke rak buku, mengambil kotak cerutu kayu kosong dari rak paling bawah, dan mengeluarkan sebuah kunci kecil dari dalamnya. Ia membuka laci terbawah meja kerjanya.
Di dalam laci itu terlapis kain flanel biru tua. Sebuah pistol hitam tergeletak di atasnya, ditemani dua magasin. Alexa menahan napas.
"Kamu sudah tahu aku bukan pengusaha biasa," ujar Carter datar. "Angelica tidak pernah bertanya, dan aku bersyukur untuk itu. Tetapi kamu akan tinggal di rumah ini, dan kamu berhak tahu apa yang ada di dalamnya." Ia menutup laci dan menguncinya lagi. "Aku bukan pria baik, Alexa. Aku orang yang menjaga. Dua hal itu berbeda, dan aku tidak pernah berpura-pura sebaliknya."
"Dad..."
"Dengarkan dulu." Carter menyimpan kunci di kotak cerutu dan mengembalikan kotak itu ke rak. "Ada saat-saat aku melihat hanya satu jalan, dan aku mengambilnya tanpa ragu. Itu kekuatanku, sekaligus kelemahanku. Kalau suatu hari kamu melihatku siap menembak seseorang dan kamu yakin aku salah, ucapkan satu kata. Teddy. Itu nama kecilku, yang dulu hanya dipakai ibuku dan Angelica. Kalau aku sudah dikuasai amarah, aku tidak akan mendengar siapa pun, kecuali nama itu."
Alexa memandanginya. Tidak ada keraguan di mata Carter, hanya kelelahan yang tidak pernah ia tunjukkan di depan anaknya.
"Aku mengerti, Dad."
"Bagus." Carter mengangguk sekali. "Sekarang keluar, dan jangan ceritakan apa pun pada Nick sampai ia sanggup mendengarnya."
Ketukan tergesa terdengar di pintu. Dave masuk membawa tablet, wajahnya setegang tali yang ditarik. "Tuan. Nona. Anda harus melihat ini."
Layar menampilkan rekaman kamera gerbang belakang, hitam-putih dan agak berbintik. Pukul tiga dini hari, seorang pria kurus berdiri di bawah pohon di seberang pagar. Jaketnya abu-abu, bahunya melengkung, tangannya terselip di saku. Ia tidak bergerak selama hampir sepuluh menit. Wajahnya menengadah ke satu jendela di lantai dua, jendela yang kini ditempati Alexa.
Alexa mengenali cara pria itu berdiri sebelum ia sempat mengenali wajahnya: dengan berat badan bertumpu pada satu kaki, seperti orang yang selalu siap pergi. Kebiasaan itu dulu membuatnya kesal. Kini ia tidak bisa mengalihkan matanya dari layar.
"Sean," katanya.
Carter tidak berkata apa-apa. Ia mengambil ponsel dari meja dan menekan satu nomor. "Tambahkan dua orang di sisi belakang. Mulai malam ini."
"Dad." Alexa mencondongkan badan. "Tolong, jangan sampai mereka melukainya. Aku ingin bicara dengannya dulu."
Carter menatapnya lama. "Kalau ia menyentuh pagar, aku tidak bisa menjanjikan apa-apa."
"Dia tidak akan menyentuhnya," kata Alexa, dan berharap suaranya terdengar lebih yakin daripada perasaannya.